Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Tina tidak pernah ingat kapan tepatnya ia mulai merasa bahwa dirinya adalah kesalahan. Mungkin sejak kecil, ketika suara Ibu selalu lebih keras untuknya dibanding untuk siapa pun. Mungkin sejak setiap kumpul keluarga berubah jadi ajang membicarakan segala kekurangannya—pemalas, keras kepala, anak yang tidak tahu diuntung—seolah nama "Tina" adalah sinonim dari "salah". Ayahnya diam. Selalu diam. Sibuk mencari nafkah, kaku, tak pernah benar-benar hadir selain lewat gaji bulanan. Tina belajar satu hal lebih dulu daripada anak-anak lain: memendam. Ia tumbuh jadi remaja yang pandai tersenyum di depan orang, tapi kosong sendirian di kamar. Ia tidak berani ke psikolog—bukan karena tidak butuh, tapi karena di rumahnya, butuh bantuan sama saja dengan durhaka dan kurang ibadah. Maka ketika akhirnya bisa kuliah dan ngekos, Tina memilih satu hal yang tak pernah ia duga akan terasa selega itu: tidak pulang. Ia membangun hidup sendiri, sekecil dan sesunyi apa pun itu—satu teman baik bernama Kala, kerja sampingan saat libur semester, dan rutinitas mengirim uang bulanan ke rumah yang lebih terasa seperti kewajiban daripada rindu. Sampai suatu hari, di tempat kerja yang biasa-biasa saja, Tina bertemu Andi—laki-laki yang juga biasa-biasa saja, dan justru karena itu terasa aman. Ini bukan kisah tentang cinta yang menyelamatkan semuanya dalam semalam. Ini kisah tentang bagaimana seorang perempuan muda, pelan-pelan, belajar bahwa ia berhak sembuh—bahkan dari luka yang diberi nama "keluarga".