Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Yes Man Membawa Bencana
4
Suka
289
Dibaca

Hari itu, Ruang Rapat Utama di lantai 30 terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan dingin karena AC sentral yang disetel di suhu "Kutub Utara", melainkan dingin yang merayap dari tulang ekor naik ke batang leher, jenis dingin yang muncul saat kau tahu ajal kariermu sudah di depan mata.

Aku duduk di sana. Cahyo. Seorang Senior Executive (jabatan keren untuk "pesuruh berdasi") yang sedang menghadapi ujian terberat dalam hidupnya. Di hadapanku, duduklah Mr. Bartholomew Sterling.

Mr. Sterling adalah klien potensial dari Inggris. Dia terlihat seperti bangsawan yang baru saja turun dari lukisan abad ke-18. Setelan jasnya mungkin lebih mahal daripada harga diriku seumur hidup. Rambutnya disisir rapi tanpa satu helai pun berani keluar jalur.

Tapi masalah utamanya bukan pada penampilannya. Masalahnya ada pada mulutnya.

Mr. Sterling berbicara dengan aksen British kelas atas yang sangat kental, sangat cepat, dan sangat... bergumam. Bayangkan seseorang mencoba berbicara sambil mengunyah sekantong kelereng dan menahan bersin di saat bersamaan. Itulah suara Mr. Sterling.

"Rait, so we've bean lookin' at the portfoliah, and the synergies are quite apparent, wouldn't you say, ol' chap? Bit of a sticky wicket with the logistics, innit?"

Aku melongo. Otakku yang biasanya hanya memproses Excel dan meme kucing, mendadak mengalami korsleting massal. Saraf pendengaranku mengirim sinyal SOS ke otak, tapi otakku membalas dengan error 404: English Not Found.

Apa itu "sticky wicket"? Apakah itu sejenis kue basah?

Di sebelahku, Pak Bos menatapku dengan penuh harap. Tatapan yang berkata: "Ayo Cahyo, tunjukkan kemampuan Bahasa Inggrismu yang kau tulis 'Advanced' di CV itu!"

Tekanan darahku melonjak. Gengsiku sebagai anak Jaksel (padahal aslinya numpang ngekos di pinggiran Depok) dipertaruhkan. Aku tidak boleh terlihat bodoh. Aku tidak boleh diam saja seperti patung pancoran.

Maka, aku melakukan satu-satunya strategi bertahan hidup yang kutahu: Mode "Yes Man".

Aku memasang senyum paling profesional (yang mungkin terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit gigi geraham) dan mengangguk mantap.

"Yes, Sir," jawabku dengan suara bariton yang kubuat-buat. "Absolutely."

Mr. Sterling tampak senang. Dia melanjutkan pidatonya yang terdengar seperti mantra pemanggil arwah. "...Splendid. Now, regarding the capital injection versus the liability clauses. We prefer a hands-off approach on the losses, quite frankly. You follow?"

Otakku menangkap kata "capital" (modal? Ibu kota?) dan "losses" (kalah? hilang?). Sisanya adalah white noise.

Aku melihat Pak Bos tersenyum. Oke, berarti ini sinyal bagus. Aku harus setuju lagi.

"Great idea, Mr. Sterling. We agree completely," kataku, menambahkan sedikit gestur tangan yang sok meyakinkan.

Mr. Sterling mengangkat alisnya yang tebal. Dia tampak sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum lebar. "Oh, marvellous! Marvellous indeed! Didn't expect it to be this easy, tell you the truth. So, we have an accord then?"

Aku tidak tahu apa itu "accord". Apakah itu merek mobil? Tapi karena dia tersenyum, aku ikut tersenyum. Aku mengangguk lagi, kali ini lebih semangat, seolah-olah aku paham betul setiap suku kata yang keluar dari mulutnya yang penuh misteri itu.

"Yes, Sir! Of course! Absolutely brilliant!" seruku.

Aku merasa bangga. Lihatlah aku, Cahyo, berhasil menaklukkan negosiasi tingkat internasional hanya dengan bermodalkan tiga kosakata bahasa Inggris dan kepercayaan diri palsu. Aku membayangkan kenaikan gaji, bonus tahunan, dan mungkin promosi jabatan. Aku adalah raja dunia korporat!

Mr. Sterling menjabat tanganku dengan erat, lalu menjabat tangan Pak Bos. "Pleasure doing business. I shall have my legal team draw up the final papers based on this verbal agreement immediately. Cheerio!"

Dia pun melenggang keluar ruangan dengan gaya bangsawan.

Pintu tertutup. Hening di ruang rapat.

Pak Bos menatapku. Matanya berkaca-kaca. Dia memegang pundakku. "Cahyo..." suaranya bergetar karena haru. "Saya tidak menyangka kamu sehebat ini."

Aku membusungkan dada. "Biasa saja Pak, hanya melakukan tugas saya."

"Tidak, ini luar biasa!" seru Pak Bos. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu setujui tadi?"

Aku menelan ludah. Jujur, aku tidak tahu sama sekali. "Ehm... sinergi yang menguntungkan, Pak?" tebakku.

Pak Bos tertawa lepas. "Lebih dari itu! Dia tadi bilang, dia minta perusahaan KITA yang menanggung SEMUA kerugian proyek ini jika gagal, dengan nilai penalti sampai 5 Miliar Rupiah, dan kamu langsung bilang 'Yes, Absolutely, Great Idea!'"

Waktu berhenti.

Jantungku yang tadi berdetak bangga, kini berhenti berdetak total selama tiga detik. Darah di tubuhku seolah tersedot ke lantai. Wajahku yang tadi berseri-seri, kini berubah pucat pasi, lebih putih dari tembok yang baru dicat.

"Li... lima miliar, Pak?" tanyaku, suaraku mencicit seperti tikus kejepit pintu.

"Iya! Saya saja tadi mau nego alot soal itu. Eh, kamu malah langsung setuju! Gila kamu, Cahyo! Nekat bener! Saya suka gaya kamu yang berani ambil risiko besar!" Pak Bos menepuk punggungku keras sekali sampai aku nyaris tersedak ludah sendiri.

Aku baru sadar. Aku bukan menyetujui kesepakatan bisnis. Aku baru saja menyetujui Surat Kematian Perusahaan. Dan mungkin, surat kematianku sendiri secara harfiah jika 5 miliar itu harus ditagih.

"Tunggu surat kontrak resminya besok ya. Kamu yang tanda tangan sebagai PIC. Selamat ya, Cahyo!" Pak Bos berjalan keluar ruangan dengan riang gembira, meninggalkan aku sendirian dalam keheningan yang memekakkan telinga.

 

Aku duduk mematung di kursi ruang rapat. Lima miliar. Nolnya ada sembilan.

Gajiku sebulan hanya cukup untuk bayar kos, makan di warteg, dan sedikit hedonisme berupa kopi susu gula aren. Butuh berapa kali reinkarnasi untuk aku bisa membayar kerugian 5 miliar?

"Mampus gue," bisikku pada proyektor yang mati. "Gue beneran mampus kali ini."

Aku mencoba mengingat kembali percakapan tadi. Kata-kata Mr. Sterling yang kumur-kumur itu berputar ulang di otakku. "...liability clauses... hands-off approach on the losses..."

Ya Tuhan. Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak bilang "Pardon?" atau "Can you repeat that please?" Kenapa aku malah sok iye dengan "Absolutely brilliant"?!

Aku mondar-mandir di ruang rapat seperti setrikaan panas. Keringat dingin mengucur deras, membasahi kemeja mahalku (yang kubeli nyicil pakai paylater).

Aku harus membatalkannya. Aku harus membatalkan kesepakatan lisan itu sebelum jadi kontrak tertulis. Tapi bagaimana caranya?

Apa aku harus jujur ke Pak Bos? "Pak, maaf, tadi saya cuma cosplay jadi orang pinter. Aslinya saya nggak ngerti dia ngomong apa. Tolong batalkan atau saya akan jual ginjal." Tidak mungkin. Pak Bos akan langsung memecatku dan mungkin menuntutku atas penipuan kompetensi.

Apa aku harus mengejar Mr. Sterling dan bilang aku bercanda? "Mr. Sterling, it was a prank, bro! There's the camera!" Dia pasti akan menuntut perusahaan karena ketidakprofesionalan.

Aku butuh alasan. Alasan yang kuat untuk membatalkan kesepakatan itu. Tapi alasan yang masuk akal sudah tertutup. Logika tidak bisa menyelamatkanku.

Maka, aku harus menggunakan senjata terakhir: Absurditas Total.

Aku berlari keluar ruang rapat. Menuju lift. Aku harus mengejar Bule itu sebelum dia meninggalkan gedung.

"Tungguin gue, Bule kumur-kumur! Jangan pergi dulu membawa nasib gue!"

Aku berhasil mencegat Mr. Sterling di lobi gedung, tepat sebelum dia masuk ke dalam mobil jemputan mewahnya.

"Mr. Sterling! Sir! Wait!" teriakku, napas ngos-ngosan seperti habis lari maraton dikejar debt collector.

Mr. Sterling berbalik, menatapku dengan bingung. Monokel imajiner di matanya seolah jatuh. "Ah, Mr. Cahyo. What seems to be the matter? Forgotten to sign something, have we?"

Aku menarik napas panjang. Ini dia. Momen penentuan. Aku harus berakting seolah hidupku bergantung padanya—karena memang iya.

Aku memasang wajah paling panik dan ketakutan yang bisa kubuat. Mataku melotot, tanganku gemetar.

"No, Sir. It's... it's worse. Much worse," kataku dengan nada dramatis, seolah baru saja melihat Godzilla muncul di Bundaran HI.

"Good heavens, man. You look like you've seen a ghost. Spit it out."

Aku mendekatinya, berbisik dengan nada konspirasi. "Sir, we cannot proceed with the deal. Not the 5 billion liability part."

Alisnya berkerut. "Beg your pardon? You were quite enthusiastic about it upstairs. 'Absolutely brilliant,' you said."

Sialan, dia mengingat kata-kataku.

"Yes, Sir. But that was before... THE SIGN," kataku, menunjuk ke langit-langit lobi yang kosong.

"The sign?"

Aku mengangguk mantap. Aku harus mengeluarkan jurus ngeles tingkat dewa.

"Sir, you have to understand Indonesian culture. We are very... mystical. Spiritual. Klenik, you know?" Aku menggunakan kata 'klenik' dengan harapan dia bingung.

"Klen-ik? Is that a type of local cuisine?"

"No! It's... supernatural stuff. Sir, right after you left the room, something terrible happened."

Aku mulai mengarang bebas. Imajinasku yang biasanya hanya dipakai untuk menghayal jadi orang kaya, kini bekerja lembur.

"The pen, Sir. The pen that Pak Bos was going to use to sign the internal memo for this deal..." Aku memberi jeda dramatis. "It exploded."

Mr. Sterling menatapku skeptis. "The pen exploded?"

"Yes! BOOM! Ink everywhere! Black ink! Like... like octopus blood!" Aku mendramatisir keadaan dengan gerakan tangan yang heboh. "And you know what black ink means in ancient Javanese corporate astrology, Sir?"

Dia menggeleng, jelas mulai merasa tidak nyaman. "I haven't the foggiest."

"It means DEATH, Sir! Financial death! Bankruptcy! Azab! It's a sign from the ancestors of the company founders that if we agree to cover the 5 billion loss, this building will sink into the earth!"

Mr. Sterling mundur selangkah. Dia menatapku seperti menatap orang yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.

"Are you quite alright, Mr. Cahyo? You seem a tad... unhinged."

"I'm not unhinged, Sir! I'm terrified! And then... the Feng Shui master called."

"The Feng Shui master?"

"Yes! Every company here has one. He called me just now, crying. He said the stars have shifted. The position of Jupiter and Mars is in conflict with your aura, Sir. If we sign that deal today, the dragon energy in our office will turn bad. Very bad."

Aku semakin menjadi-jadi. "He said, if we proceed, all the computers will get viruses, the pantry coffee machine will only dispense sewage water, and all employees will get chronic diarrhea simultaneously! It's a curse, Mr. Sterling! A terrible, terrible curse!"

Mr. Sterling tampak sangat terganggu. Wajah bangsawannya menunjukkan campuran antara jijik dan bingung.

"This is... highly irregular. I've done business in many countries, but I've never heard of exploding pens and dragon diarrhea."

"It's Indonesia, Sir! Wonderful Indonesia! Full of magic and mystery!" Aku memohon dengan mata berkaca-kaca. "Please, Sir. For the sake of our safety, and your safety too! The curse might follow you back to England! Your tea might turn cold instantly! Your scones might become hard as rocks!"

Ancaman tentang teh yang dingin tampaknya berhasil. Wajah Mr. Sterling pucat pasi. Bagi orang Inggris, teh yang dingin adalah tragedi nasional.

"Good God. Cold tea? That sounds ghastly."

Dia membetulkan posisi dasinya, tampak ingin segera pergi dari situasi gila ini.

"Look here, Mr. Cahyo. While I appreciate your... colorful cultural warnings... business is business. A verbal agreement was made."

Sial. Dia masih belum goyah. Aku butuh satu kebohongan terakhir. Kebohongan yang paling absurd, yang paling tidak masuk akal, yang akan membuatnya berpikir bahwa berurusan dengan perusahaanku adalah ide terburuk sepanjang masa.

Aku menatap matanya dalam-dalam. "Sir, there is one more thing. The real reason why we cannot cover the 5 billion loss."

"Yes? What is it now? Aliens?"

"No, Sir. It's Pak Bos."

"What about him?"

Aku mendekat lagi, berbisik sangat pelan. "He's actually... three raccoons in a trench coat."

Hening. Lobi gedung yang ramai mendadak terasa sunyi.

Mr. Sterling menatapku. Matanya tidak berkedip selama sepuluh detik penuh.

"I beg your pardon?"

"Pak Bos, Sir. He's not a human man. He is three raccoons stacked on top of each other wearing a human suit. I saw it once in the toilet. The top raccoon was shaving."

