Cuplikan Chapter ini
Aroma kopi robusta dan gurihnya croissant di kafe Titik Temu sore itu seharusnya menciptakan suasana rileks tapi bagi Pramita Gea dan Sasmi justru terasa seperti ruang rapat yang strategisMeja bundar yang biasanya diisi tawa lepas kini menjadi medan pertempuran ide dilengkapi sebuah notebook dan pulpen yang dipegang erat oleh PramitaObrolan di grup WhatsApp semalam telah memanas menuntut sebuah pertemuan tatap muka Ketiganya datang dengan gurat kelelahan di wajah namun juga nyala