Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Kehilangan anak pertama dan rongrongan mertuanya yang tiada berhenti mengusik kehidupan rumah tangga yang sedang ia bangun, membuat Mariyam nekat meninggalkan kampung halaman, mengabaikan larangan suaminya. Merantau dia ke sebuah desa yang belum pernah dia jamah, membawa anak keduanya yang baru beberapa bulan lahir ke dunia, beserta suaminya yang terpaksa ikut. Seorang diri dia membesarkan anak-anaknya di sana, suami yang dulu dia cinta, yang membuatnya jatuh cinta karena kelembutan suaranya kala melantunkan adzan, telah lenyap karisma dan tanggung jawabnya, berubah menjadi lelaki brengsek yang cuman tau berjudi kartu dan berfoya-foya. Berpuluh tahun dia berjuang, membina keluarga, menyejahterakan anak-anaknya, memberikan pendidikan yang layak. Dan ketika dirasa tugasnya sebagai Ibu tunai, anaknya yang lain pergi meninggalkannya. Mengadu ia pada Tuhan, "Kenapa kau biarkan aku mengalami kehilangan ini terus-menerus? Tak bisakah kau cabut nyawaku lebih dulu dibanding mereka? Tak kuasa aku jika harus mendengarkan kabar kematian mereka satu per satu." Berkata ia pada sahabatnya, "Kupikir Tuhan telah menganggapku layak menjadi seorang ibu, tetapi melihat nasib anak-anakku rasanya tidak seperti itu. Aku ini memang ibu yang buruk, pantas Tuhan memperingatkanku di awal-awal pernikahan. Dan aku dengan sombongnya malah mengabaikan itu semua, menambah-nambah anak yang akhirnya bernasib sama seperti pendahulunya."