Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Prang!
“Nin…?” Suara Gilang terdengar dari arah kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Gilang sudah berdiri di ambang dapur. Ia menghela napas pelan.
“Apa lagi yang pecah sekarang?”
Nindy meringis menatap Gilang.
“Mug keramik aku.”
Di lantai, mug hijau lumut kesayangannya tinggal serpihan-serpihan kecil.
“Ckckck… tadi bingkai foto yang jadi korban. Sekarang mug.” Gilang menggeleng pelan.
“Kesenggol.”
Nindy baru saja hendak memungut pecahan mug itu.
“Tangan.”
“Hah?”
“Sini.”
Gilang meraih pelan pergelangan tangan Nindy, membolak-balik telapak tangannya beberapa detik.
“Nggak kena?”
Nindy menggeleng.
Gilang hanya mengembuskan napas pendek sebelum mengambil sapu dan pengki di sudut dapur.
“Biar aku yang bersihin. Kamu beresin yang lain aja.” Gilang mengambil alih pecahan keramik di tangan Nindy lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik sampah.
“Maaf ya, Lang.”
“Yang penting kamu nggak luka.”
“Makasih, ya.”
Nindy mengusap pelan telapak tangannya yang masih dipenuhi serpihan debu keramik. “Aku beresin yang di kamar dulu deh.”
Ia mengangkat kardus paling besar di antara tumpukan yang lain.
“Nin.”
“Hmm?”
“Yakin mau bawa yang itu?”
“Yakin.”
“Depanmu masih kelihatan?”
“Kelihatan kok.”
Dua detik kemudian.
Tok.
Sudut kardus menabrak kusen pintu.
Nindy membeku.
Pelan-pelan ia memundurkan kardus itu sedikit lalu mencoba masuk lagi.
Tok.
Sudut kardus kembali membentur kusen pintu.
Kali ini ia benar-benar menyerah.
Tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Lang…”
“Hmm.”
“Tolongin.”
Padahal Gilang bahkan belum selesai membersihkan serpihan mug tadi.
Ia hanya menggeleng pelan lalu mengambil alih kardus itu seolah memang sudah tahu kalimat itu akan keluar cepat atau lambat.
“Bisa nggak sih…” gumam Gilang.
“Apa?”
“Sekali aja kamu nyelesaiin sesuatu tanpa minta tolong aku?”
Nindy berpikir beberapa detik.
“Hmm… kayaknya nggak bisa.”
Gilang tertawa kecil.
“Sudah kuduga.”
Ia mengangkat kardus itu begitu saja.
Nindy tinggal mengekor di belakangnya sambil membawa gulungan lakban yang entah sejak kapan menempel di lengannya.
Tak satu pun dari mereka merasa itu aneh.
Memang begitu biasanya.
***
Kardus bertumpuk hampir di seluruh sudut apartemen. Bubble wrap menjulur sampai ke meja makan. Lakban, spidol hitam, gunting, plastik kresek—semuanya bercampur di atas sofa.
Nindy berdiri cukup lama di depan rak buku yang sudah hampir kosong. Tangannya memegang satu novel tebal. Novel itu belum juga dimasukkan ke dalam kardus.
Sudah tiga kali ia mengambil novel itu.
Sudah tiga kali juga novel itu kembali ke rak.
“Nin.”
Suara Gilang datang dari belakang.
Nindy menoleh sebentar.
“Hmm?”
“Bengong terus. Bisa-bisa minggu depan baru selesai packing.”
“Eh… iya. Maaf.” Nindy menyeringai.
Ia mengambil dua buku terakhir yang masih bertengger di rak lalu memasukkannya ke dalam kardus.
Satu per satu kardus dipindahkan Gilang ke dekat pintu.
Saat itulah matanya menangkap sebuah kotak sepatu yang terselip di bawah meja.
Warnanya sudah pudar. Sudut-sudutnya sedikit penyok.
“Nin.”
“Hadir.”
