Cuplikan Chapter ini
Pagi itu war kamar mandi di Wisma Bahagia mengalami eskalasi yangbagi siapa pun yang mengamati dari luarmungkin terlihat sama seperti hari-hari biasa tapi bagi penghuninya terasa seperti pertempuran dengan bobot emosional yang jauh lebih berat dari sekadar rebutan air panasDamar mengantre di depan kamar mandi jam tujuh pagi dengan handuk di leher dan mata masih separuh terpejam ketika dia mendapati Mas Yoga sudah berdiri di sana sejakmenurut pengakuannya sendirijam enam lewat empat