Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
HALAMAN PALING BELAKANG
Suka
Favorit
Bagikan
1. SANG TUAN TANAH

FADE IN:

EXT. LANGIT YOGYAKARTA – PAGI

Langit mendung. Gerimis turun perlahan di atas atap-atap kota.

Suara adzan dari kejauhan berpadu dengan bunyi kendaraan yang mulai memenuhi jalan.

INT. KANTOR PEMERINTAH – PAGI

Sebuah ruang kerja tua yang rapi.

Di atas meja terletak map-map tebal, stempel, dan sebuah papan nama bertuliskan:

KANJENG PANEMBAHAN HARYO AMARTYA HADININGRAT

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun menutup map terakhirnya.

Dialah AMARTYA.

Tenang.

Berwibawa.

Tatapannya teduh.

Seorang pegawai muda mengetuk pintu.

PEGAWAI

Kanjeng... semuanya sudah menunggu.

Amartya mengangguk pelan.

INT. AULA KANTOR – PAGI

Para pegawai berdiri berjajar.

Satu demi satu mereka menyalami Amartya.

PEGAWAI SENIOR

Selamat memasuki masa pensiun, Kanjeng.

AMARTYA

Terima kasih.

PEGAWAI SENIOR

Sayang sekali... Padahal panjenengan masih mampu memimpin.

Amartya tersenyum tipis.

AMARTYA

Ada pekerjaan lain yang sudah terlalu lama saya tinggalkan.

Semua terdiam.

CUT TO:

EXT. HALAMAN KANTOR – PAGI

Mobil hitam perlahan meninggalkan kompleks kantor.

Gerimis masih turun.

INT. MOBIL – BERJALAN – PAGI

Amartya memandang keluar jendela.

Pasar tradisional.

Pedagang sayur.

Anak-anak sekolah.

Petani membawa hasil panen.

AMARTYA (V.O.)

Selama bertahun-tahun aku membaca laporan tentang tanah.

Kini sudah waktunya kembali menginjaknya.

CUT TO:

EXT. KEDIAMAN HADININGRAT – SIANG

Pendapa Jawa yang megah namun sederhana.

Pepohonan tua menaungi halaman.

Pintu kayu terbuka perlahan.

Amartya turun dari mobil.

Seorang abdi dalem menghampiri.

WIRATAMA

Sugeng rawuh, Kanjeng.

AMARTYA

Besok pagi kita ke Kampung Sayur.

Wiratama sedikit terkejut.

WIRATAMA

Sendiri, Kanjeng?

AMARTYA

Semakin banyak pengiring...

semakin sedikit yang berani berkata jujur.

Wiratama mengangguk hormat.

CUT TO:

EXT. KAMPUNG SAYUR – PAGI

Mentari pagi menyinari hamparan sayuran.

Kubis.

Bayam.

Cabai.

Tomat.

Petani bekerja sambil bercanda.

Anak-anak berlari di pematang sawah.

Suasana hidup.

Mobil Amartya berhenti.

Warga menoleh.

Bisik-bisik mulai terdengar.

WARGA 1

Itu bangsawan dari Patehan.

WARGA 2

Katanya mau membeli tanah di sini.

Amartya turun.

Ia memilih berjalan kaki melewati pematang.

Sepatunya mulai terkena lumpur.

EXT. KEBUN INDUK – PAGI

Seorang lelaki tua berkulit legam menghampiri.

Dialah DARSO, Ketua Kelompok Tani Bumi Syahdu.

Ia membungkuk hormat.

DARSO

Sugeng rawuh, Kanjeng.

AMARTYA

Panjenengan Pak Darso?

DARSO

Inggih.

Mereka berjabat tangan.

INT. BALAI KEBUN – PAGI

Ruangan sederhana.

Di dinding tergantung foto-foto lama.

Para ilmuwan sedang meneliti tanaman.

Petani membangun saluran irigasi.

Bibit-bibit pertama.

Amartya memperhatikan semuanya.

AMARTYA

Ini semua siapa?

DARSO

Para ilmuwan yang dulu membangun Kebun Induk.

Darso menunjuk foto lain.

DARSO (LANJUT)

Mereka mengajari warga memilih benih, mengolah tanah,

dan membagi hasil panen.

AMARTYA

Lalu setelah mereka pergi?

DARSO

Kami melanjutkannya.

