Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
YESTERDAY
0
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Dulu kamu memanggil namaku dengan penuh harap, kini aku merapalkan namamu dalam doa yang terlambat."

────୨ৎ────

Kemeja dan pipiku menjadi basah karena rintikan sisa hujan sedari siang. Aspal dalam perjalanan pulang pun terlihat lebih sepi dari biasanya. Bahkan bunga-bunga kecil yang mekar di pinggir jalan seolah ikut menggigil, meratapi raga dan hatiku yang telanjur membeku oleh waktu yang terlambat berputar.

Sampai tiba-tiba, sepotong memori berputar di kepala.

"Rayan, semangat!" teriaknya nyaring di antara riuh penonton, berdiri di tepi lapangan sambil melambaikan tangan heboh, menyemangatiku dalam pertandingan sepak bola sore itu.

Hari itu timku menang dan berhasil menembus babak final. Saat ini aku berpikir, mungkin semua itu terjadi memang karena kehadirannya.

"Rayan, selamat ya," katanya yang langsung menghampiriku seusai pertandingan.

Namanya Alea. Seorang gadis yang pertama kali kutemui sedang menangis sesenggukan di kuil yang basah, namun keesokan harinya berubah menjadi sosok paling gigih yang tak pernah lelah mengetuk pintu hatiku yang dingin.

Seusai pertandingan itu, ia menyodorkan sebuah handuk kecil bertuliskan namaku yang dirajutnya sendiri.

Aku ingat betul bagaimana aku merasa sedikit risih saat itu. Mengapa dia begitu gigih mengejarku? Aku memikirkannya begitu dalam. Jika waktu bisa diputar kembali, aku tidak tahu kata-kata seperti apa yang pantas kuucapkan untuk membalas ketulusan itu.

Teriakannya yang nyaring itu masih terekam jelas di kepalaku. Tawaran makan siang yang dulu selalu ia ajukan dan kerap membuatku kesal, kini rasanya sedikit kurindukan. Aku sering membatin, apa dia tidak punya seseorang yang bisa diajak selain aku? Dia bahkan membuatkanku bekal makan siang tanpa pernah kupinta. Untuk apa dia repot-repot melakukannya untukku?

"Rayan, apa hari ini kau sibuk? Temenin aku yuk!" ajaknya suatu hari, menghadang langkahku sore itu.

"Maaf Alea, tapi aku ada latihan sepulang sekolah," tolakku dingin.

"Kalau begitu sepulang latihan, aku akan menemanimu latihan, dan setelah itu kamu yang menemaniku," katanya yang masih membujuk, keras kepala seperti biasa.

Mata itu. Tatapan penuh harap itu. Pada akhirnya, aku selalu gagal untuk benar-benar menolaknya.

Hari itu pun dirinya bersikukuh untuk menemaniku latihan, bahkan ketika aku tidak mengatakan 'iya' saat dirinya menawarkan diri. Ia datang dengan penuh kegembiraan, meneriakkan namaku, dan memberiku kata-kata semangat, yang sejujurnya dulu aku enggan untuk memedulikannya. Aku tidak butuh untuk ditemani.

"Enaknya disemangatin pacar," ejek salah satu teman timku saat kami beristirahat.

"Dia bukan pacarku," kataku ketus, sengaja mengeraskan suara agar ia mendengarnya.

Iya, aku kesal. Aku bahkan tidak menyukainya, jadi kenapa ia begitu keras berjuang untukku? Bahkan sepulang latihan, ia masih saja berjalan mengikuti langkahku. Kenapa?

"Rayan, karena aku sudah menemani latihanmu, sekarang giliranmu menemaniku, ya."

Belum sempat kujawab dengan penolakan, tangan halusnya telah menarik pergelangan tanganku terlebih dahulu. Dia berlari kecil, memaksaku mengikuti langkahnya. Mau ia bawa aku ke mana?

Di bawah hembusan angin sore itu, aku melihat punggungnya yang seolah bersinar. Hingga tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.

"Rayan, aku suka kamu," katanya tiba-tiba. Senyumannya saat mengucapkan hal tersebut... sungguh tidak dapat kulupakan seumur hidupku.

"Aku benar-benar suka sama kamu, Rayan," ulangnya sekali lagi sambil tersenyum lebih lebar.

Aku tertegun. "Eh..?" kataku sedikit terkejut karena pengakuannya yang tiba-tiba.

Saat itu, aku masih seorang remaja yang kerap dilingkupi keraguan dan belum bisa menyadari perasaanku sepenuhnya. "Maaf, tapi aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu." jawabku datar.

Aku mengira bahwa ia akan menangis sedih. Namun ternyata tebakanku keliru. Ia malah tersenyum dan tertawa kecil. Aku bingung. Ia baru saja kutolak, kenapa wajahnya terlihat biasa saja? Apa ia tidak benar-benar menyukaiku? Apa ia hanya ingin menggodaku saja? Pikiran seperti itu sempat terlintas di kepalaku.

"Tidak apa-apa, aku sudah tahu. Bahkan sekeras apa pun aku mencoba, aku tidak bisa mengubah perasaanmu, kan," ucapnya dengan tawa kecil yang dipaksakan. Senyuman tipis itu terpatri kuat di wajahnya, menjadi topeng sempurna yang menyembunyikan retakan di hatinya, sementara aku hanya menatapnya dengan raut wajah kaku tanpa berniat membaca apa yang tersembunyi di balik matanya.

Kami berdiri berdampingan, melarikan pandangan lurus ke depan. Lalu pandangannya naik menuju langit yang mulai menguning itu. Tangannya yang terasa dingin meraih dan menggenggam erat jemariku yang berada tepat di sisinya, lalu dengan perlahan, ia menutup kedua matanya. Angin yang menyejukkan menyapu lembut kedua pipimu.

"Untuk saat ini saja... Dan kamu akan menyukaiku besok," gumamnya lirih di sela mata yang terpejam.

Aku hanya bisa terdiam memandangi wajah itu. Membatin dalam hati, apa mungkin besok aku akan menyukai dirinya?

────୨ৎ────

"Sudah tiga tahun yang lalu, ya. Kamu sedang apa sekarang? Apa kamu masih mengingatku?" gumamku pada diri sendiri.

Hujan malam ini baru saja reda, meninggalkan rasa dingin yang membekas hingga ke tulang. Lamunanku membawa ingatan jauh ke belakang, pada hari pertama kami bertemu. Di sebuah kuil, tempat ia berteduh sambil menangis sesenggukan. Lucu sekali jika diingat kembali.

Pertemuan pertama kami terjadi tanpa sengaja. Di bawah atap kuil saat hujan deras mengguyur bumi. Jarak di antara kami mendadak diselimuti ketegangan saat ia melemparkan tatapan menghunus padaku. Ia memundurkan langkah satu demi satu, memasang dinding pertahanan yang tinggi seakan kehadiranku membawa ancaman besar baginya. Menganggap seolah aku ini orang jahat yang mencurigakan.

"Jangan menatapku!!" serunya, yang jelas-jelas dirinya sendiri yang sedari tadi memperhatikanku.

Sambil memundurkan langkahnya untuk menjauh, ia mengusap air matanya secara kasar. Sampai akhirnya, tak sengaja ia menginjak permukaan lantai yang licin, dan terpeleset.

Aku tertawa, dan ia memarahiku karena tawa itu.

"Diam kamu!" tegasnya.

Meski ia masih memasang wajah waspada penuh curiga, aku tetap mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. "Tenang saja, aku bukan orang jahat," kataku yang masih berusaha menahan sisa tawa.

Dia ragu sesaat sebelum akhirnya menyambut uluran tanganku.

"Alea," kata dia, memperkenalkan diri tanpa kuminta.

"Eh? Aku... aku Rayan," balasku kikuk.

Kami saling bertatapan di bawah atap kuil yang basah, dan sejak saat itulah kisah kami dimulai.

"Kamu murid SMA Gautama juga?" tanyaku saat melihat seragam yang dikenakannya, dan dia mengangguk. Aku sempat membatin, aku belum pernah melihatnya sebelumnya di sekolah, apa mungkin dia seorang yang kaku dalam bersosialisasi?

Seolah dirinya bisa menebak isi pikiranku. "Kenapa? Aku anak baru di sekolah, makanya kamu belum pernah melihatku."

Aku mengangguk, "oh... anak baru? Masuk kelas mana?" tanyaku lebih lanjut.

Mendengar pertanyaanku, bahunya perlahan merosot. Ia menghela napas panjang, menatap ujung sepatunya yang basah. "Belum tahu. Harusnya hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah," jawabnya lirih, ada nada bersalah yang tertangkap di suaranya. "Tapi ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat di depan gerbang sekolah. Jadi... aku bolos, dan berakhir di kuil ini," lanjutnya sambil tersenyum kecut.

"Perasaan aneh?" kataku heran.

Ia hanya diam sambil menatap lurus ke jalanan depan kuil. Ia tidak menjawab keherananku saat itu.

Setelah beberapa saat, hujan pun mereda, dan ia pamit untuk pergi.

"Oh iya, kenapa kamu menangis?" tanyaku sebelum langkahnya menjauh.

"Tidak perlu tahu," jawabnya datar, lalu bergegas pergi meninggalkanku.

Aku tidak begitu mempedulikannya. Saat itu aku menganggap semua interaksi kami sudah selesai di sana.

Hingga keesokkan harinya kami saling berpapasan di lorong sekolah. Namun sepertinya saat itu ia belum ingin menyapaku. Ia berlalu begitu saja seolah kami adalah dua orang asing.

Sampai pada jam pelajaran pertama...

"Salam kenal semuanya, namaku Alea. Senang bertemu kalian semua."

Aku tidak pernah menyangka, ataupun berharap bisa satu kelas dengannya. Namun pagi itu, wali kelas kami mengumumkan seorang murid baru dan ternyata itu adalah Alea. Anak baru yang kemarin kujumpai di kuil ujung jalan.

"Alea, kamu bisa duduk di sebelah sana, ya." Wali kelas kami mengarahkan telunjuknya ke arah bangku kosong yang berada tepat di belakangku.

"Terima kasih, Bu," jawabnya singkat.

Langkah kakinya yang pelan terdengar mendekat, melewati deretan meja sebelum akhirnya berhenti tepat di belakang punggungku. Aroma samar parfum vanila menyeruak lembut saat ia melewatiku, sedetik sebelum suara derit kursi kayu terdengar, menandakan ia telah menduduki tempatnya.

"Rayan?" Ia menyapaku dengan berbisik setelah sadar bahwa pemuda di depannya adalah aku.

"I-iya," ucapku terbata.

"Mohon bantuannya ya," katanya terdengar manis, lalu menepuk pelan pundakku.

Sejak hari itu, ia berubah. Saat aku berkumpul dengan teman-temanku, ia tiba-tiba datang menghampiri seolah kami sudah kenal lama. Ia mengajakku untuk makan siang bersama, tetapi aku menolaknya. Keesokan harinya ia melakukan hal yang sama. Terus menerus, sampai teman-temanku mengira bahwa ia adalah pacarku.

Dirinya tidak pernah berhenti mengetuk pintu hatiku yang tertutup, hingga suatu waktu pertahananku runtuh dan aku mengiyakan ajakan itu. Kami berdua makan bersama di atap sekolah, menikmati makanan buatannya sendiri.

"Yan-yan, makasih ya," ucapnya sambil tersenyum tulus.

"Yan-yan?" Aku memiringkan kepalaku, merasa asing dengan panggilan baru itu.

"Iya, itu panggilan khusus dariku. Lucu kan? Rayan, yan-yan." Katanya lagi yang sekarang menunjukkan deretan giginya yang rapi dengan mata yang menyipit.

"Uh," gumamku datar, berusaha menyembunyikan getaran aneh di dadaku.

Ia pun menyimpan kembali kotak makanannya, dan berjalan bergeser tepat ke depanku.

"Yan-yan, kamu ingat saat aku menangis di kuil waktu berteduh kemarin? Kamu ingin tahu alasannya?" tanyanya tiba-tiba, seolah ingin membahas pertanyaan terakhirku kemarin. Sejujurnya aku tidak begitu peduli, tetapi nyatanya telingaku tetap mendengarkannya.

"Aku sedih karena harus meninggalkan teman-temanku dan pindah ke kota ini," ucapnya lirih, sebelum nadanya tiba-tiba melonjak gembira. "Tapi sekarang, aku sudah menemukanmu. Kamu akan menjadi temanku!"

Aku mendengus pelan, lalu sengaja memalingkan wajah.

Kupikir, berteman dengannya akan sama saja seperti aku berteman dengan orang lain. Nyatanya, aku keliru.

"Baiklah!! Mari kita berteman... selamanya." Suara cemprengnya sedikit memekakkan telingaku. Sambil menunjuk langit dengan gembira. Entah kenapa, ia terasa berisik sekali saat itu di mataku.

