Cuplikan Chapter ini
Pukul 0815 sudah memasuki waktu isya Shaliha menahan langkah kakinya ia menatap pintu rumah yang terbuat dari kayu pohon mahoni yang di ukir dengan ukiran khas Bali Ukiran di depan pintu itu menyadarkan Shaliha bahwa ia sudah sejauh ini meninggalkan Tangerang Shaliha kembali menelan rasa sakit di hatinya karena suaminya Brama Hadi tidak pernah menanyakan keadaan anak-anaknya hingga mereka bertiga menginjakkan kaki di kota kampung halaman merekaKamu akan menyesalinya Brama Katanya lal