Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Kintari Di atas Samudera
Suka
Favorit
Bagikan
1. Bertemu
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Fade in:

1.EXT. ROOFTOP SEKOLAH — DAY

Samudera menatap ke arah jalanan dari atas gedung dengan seragam penuh bercak darah. Tidak ada orang lain selain Samudera di sana.

SAMUDERA

(Linglung)

Rey...


FLASHBACK:


2.INT. RUMAH SAKIT — DAY

Samudera ikut mendorong tempat tidur rumah sakit menuju kamar operasi. Sambil terus menggengam tangan Rey yang mulai melemas.

SAMUDERA

(Menangis menatap Rey)

Jangan tinggalin gue Rey!


Back To:


3.EXT. ROOFTOP SEKOLAH — DAY

Kintari membuka pintu

KINTARI (O.S)

(Kelelahan, napas tidak beraturan)

Siapa lo?


Insert:

Samudera menoleh

Kintari dan Samudera saling melempar tatapan, tetapi tidak berbicara sama sekali.

Kintari terkejut melihat noda darah di baju Sam.


Fade Out :


4.INT. RUMAH KIN — DAY

Rumah dua tingkat dengan nuansa cat berwarna putih dengan gerbang berwarna hitam dan beberapa tanaman di depan rumah.

Mama Kin membuka pintu kamar

MAMA FARAH

Kamu itu mau sampe kapan tidurnya?

Sambil mengguncang tubuh Kin.

Kintari menaikan selimutnya sampai menutup kepala.

Mama kin berusaha membangunkan anaknya dengan mengguncang tubuh Kin lebih keras, dan menarik selimutnya hingga terlepas.

MAMA FARAH

Ayo nanti kamu terlambat, sayang. Hari pertama kamu sekolah loh.

Mama Farah mengusap lembut wajah anaknya yang mulai membuka mata.

MAMA FARAH

Oke, Mama tunggu di bawah ya, Papa juga udah nunggu.

Kintari mengangguk sekali tanda setuju dengan perintah mamanya.


Montage :


1. Kintari mengerjapkan matanya tiga kali

2. Kemudian beranjak ke kamar mandi dengan langkah gontai

3. Beberapa menit kemudian Kintari sedang menyisir rambut menghadap Cermin seukuran tubuhnya.

4. Kintari merapikan dasi dan mengambil tas di belakang pintu.

5. Kintari menuruni anak tangga


5. INT. MEJA MAKAN — DAY

KINTARI

Pagi, suami isteri. Ckckckc.

PAPA RUDI

Anak mana yang menyebut orang tuanya begitu, Ma? Papa jadi nggak yakin punya anak begini, nih.

KINTARI

(Sedikit memanyunkan bibir)

Yeee... kalo udah cantik begini udah pasti anak Papa dong, ya kan, Ma?

MAMA FARAH

Geer banget kamu, hih.

Mama Farah menyenggol pelan bahu suaminya sambil menatap bercanda anak mereka yang tengah mengunyah roti manis.

PAPA RUDI

(Sambil minum kopi)

Gimana kemarin pengenalan sekolahnya? Aman?

KINTARI

Aman, Pa. Papa tenang aja.


Dissolve To :


Namun, sebenarnya Kin tidak tenang sama sekali. Ia kemudian mengingat pertemuannya dengan laki-laki rooftop siang itu.

Tidak ada yang aneh dari wajahnya, dia seperti manusia pada umunya, hanya saja lebih berantakan. Wajahnya ganteng tapi pucat, rambutnya sedikit panjang melewati kerah baju dan acak-acakan.

Yang lebih membuat Kin heran adalah pakaiannya.

KINTARI

Pa, di dunia ini nggak ada hantu, kan?

PAPA RUDI

(Melirik ke arah Mama Farah)

Emang kamu abis liat hantu?

KINTARI

Ya.. nggak tau sih itu hantu apa bukan. Makannya nanya, tapi kayaknya manusia sih. Tapi.. coba nanti Kin liat lagi.


Kintari tertawa melihat ekspresi kedua orang tuanya yang tidak habis pikir dengan pernyataannya barusan.

KINTARI

(Tersenyum)

Ayo,Pa kita jalan, nanti princess telat. Masa anak cantik telat.

MAMA FARAH

Hati-hati yang sayang. Hati-hati ya, Pa.


6. INT. MOBIL — DAY

Kintari terus menatap ke jendela, melihat pohon-pohon berjalan melewatinya. Suara radio dari dalam mobil memutarkan lagu milik Justin Beiber,Love your Self.


Jump Cut To:

Scene saat Kintari dan Samudera bertemu di Rooftop


KINTARI (V.O)

Dasar cowok aneh.

PAPA RUDI

Semoga kecelakaan kemarin udah nggak bikin macet ya, Papa masih belum paham jalan daerah sini.

KINTARI

Kecelakaan? Anak sekolah?

PAPA RUDI

Kok, kamu bisa tau?

Entah kenapa bayangan Kintari langsung tertuju pada laki-laki di Rooftop kemarin.

Kintari tidak menjawab pertanyaan papanya, dia hanya diam saja sambil terus melihat keluar jendela.

Perasaannya mulai penasaran, tapi tidak ada yang hal lain yang bisa ia lakukan selain mengira-ngira sendiri apa yang telah terjadi pada laki-aki itu.


Fade in :

7. INT. RUANG KELAS — DAY

Kintari sedang memperkenalkan diri.

KINTARI

Perkenalkan nama sa—

Samudera tiba-tiba datang dari arah pintu dan langsung menyelonong ke tempat duduknya.

PAK GATOT GURU

(Marah)

Siapa yang suruh kamu duduk?

Samudera berhenti, Kintari hanya bisa melihat punggunya dari jauh. Sedangkan seisi kelas berusaha tidak memperkeruh suasana dengan cara diam.

SAMUDERA

Maaf, Pak. Saya terlambat.

Sam berbicara dengan tidak membalikkan badannya menghadap Pak Gatot.

Pak Gatot terlihat menarik dan membuang napas dengan kasar.

PAK GATOT

Jangan mentang-mentang kamu anak ketua yayasan, kamu bisa seenaknya sendiri. Baju kotor, wajah berantakan, terlambat. Kamu anggap sekolah ini main-main, Hah?!

SAMUDERA

Kalau Bapak mau saya keluar, saya akan keluar sekarang Jangan buang-buang tenaga bapak untuk marah-marah di depan siswa lain, karena saya nggak perlu hal itu dari Bapak.


Secara tidak langsung Kintari dapat melihat dengan jelas wajah laki-laki Rooftop itu.

Sorot matanya kosong. Bahkan tubuhnya tidak gentar sekali menghadapi Pak Gatot yang dari nada bicaranya saja bisa membuat siapa saja ketakutan.

KINTARI

Eh..eh.. jangan gitu dong, Pak. Saya baru masuk loh kok udah ada keributan gini, kan dia cuma telat, ee....setengah jam. Yaa, maafin ya, Pak.

Kintati berjalan ke arah Sam dan membelakanginya, ia meraih tangan laki-laki itu dari belakang dan menggenggamnya seolah mengatakan, untuk tidak meneruskan niat ributnya.

Kintari menghadap Pak Gatot memberikan jurus ampuhnya melerai kedua orang yang entah apa masalah mereka dan Kintari terjebak di sana.

PAK GATOT

(Memegang kepala, pening)

Sudah-sudah kalian duduk sana. Jangan buang-buang waktu saya!

KINTARI

(Kikuk)

Terima kasih, Pak. Oh iya saya belom jadi perkenalan, Nama saya Kintari Cinta Mentari. Salam kenal semuanya.

Kintari membungkukan badannya sedikit sambil tersenyum.

Sam melepaskan tangannya dari genggaman Kin, kemudian dia duduk dengan malas, dan kin berada di sebelahnya, karena Kin melihat tidak ada bangku kosong lahi selain di samping Sam.


KINTARI

Hai.. nih buat lo.


Kintari memberikan sebotol body mist.

SAMUDERA

...

(Melirik ke arah botol mist.)

Lalu lima detik kemudian ia menoleh ke arah Kintari.

Sam kemudian memegang ujung kursi Kintari dengan satu tangannya yang bebas, kemudian mendorong kursi Kin menjauh darinya.

Kintari melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

SAMUDERA

Gue nggak make parfume cewek.

KINTARI (V.O)

(Kesal)

Dasar cowok aneh! Dia gak ganti baju apa? Kok bajunya masih bercak gitu sih. Bau lagi astatanggggg...


Insert:

8.EXT. JALAN RAYA — DAY

Persimpangan jalan saat itu sedang lampu merah sewaktu dari arah berlawanan sebuah sedan melaju cukup kencang tanpa ada pertanda akan berhenti di penyebrangan.

Terlalu sempit waktu untuk mengerem, sedan itu membanting stir ke kanan, hampir saja menabrak mobil lain. Belum sempat bersyukur karena tidak terjadi hal apapun, dari arah sebaliknya sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi.

Kecelakaan melibatkan dua orang anak dibawah umur. Satu orang yang berada di kursi penumpang depan selamat dengan luka-luka ringan dan patah jari tangan. Sedangkan satu orang dibalik kemudi mengalami kritis.

Korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan, tetapi nyawanya tidak bisa diselamatkan. Pasca Operasi jenazahnya diserahkan kepada pihak keluarga.


Fade In :

9. INT. KREMATORIUM — NIGHT

Pelayan keluarga Jaru menunduk meminta izin agar pemakaman segera dilakukan.

PELAYAN

Kita harus menunggu satu orang lagi untuk pemakaman, Pak.

PAK BENI

Tidak perlu menunggu anak itu.

PELAYAN

Tapi bagaimanapun dia anggita keluarga Jaru.

PAK BENI

Tidak perlu.


Peti jenazah dimasukan ke dalam.

Suasana krematorium ramai tetapi sendu. Semua orang berpakaian hitam dan terlihat menangis.


Flashback :

10. INT. MOBIL — DAY

REY

Lo gak perlu dengerin ocehan bokap lagi, nanti lulus SMA kita cabut dari rumah.

SAMUDERA

Gausah sok dramatis deh, gue nggak tau gimana nasib gue kalo di dunia ini nggak ada lo Rey. Mereka kan cuma sayang sama lo, gue kayaknya emang anak yang gak diharapkan Hahahaha..


Samudera memukul bahu kakaknya cukup kencang, sampai-sampai membuat stirnya orang ke kiri.

REY

(Tertawa)

Anjir, jangan bercanda kita lagi di jalan.

SAMUDERA

(Tertawa)

Dasar lemah, Ah. Katanya sering balapan, gitu aja takut.


Rey mengiyakan ajakan Sam untuk menaikan keceptannya, mereka masih asik melemparkan candaan dan pukulan satu sama lain, sehingga mereka berdua tidak sadar bahwa perismpangan di depan terdapat lampu merah.


Fade Out :


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)