Sejak hari itu, ia mulai masuk terlalu dalam ke hidupku. Ia selalu membawakanku bekal setiap hari. Sangat cerewet soal tugas dan ujian sekolah. Ia yang selalu ingin ikut menemaniku latihan bola. Bahkan ia lebih galak dari ibuku saat aku tidak patuh dengan aturan. Ia juga yang menemani dan merawatku dengan telaten saat aku jatuh sakit.

"Alea... apa kamu masih ingat dengan perlakuanmu padaku saat itu?" gumamku pada malam yang dingin ini.

Aku menatap langit yang baru saja mengalirkan sisa hujan. Malam yang merayap datang entah mengapa membawa kembali kehangatan samar di hatiku. Ia... apa sebenarnya arti dirinya bagi diriku? Mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Mengapa aku tidak mengenal hatiku sendiri sedikit lebih awal?

Aku berjalan tergesa-gesa menyusuri stasiun. Malam sudah terlalu larut. Aku harus beregegas, sebelum melewatkan kereta terakhirku malam ini.

-- BRUK --

"Maaf, maaf."

Karena kecerobohanku yang berjalan terburu-buru, aku menabrak seseorang saat memasuki stasiun.

"Rayan?" ucap seseorang itu. Suara familiar yang sangat kurindukan, namun mendadak terdengar begitu ragu.

Aku menegakkan pandanganku.

"Rayan? Kamu Rayan, kan?" tanya wanita itu seolah ingin memastikan penglihatannya tidak salah.

"Iya... kamu siapa?"

"Alea. Ini aku, Alea. Kita teman satu SMA dulu." Jelasnya buru-buru.

"Benarkah? Kamu... benar-benar Alea?" tanyaku masih dilingkupi rasa tidak percaya.

"Iya, ah... sudah lama sekali ya tidak bertemu."

Ternyata memang dirinya. Kini ia tampak begitu berbeda, terlihat lebih anggung dan kalem.

Kamu tersenyum padaku. Senyuman yang tidak pernah berubah, tampak ceria, tapi kenapa lubuk hatiku kini justru dirayapi kegelisahan yang hebat?

Aku mendadak menjadi sangat kikuk. Meski beberapa tahun berlalu, namun rahasia yang paling menyakitkan di hidupku adalah kesedihan mendalam karena telah kehilangan dirinya.

Kami berdua berdiri berdampingan menunggu kereta terakhir, terjebak dalam keheningan tanpa kata. Alea yang dulu sangat berisik dan tak bisa diam, kenapa saat ini bisa begitu tenang?

"Ah, keretaku sudah datang. Rayan, aku pergi dulu ya." Pamitnya saat lampu kereta tujuannya menembus kegelapan peron tiba.

Ketakutan akan kehilangannya untuk kedua kali membuat tubuhku bergerak sendiri. Aku menahan pergelangan tangan wanita itu. Dia menengadah, menatapku bingung.

"Apa... apa kita bisa bertemu lagi?" tanyaku dengan ragu.

"Tentu saja. Mari kita saling bertukar kontak," tawarnya sambil tersenyum tenang.

Mungkin saat ini dirinya menjadi lebih pendiam, tapi senyumannya masihlah sama. Kami pun saling bertukar kontak, sebelum ia pergi menaiki keretanya. Hingga tak butuh waktu lama, kereta terakhirku pun datang.

Sepanjang perjalanan pulang, perasaanku begitu terguncang hebat. Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk. Apa dia sudah memiliki seseorang yang baru dalam hidupnya?

Tanpa mengetahui ke mana takdir akan membawa kami, kami berdua berjalan di jalan kehidupan masing-masing. Jika aku bisa memutar kembali waktu... apakah kali ini aku akan menjadi orang yang lebih jujur?

Ting. Sebuah pesan masuk beberapa saat kemudian di ponselku.

Alea :"Semangat ya! Yan-yan ^^"

Air mataku sedikit menetes tanpa bisa kucegah saat membaca pesan itu, lalu segera kuhapus dengan punggung tanganku. Itu adalah kalimat yang selalu ia katakan di setiap pertandinganku dulu. Bodohnya aku, baru sekarang aku menyadari bahwa kata-kata itulah yang sebenarnya selalu membuatku bersemangat untuk memenangkan pertandingan.

────୨ৎ────

Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan tidak sengaja di stasiun malam itu. Kami masih intens berkomunikasi lewat pesan singkat, saling memberitahu keadaan masing-masing. Namun hanya ada satu hal besar di mana aku berbohong: aku menyembunyikan fakta bahwa ada perasaan yang mulai kusadari dengan jelas keberadaannya.

Beberapa hari ini aku mulai memikirkannya dengan serius. Apakah perasaan ini benar-benar tulus keluar dari lubuk hatiku? Ataukah ini hanya sebuah ego yang tidak rela kehilangan sosok yang selama ini selalu mengejarku?

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku mengambil ponselku dan mengirimkan pesan kepada Alea. Apakah kita bisa bertemu?

Beberapa saat kemudian, ia membalasnya dan mengatakan bahwa ia bersedia menemuiku. Namun lokasi yang ia pilih membuat dadaku bergetar hebat.

Dia mengatakan, "temui aku di tempat dulu aku mengungkapkan perasaanku padamu."

Cinta yang selama tiga tahun ini kupendam kini meluap di dalam dada. Jika aku mengatakannya sekarang, apakah semuanya akan baik-baik saja? Apa ini akan menjadi jawaban yang membuatku tenang atau sebuah jawaban yang menyakitkan?

Pada hari yang telah ditentukan, aku tiba di tempat yang telah dijanjikan. Dia sudah berdiri di sana, menunggu di bawah hembusan angin yang menerbangkan anak rambutnya. Senyuman itu... mengapa selalu terpancar begitu indah dari wajahnya?

"Alea..." Aku mengambil napas yang sangat amat dalam, memantapkan hati untuk menumpahkan seluruh isi hatinya.

Namun, belum sempat kata pertama keluar dari bibirku, dia sudah mendahuluiku.

"Aku akan menikah."

Duniaku runtuh seketika. "Eh? Menikah?" Aku kaget dengan apa yang diucapkannya. Aku bahkan belum sempat mengatakan apa pun.

"Iya, minggu depan aku akan menikah," katanya lagi pelan, sambil menyodorkan selembar undangan berwarna putih kepadaku.

"Dulu... aku selalu menunggumu, Rayan. Aku selalu berharap kamu akan menyukaiku suatu saat nanti. Tapi ternyata mustahil, kamu tidak pernah menyukaiku. Sampai akhirnya, aku menemukan seseorang yang bisa menerimaku, dan juga mencintaiku. Bukan hanya soal suka, tapi dia benar-benar menyayangiku." Jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi tetap berusaha keras menunjukkan senyum di bibirnya.

"Terima kasih ya," ucapnya lagi, lalu memutar tubuh untuk melangkah pergi.

Aku tidak tahu, perasaan hancur apa ini? Mengapa rasanya begitu sesak dan sakit diwaktu yang bersamaan? Mengapa aku bisa sekeras kepala dan sebodoh itu di masa lalu?

"Alea!!" Panggilku histeris, dan aku langsung berlari ke arahnya.

Aku langsung memeluknya erat dari belakang, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam dekapanku. Sudah lama sekali aku ingin melakukannya. Memeluknya, menahannya, dan menjadikannya milikku.

"Rayan...?" ujar dia terkejut, mencoba memberontak kecil.

"Diam! Aku memang bodoh! Aku yang selama ini egois dan selalu menyangkal semua perasaanku padamu! Aku memang benar-benar bodoh, Alea!" Air mataku tumpah ruah di pundak wanita itu.

Aku tahu semua perkataanku ini mungkin sudah tidak ada gunanya lagi sekarang, tetapi aku tidak mau mati dalam diamnya perasaanku.

"Rayan, ada apa denganmu...?" suaranya bergetar.

"Maaf, Alea. Selama ini aku selalu menyangkalnya. Aku menyukaimu... tidak, aku mencintaimu. Alea, tolong... jadilah milikku." Ucapku yang masih memeluknya erat, menghancurkan sisa harga diriku sendiri.

Ia terdiam lama, sebelum akhirnya menghela napas sedih. "Tapi, semuanya sudah terlambat, Rayan. Pernikahan ini akan segera terlaksana minggu depan."

"Kalau begitu... izinkan aku untuk memilikimu walau hanya untuk hari ini saja." Pintaku penuh keputusasaan.

"Rayan, entah kenapa sekarang kamu jadi agresif begini," katanya perlahan sambil berusaha melepaskan pelukanku, mencoba mencairkan suasana dengan senyum tipis yang getir.

Namun, sebelum tautan tangan itu terlepas sepenuhnya, aku memutar tubuhnya menghadapku, lalu merengkuhnya kembali dalam dekapan yang jauh lebih erat. "Diam, jangan bergerak," ucapku parau, menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya. "Izinkan aku memelukmu lebih lama lagi."

Inikah yang dinamakan cinta terlambat? Semuanya terasa fana, lenyap dalam bayangan langit sore itu. Namun ego liarku tidak bisa kutahan lagi. Aku merengkuh tubuhnya semakin erat, seolah tidak ingin melepaskan sesuatu yang seharusnya bisa kumiliki sejak awal.

Dia tidak meronta. Justru, untuk beberapa detik yang teramat berharga ini, ia seolah menyerah pada suasana; menyandarkan kepalanya dan membalas dekapanku dengan kelembutan yang dulu selalu kuabaikan.

Di sela dekapan itu, aku memikirkan satu hal: di sudut hati Alea yang paling dalam, sebenarnya ia masih menyimpan namaku, kan?

Hari ini mungkin bukan hari yang akan berlangsung lama, dan esok hari kenyataan pahit akan kembali menyapa. Namun setidaknya aku lega. Akhirnya aku bisa jujur dengan perasaanku sendiri. Sekarang aku mengerti, mengapa ia tidak terlihat sedih saat aku menolak cintanya dulu. Ia tampak tenang karena saat itu, ia sudah jujur terhadap perasaannya. Sementara aku? Aku justru terjebak dalam kebohongan panjang, yang tanpa sadar telah merenggut seseorang yang paling berharga dari hidupku.

────୨ৎ────

Hari pernikahannya tiba.

Alea berdiri tampak begitu indah berbalut gaun anggun berwarna putih bersih. Dengan senyuman mempesona yang terukir di wajahnya—yah, senyuman hangat yang selalu kudambakan, namun kini bukan lagi menjadi milikku.

Dirinya tampak sangat bahagia sekarang. Dan anehnya, melihat itu, dadaku yang sesak perlahan merasakan kelegaan.

Dan satu hal yang aku sadari. Aku bahkan belum melakukan setengah dari apa yang telah ia berikan padaku dulu. Meskipun hatiku terlampau lambat untuk menyadari, kini aku bisa melihat akhir dari penantian panjang cerita ini.

Ini sudah terasa seperti ucapan selamat tinggal yang nyata bagiku.

Dulu ia pernah bilang, bahwa aku akan menyukainya besok. Sayangnya, besokku datang terlalu lambat hingga semua kesempatan itu sirna. Karena dulu aku mengabaikannya, kini ia telah menemui seseorang yang jauh lebih baik untuk menggantikan posisiku.

Terima kasih telah menyukaiku yang sebodoh ini di masa lalu. Menyesalinya sekarang sungguh tidak ada gunanya lagi bagiku.

Saat dirinya mulai berjalan menyusuri karpet menuju altar pernikahan, aku berdiri di antara deretan kursi tamu, tersenyum lebar untuk wanita itu. Di dalam hati, aku merapalkan doa paling tulus untuk kebahagiaan hidup barunya.

Terima kasih untuk segalanya, Alea.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Not in Wonderland
Bentang Pustaka
Cerpen
YESTERDAY
Febby Yonika
Novel
Gold
Recalling The Memory
Bentang Pustaka
Novel
Junior Love Senior
Aniela
Novel
Gold
Tiada Ojek Di Paris
Mizan Publishing
Novel
Gold
The Mint Heart
Bentang Pustaka
Novel
Heartache
Queenazalea
Novel
AS LOVE GOES BY
Arisyifa Siregar
Novel
Milik Om Aslan
Jesica Ginting
Novel
Bronze
Senjaku Masih Kamu
Bening Pusparani
Novel
Suami Tentaraku
Aisyah Nana
Novel
Gold
Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu
Mizan Publishing
Flash
Pemilik Suara Merdu
Agnes Dzahniyah
Flash
Hok Lo Pan untuk Tjen
Denik a nuramaliya
Novel
Bronze
LUKA MEMELUK LUNA
essa amalia khairina
Rekomendasi
Cerpen
YESTERDAY
Febby Yonika
Novel
The Track of Us
Febby Yonika