Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
BATAS
0
Suka
2,892
Dibaca

Besi gerbang itu berderit, suara logam beradu yang selama tiga tahun ini menjadi lonceng pengatur napas bagiku. Tapi hari ini, bunyinya beda. Tidak ada bentakan sipir atau barisan manusia berbaju oranye di belakangku.

Di depanku hanya ada aspal hitam yang memuai disengat matahari jam sepuluh pagi, dan sebuah tas kain kusam berisi satu setel baju ganti dan sisa sabun batang yang sudah mengeras.

Aku melangkah keluar. Hal pertama yang menyerangku bukan rasa syukur, melainkan rasa pening. Dunia di luar tembok ternyata terlalu bising. Suara klakson motor di kejauhan, deru mesin angkot yang knalpotnya bocor, hingga teriakan penjual es tung-tung terasa seperti hantaman godam di pelipis. Di dalam sana, duniaku sempit tapi pasti. Di sini, udara terasa terlalu luas; seolah-olah jika aku tidak berpegangan pada tiang listrik terdekat, aku akan hanyut ditelan cakrawala.

Aku meraba leherku. Tato bergambar kawat berduri yang melingkar di sana terasa gatal terkena keringat. Tato itu adalah sisa "hadiah" dari tahun pertamaku di sel, sebuah tanda wilayah agar aku tidak diganggu. Sekarang, tato itu terasa seperti label harga yang meneriakkan statusku sebagai sampah masyarakat.

Dengan gerakan kasar, aku menaikkan kerah jaket jinsku yang sudah belel, mencoba menyembunyikan masa laluku dari tatapan ibu-ibu yang sedang menunggu angkot di seberang jalan.

"Jangan nengok ke belakang, Ter," bisikku pada diri sendiri. Suaraku serak, jarang digunakan untuk bicara panjang lebar selain untuk menyahut saat absen.

Aku berjalan menuju terminal bayangan. Kakiku terasa berat. Terbiasa melangkah di ubin licin penjara, kini aku harus beradaptasi dengan kerikil dan trotoar yang pecah-pecah. Setiap kali ada mobil polisi lewat dengan sirene mati, jantungku mencelos. Ada paranoia yang tertinggal di bawah kulitku—perasaan bahwa aku masih milik negara, bahw...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Reuni di Bangku Cadangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
PEPELING
Aris Setiawan
Cerpen
Lalu Pak Slamet Meng"iyakan"
Mus'ad Firdaus
Cerpen
Bronze
Perjalanan
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
Bronze
Hidupmu
Yukina Gelia
Cerpen
Bronze
Apakah yang Kita Harapkan dari Hujan?
Habel Rajavani
Cerpen
Menyatukan Dua Keluarga
Yovinus
Cerpen
Bronze
Koridor-koridor yang Diisi Nyanyian Murai
Jie Jian
Cerpen
Catatan Harian Pak Treng
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Eulogi Hama
Adam Nazar Yasin
Cerpen
Klung!
Zaki S. Piere
Cerpen
Telepon Iseng!
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Tukang Tipu
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
My Annoying Boss
Rein Senja
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty