Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Jumat itu usianya genap tujuh belas tahun, dan Colin belum pernah merasakan keinginan sekuat itu untuk binasa. Ia tidak ingin marah, tak merasa. Ia tidak ingin menangis, tak merasa. Akan tetapi tangan kanannya, yang menggenggam sebilah pisau berlumur krim kue ulang tahunnya, terasa begitu panas, ingin mengayun, tapi tak ingin membuat diri sendiri terluka. Apa yang kau lakukan ketika merasa demikian?
Pola kehidupan Colin yang monoton berantakan sudah ketika ia terpaksa dititipkan pada Om Beben, sahabat pamannya di kota lain. Di sana ia mengenal Ryan, Darla, dan Daffa, tiga keponakan Om Beben yang membawa kekacauan masing-masing di hidupnya. Setelah lama saru dengan latar belakang, kini, apa pun yang berkaitan dengan keluarga itu selalu menyeretnya ke tengah lampu sorot, dan Colin tak menyukainya.
Di tengah kekalutannya, ibunya yang terasing tiba-tiba mendesaknya pulang, menuntutnya kembali mengenakan atribut dari masa lalu yang telah ia bungkam dan sembunyikan di ruang tertentu.
Tahu-tahu, segalanya mengimpitnya sekaligus, namun tak ada yang bisa dilakukannya selain turut terjerumus hingga larut dalam arus. Mau tidak mau, ia harus mengandalkan orang-orang yang bukan dirinya, dan bukankah itu adalah yang paling buruk dari semuanya?