Kelompok Tani Bumi Syahdu.

Amartya mengangguk pelan.

MONTASE

— Petani menyemai bibit.

— Anak-anak membawa sayuran.

— Gudang pangan dibuka.

— Benih dibagikan kepada warga.

— Saluran air dibersihkan bersama.

DARSO (V.O.)

Di sini...

hasil panen bukan hanya untuk dijual.

Sebagian disimpan.

Sebagian dibagikan.

Kalau satu keluarga lapar,

seluruh kampung ikut menanggungnya.

AKHIR MONTASE.

EXT. KEBUN INDUK – SIANG

Darso mengajak Amartya menuju bagian belakang.

Semakin jauh mereka berjalan...

Tanah berubah.

Tidak ada lagi sayuran.

Hanya tanah keras.

Berbatu.

Retak.

Angin terasa lebih panas.

AMARTYA

Kenapa bagian ini kosong?

DARSO

Sudah dicoba berkali-kali.

Tidak ada yang bertahan hidup.

Amartya berjongkok.

Mengambil segenggam tanah.

Butirannya kasar.

CLOSE UP

Tanah perlahan jatuh dari sela-sela jemarinya.

AMARTYA

Tanah ini berbeda.

DARSO

Warga menyebutnya...

tanah keras kepala.

Amartya tersenyum kecil.

AMARTYA

Tanah tidak punya kepala.

Darso membalas dengan wajah datar.

DARSO

Mungkin.

Tapi tanah punya ingatan.

Amartya menatap Darso.

Hening.

Hanya suara angin.

EXT. BATAS KEBUN DAN KEDIAMAN – SIANG

Di kejauhan tampak tembok belakang rumah Hadiningrat.

AMARTYA

Kalau saya membeli seluruh kebun ini...

apakah para petani masih mau mengelolanya?

Darso tidak langsung menjawab.

DARSO

Tergantung...

untuk apa Kanjeng membelinya.

AMARTYA

Saya ingin memperluas halaman rumah.

Beberapa petani saling berpandangan.

Suasana menjadi tegang.

Amartya melanjutkan.

AMARTYA (LANJUT)

Tetapi kebunnya tetap menjadi kebun.

Kelompok tani tetap mengelola.

Gudang pangan tetap ada.

Bibit tetap dibagikan.

Darso memperhatikan wajah Amartya.

Mencari kebohongan.

Tidak menemukannya.

DARSO

Kalau begitu...

jaga satu hal.

AMARTYA

Apa itu?

Darso memandang tanah kosong di belakang.

DARSO

Jangan sembarangan membangunkan

apa yang tidur di sana.

Amartya mengikuti arah pandang Darso.

Tidak ada apa pun.

Hanya tanah tandus.

DISSOLVE TO:EXT. KEBUN INDUK – BEBERAPA BULAN KEMUDIAN

Papan nama baru dipasang.

KEBUN INDUK HADININGRAT

Para petani tetap bekerja.

Gudang pangan masih dibuka.

Kelompok Tani Bumi Syahdu tetap menjalankan tugasnya.

Sebuah gerbang kecil kini menghubungkan kebun dengan kediaman Hadiningrat.

EXT. HALAMAN PALING BELAKANG – SENJA

Angin berembus pelan.

Tanah tandus masih kosong.

Tidak ada seorang pun.

Tiba-tiba...

Seekor burung gagak terbang menjauh.

Kamera bergerak perlahan mendekati permukaan tanah.

Di antara retakan...

Muncul sehelai daun kecil berwarna hijau tua.

Daun itu bukan tanaman yang dikenal para petani.

Darso datang.

Ia berhenti.

Tatapannya berubah cemas.

Dengan sehelai kain, ia mencabut tanaman itu.

Menggenggamnya tanpa menyentuh langsung.

Amartya datang dari belakang.

AMARTYA

Tanaman apa itu?

Darso tidak menjawab.

Ia membakar daun tersebut.

Api kecil menyala.

Asap tipis mengepul.

AMARTYA

Kenapa dibakar?

Darso menatap asap yang perlahan menghilang.

DARSO

Karena...

tidak semua yang tumbuh

harus dibiarkan hidup.

Amartya memandang tanah tandus itu.

Untuk pertama kalinya...

ia merasa halaman paling belakang menyimpan rahasia yang belum pernah diketahui siapa pun.

FADE OUT.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)