[1] "Di, maaf gue banyak ngambil alih, soalnya lu tadi gak merhatiin si Hamid. Gak fokus, dia, harusnya jangan terus-terusan dihantam. Tapi emang gue tadi salah, sih, ngasih tahunya."
[2] "Iya, santai. Maaf juga tadi gue banyak nyuruh, ya, guys."
[3] "Lu lebih pendek!"
[4] "Di, lu biasa lewat jalan Maleber gak?"
[5] "Ngapain? Rumah gue di Setiabudi."
"Orang kaya dia tuh, anjing."
[6] "Kelihatan, kali, dari mobilnya."
[7] bagus.
[8] "Anjing, kalau gitu berarti kita harus sering-sering ngerjain tugas di rumah lu, Di."
[9] jangan.
[10] "Sebelas-duabelas sama si Sangi."
[11] "Lu usaha dulu, dong, makanya!"
[12] "Kenapa lu gak masuk jurusan Bahasa?"
[13] "Iya, gue juga nyesel masuk IPA tuh. Padahal penginnya jadi pegawai bank aja."
[14] "Dulu."
[15] "Waktu lu gak masuk sebulan tuh gara-gara ini, Yan? Dia katanya patah kakinya. Datang-datang ke sekolah udah pakai tongkat."
[16] "Gue ngamuk gara-gara dia yang nyari-nyari masalah! Kalau dia mau ribut sama gue doang, ya, silakan aja, gue ladenin. Ini malah bawa-bawa anak orang! Gak tanggung jawab lagi, anjing!"