Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Besi gerbang itu berderit, suara logam beradu yang selama tiga tahun ini menjadi lonceng pengatur napas bagiku. Tapi hari ini, bunyinya beda. Tidak ada bentakan sipir atau barisan manusia berbaju oranye di belakangku.
Di depanku hanya ada aspal hitam yang memuai disengat matahari jam sepuluh pagi, dan sebuah tas kain kusam berisi satu setel baju ganti dan sisa sabun batang yang sudah mengeras.
Aku melangkah keluar. Hal pertama yang menyerangku bukan rasa syukur, melainkan rasa pening. Dunia di luar tembok ternyata terlalu bising. Suara klakson motor di kejauhan, deru mesin angkot yang knalpotnya bocor, hingga teriakan penjual es tung-tung terasa seperti hantaman godam di pelipis. Di dalam sana, duniaku sempit tapi pasti. Di sini, udara terasa terlalu luas; seolah-olah jika aku tidak berpegangan pada tiang listrik terdekat, aku akan hanyut ditelan cakrawala.
Aku meraba leherku. Tato bergambar kawat berduri yang melingkar di sana terasa gatal terkena keringat. Tato itu adalah sisa "hadiah" dari tahun pertamaku di sel, sebuah tanda wilayah agar aku tidak diganggu. Sekarang, tato itu terasa seperti label harga yang meneriakkan statusku sebagai sampah masyarakat.
Dengan gerakan kasar, aku menaikkan kerah jaket jinsku yang sudah belel, mencoba menyembunyikan masa laluku dari tatapan ibu-ibu yang sedang menunggu angkot di seberang jalan.
"Jangan nengok ke belakang, Ter," bisikku pada diri sendiri. Suaraku serak, jarang digunakan untuk bicara panjang lebar selain untuk menyahut saat absen.
Aku berjalan menuju terminal bayangan. Kakiku terasa berat. Terbiasa melangkah di ubin licin penjara, kini aku harus beradaptasi dengan kerikil dan trotoar yang pecah-pecah. Setiap kali ada mobil polisi lewat dengan sirene mati, jantungku mencelos. Ada paranoia yang tertinggal di bawah kulitku—perasaan bahwa aku masih milik negara, bahwa s...