Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Kedai Teh Superhero
Suka
Favorit
Bagikan
1. TEROMBANG-AMBING #1
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN:

 1 EXT. HUTAN BELANTARA – MALAM

Wisanggeni menunggangi kuda hitam menyusuri hutan belantara sambil mengangkat busur api. Para bandit menghadangnya dengan membawa parang. Wisanggeni melepaskan busur apinya, kian mendekat dengan musuh kian membesar apinya.

Antasena datang dari belakang Wisanggeni, menerobos kobaran api untuk mengSenar para bandit yang berhasil lolos. Antasena berlari dengan sangat cepat mendahului langkah dua bandit yang lolos. Tombak Nagagini dilesatkannya mengenai tubuh dua bandit itu.

Para bandit berhasil dikalahkan.

 

CUT TO:

 

2  EXT. HALAMAN ISTANA NEGARA NUSWANTARA – MALAM

Halaman istana diterangi obor. Pasukan militer berlatih di kSenauhan. Wisanggeni memusatkan tenaga, membentuk api di ujung busur panahnya. Antasena menggerakkan tombaknya, air berputar mengelilingi tubuhnya. Pasukan militer Nuswantara juga berlatih di lapangan seberang halaman istana negara.

Wisanggeni menembakkan busur api ke arah Antasena. Antasena menepis busur api menggunakan cincin Mustikabumi. Api pada busur itu padam.

Antasena berjalan menuju tangga istana negara. Wisanggeni menyusul di belakang. Mereka berdua duduk bersama sambil memandang pasukan militer yang sedang berlatih.


WISANGGENI

Setelah 80 tahun kemerdekaan Nuswantara, apakah kekuatan kita masih dibutuhkan oleh negara? Kulihat pasukan militer itu saja sudah sangat kuat.

 

ANTASENA
Kekuatan kita masih diperlukan kok, buktinya, kita masih terpilih sebagai pasukan bayangan di Operasi Kurukala.

 

Wisanggeni dan Antasena menatap langit. Melamun.

CUT TO:

CREDIT TITLE (STANDARD).

FADE IN:

3 INT. RUANG RAPAT ISTANA NEGARA NUSWANTARA – MALAM

Rapat terbatas yang dikemas sebagai makam malam diselenggarakan oleh Supala, pemimpin Negara Nuswantara. Rapat itu dihadiri oleh Durna (penasihat utama pertahanan negara), Padmananda (komandan pasukan khusus), Wisanggeni, Antasena, para pSenabat negara, dan pSenabat militer.

Mereka semua duduk mengelilingi mSena konferensi. Supala mengenakan kemSena krem pucat dengan rompi abu-abu tipis, duduk di ujung mSena. Wisanggeni mengenakan kaos hitam dengan lengan digulung hingga siku, sedangkan Antasena mengenakan kaos putih dilapisi jaket kulit hitam. Wisanggeni dan Antasena duduk bersebelahan.

 

SUPALA
(mengangkat gelas)
Silakan menikmati hidangan yang tersedia. (tersenyum tipis)

 

Para tamu membalas dengan anggukan dan senyuman. Mereka menikmati hidangan dengan nikmat.

Ruang rapat tertutup. Padmananda berdiri di depan layar peta digital bertuliskan OPERASI KURUKALA.

 

PADMANANDA
Yang Mulia dan rekan-rekan sekalian, Kota Kurukala adalah pusat pangan Nuswantara. Namun, kota itu masih dikuasai oleh mantan raja terdahulu yang tidak mau tunduk pada Nuswantara. Kalau kota itu jatuh ke tangan kita, kita bisa mengakhiri krisis pangan di negara ini.

 

Supala menatap Durna yang berada di sebelah Padmananda, sebuah kode bagi Durna untuk ikut berbicara.

DURNA
Secara keseluruhan, dua strategi penting dalam operasi ini adalah infiltrasi dan blokade.


PADMANANDA
Izin menambahkan Yang Mulia, kami sudah menyebar pasukan khusus di sekitar lereng Gunung Kurukala. Operasi akan dimulai dalam dua puluh empat jam.

 Wajah Supala berkeringat, ia berdiri dari tempat duduknya lalu membelakangi para tamu.

 

SUPALA

(dengan suara lirih namun tegas)

Ada satu catatan penting. Walikota Kurukala, Aryadana, jangan sampai terbunuh.

 

Wisanggeni berdiri, melakukan protes.

 WISANGGENI

(intonasi bicara tinggi)

Yang Mulia, Aryadana menjarah kotanya sendiri. Rakyat menderita karena dia. Apakah dia masih layak untuk selamat?

 

Supala menoleh, menatap tajam Wisanggeni.

Para tamu terdiam, ketakutan.

Antasena menahan emosi Wisanggeni dengan menarik tangannya.

 

SUPALA

(dingin, nyaris berbisik)

Kalian tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.

 

Supala dan Wisanggeni kembali duduk di kursinya.

Antasena angkat bicara.

ANTASENA
Karena kami terlibat dalam Operasi Kurukala, kami harus memastikan bahwa tujuan operasi ini adalah untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan.


 WISANGGENI
(menyeletuk)
Apa karena Aryadana adalah keluarga Yang Mulia? Sehingga dia tidak boleh dibunuh? (jeda sejenak) Yang Mulia, hukum dan keadilan harus tetap ditegakkan walau kepada keluarga sendiri.

 Supala menahan emosinya, menjaga wibawanya.

 SUPALA
Sepertinya, kalian berdua sudah terlalu jauh melangkah melampaui tugas asli kalian (menghela napas dalam). Oleh karena itu, lebih baik kalian tidak lagi terlibat dalam operasi kali ini. Keterlibatan kalian hanya akan mengubah takdir menjadi lebih menyeramkan.

 Supala memberi isyarat pada Durna untuk bicara lagi.

 DURNA
(berdiri dari duduknya, menunjukkan sebuah dokumen). Demi kedamaian negara ini, lepaslah jabatan dan gelar kalian sebagai superhero. Aku akan mengirim surat pengunduran diri kalian kepada agensi superhero kalian. Jadi, silakan tanda tangani surat pengunduran diri ini.

 

Durna menghampiri Wisanggeni dan Antasena yang duduk di seberangnya. Lalu menyodorkan surat pengunduran diri itu.

Wisanggeni enggan menandatangani surat itu. Ia meraih gelas lalu minum.

Antasena meraih pena dari tangan Durna dengan ragu.

Durna mengernyitkan dahi. Tatapannya tajam.

 DURNA
Jika kalian tidak mau menandatangani surat pengunduran diri ini, maka kalian dianggap sebagai pemberontak!
  WISANGGENI
             (tertawa sinis)
Oh, jadi kalian mau kami jadi pemberontak? Ok!  (membuang muka)
 

Durna hampir memukul Wisanggeni. Tangannya mengepal erat, menahan amarahnya.

Antasena mengambil surat pengunduran diri di atas mSena itu lalu menandatanganinya. Ia kemudian mengambil surat pengunduran diri lainnya lalu diberikan kepada Wisanggeni.

Wisanggeni menandatanganinya dengan acuh tak acuh.

 

ANTASENA
(mengangkat kedua surat yang sudah ditandatangani lalu melemparkannya ke atas meja)
Baiklah, anggap saja tenaga kami sudah tidak dibutuhkan lagi di sini, tapi kami mohon, jangan membuat narasi bahwa kami adalah pemberontak. Seumur hidup dan jiwa raga kami, adalah untuk negeri ini.

 

Supala meneguk minumannya, kemudian berbicara.

 

SUPALA
Emosi kalian berdua terlalu meluap-luap untuk perang dingin ini. (duduk kembali di kursinya) Sudahlah, tidak ada pemberontakan di sini. Jadi, (mengangkat gelasnya) mari bersulang sebagai rasa terima kasih atas jasa dua superhero terhebat di negeri ini.

 

Mereka semua bersulang untuk Wisanggeni dan Antasena.

Durna menggeletakkan surat itu di atas mSena, kembali ke tempat duduknya, lalu mengambil gelas dan ikut bersulang.

Padmananda menatap Antasena dan Wisanggeni sambil mengisyaratkannya untuk ikut bersulang.

  PADMANANDA
Bersulang untuk ksatria tanpa tanding di negeri ini, Wisanggeni dan Antasena!

 

Antasena mengambil gelasnya lalu ikut bersulang dengan ekspresi dingin. Wisanggeni langsung minum tanpa ikut bersulang.

 DISSOLVE TO: 

 

4 EXT. DI ATAS PERAHU, PELABUHAN KOTA ARUNIKA – PAGI HARI

Wisanggeni dan Antasena tergeletak di atas perahu yang masih terombang-ambing di tengah laut Arunika.

 

ANTASENA
(Sayup-sayup membuka mata, melihat Wisanggeni)
Wisang! (mengguncang-guncang tubuh Wisanggeni yang masih terlelap). Bangunlah! Kita ada di mana?

 

Wisanggeni belum membuka matanya. Ia menguap lalu mengubah posisi tidurnya jadi miring ke kanan, membelakangi Antasena.

 

ANTASENA
(celingukan ke sekeliling perahu)
Sepertinya kita terombang-ambing di tengah laut
WISANGGENI
(masih dalam posisi tidur miring dan mata terpejam)
Ya udah, berarti ini wilayah kekuasaanmu kan? Nggak usah manja deh, cepat bawa perahu ini menepi!

 

Antasena geram, Wisanggeni masih memejamkan mata.

Lalu Antasena duduk bersila di atas perahu yang masih terombang-ambing, memusatkan pikiran dan tenaga dalamnya. Ia melakukan gerakan tangan seperti membentuk suatu pusaran. Kemudian ia hentakkan kedua tangannya ke depan.

Dan, nihil. Tidak terjadi apapun. Malah Antasena terbatuk-batuk setelah melakukan gerakan itu.

 

WISANGGENI
(terperanjat)
Sen, Sena? Kamu kenapa? (duduk bersila di hadapan Antasena)

 

ANTASENA
(mengatur napasnya)
Kekuatan pengendali airku tidak muncul, malah batuk-batuk setelah mengerahkan tenaga dalamku.

 

WISANGGENI
Kok bisa? Kekuatanmu hilang?

 

ANTASENA
Entahlah, rasanya seperti terbakar saat aku mencoba mengeluarkan tenaga dalamku.

 

WISANGGENI
(menyuruh Antasena berbalik badan memunggunginya)
Aku bantu pulihkan tenaga dalammu

 

Wisanggeni menyalurkan tenaga dalamnya kepada Antasena.

Baru setengah jalan, proses penyaluran tenaga dalam itu gagal. Keduanya seperti terpental oleh tenaga masing-masing. Keduanya muntah darah.

Hening sejenak.

 WISANGGENI
Kita harus segera menepi

 

ANTASENA
             (gelabakan)
Mana dayung perahunya?

 

WISANGGENI
             (mengamati sekitar)
Nggak ada, tapi kita bisa nyalakan mesin perahu itu (menunjuk mesin perahu di buritan yang masih mati)

 

Antasena dan Wisanggeni berusaha bangkit menuju mesin perahu di buritan, namun tubuh mereka mendadak melemah. Kaki-kaki mereka tak sanggup lagi menopang tubuh. Keduanya terjatuh di geladak, lalu merangkak tertatih ke arah mesin perahu.

 

Wisanggeni mencoba menyalakan mesin itu. Berkali-kali. Ternyata mesin habis bensin, tak bisa nyala.

Hening lagi. Suara deburan ombak terdengar cukup keras. Gelombang ombak cukup tenang.

 

WISANGGENI
             (duduk bersila)
Akan kubuat tekanan uap air dari kekuatan apiku untuk mendorong perahu ini ke tepi

 

ANTASENA
             (duduk bersandar di perahu)
Coba saja!

 

Wisanggeni mengendalikan fokus pikiran dan tenaganya. Lalu menghentakkan tenaga dari kedua tangannya.

Muncul sedikit asap yang kemudian menghilang tertiup angin laut.

 

ANTASENA
             (tertawa sinis)
Mana kekuatan apimu itu? Cuma asap doang?
Hmm, kasihan-kasihan..

 

Wisanggeni geram, mengepalkan tangannya lalu memukul lambung perahu. Ia mencoba lagi mengeluarkan tenaga dalamnya.

Nihil.

ANTASENA
             (mulai memSenamkan mata)
Sudahlah, sepertinya kita hanya bisa mengandalkan bantuan orang lain.

 

Wisanggeni pun menyerah, ia merebahkan tubuhnya di atas geledak perahu, memandangi cakrawala.

Beberapa saat kemudian ada sebuah kapal nelayan yang baru pulang dari melaut.

Wisanggeni mendengar suara mesin kapal itu. Ia bangun dari rebahannya lalu berdiri melambaikan tangan ke arah kapal itu.

Beberapa orang yang ada di kapal itu ikut melambaikan tangan ke Wisanggeni dan Antasena.

Antasena membuka matanya, melihat Wisanggeni melambaikan tangan. Ia ikut berdiri melambaikan tangan.

Kapal nelayan itu mendekati perahu mereka.

Saat kapal nelayan dan perahu itu berdekatan, seseorang dari kapal nelayan menjulurkan tangannya ke Antasena, membantunya pindah ke kapal nelayan. Kemudian bergantian ke Wisanggeni.

Kapal nelayan itu kembali melaju menuju dermaga Pelabuhan Tua Kota Arunika.

 CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)