Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Bulu Pamali dan Pulau Tujuh
Suka
Favorit
Bagikan
1. Tragedi

FADE IN

INT. RUMAH SAKIT/RUANG OPERASI — SIANG

TOMI (30) menunggu cemas di depan ruang operasi. Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi memecah ruangan. Wajah Tomi seketika berubah lega.

TOMI

Terima kasih, Tuhan.

Dokter keluar, wajahnya berat. Tomi menghampirinya tergesa dengan roman mukanya yang senang. Belum juga Tomi mulai bertanya, sang dokter sudah berkata.

DOKTER

Bayinya selamat, Pak… laki-laki.
TOMI
(tersenyum) Syukurlah. Terima kasih, Dok.
DOKTER
Tapi… istri Bapak tidak tertolong.

Tomi terdiam. Shock.

DOKTER CONT'D

Istri Bapak sudah lama punya tumor rahim. Kehamilan ini sangat berisiko. Beliau minta kami merahasiakan dari Bapak.

Tomi terduduk. Tangis bayi terdengar lebih kencang dari dalam.


CUT TO


INT. RUMAH SAKIT/DEPAN RUANG OPERASI — SIANG

Tomi menggendong bayi. Air mata jatuh ke wajah bayinya.


CUT TO


INT. RUMAH TOMI — SORE

HILDA (25) sedang hamil tua. Dia menggendong bayi, anaknya Tomi yang baru saja lahir. Di sampingnya ada DIRGA (35), suami Hilda. Sementara Tomi berdiri di sisi lain. Dia masih terlihat sedih dan bingung. Hilda mencoba menenangkan Tomi.

HILDA

Biar aku yang rawat, Mas. Aku tantenya.

Dirga langsung memotong.

DIRGA

Kita juga mau punya bayi, Da. Sewa babysitter saja.

HILDA

Kasih itu baik sekali sama aku. Ini waktunya aku balas, Mas.

Tomi menghela nafas lega.

TOMI

Syukurlah kalau kamu bersedia merawatnya sementara,Dek. Mas tadinya khawatir. Tapi tenang saja ini sementara, sembari Mas mencari pengasuh yang cocok.

Hilda tersenyum tulus. Lalu Tomi beralih ke Dirga.

TOMI

Oh ya, Dirga. Kamu sudah ke pabrik?
DIRGA
Belum, Mas. Tadi kan masih harus wara-wiri ke rumah sakit.
TOMI
Kalau begitu, kamu sekarang ke pabrik. Tolong cek koleksi bambu rotan buat pameran sudah siap atau belum.
DIRGA
Baik, Mas.

Dirga tersenyum sekilas. Menyimpan sebuah rencana jahat. Bayi menangis keras saat Tomi pamit pergi.


CUT TO


EXT. JALAN SEPI – SORE

Satu Bulan kemudian. ESTABLISHED DESA. Sepi.

Tiba-tiba dari kejauhan muncul mobil Tomi yang melaju perlahan. Kemudian di belakangnya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hendak mendahului. Tomi kaget dan banting setir ke kiri.

TOMI

Heiii.. apa-apaan ini?

Tomi mendengus geram. Ingin rasanya memaki si pengendara mobil yang ugal-ugalan itu, tapi nampak ditahan. Rahangnya mengeras. Ketika suasana mulai tenang, mobil itu semakin mepet dan... "Brakk!" Terdengar suara keras.

TOMI

Aaaaaa!

Mobil Tomi terguling sampai akhirnya membentur sebuah pohon besar di pinggir jalan. Kepulan asap dan sedikit percikan api muncul dari mobil itu.

Beberapa saat kemudian, dua orang laki-laki dengan tutup kepala turun dari mobil yang menabrak tadi.

Mereka mengecek kondisi Tomi yang sudah tidak berkutik dengan darah mengucur di kepalanya.

JAKI

Gimana?
YUDA
Beres! (mengacungkan jempol)

Lalu menyeringai. Mereka lantas membuka penutup kepala. Mereka adalah JAKI dan YUDA. Usia sekitar 30 tahunan.

Dari kejauhan, tanpa mereka sadari KAKEK TAPA (60) mengamati.


CUT TO


INT. RUMAH TOMI — SIANG

Bayi menangis keras. Susu tumpah ke badannya. Hilda refleks meraih tubuh sang bayi.

HILDA

Ya ampuun, Nak.

Hilda membuka baju bayi.

HILDA

Kamu nggak suka ya sama susunya? (Menggendong Sebentar, mengayun)
Sebentar, ya.

Hilda meletakkannya ke ranjang semula. Terlihat tanda lahir bayi di dada kanan. Hilda tersenyum.

HILDA

Tante tinggal dulu. Bentar aja. Soalnya baju kamu harus diganti.

Hilda lalu pergi untuk mengambil kain.


CUT TO


EXT. TERAS RUMAH TOMI — SIANG

Nampak Dirga mondar-mandir gelisah. Beberapa kali melihat layar telepon. Beberapa saat kemudian ponsel berdering. Ia segera mengangkat panggilan.

DIRGA

Bagaimana?
JAKI O.S
Beres, Bos.

DIRGA

Bagus.

Dirga menutup panggilan telepon. Lalu menyeringai penuh kemenangan. Beberapa saat kemudian dia mendengar suara bayi menangis dari dalam rumah. Bergegas masuk ke dalam rumah.


CUT TO


INT. RUMAH TOMI — SIANG

Dirga melihat bayi sedang menangis. Suaranya lebih kencang dari sebelumnya.

DIRGA

(kesal) Ya ampun ini anak. Lama-lama bisa stress liat beginian tiap hari.
(beat)
Anak ini udah nggak punya ibu dan bapak. Buat apa juga aku repot-repot rawat dia. Mending sekalian diberesin. Aku kirim ke panti atau..

Dirga nampak berpikir. Tak lama kemudian Dirga menggendong sang bayi dengan pakaian seadanya. Bercak putih bekas tumpahan susu menempel di bajunya. Bergegas dibawanya ke luar.

Beberapa menit setelah kepergian Dirga, muncul Hilda yang membawa lap dan baju ganti dari dalam kamar. Terkejut karena tidak melihat bayi itu.

HILDA

Loh kemana?

Dia mondar-mandir mencari. Masuk kamar lain kemudian keluar lagi.

HILDA

Apa mungkin dibawa Mas Dirga. Karena nangis terus, Mas Dirga nggak tega terus digendong.(memanggil Dirga) Mas...kamu bawa bayi Tomi ya..

Hildapun ke luar mencari Dirga.


CUT TO


EXT. JALAN DESA — SIANG

Dirga menyusuri jalan sambil menggendong bayi Tomi yang tak henti menangis. Dia kebingungan.

DIRGA

(marah) Heh bocah. Bisa diem nggak?! Nyusahin aja.

Sedang kebingungan itu, Dirga melihat Kakek Tapa dengan dandanan gembelnya. Dia sedang berteduh di bawah pohon rindang.

KAKEK TAPA

Hei anak muda, bayimu menangis kencang. Mana ibunya? Harusnya kau kasih dia air susu ibu biar berhenti nangis.

Dirga mendadak punya ide.

DIRGA

Oh Kakek tua. Saya ini bukan ayah bayi ini. Saya menemukan dia sebatang kara. Ibunya mungkin sengaja meninggalkannya.

Kakek Tapa berkerut dahi.

KAKEK TAPA

Mana mungkin ada ibu seperti itu?

DIRGA

Saya tidak bohong. (Beat) Apakah kakek mau bantu saya?
KAKEK TAPA
Maksud kamu?

Dirga merogoh kantong, mengambil beberapa lembar uang. Lantas memberinye kepada kakek.

DIRGA

Saya punya beberapa keping uang untuk kakek. Tapi tolong jagakan anak ini. Terserah mau dibawa ke hutan, atau kemana saja. Asalkan nggak Kita nggak ketemu lagi.

KAKEK TAPA

Kamu buang anak sendiri?

DIRGA

Kan saya sudah bilang, ini bukan anak saya. Tolong saya kek, istri saya akan marah besar kalau saya bawa bayi yang nggak tahu asal-usulnya ini ke rumah. Dia pasti nyangka saya punya selingkuhan. Padahal saya ini laki-laki setia.

Kakek Tapa menatap tajam. Dirga nampak kikuk ditatap demikian seketika memalingkan muka ke arah lain. Kakek Tapa tersenyum tipis.

KAKEK TAPA

Baiklah.

Dirga tersentak sekaligus senang.

DIRGA

Benarkah?

Dirga menubruk tubuh kakek tua itu.

KAKEK TAPA

Sudah, sudah tidak perlu seperti ini. Sekarang kasihkan bayi itu dan uang yang kamu janjikan itu.

Dirga girang. Segera diberikannya bayi Tomi beserta segepok uang dalam sebuah kantung kain. Kakek Tapa tersenyum, menimang bayi Tomi sejenak, dia nampak takjub melihat wajah sang bayi. Seketika tangis bayi reda. Diapun pergi meninggalkan Dirga. Di sini sekali lagi Dirga menyeringai penuh kemenangan.


CUT TO


INT. RUMAH TOMI — SIANG

Sementara itu, Hilda masih panik karena bayi hilang. Dirga tiba-tiba muncul. Hilda segera memberondong dengan banyak pertanyaan.

HILDA

Ya ampun akhirnya. Mas kemana aja? Saya panik dari tadi. Kamu bawa bayi Tomi kemana mas?

Dirga pura-pura cemas.

DIRGA

Kamu jangan tanya terus. Mas ini justru lagi cemas, tadi bayi Tomi mas bawa keluar biar nggak nangis terus, ditaro di roda, tiba-tiba udah nggak ada.
HILDA
Kok bisa begitu, Mas? Atau Mas sengaja ninggalin bayi Tomi di jalan sendirian.
DIRGA
Apa maksud kamu dengan kata sengaja? Kamu kira Mas sejahat itu?
HILDA
Ya karena ini nggak masuk akal kalau tiba-tiba hilang gitu aja.

Tiba-tiba Hilda kontraksi.

HILDA

Aduh! Perutku.

Dirga panik.

DIRGA

Kamu kenapa?

Cairan sedikit keruh mengalir ke betis Hilda. Pecah ketuban. Dia ambruk. Untung saja tubuhnya segera ditangkap Dirga.


CUT TO


10 TAHUN KEMUDIAN

EXT. GUBUK – PAGI

ESTABLISHED suasana cerah pagi hari di hutan. Mataharinya cukup terik. Seorang anak laki-laki tampan bernama YONGKER (10) sedang latihan silat. Ia mengikuti gerakan Kakek Tapa.

Beberapa menit kemudian gerakkannya melemah dan terkulai. Pura-pura kecapaian.

YONGKER

Kek… capek.. lapar…

KAKEK TAPA

Gerakanmu masih salah! Jangan manja.

Kakek Tapa mengarahkan tinju ke tubuh Yongker. Secepat kilat Yongker menghindar. Dia berlari menjauhi Kakek Tapa.

KAKEK TAPA

(Teriak..) Yongkerrr...! Awas ya kamu.

Yongker tetap berlari sambil meledek.


CUT TO


EXT. JALAN DESA — PAGI

Yongker sudah berjalan menyusuri desa. Dia melihat anak-anak lain sepanjang jalan, ada yang bermain, jajan di pedagang kaki lima. Seorang anak perempuan bernama MILA (10) ada di tengah mereka. Yongker mendekat. Mereka menatap heran. Mila mengejek.

MILA

Hei lihat. Ada anak pengemis.

Teman-teman Mila tertawa. Yongker tidak suka. Dia tiba-tiba rebut jajanan.

MILA

Hei apa-apaan kamu? Balikin jajanan aku.
YONGKER
Sini kalau berani.

Mila berusaha merebut kembali jajanannya. Yongker sengaja meledek. Mereka berkejaran. Mila akhirnya menangis. Melihat itu, teman-teman Mila kompak melempari Yongker dengan batu-batu kecil. Satu kerikil mengenai pelipis Yongker.

YONGKER

Aduh!

Saat anak-anak itu semakin banyak yang melempari Yongker, Kakek Tapa datang menyelamatkan. Dia langsung memeluk Yongker yang tersungkur memegangi pelipisnya.

KAKEK TAPA

Sudah, sudah. Bubar semuanya.
ANAK-ANAK
Huuuu...!

Kakek Tapa membawa Yongker menjauh dari tempat itu.


CUT TO


EXT. GUBUK / SORE

Yongker dimarahi.

YONGKER

Aku pengen teman… pengen jajan…

Kakek terdiam. Seperti berpikir sejenak. Lalu dia berkata.

KAKEK TAPA

Cari bambu ke hutan. Dinding gubuk harus diganti.
YONGKER
(Merengek) Kakek...

Kakek Tapa pura-pura tidak mendengar. Dia malah pergi meninggalkan Yongker. Yongker kesal. Wajahnya ditekuk tiga lapis.


CUT TO


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)