Aku melanjutkan dengan wajah datar, tanpa senyum sedikit pun. "And raccoons, Sir, they don't have 5 billion rupiahs. They only have shiny bottle caps and leftover pizza crusts. We cannot pay you."

 

Reaksi Mr. Sterling tidak seperti yang kuharapkan. Dia tidak marah. Dia tidak tertawa.

Dia hanya menatapku dengan tatapan kasihan yang mendalam. Tatapan yang biasanya diberikan orang kepada anjing kudisan di pinggir jalan.

Dia menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya.

"Right. I think I've heard quite enough," katanya, suaranya kembali kumur-kumur tapi nadanya dingin.

"Sir?"

Dia menelepon seseorang. "Hello, legal? Yes. Cancel the contract with PT Maju Mundur Kena. Yes, the whole thing. Immediate effect."

Jantungku melonjak girang. Berhasil! Aku berhasil!

"Why?" lanjut Mr. Sterling di telepon. Dia melirikku sekilas. "Because I believe their Senior Executive is currently suffering from a severe psychotic break involving cursed ink and nocturnal trash pandas. I do not wish to do business with a company that is clearly running an asylum."

Dia menutup telepon.

Aku berdiri di sana, lega tapi juga merasa hina dina. Aku baru saja menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan 5 miliar dengan cara meyakinkan klien bahwa aku gila dan bosku adalah kumpulan rakun.

Mr. Sterling masuk ke mobilnya tanpa menjabat tanganku. Sebelum pintu tertutup, dia berkata, "Mr. Cahyo, I strongly suggest you seek professional help. And perhaps, lay off the hallucinogenic drugs."

Mobil mewah itu melaju pergi.

Aku sendirian di lobi. Selamat. Tapi martabatku hancur berkeping-keping di lantai marmer.

HP-ku bergetar. Pesan dari Pak Bos.

Cahyo, barusan sekretaris Mr. Sterling telepon. Katanya mereka membatalkan SEMUA kerjasama. Katanya ada 'insiden serius' di lobi dengan kamu. Kamu ngapain dia, Cahyo?! Keuangan kita kacau kalau investasi ini batal!

Aku menatap layar HP dengan nanar. "Ya Tuhan," ratapku. "Gue nyelametin perusahaan dari utang 5 miliar, tapi malah bikin perusahaan kehilangan investor utama."

Aku berjalan gontai menuju lift untuk kembali ke lantai 30. Aku harus menghadapi Pak Bos (yang bukan rakun). Aku harus menjelaskan kenapa proyek besar ini batal.

Mungkin aku bisa bilang kalau Mr. Sterling tiba-tiba kesurupan roh halus penunggu lobi? Ah, sudahlah.

Pelajaran hari ini: Jika kamu tidak mengerti bahasa Inggris, katakan saja "I don't understand". Karena jika kamu sok tahu dan cuma bilang "Yes", kamu mungkin harus berpura-pura gila dan menuduh bosmu sebagai hewan pengerat demi menyelamatkan hidupmu.

Dan ya, aku rasa karierku sebagai Senior Executive baru saja berakhir hari ini. Ada lowongan jadi badut di Dufan nggak ya? Sepertinya bakatku lebih cocok di sana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Yes Man Membawa Bencana
cahyo laras
Cerpen
Dinul Making Love
Annisa Putry
Flash
Bronze
Ngereh
Bakasai
Flash
Bronze
Gak Ada Mens Rea, Tapi Bikin Jatuh Cinta
snang.tjarita
Flash
Bronze
Midnight Market Kolong Jembatan
Silvarani
Flash
Bronze
Kalau Kambing Bisa Ketawa...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Bronze
Kalau Jam Bisa Ngomong...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Kilau Asli
myht
Cerpen
Rapimnas Desa Gendeng
Muhammad Rizqi Fachrizal
Komik
Bronze
The Ninth Soul
Ei
Cerpen
Tetangga Selebrita
Hilmiatu Zahra
Flash
Pulkam
Zii
Cerpen
Bronze
Liburan Villa Mewah
Mulyana
Cerpen
Peringkat Palsu
Rie Yanti
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Rekomendasi
Cerpen
Yes Man Membawa Bencana
cahyo laras
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Ngirit Protocol
cahyo laras
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Trio Mokondo Sok Kaya
cahyo laras
Cerpen
Perjalanan Singkat Satu Gerbong Bersamamu
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Novel
Kontrak Terakhir
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Cerpen
Celana Sobek Di Kondangan
cahyo laras
Cerpen
Berbakti Jalur Fast Track
cahyo laras
Cerpen
Tahan Tawa Saat Boss Besar Jadi Meme Bergerak
cahyo laras