Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
FADE IN:
1 EXT. HUTAN BELANTARA – MALAM
Wisanggeni menunggangi kuda hitam menyusuri hutan belantara sambil mengangkat busur api. Para bandit menghadangnya dengan membawa parang. Wisanggeni melepaskan busur apinya, kian mendekat dengan musuh kian membesar apinya.
Antasena datang dari belakang Wisanggeni, menerobos kobaran api untuk mengSenar para bandit yang berhasil lolos. Antasena berlari dengan sangat cepat mendahului langkah dua bandit yang lolos. Tombak Nagagini dilesatkannya mengenai tubuh dua bandit itu.
Para bandit berhasil dikalahkan.
CUT TO:
2 EXT. HALAMAN ISTANA NEGARA NUSWANTARA – MALAM
Halaman istana diterangi obor. Pasukan militer berlatih di kSenauhan. Wisanggeni memusatkan tenaga, membentuk api di ujung busur panahnya. Antasena menggerakkan tombaknya, air berputar mengelilingi tubuhnya. Pasukan militer Nuswantara juga berlatih di lapangan seberang halaman istana negara.
Wisanggeni menembakkan busur api ke arah Antasena. Antasena menepis busur api menggunakan cincin Mustikabumi. Api pada busur itu padam.
Antasena berjalan menuju tangga istana negara. Wisanggeni menyusul di belakang. Mereka berdua duduk bersama sambil memandang pasukan militer yang sedang berlatih.
WISANGGENI
Wisanggeni dan Antasena menatap langit. Melamun.
CUT TO:
CREDIT TITLE (STANDARD).
FADE IN:
3 INT. RUANG RAPAT ISTANA NEGARA NUSWANTARA – MALAM
Rapat terbatas yang dikemas sebagai makam malam diselenggarakan oleh Supala, pemimpin Negara Nuswantara. Rapat itu dihadiri oleh Durna (penasihat utama pertahanan negara), Padmananda (komandan pasukan khusus), Wisanggeni, Antasena, para pSenabat negara, dan pSenabat militer.
Mereka semua duduk mengelilingi mSena konferensi. Supala mengenakan kemSena krem pucat dengan rompi abu-abu tipis, duduk di ujung mSena. Wisanggeni mengenakan kaos hitam dengan lengan digulung hingga siku, sedangkan Antasena mengenakan kaos putih dilapisi jaket kulit hitam. Wisanggeni dan Antasena duduk bersebelahan.
Para tamu membalas dengan anggukan dan senyuman. Mereka menikmati hidangan dengan nikmat.
Ruang rapat tertutup. Padmananda berdiri di depan layar peta digital bertuliskan OPERASI KURUKALA.
Supala menatap Durna yang berada di sebelah Padmananda, sebuah kode bagi Durna untuk ikut berbicara.
Wajah Supala berkeringat, ia berdiri dari tempat duduknya lalu membelakangi para tamu.
SUPALA
(dengan suara lirih namun tegas)
Wisanggeni berdiri, melakukan protes.
WISANGGENI
(intonasi bicara tinggi)
Supala menoleh, menatap tajam Wisanggeni.
Para tamu terdiam, ketakutan.
Antasena menahan emosi Wisanggeni dengan menarik tangannya.
SUPALA
(dingin, nyaris berbisik)
Supala dan Wisanggeni kembali duduk di kursinya.
Antasena angkat bicara.
Supala menahan emosinya, menjaga wibawanya.
Supala memberi isyarat pada Durna untuk bicara lagi.
Durna menghampiri Wisanggeni dan Antasena yang duduk di seberangnya. Lalu menyodorkan surat pengunduran diri itu.
Wisanggeni enggan menandatangani surat itu. Ia meraih gelas lalu minum.
Antasena meraih pena dari tangan Durna dengan ragu.
Durna mengernyitkan dahi. Tatapannya tajam.
Durna hampir memukul Wisanggeni. Tangannya mengepal erat, menahan amarahnya.
Antasena mengambil surat pengunduran diri di atas mSena itu lalu menandatanganinya. Ia kemudian mengambil surat pengunduran diri lainnya lalu diberikan kepada Wisanggeni.
Wisanggeni menandatanganinya dengan acuh tak acuh.
Supala meneguk minumannya, kemudian berbicara.
Mereka semua bersulang untuk Wisanggeni dan Antasena.
Durna menggeletakkan surat itu di atas mSena, kembali ke tempat duduknya, lalu mengambil gelas dan ikut bersulang.
Padmananda menatap Antasena dan Wisanggeni sambil mengisyaratkannya untuk ikut bersulang.
Antasena mengambil gelasnya lalu ikut bersulang dengan ekspresi dingin. Wisanggeni langsung minum tanpa ikut bersulang.
DISSOLVE TO:
4 EXT. DI ATAS PERAHU, PELABUHAN KOTA ARUNIKA – PAGI HARI
Wisanggeni dan Antasena tergeletak di atas perahu yang masih terombang-ambing di tengah laut Arunika.
Wisanggeni belum membuka matanya. Ia menguap lalu mengubah posisi tidurnya jadi miring ke kanan, membelakangi Antasena.
Antasena geram, Wisanggeni masih memejamkan mata.
Lalu Antasena duduk bersila di atas perahu yang masih terombang-ambing, memusatkan pikiran dan tenaga dalamnya. Ia melakukan gerakan tangan seperti membentuk suatu pusaran. Kemudian ia hentakkan kedua tangannya ke depan.
Dan, nihil. Tidak terjadi apapun. Malah Antasena terbatuk-batuk setelah melakukan gerakan itu.
Wisanggeni menyalurkan tenaga dalamnya kepada Antasena.
Baru setengah jalan, proses penyaluran tenaga dalam itu gagal. Keduanya seperti terpental oleh tenaga masing-masing. Keduanya muntah darah.
Hening sejenak.
Antasena dan Wisanggeni berusaha bangkit menuju mesin perahu di buritan, namun tubuh mereka mendadak melemah. Kaki-kaki mereka tak sanggup lagi menopang tubuh. Keduanya terjatuh di geladak, lalu merangkak tertatih ke arah mesin perahu.
Wisanggeni mencoba menyalakan mesin itu. Berkali-kali. Ternyata mesin habis bensin, tak bisa nyala.
Hening lagi. Suara deburan ombak terdengar cukup keras. Gelombang ombak cukup tenang.
Wisanggeni mengendalikan fokus pikiran dan tenaganya. Lalu menghentakkan tenaga dari kedua tangannya.
Muncul sedikit asap yang kemudian menghilang tertiup angin laut.
Wisanggeni geram, mengepalkan tangannya lalu memukul lambung perahu. Ia mencoba lagi mengeluarkan tenaga dalamnya.
Nihil.
Wisanggeni pun menyerah, ia merebahkan tubuhnya di atas geledak perahu, memandangi cakrawala.
Beberapa saat kemudian ada sebuah kapal nelayan yang baru pulang dari melaut.
Wisanggeni mendengar suara mesin kapal itu. Ia bangun dari rebahannya lalu berdiri melambaikan tangan ke arah kapal itu.
Beberapa orang yang ada di kapal itu ikut melambaikan tangan ke Wisanggeni dan Antasena.
Antasena membuka matanya, melihat Wisanggeni melambaikan tangan. Ia ikut berdiri melambaikan tangan.
Kapal nelayan itu mendekati perahu mereka.
Saat kapal nelayan dan perahu itu berdekatan, seseorang dari kapal nelayan menjulurkan tangannya ke Antasena, membantunya pindah ke kapal nelayan. Kemudian bergantian ke Wisanggeni.
Kapal nelayan itu kembali melaju menuju dermaga Pelabuhan Tua Kota Arunika.
CUT TO: