Bab 5 ini adalah bab yang paling menguras emosiku waktu nulisnya. Rasanya campur aduk antara pengin marah ke Ridwan dan pengin peluk tokoh utamanya.
Bagian penutup bab ini (soal mercusuar dan cermin) adalah bagian favoritku. Kadang kita butuh orang lain hadir hanya untuk mengingatkan kalau cahaya kita itu ada, tapi sedang tertutup lumpur.
Gimana menurut kalian Bab 5 ini? Apa bagian favorit kalian? Yuk, ngobrol di bawah!