Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Siang itu, matahari seakan membakar bumi tanpa ampun. Aspal jalanan desa tampak bergelombang oleh fatamorgana panas. Bagas menyeka keringat yang bercucuran di dahinya menggunakan kaos oblong yang sudah basah kuyup. Napasnya terengah-engah saat tangannya menuntun motor tua kesayangannya masuk ke halaman rumah. Mesin motor itu mogok beberapa ratus meter sebelum mencapai rumah, memaksa Bagas melakukan olahraga siang yang tak direncanakan.
Namun, rasa lelah yang menggelayuti tubuh Bagas mendadak menguap begitu saja. Dari kejauhan, di ujung jalan yang berdebu, sebuah siluet yang sangat ia kenal muncul. Jantung Bagas berdegup lebih kencang, ritmenya mengalahkan rasa lelah di dadanya.
Sesosok gadis manis tampak sedang mengayuh sepeda berwarna merah tua. Gadis itu mengenakan kaos berwarna merah jambu yang kontras dengan warna sepedanya, membuat penampilannya terlihat begitu cerah di tengah teriknya siang. Ia sedang menuju sebuah warung kelontong yang letaknya tak jauh dari rumah Bagas.
Bagas menghentikan langkahnya. Ia terdiam untuk sesaat, terpaku di samping motor mogoknya. Matanya tak berkedip memandangi raut wajah gadis itu dari kejauhan. Manis. Hanya satu kata itu yang selalu muncul di benak Bagas setiap kali memandangnya. Terlebih lagi, ketika gadis itu tersenyum kepada nya ketika mereka saling berpapasan, senyum merona yang begitu tulus, yang sanggup membuat dunia Bagas yang abu-abu seketika berubah penuh warna.
Bagas tidak pernah merasakan bosan, bahkan tidak akan pernah, melihat gadis itu lewat di depan rumahnya setiap hari. Bagas selalu berharap dalam diam, memohon kepada semesta agar ia bisa terus melihat senyuman itu setiap kali takdir mempertemukan pandangan mereka.
Gadis itu bernama Za. Dia adalah tetangga dekat Bagas, hanya terpisah oleh beberapa bangunan rumah saja. Nama yang singkat, namun memiliki gaung yang begitu besar di dalam hati Bagas. Begitu besarnya, hingga nama “Za” selalu menjadi kata yang paling sering Bagas sebut dan bisikkan ke dalam doa-doanya setiap kali ia menunaikan ibadah di keheningan malam.
Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh, Bagas melanjutkan aktivitasnya. Ia memarkirkan motornya di bawah pohon, lalu mengambil ember dan kain lap untuk membersihkan debu-debu yang menempel. Sambil tangannya bergerak memeras kain lap, mata Bagas dengan iseng kembali memperhatikan warung kelontong yang didatangi Za tadi.
Bagas mengernyitkan dahi. Ia tidak melihat sepeda merah tua itu lagi di depan warung.
“Apakah Za telah pulang ke rumahnya?” tanya Bagas dalam hati, merasa sedikit kehilangan.
Rasa penasaran menuntun pandangan Bagas untuk beralih. Ia dengan iseng mengarahkan matanya ke arah pekarangan rumah Za. Ternyata benar saja, Za sudah kembali dari warung. Namun, pemandangan berikutnya membuat Bagas sedikit terperangah sekaligus menahan senyum. Dari kejauhan, ia melihat Za sedang duduk dengan santai di atas dahan pohon mangga yang rimbun di depan rumahnya, mungkin sedang mencari angin segar untuk menghalau hawa panas.
Melihat tingkah Za yang masih polos dan apa adanya itu, dada Bagas kembali bergetar. Sebuah doa kecil kembali terucap dengan sangat tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Ya Allah, bolehkah aku bersanding dengan-nya? Bolehkah aku menemani hari-harinya yang sepi? Bolehkah aku bersepeda berdua dengan-nya, menikmati angin sore tanpa ada yang menghakimi kami?"
Bagas memang sering mendoakan Za dalam sujud-sujud sholatnya. Di atas sajadah yang menjadi saksi bisu, Bagas selalu menumpahkan harapannya. Ia sangat berharap bahwa suatu saat nanti, di masa depan yang entah kapan, ia bisa menjabat tangan wali Za dan menyelesaikan proses ijab kabul dengan lantang, mengikat gadis itu dalam ikatan suci yang halal.
Namun, tepat setelah doa itu selesai digaungkan dalam hati, sebuah kenyataan pahit menghantam kesadaran Bagas. Kenyataan yang selalu berhasil meruntuhkan seluruh harapan tingginya ke tanah. Bagas tersenyum kecut, menatap jemarinya yang mulai berkerut.
Seakan-akan dunia sedang mengutuk jalan pintas yang ingin ia tempuh. Bagas sadar sesadar-sadarnya, ada jarak ribuan kilometer di antara mereka. Ada jurang yang sangat dalam yang memisahkan langkah kaki mereka, dan ada gunung tinggi menjulang yang menjadi tembok kokoh di antara mereka berdua.
Tembok itu bernama **usia**.
Usia di antara Bagas dan Za terpaut puluhan tahun. Di saat Bagas sudah kenyang memakan asam garam kehidupan dengan segala kedewasaannya, Za masih berada di usia yang sangat muda, memandang dunia dengan kacamata kepolosan. Perbedaan generasi yang teramat jauh itu melahirkan satu tembok raksasa lain yang mustahil diruntuhkan: **restu orang tua Za beserta keluarga besarnya**.
Bagas tahu diri. Di mata keluarga Za dan masyarakat sekitar, ketertarikannya pada Za bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran yang menyimpang, atau bahkan sebuah lelucon yang tak lucu. Siapa yang akan merestui seorang pria yang usianya jauh lebih pantas menjadi paman atau bahkan ayah untuk bersanding dengan anak gadis mereka?
Rasa sedih yang teramat sangat seketika menghujam jantung Bagas setiap kali ia teringat akan fakta tersebut. Kenyataan itu terasa seperti tamparan keras yang membangunkannya dari mimpi indah. Namun, ajaibnya, Bagas tidak pernah merasa lelah. Bagas menolak untuk menyerah pada logika manusia. Ia tetap percaya bahwa di atas segalanya, ada kekuatan yang lebih besar. Ia percaya Tuhan mampu membolak-balikkan hati manusia dan mengabulkan doa yang mustahil sekalipun jika Dia menghendaki.
Kini, hari-hari berlalu dan Bagas tetap menjalani aktivitas hariannya seperti biasa. Ia bekerja, merawat rumahnya, dan menjalani rutinitas yang monoton. Namun, di tengah semua kemonotonan itu, ada satu hal yang selalu ia tunggu-tunggu setiap hari: kesempatan untuk melihat senyum manis merona dari bibir kecil Za.
Tak lupa pula, di setiap helaan napas dan di setiap sela waktu luangnya, Bagas selalu menyelipkan doa keselamatan kepada Sang Pencipta untuk gadis itu.
“Ya Allah, tolong lindungi Za di mana pun dia berada. Jaga kesuciannya, jaga kebahagiaannya, dan jangan biarkan kesedihan menyentuh hatinya.”
Doa itu telah menjadi zikir harian bagi Bagas. Sebuah doa yang tidak akan pernah hilang, walaupun ada hari-hari di mana Bagas tidak selalu bisa bertemu atau melihat siluet Za. Bagi Bagas, mencintai Za tidak lagi melulu tentang memiliki, melainkan tentang memastikan bahwa gadis itu selalu baik-baik saja di bawah perlindungan Tuhan.
Senyuman manis yang keluar dari bibir kecil Za akan selalu menjadi bahan bakar utama bagi semangat hidup Bagas. Senyuman itu telah bermutasi menjadi obat paling mujarab sekaligus pelipur lara atas segala penat dan kerasnya hidup yang ia jalani. Bagas tahu, kebahagiaan yang ia rasakan saat melihat Za tidak akan pernah bisa digantikan oleh kehadiran gadis atau wanita mana pun di dunia ini.
Di dalam kamar sepinya, Bagas membuka sebuah laci meja yang terkunci. Di dalamnya, terletak sepucuk surat kecil yang ditulisnya dengan tinta hitam di atas kertas wangi. Surat itu berisi seluruh untaian kata yang tak pernah sanggup ia ucapkan secara langsung. Sebuah pengakuan jujur tentang rasa cinta yang terkurung oleh dinding usia.
Bagas memandangi surat itu dengan tatapan sendu. Dalam hati yang paling dalam, ia memelihara sebuah harapan kecil yang tersisa. Suatu saat nanti, entah lewat keajaiban apa, Bagas berharap ia bisa memberikan surat itu langsung ke tangan Za, atau jika dunia tetap tidak mengizinkannya, ia akan memberikannya secara diam-diam. Biarlah surat itu yang menjadi saksi bahwa di suatu masa, pernah ada seorang pria yang mencintainya begitu tulus dalam sunyi, bertarung melawan takdir dan waktu hanya demi sebuah senyuman.