46. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TAMU - MALAM
PAK DANI memeriksa selot besi dan gerendel ganda di pintu belakang, memperketat pengamanan. Jendela-jendela kecil ditutup triplek tambahan, disisakan celah ventilasi untuk udara.
BU DANI
(cemas)
Situasi di luar sudah enggak sehat, Pak. Tadi siang ada anak muda lewat sambil menatap rumah kita dengan sorot mata penuh permusuhan.
PAK DANI
(tenang)
Kalau begitu, mari kita buat rumah kita jauh lebih terlindungi dari dunia luar.
DIMAS
(penasaran)
Bapak, kenapa pintu belakang ditutup rapat juga?
PAK DANI
(berlutut di depan anaknya)
Dimas, Rara... di luar sana sedang ada angin badai kecil yang lewat. Badai itu enggak akan bisa masuk ke dalam rumah kita selama kita tetap bersama-sama, saling menjaga, dan enggak membuka pintu untuk hal-hal yang enggak perlu.
Kedua anak mengangguk paham, kembali menggambar di kertas - dunia kecil mereka yang hangat dan aman.
47. INT. RUMAH PAK RT - RUANG TAMU - MALAM
Ruangan sesak oleh warga yang marah. TARJO memimpin di barisan depan bersama Bu Sumi, Karso, Dedi, dan puluhan warga lain.
TARJO
Kampung kita ini sudah enggak aman, Pak RT! Ada orang misterius, menyembunyikan diri di balik gembok! Mau sampai kapan Pak RT berdiam diri?!
BU SUMI
Anak-anak saya takut lewat situ! Jangan-jangan ada ruang rahasia tempat nyimpen barang haram!
PAK RT
(mencoba menenangkan)
Saya dan Slamet sudah periksa langsung. Enggak ada utang, enggak ada ritual mistis...
TARJO
Itu pemeriksaan sekadarnya! Apa Pak RT sudah bongkar gemboknya? Belum kan?!
SLAMET
(berdiri, menuding Tarjo)
Kamu jangan paksa pengurus RT melanggar hukum! Mendobrak rumah orang tanpa bukti itu kriminal!
TARJO
(balik menuduh)
Kamu takut kenapa, Slamet?! Jangan-jangan kamu sudah ikut menikmati hasil kejahatannya!
Sorakan massa mendukung Tarjo. Pak RT, terpojok, akhirnya-
PAK RT
(berat hati)
Baik... kita ke sana malam ini. Tapi enggak ada kekerasan! Kita cuma minta penjelasan!
Tarjo tersenyum penuh kemenangan di balik kerumunan.
48. EXT. JALAN GANG MENUJU RUMAH PAK DANI - MALAM
Konvoi warga berjalan membawa OBOR BAMBU menyala. TARJO memegang PEMOTONG BESI besar di depan. DEDI membawa linggis. Bayangan hitam bergoyang liar di tanah, diterangi kobaran obor.
PAK RT dan SLAMET berjalan cemas di tengah kerumunan.
SLAMET
(pada Pak RT)
Ini sudah kelewatan, Pak RT.
Mereka tiba di pekarangan rumah Pak Dani. Rumah itu gelap, tenang, mencekam di tengah kepungan obor.
49. EXT. TERAS RUMAH PAK DANI - MALAM - LANJUTAN
TARJO
(berteriak ke arah pintu)
Dani! Keluar kamu! Buka pintu ini sekarang, atau gemboknya kami hancurkan!
INT. RUMAH PAK DANI - BERSAMAAN
Keluarga itu berdiri tenang. BU DANI memeluk anak-anak di atas tikar. Tidak ada tangisan.
Pak Dani mendekati pintu, berbicara dari baliknya.
PAK DANI (V.O., dari balik pintu) Selamat malam, Pak RT... Selamat malam untuk Bapak-Ibu sekalian.
EXT. TERAS - LANJUTAN
PAK RT
Pak Dani, tolong buka gemboknya. Warga ingin memastikan enggak ada yang mencurigakan.
PAK DANI (V.O.)
Di dalam sini hanya saya, istri, dan anak-anak yang beristirahat. Enggak ada rahasia apa pun yang perlu ditakutkan.
TARJO
(memotong, berteriak)
Kalau enggak ada rahasia, kenapa digembok dari luar?! Buka sekarang, atau kami bongkar paksa!
50. EXT. TERAS RUMAH PAK DANI - LANJUTAN
Pak Dani, dari dalam, tetap tenang - bahkan mendoakan kebaikan bagi warga.
PAK DANI (V.O.)
Malam sudah sangat larut. Kasihan anak-anak warga yang mungkin butuh tidur nyenyak. Lebih baik semuanya pulang, beristirahat dengan tenang. Kami sekeluarga mendoakan semoga esok hari rezeki Bapak dan Ibu sekalian dilimpahkan oleh Tuhan.
Beberapa warga di belakang mendadak terdiam, tersentil. Tapi Tarjo, dibutakan amarah dan malu, tidak mau berhenti.
TARJO
(mengangkat pemotong besi)
Jangan mau ditipu omongan manisnya! Pemotong besi sudah ada di tangan saya! Malam ini juga, gembok rahasia ini harus hancur!
Ia mendorong Pak RT dan Slamet ke samping, mengarahkan rahang pemotong besi ke tangkai gembok.