Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Dua kata yang Dilan pilih untuk menggambarkan perasaannya ke Alara selama bertahun-tahun.
Dia tak pernah berani mengungkapkannya. Karena bagi Dilan, kehilangan Alara sebagai sahabat jauh lebih menakutkan daripada memendam cinta sendirian. Dia pelan-pelan belajar cara untuk mencintai dalam diam. Menjadi pendengar terbaik tiap Alara cerita soal Rafael dengan mata berbinar, menjadi bahu terkuat tiap Alara pulang dengan hati hancur karena sikap dingin cowok itu, dan menjadi orang pertama yang maju dan paling marah, saat puisi rahasia Alara dicuri Tania lalu dibacakan dan ditertawakan teman sekelas.
Dilan sudah terbiasa jadi bayangan. Terbiasa mengalah, terbiasa mundur dan memberi ruang saat Rafael terang-terangan menunjukkan sikap kurang nyaman dan ketidaksukaannya dengan keberadaan Dilan di antara mereka. Dilan pikir, selama Alara bahagia, diamnya akan terbayar lunas.
Tapi ternyata, cinta yang dipendam terlalu lama itu seperti api dalam sekam. Tak terlihat, tapi terus membakar dari dalam. Apalagi ketika orang yang dia jaga mati-matian mulai menyadari siapa yang sebenarnya tak pernah pergi, bahkan di saat kondisi terburuknya.
Seberapa lama lagi Dilan bisa bertahan jadi "sahabat"? Dan kalau suatu hari Alara akhirnya menoleh ke belakang, apakah Dilan masih punya sisa keberanian untuk bicara, atau dia akan memilih diam selamanya?