Gilang mengangkat kotak itu.
“Ini… mau dibuang?”
Nindy yang kini duduk di sofa langsung berhenti melipat cardigan di pangkuannya.
“Eh… jangan! Mau aku bawa.”
“Isinya?”
Nindy menoleh sekilas ke arah kotak itu.
“Fosil.”
Ia meringis, menggigit sudut bibirnya pelan.
“Oke.”
Gilang meletakkan kotak kusam itu di atas meja makan. Bukan di dekat kantong sampah. Ia memperbaiki posisi tutupnya yang nyaris terbuka.
Tanpa sadar, Nindy mengembuskan napas lega sedikit terlalu kencang. Ia yakin Gilang bisa mendengar itu.
Gilang tidak berkata apa-apa. Ia kembali memindahkan beberapa kardus yang telah rapi ke dekat pintu.
“Yang terakhir.”
Gilang menepuk pelan kardus paling besar yang kini sudah berdiri rapi di dekat pintu.
Nindy mengangguk.
Pandangannya perlahan berkeliling ke seluruh ruangan.
Kini rak buku itu kosong.
Dinding kamar yang sebelumnya dipenuhi papan jurnal dan beberapa foto polaroid, hanya menyisakan bekas tempelan double tape di beberapa titik.
Suara televisi terdengar samar dari unit sebelah.
Nindy berjalan pelan menuju dapur untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Suara langkah kakinya terdengar jelas di telinganya sendiri.
Saat hendak mematikan lampu, matanya menangkap kantong sampah hitam di sudut ruangan. Di dalamnya masih ada serpihan mug hijau lumut kesayangannya yang pecah tadi pagi.
Ia menatapnya cukup lama.
“Maaf ya. Kamu nggak bisa aku bawa.”
Nindy mengambil kantong sampah itu.
“Sini. Aku yang buang.” Gilang meraih kantong itu dari tangan Nindy.
“Kamu periksa sekali lagi. Ada yang ketinggalan nggak.”
“Sudah kok. Beres semua.” Nindy memutar badannya sedikit. Memberi isyarat bahwa kali ini ucapannya benar.
“Makasih ya, Lang.” Ia tersenyum simpul.
Gilang mengangguk.
Ia berbalik, berjalan menuju pintu depan.
Nindy menatap punggungnya sebelum akhirnya menghilang.
Ia kembali tersenyum kecil sebelum akhirnya menekan sakelar lampu.
Ruangan itu seketika menjadi gelap.
Suara Gilang terdengar dari depan pintu.
“Ayo, berangkat.”
Nindy mengangguk lalu berjalan menyusul.
Sesaat sebelum pintu apartemen tertutup, ia menoleh sekali lagi ke dalam.
“Makasih ya.”
Klik.
Pintu terkunci.
Baru beberapa langkah menuju lift, pintu unit sebelah terbuka.
“Eh, Nindy!”
Seorang perempuan paruh baya keluar sambil membawa kantong belanja.
“Jadi pindah hari ini?”
“Jadi, Tante.”
“Yah... jadi sepi dong lantai ini.”
Nindy tersenyum.
“Mama bilang minggu depan juga ada penghuni baru kok.”
Tatapan wanita itu beralih ke Gilang yang sedang mendorong troli berisi kardus.
“Mas Gilang dari kemarin bantu terus.”
“Iya, Tante.” Gilang mengangguk sambil tersenyum.
“Untung sahabatku baik, Tante.” Nindy menunjuk Gilang dengan dagunya sambil tersenyum lebar.
Gilang hanya menggeleng pelan sambil terus berjalan.
“Tante duluan ya. Hati-hati di jalan.”
“Iya. Tante juga hati-hati.” Nindy melambaikan tangannya.
Begitu tiba di lift barang, mereka tidak perlu menunggu lama. Pintu lift langsung terbuka setelah Gilang menekan tombol turun.
Mereka masuk satu per satu bersama troli berisi kardus.
