Semestinya Pulang Meredam Kecemasan
Aksan Taqwin Embe
Saya tidak berani menyebut tulisan ini hanya sebuah novel. Lebih-lebih, ini adalah satu esai tentang isu sosial-politik yang begitu dalam. Pada setiap bagiannya, diselipkan memori kolektif sejarah yang seakan menjadi hidup kembali oleh gaya penokohan yang unik. Bagi saya yang kurang meminati novel kontemporer, tulisan ini seakan memutar balik memori ketika membaca karya Angkatan 45, atau tulisan klasik Tolstoy dan Dostoevsky.