Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
BATAS
0
Suka
2,426
Dibaca

Besi gerbang itu berderit, suara logam beradu yang selama tiga tahun ini menjadi lonceng pengatur napas bagiku. Tapi hari ini, bunyinya beda. Tidak ada bentakan sipir atau barisan manusia berbaju oranye di belakangku.

Di depanku hanya ada aspal hitam yang memuai disengat matahari jam sepuluh pagi, dan sebuah tas kain kusam berisi satu setel baju ganti dan sisa sabun batang yang sudah mengeras.

Aku melangkah keluar. Hal pertama yang menyerangku bukan rasa syukur, melainkan rasa pening. Dunia di luar tembok ternyata terlalu bising. Suara klakson motor di kejauhan, deru mesin angkot yang knalpotnya bocor, hingga teriakan penjual es tung-tung terasa seperti hantaman godam di pelipis. Di dalam sana, duniaku sempit tapi pasti. Di sini, udara terasa terlalu luas; seolah-olah jika aku tidak berpegangan pada tiang listrik terdekat, aku akan hanyut ditelan cakrawala.

Aku meraba leherku. Tato bergambar kawat berduri yang melingkar di sana terasa gatal terkena keringat. Tato itu adalah sisa "hadiah" dari tahun pertamaku di sel, sebuah tanda wilayah agar aku tidak diganggu. Sekarang, tato itu terasa seperti label harga yang meneriakkan statusku sebagai sampah masyarakat.

Dengan gerakan kasar, aku menaikkan kerah jaket jinsku yang sudah belel, mencoba menyembunyikan masa laluku dari tatapan ibu-ibu yang sedang menunggu angkot di seberang jalan.

"Jangan nengok ke belakang, Ter," bisikku pada diri sendiri. Suaraku serak, jarang digunakan untuk bicara panjang lebar selain untuk menyahut saat absen.

Aku berjalan menuju terminal bayangan. Kakiku terasa berat. Terbiasa melangkah di ubin licin penjara, kini aku harus beradaptasi dengan kerikil dan trotoar yang pecah-pecah. Setiap kali ada mobil polisi lewat dengan sirene mati, jantungku mencelos. Ada paranoia yang tertinggal di bawah kulitku—perasaan bahwa aku masih milik negara, bahw...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KE MANA SI MBAK?
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Bronze
Mendung Masih Bergelayut
Munkhayati
Cerpen
Bronze
Kesumat
Dyna Rukmi Harjanti Soeharto
Cerpen
Bronze
Dikejar-kejar Polisi
Titin Widyawati
Cerpen
Sepenggal Zaman Terhenti di 2025
Ryan Esa
Cerpen
Bronze
Pemimpin Negeri Sipil
spacekantor
Cerpen
Hanya Sebatas Kerikil Kecil
Rein Senja
Cerpen
Esensi Asasi Afeksi
Rairaa
Cerpen
SEPULUH
Muhammad Sapril
Cerpen
Bronze
ROTI ISI MATAHARI
Rian Widagdo
Cerpen
Bronze
Baliho
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Bronze
Dari 0 Hingga 0
Monacino
Cerpen
Sitta dan Warna
Rewinur Alifianda Hera Umarul
Cerpen
(Don't) Stay Away
Fadillah Nastiti
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty