Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
FADE IN:
EXT. LANGIT YOGYAKARTA – PAGILangit mendung. Gerimis turun perlahan di atas atap-atap kota.
Suara adzan dari kejauhan berpadu dengan bunyi kendaraan yang mulai memenuhi jalan.
INT. KANTOR PEMERINTAH – PAGISebuah ruang kerja tua yang rapi.
Di atas meja terletak map-map tebal, stempel, dan sebuah papan nama bertuliskan:
KANJENG PANEMBAHAN HARYO AMARTYA HADININGRAT
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun menutup map terakhirnya.
Dialah AMARTYA.
Tenang.
Berwibawa.
Tatapannya teduh.
Seorang pegawai muda mengetuk pintu.
PEGAWAI
Kanjeng... semuanya sudah menunggu.
Amartya mengangguk pelan.
INT. AULA KANTOR – PAGIPara pegawai berdiri berjajar.
Satu demi satu mereka menyalami Amartya.
PEGAWAI SENIOR
Selamat memasuki masa pensiun, Kanjeng.
AMARTYA
Terima kasih.
PEGAWAI SENIOR
Sayang sekali... Padahal panjenengan masih mampu memimpin.
Amartya tersenyum tipis.
AMARTYA
Ada pekerjaan lain yang sudah terlalu lama saya tinggalkan.
Semua terdiam.
CUT TO:
EXT. HALAMAN KANTOR – PAGIMobil hitam perlahan meninggalkan kompleks kantor.
Gerimis masih turun.
INT. MOBIL – BERJALAN – PAGIAmartya memandang keluar jendela.
Pasar tradisional.
Pedagang sayur.
Anak-anak sekolah.
Petani membawa hasil panen.
AMARTYA (V.O.)
Selama bertahun-tahun aku membaca laporan tentang tanah.
Kini sudah waktunya kembali menginjaknya.
CUT TO:
EXT. KEDIAMAN HADININGRAT – SIANGPendapa Jawa yang megah namun sederhana.
Pepohonan tua menaungi halaman.
Pintu kayu terbuka perlahan.
Amartya turun dari mobil.
Seorang abdi dalem menghampiri.
WIRATAMA
Sugeng rawuh, Kanjeng.
AMARTYA
Besok pagi kita ke Kampung Sayur.
Wiratama sedikit terkejut.
WIRATAMA
Sendiri, Kanjeng?
AMARTYA
Semakin banyak pengiring...
semakin sedikit yang berani berkata jujur.
Wiratama mengangguk hormat.
CUT TO:
EXT. KAMPUNG SAYUR – PAGIMentari pagi menyinari hamparan sayuran.
Kubis.
Bayam.
Cabai.
Tomat.
Petani bekerja sambil bercanda.
Anak-anak berlari di pematang sawah.
Suasana hidup.
Mobil Amartya berhenti.
Warga menoleh.
Bisik-bisik mulai terdengar.
WARGA 1
Itu bangsawan dari Patehan.
WARGA 2
Katanya mau membeli tanah di sini.
Amartya turun.
Ia memilih berjalan kaki melewati pematang.
Sepatunya mulai terkena lumpur.
EXT. KEBUN INDUK – PAGISeorang lelaki tua berkulit legam menghampiri.
Dialah DARSO, Ketua Kelompok Tani Bumi Syahdu.
Ia membungkuk hormat.
DARSO
Sugeng rawuh, Kanjeng.
AMARTYA
Panjenengan Pak Darso?
DARSO
Inggih.
Mereka berjabat tangan.
INT. BALAI KEBUN – PAGIRuangan sederhana.
Di dinding tergantung foto-foto lama.
Para ilmuwan sedang meneliti tanaman.
Petani membangun saluran irigasi.
Bibit-bibit pertama.
Amartya memperhatikan semuanya.
AMARTYA
Ini semua siapa?
DARSO
Para ilmuwan yang dulu membangun Kebun Induk.
Darso menunjuk foto lain.
DARSO (LANJUT)
Mereka mengajari warga memilih benih, mengolah tanah,
dan membagi hasil panen.
AMARTYA
Lalu setelah mereka pergi?
DARSO
Kami melanjutkannya.
Kelompok Tani Bumi Syahdu.
Amartya mengangguk pelan.
MONTASE— Petani menyemai bibit.
— Anak-anak membawa sayuran.
— Gudang pangan dibuka.
— Benih dibagikan kepada warga.
— Saluran air dibersihkan bersama.
DARSO (V.O.)
Di sini...
hasil panen bukan hanya untuk dijual.
Sebagian disimpan.
Sebagian dibagikan.
Kalau satu keluarga lapar,
seluruh kampung ikut menanggungnya.
AKHIR MONTASE.
EXT. KEBUN INDUK – SIANGDarso mengajak Amartya menuju bagian belakang.
Semakin jauh mereka berjalan...
Tanah berubah.
Tidak ada lagi sayuran.
Hanya tanah keras.
Berbatu.
Retak.
Angin terasa lebih panas.
AMARTYA
Kenapa bagian ini kosong?
DARSO
Sudah dicoba berkali-kali.
Tidak ada yang bertahan hidup.
Amartya berjongkok.
Mengambil segenggam tanah.
Butirannya kasar.
CLOSE UPTanah perlahan jatuh dari sela-sela jemarinya.
AMARTYA
Tanah ini berbeda.
DARSO
Warga menyebutnya...
tanah keras kepala.
Amartya tersenyum kecil.
AMARTYA
Tanah tidak punya kepala.
Darso membalas dengan wajah datar.
DARSO
Mungkin.
Tapi tanah punya ingatan.
Amartya menatap Darso.
Hening.
Hanya suara angin.
EXT. BATAS KEBUN DAN KEDIAMAN – SIANGDi kejauhan tampak tembok belakang rumah Hadiningrat.
AMARTYA
Kalau saya membeli seluruh kebun ini...
apakah para petani masih mau mengelolanya?
Darso tidak langsung menjawab.
DARSO
Tergantung...
untuk apa Kanjeng membelinya.
AMARTYA
Saya ingin memperluas halaman rumah.
Beberapa petani saling berpandangan.
Suasana menjadi tegang.
Amartya melanjutkan.
AMARTYA (LANJUT)
Tetapi kebunnya tetap menjadi kebun.
Kelompok tani tetap mengelola.
Gudang pangan tetap ada.
Bibit tetap dibagikan.
Darso memperhatikan wajah Amartya.
Mencari kebohongan.
Tidak menemukannya.
DARSO
Kalau begitu...
jaga satu hal.
AMARTYA
Apa itu?
Darso memandang tanah kosong di belakang.
DARSO
Jangan sembarangan membangunkan
apa yang tidur di sana.
Amartya mengikuti arah pandang Darso.
Tidak ada apa pun.
Hanya tanah tandus.
DISSOLVE TO:EXT. KEBUN INDUK – BEBERAPA BULAN KEMUDIANPapan nama baru dipasang.
KEBUN INDUK HADININGRAT
Para petani tetap bekerja.
Gudang pangan masih dibuka.
Kelompok Tani Bumi Syahdu tetap menjalankan tugasnya.
Sebuah gerbang kecil kini menghubungkan kebun dengan kediaman Hadiningrat.
EXT. HALAMAN PALING BELAKANG – SENJAAngin berembus pelan.
Tanah tandus masih kosong.
Tidak ada seorang pun.
Tiba-tiba...
Seekor burung gagak terbang menjauh.
Kamera bergerak perlahan mendekati permukaan tanah.
Di antara retakan...
Muncul sehelai daun kecil berwarna hijau tua.
Daun itu bukan tanaman yang dikenal para petani.
Darso datang.
Ia berhenti.
Tatapannya berubah cemas.
Dengan sehelai kain, ia mencabut tanaman itu.
Menggenggamnya tanpa menyentuh langsung.
Amartya datang dari belakang.
AMARTYA
Tanaman apa itu?
Darso tidak menjawab.
Ia membakar daun tersebut.
Api kecil menyala.
Asap tipis mengepul.
AMARTYA
Kenapa dibakar?
Darso menatap asap yang perlahan menghilang.
DARSO
Karena...
tidak semua yang tumbuh
harus dibiarkan hidup.
Amartya memandang tanah tandus itu.
Untuk pertama kalinya...
ia merasa halaman paling belakang menyimpan rahasia yang belum pernah diketahui siapa pun.
FADE OUT.