Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Judul: THE MATERIALISTIS
Format: Short Film Script (Durasi estimasi: 12-15 menit)
Genre: Drama Psikologis / Supernatural
[DAFTAR KARAKTER]
FAJAR (DEWASA/TUA): Usia akhir 40-an hingga awal 50-an. Mantan CEO workaholic yang dingin, kaku, dan menyimpan luka masa kecil yang mendalam.
FAJAR KECIL: Usia sekitar 10 tahun. Pintar, tertekan, selalu berusaha memenuhi standar mustahil ayahnya.
BAPAK FAJAR: Tegas, tanpa kompromi, mengukur nilai anak dari angka di atas kertas.
HILYA: Istri Fajar. Terjebak dalam kesibukan korporat, elegan namun kelelahan secara emosional.
ARYA & ANNA: Anak-anak Fajar dan Hilya. Remaja/dewasa muda yang tumbuh dalam pengabaian emosional.
MALAIKAT / SOSOK CAHAYA: Figur tenang tanpa emosi duniawi, hadir di akhir cerita.
INT. RUANG TAMU RUMAH KUNO - MALAM (TAHUN 1980-an)
Lampu bohlam kuning remang-remang menggantung di langit-langit.
FAJAR KECIL (10) berdiri kaku di samping meja kayu lapuk. Di atas meja, selembar kertas ujian terbentang dengan tinta merah yang mencolok.
BAPAK FAJAR duduk di kursi rotan, memegang rotan kecil di tangannya. Suara ketukan rotan ke meja berirama pelan, memecah keheningan malam.
BAPAK
(Suara rendah, dingin)
Delapan puluh bukan angka untuk mengubah nasib keluarga kita, Fajar! Ekonomi kita tidak bisa diselamatkan oleh anak yang puas dengan nilai pas-pasan.
Fajar Kecil menunduk, air matanya nyaris tumpah namun ia tahan mati-matian. Ia tidak berani bersuara.
BAPAK
(Melempar kertas ujian itu)
Masuk kamar! Belajar lagi!
Fajar Kecil memungut kertasnya dengan tangan bergetar, lalu berbalik dan melangkah pelan menuju kamarnya.
INT. RUANG RAPAT PENCANANGAN YAYASAN - HARI INI
Gedung megah berlapis kaca. Lampu sorot kamera dan kilatan blitz menyala.
FAJAR (50-an), mengenakan jas rapi berdasi mahal, berdiri di atas panggung dengan gunting perak di tangannya. Di depannya, sebuah pita merah membentang untuk meresmikan Yayasan Cahaya Kirana.
Namun, bangku barisan terdepan kosong melompong. Kursi untuk Hilya dan anak-anaknya tidak berpenghuni.
Fajar melirik kursi kosong itu. Senyum di wajahnya memudar sepersekian detik. Bau pita satin yang tajam tiba-tiba menyeruak, menusuk indra penciumannya—membawanya kembali pada debu di kamar masa kecilnya.
Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar keras.
HILYA (V.O. / PANGGILAN TELEPON)
(Suara tajam dan buru-buru)
Fajar, cepat! Investor dari konsorsium utama sudah menunggu di ruang rapat lantai 45! Jangan buang waktu!
Sambungan terputus.
INT. RUANG RAPAT UTAMA (LANTAI 45) - CONTINUOUS
Meja rapat oval raksasa dari marmer hitam dikelilingi oleh belasan petinggi perusahaan berdasi.
Fajar berdiri di ujung meja, mencoba mempresentasikan data grafis di layar besar. Namun, suaranya mulai tercekat.
FAJAR
(Berbicara terbata)
Pertumbuhan kuartal ini... kita harus...
Dunia tiba-tiba bergeser. Langit-langit ruangan melengkung seperti lensa cembung. Suara para eksekutif melebur menjadi dengungan dengung dengungan berdenging di telinga Fajar.
Pandangan Fajar menyempit, menyisakan setitik cahaya putih di tengah kegelapan.
BUM!
Tubuh Fajar ambruk menghantam lantai marmer dingin tanpa perlawanan. Petinggi perusahaan terperanjat berdiri.
INT. RUMAH MEWAH KELUARGA FAJAR - HARI BERIKUTNYA
Fajar terbangun di atas ranjang king-size kamarnya. Udara terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya.
Ia bangkit, merapikan jasnya dengan gestur terbiasa, lalu melangkah keluar kamar.
FAJAR
Hilya? Arya? Anna?
Sepi. Tidak ada suara televisi, tidak ada derap langkah pelayan.
Ia membuka pintu depan rumah. Halaman rumputnya tampak gersang, dan sebuah plang kayu usang tertancap di tanah: RUMAH INI DIJUAL.
Jantung Fajar berdegup kencang. Ia merogoh ponselnya, mendial nomor Hilya. Hanya dering kosong. Ia menelepon Arya.
ARYA (V.O. / TELEPON)
(Suara ketus di ujung sana)
Halo? Siapa ini?
FAJAR
Arya, ini Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa rumah ini dipasangi plang—
ARYA
Jangan menelepon ke nomor ini lagi! Jangan pernah mengganggu hidupku!
Klik. Sambungan terputus.
Dengan tangan gemetar, Fajar menelepon putrinya.
FAJAR
Anna, ini Ayah, Nak...
ANNA (V.O. / TELEPON)
(Datar, tanpa emosi)
Maaf, ini nomor siapa ya? Saya tidak kenal.
FAJAR
Anna, ini Ayah! Ayah yang membiayai kuliahmu!
Anna berdiri di trotoar jalan raya, menatap kosong ke udara, memegang ponsel di dekat telinganya tapi tidak mendengar apapun dari ponselnya.
ANNA
Kalau hanya ingin mengerjai, jangan telepon lagi.
Klik. Telepon ditutup.
Fajar melemah. Ponsel di tangannya terlepas dari genggamannya—tetapi benda itu jatuh menembus lantai marmer begitu saja, tanpa suara benturan.
Fajar membungkuk untuk memungutnya. Namun, jemarinya menembus perangkat itu seperti kabut tipis.
Ia mengangkat tangannya. Telapak tangannya perlahan transparan, memudar menjadi partikel debu cahaya yang melayang.
Fajar menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang kosong. Ia tidak lagi memantulkan bayangan.
Fajar (V.O. - Batin)
Manusia sering kali menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun sebuah istana, hanya untuk menyadari bahwa mereka membangunnya di atas tanah kuburan mereka sendiri.
MONTAGE: WAKTU BERPUTAR (TAHUN KE TAHUN)
Tahun Pertama: Rumah itu dibeli oleh keluarga muda yang harmonis (Keluarga Cemara). Mereka tertawa di bawah pohon mapel halaman belakang. Namun, pada malam hari, sang ayah membawa wanita lain masuk. Pertengkaran hebat pecah, piring berantakan, dan sang ibu pergi membawa anak-anak mereka selamanya. Fajar hanya berdiri di sudut ruangan, menatap nanar.
Lima Tahun Kemudian: Rumah dibeli oleh seorang CEO korporasi besar. Rumah itu berubah menjadi benteng es. Sang anak tumbuh dalam tekanan hingga berita duka datang: ayahnya tewas dalam kecelakaan bisnis. Sang anak yang muak membubarkan perusahaan dan meninggalkan rumah tersebut terbengkalai.
Puluhan Tahun Kemudian: Cat dinding mengelupas, lantai berderit. Rumah itu kini menjadi bangunan tua yang rapuh diterpa angin malam.
INT. KAMAR UTAMA RUMAH TUA - MALAM (MASA KINI)
Seorang KAKEK TUA renta (usia 80-an) duduk di atas ranjang usang, menatap sebuah lukisan pemandangan sunyi di dinding yang berlumut.
Napas kakek itu mulai tersengal-sengal. Sakaratul maut merayap dalam keheningan total. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada dokter, tidak ada anak, tidak ada tangan yang menggenggam.
Fajar—yang wujudnya kini berupa siluet bayangan transparan—melangkah perlahan mendekati ranjang. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh jemari keriput sang kakek.
Seketika, mata sang kakek yang tadinya redup terbuka lebar. Ia menoleh ke samping, menembus batas dimensi, menatap Fajar.
KAKEK TUA
(Suara serak, nyaris berbisik)
Kau... datang juga.
FAJAR
Aku hanya menemanimu.
Sang kakek tersenyum lemah. Sebutir air mata menetes di pipinya yang cekung.
KAKEK TUA
Kita adalah makhluk yang sama-sama kesepian. Kita menghabiskan seluruh hidup kita berlari mengejar kesuksesan semu, hingga lupa bagaimana caranya menjadi manusia yang utuh... Aku menyesal.
Sang kakek menarik napas terakhirnya yang panjang. Kepalanya terkulai ke samping. Hembusan napasnya berhenti.
EXT. HALAMAN DEPAN RUMAH TUA - SENJA
Satu hari sebelum alat-alat berat datang untuk meratakan bangunan.
Udara mendadak berubah hangat. Cahaya keemasan yang menyilaukan memancar menembus jendela rumah yang retak.
Sesosok FIGUR CAHAYA (Malaikat) berdiri di hadapan Fajar dengan tenang.
FIGUR CAHAYA
Manusia selalu menghabiskan waktu mereka dengan menunda-nunda kematian dalam pikiran mereka, Fajar. Namun, jam pasirmu telah benar-benar habis. Apakah kau sudah siap meninggalkan dunia ini?
Fajar menatap sekeliling halaman tempat ia hidup, mati, dan menyaksikan lingkaran penyesalan umat manusia berputar tanpa henti. Ia menarik napas panjang, melepaskan seluruh beban ambisi dan rasa bersalahnya.
FAJAR
(Tersenyum tulus)
Ya. Aku sudah siap.
Figur cahaya mengulurkan tangan. Cahaya hangat merengkuh tubuh Fajar, mengangkatnya perlahan meninggalkan tanah berdebu itu.
Saat tubuhnya melayang menembus langit senja yang luas, Fajar menoleh sekali terakhir ke bumi di bawah sana.
FAJAR (V.O.)
Pada akhirnya... kita semua adalah pengelana yang belajar mengenali arti hidup, tepat pada detik di mana waktu kita telah habis. Tapi pada akhirnya... aku selalu menjadi orang yang gagal.
Layar perlahan meredup menjadi hitam total.
Akhir Cerita.