Tepat sebelum pintu lift menutup, Nindy melirik sekali lagi ke arah lorong apartemennya.
Dalam hati ia berpamitan untuk kedua kalinya.
Kali ini benar-benar pergi.
***
Mobil jasa ekspedisi yang membawa barang-barang Nindy sudah melaju lebih dulu.
Gilang menyalakan mesin. Menyalakan aplikasi penunjuk arah. Tujuan akhirnya adalah apartemen baru Nindy.
Malang.
Sebelum berangkat, Nindy sudah menghubungi adiknya yang berkuliah di Malang untuk standby di apartemen barunya, kalau saja mobil ekspedisi tiba lebih dulu.
Perlahan, mobil Gilang bergerak keluar dari parkiran.
Di dalam mobil, Nindy duduk manis di kursi penumpang. Jarinya sibuk memilih lagu dari playlist ponselnya untuk disambungkan ke pemutar musik mobil.
Satu lagu pop-rock dari band lokal Surabaya diputar.
Jari-jarinya bergerak seolah ada gitar tak kasat mata di tangannya.
Ia hafal betul intro itu.
“Kamu ingat nggak, waktu mereka ngisi acara di kampus dulu?” Nindy menoleh ke arah Gilang yang menatap lurus ke depan di balik kemudi.
Gilang menoleh ke arahnya sekilas.
“Ingat. Kenapa?”
“Anak-anak langsung heboh waktu mereka tiba-tiba muncul di panggung.”
“Yang lebih heboh lagi…” Nindy kembali menoleh ke arah Gilang.
“Rimba, vokalisnya, ternyata sepupu kamu!”
Suaranya meninggi.
Matanya berbinar.
“Seharusnya kamu bilang dari awal.” Nindy mendengus pelan. Kedua tangannya disilangkan. Ia melirik sewot ke arah Gilang.
“Tapi nggak apa-apa. Aku jadi dapat foto bareng eksklusif sama mereka.” Matanya kembali berbinar.
Gilang tertawa kecil melihat ekspresi Nindy yang berubah-ubah dalam hitungan detik. Ia tahu sahabatnya itu memang sangat mengidolakan band itu.
“Oh, ya. Mas Rimba apa kabar, Lang? Lama nggak mengudara.”
“Baik. Aku ketemu dia bulan lalu,” jawab Gilang santai. Matanya masih menatap lurus ke depan. “Sepertinya dia lagi menikmati peran barunya jadi ayah.”
“Oh… congratulations buat Mas Rimba dan istrinya.” Nindy mengatupkan kedua telapak tangannya.
Ia kembali bernyanyi mengikuti lagu yang sedang berputar.
Sesekali Nindy memperhatikan kendaraan lain yang mendahului mereka.
Akhirnya beneran pindah juga.
Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu.
Mencoba menikmati perjalanan.
Mobil Gilang berbelok dan berhenti di salah satu mal yang ada di kiri jalan.
Gilang menoleh ke arah Nindy yang tertidur.
Tubuhnya masih bersandar di pintu. Napasnya terdengar pelan. Entah sejak kapan ia mulai tertidur.
“Nin.” Gilang menepuk pundaknya pelan.
“Hmm.” Nindy mengernyit. Matanya perlahan terbuka.
“Kita makan dulu.” Gilang membuka pintu mobil.
Masih setengah sadar, Nindy mengikutinya berjalan masuk mal. Sesekali ia meregangkan tubuhnya. Berusaha menarik masuk sisa-sisa nyawanya.
Mereka memilih makan di restoran Jepang lantai dua yang tidak banyak pengunjung.
“Di sini aja. Biar nggak ngantri.” Nindy menunjuk restoran itu dengan dagunya.
“Oke.”
Mereka masuk dan duduk berhadapan di meja kosong dekat jendela. Lalu memesan makanan.
Nindy mengecek ponselnya sebentar. Memastikan tidak ada pesan yang terlewatkan selama ia terlelap tadi.
Nindy menguap untuk ketiga kalinya sejak turun dari mobil.
Spontan, ia menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.
“Capek banget kayaknya.” Gilang membuka satu botol air mineral.
“Nih, minum dulu.”
“Makasih.” Nindy mengambil botol itu lalu meminumnya.
Dari arah pintu masuk terdengar suara langkah sandal hak tinggi yang bertemu dengan lantai restoran.
Tiba-tiba dari balik punggung Nindy, terdengar seseorang memanggil.
“Gilang?”
Gilang menoleh.
“Nindy?”
Spontan, Nindy memutar badan ke arah sumber suara itu.
“Intan!”
Nindy bangun dari kursi. Memeluk kawan semasa kuliahnya itu.
“Kamu sendiri?”
“Sama Andre.” Intan menoleh ke arah pintu masuk. “Nah, itu dia.”
Intan melambaikan tangannya memanggil Andre lalu menoleh ke arah Nindy. “Kita baru mau makan.”
“Oh… bareng aja! Kita juga baru pesan kok.” Nindy menoleh ke arah Gilang.
Gilang mengangguk cepat, nyaris tak terlihat.
Nindy mempersilakan Intan duduk di sampingnya.
“Hey, Bro! Lama nggak ketemu.”
Gilang dan Andre saling berjabat tangan.
“Kebetulan banget.”
“Dari mana, mau ke mana nih?” Andre bertanya santai, tidak terdengar seperti menginterogasi.
“Mau ke Malang. Pindahan apartemen.” Gilang menjawab singkat sambil menyeruput teh hijaunya.
“Oh… kalian tinggal bareng sekarang?” Intan membolak-balik buku menu di tangannya.
Uhuk.
Nindy tersedak.
“No… itu nggak boleh.”
“Lho… kenapa?” Intan mengernyitkan dahinya. Ia menoleh ke arah Nindy dan Gilang secara bergantian.
“Kalian pacaran kan sekarang? Aku dengar infonya begitu lho. Ya, nggak, Babe?” Kini Intan menoleh ke arah Andre, suaminya.
“Iya.” Andre menimpali.
“Siapa yang pacaran? We’re best friends.” Nindy mengingatkan.
“Masih? Best friends rasa pacar.” Intan tertawa kecil.
“Intan, ih. Aku cubit ya.” Nindy pura-pura mencubit lengan kawannya itu.
Ia menoleh ke arah Gilang.
Gilang tertawa kecil tanpa suara.
Mereka pun lanjut berbincang bersama sambil menikmati makan siang.
Gilang melahap potongan terakhir sushi dari piringnya. Lalu menenggak teh hijau yang sudah diisi ulang.
“Kalian belum mau pergi kan? Aku ke toilet sebentar.” Gilang berdiri dari bangkunya.
“Santai aja, Lang.” Andre menimpali.
Gilang berjalan keluar restoran.
Intan memperhatikan Gilang dari jendela. Sosok tinggi tegap itu menghilang di lorong seberang.
“Jadi… mau sampai kapan, Nin?” Intan memulai percakapan lagi.
“Apanya?” Nindy menyeka bibirnya dengan tisu.
Intan menatap tajam ke arahnya.
“Kamu sama Gilang. We’re best friends.”
Ia menirukan gaya bicara Nindy tadi.
Nindy kembali mencubit pelan lengan Intan.
“Aku yakin seribu persen kalau Gilang itu suka sama kamu. Kebaca lho, Nin.”
Nindy menghela napas pelan.
“Mulai lagi deh...”
“Kamu nggak percaya? Tanya Andre. Ya, kan, Babe?” Intan meminta dukungan suaminya.
“Iya. Sebagai sesama laki-laki, kelihatan banget perlakuannya ke kamu itu beda.” Andre menyeruput minuman sodanya.
“Aku belum pernah lihat dia serepot itu buat orang lain.”
Nindy terdiam beberapa saat.
“Time out!” Telapak tangannya membentuk huruf T.
“Nin…”
“Ganti topik dong.” Nindy mengisi ulang teh hijau di gelasnya yang sudah kosong.
“Serius, Nin. Kamu sendiri gimana sama Gilang?” Intan menyentuh pundaknya.
Nindy tidak langsung menjawab. Bola matanya bergerak-gerak seolah sedang mencari sesuatu.
Ia menghela napas.
“Entahlah.”
“Kayaknya harus kita yang turun tangan nih, Babe.” Intan meraih tangan Andre. Senyum jahil terpampang di wajahnya.
“Jangan aneh-aneh ya kalian berdua. Awas aja!” Nindy menjulurkan jari telunjuknya ke arah dua kawannya itu. Nadanya setengah mengancam.
Mereka tertawa.
Kali ini agak kencang.
Untungnya tidak ada pengunjung lain di sekitar meja mereka.
***
“Gilang lama banget ke toiletnya.” Intan menoleh ke arah jendela.
“Sakit perut kali.” Andre menambahkan.
Nindy memandang ke arah jendela. Mengetuk-ngetuk jarinya di gelas.
“Nah, itu dia.” Nindy melihat sosok Gilang muncul dari lorong seberang. Ia menenteng beberapa paper bag kecil di tangan. Langkahnya cepat menuju restoran.
“Sorry, lama. Sekalian mampir bentar.”
Gilang meletakkan paper bag berisi kopi di atas meja lalu satu lagi tetap dibiarkan di samping kursinya.
“Wah… kamu beli kopi?” Intan mengintip isi paper bag itu sambil menyikut pelan lengan Nindy.
“Buat di jalan.” Gilang menjawab singkat.
“Sudah beres kan makannya? Aku sama Nindy harus lanjut.” Gilang menoleh ke arah Intan dan Nindy bergantian.
Ia melambaikan tangan ke pelayan untuk meminta bill.
Beberapa menit kemudian pelayan datang.
“Ini bill-nya, Kak. Silakan dicek kembali pesanannya.”
Gilang sudah bersiap menyerahkan kartunya. Namun, Intan cepat-cepat menahan gerak tangannya.
“Babe,” Intan menatap suaminya.
Dengan sigap, Andre menyerahkan kartunya ke pelayan.
“Kamu kan udah beliin kita kopi.” Intan tersenyum. Ia menoleh ke arah Gilang dan Nindy.
“Itu nggak seberapa lho. But, thank you.” Gilang memasukkan kembali kartunya ke dalam dompet.
“Makasih ya.” Nindy mengacungkan jarinya yang berbentuk hati ke arah tiga sahabatnya itu.
Nindy melirik ke arah paper bag di samping kursi Gilang.
“Beli apa?”
Gilang mengikuti arah pandang Nindy.
“Biasa.”
“Lego lagi?” Nindy hafal betul sahabatnya itu penggila Lego.
Gilang tidak menjawab. Sudut bibirnya terangkat tipis sesaat lalu kembali datar.
Nindy mendengus pelan. Bibirnya mengerucut.
Gilang masih menatapnya, seolah menahan senyum.
Nindy mengecek jam di layar ponsel.
14:41.
“Ya udah, yuk. Nanti keburu sore.”
Nindy beranjak dari kursinya. Mengambil tas selempang yang digantung di ujung kursi. Berjalan keluar melewati meja-meja kosong.
Yang lain mengikuti.
“Kalian berdua hati-hati.” Intan merangkul pinggang Andre.
“Jangan ngebut lho, Lang.”
“Tenang aja.”
“Kalian juga hati-hati. Nanti main ke Malang ya.” Nindy memberi cipika-cipiki ke Intan.
Mereka pun berpisah di depan restoran.
Nindy dan Gilang berjalan beriringan kembali ke mobil.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Malang.
***
Langit Malang mulai berganti warna menjadi kuning keemasan.
Mobil Gilang terparkir di area parkir, sedangkan mobil jasa ekspedisi sudah pergi satu jam yang lalu.
Setibanya di apartemen baru, tumpukan kotak kardus tersusun acak di ruang tamu.
Gilang memeriksa tumpukan kardus itu satu per satu.
Nindy duduk bersandar di sofa sambil meregangkan tubuhnya. Pinggangnya sedikit sakit karena duduk di mobil cukup lama.
“Barang Kakak lengkap ya.”
Mira muncul dari arah kamar tidur Nindy yang baru.
“Aku udah hitung bareng kurirnya tadi sebelum mereka pergi.”
Mira berjalan ke dapur. Mengambil dua botol air mineral yang dibelinya di toko serba ada di lantai bawah dari dalam kulkas.
Ia menyodorkan air mineral itu ke arah Gilang yang sedang berdiri di antara tumpukan kotak kardus.
“Makasih, Mir.” Gilang menerima botol itu lalu meminumnya sedikit.
Satu botol lagi diletakkan di meja dekat sofa.
“Koper-koper Kakak juga udah aku pindahin ke kamar.”
Mira duduk di sofa kecil di pojok. Menggulung charger ponsel lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Makasih ya, Sista!”
Nindy mengubah posisi duduknya lebih tegak. Ia mengambil botol air mineral di meja lalu meminumnya.
“Ya udah. Aku tinggal ya, Kak.”
“Lho, mau ke mana?”
“Pacaran.” Mira menjulurkan sedikit lidahnya. “Ini malam minggu, Sista.”
Ting.
Mira membuka kunci layar ponselnya.
“Alfi udah di bawah nih.” Mira beranjak dari sofa. “Pergi dulu ya, Kak.”
“Da… Kak Gilang.” Mira melangkah cepat menuju pintu sambil melambaikan tangan ke arah Gilang.
Gilang mengangkat tangannya. “Hati-hati.”
“Jangan pulang malam-malam!” Nindy sedikit berteriak mengingatkan adiknya yang menghilang saat pintu tertutup.
Klik.
Nindy masih duduk di sofa.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Gilang masih berdiri di antara tumpukan kardus.
Hening.
Seharusnya sudah bukan hal aneh lagi bagi Nindy dan Gilang berada di situasi seperti ini.
Hanya berdua.
Nindy merasakan detak jantungnya perlahan berpacu.
Percakapannya dengan Intan dan Andre siang tadi kembali terputar di kepalanya tanpa diminta.
Nindy menggeleng. Menepuk-nepuk pelan wajahnya.
Fokus!
Gilang menoleh ke arahnya.
“Siap mulai lagi?”
“Let’s finish this!” Nindy mengepalkan tangannya dan beranjak dari sofa menuju kamar.
Gilang mulai membongkar kotak kardus itu satu per satu lalu menyusunnya.
Nindy sibuk mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan menyusunnya di lemari. Menata skincare dan peralatan make up di meja rias.
“Aw!”
“Nin.” Suara Gilang terdengar dari luar.
“Nggak apa-apa.”
Nindy meremas jarinya. “Kejepit pintu lemari doang, dikit.”
Ia kembali menyusun barang lainnya. Menggantung beberapa tas dan aksesori di samping lemari.
Sesekali Nindy menoleh ke arah pintu. Ia melihat Gilang keluar masuk dapur berkali-kali membawa barang dari ruang tamu.
Ia tersenyum sendiri.
Entah sejak kapan ia begitu menikmati pemandangan itu.
Ia kembali mengalihkan pandangan ke tumpukan barang di kasurnya.
Beberapa jam kemudian, tumpukan kotak kardus itu pun menghilang dari ruang tamu. Kini apartemen itu terasa lebih luas.
“Akhirnya…” Nindy mematikan vacuum cleaner.
Ia menyeka keringat di pelipisnya. Kausnya basah di bagian leher.
Beberapa detik kemudian, suara pintu depan terbuka. Ia menoleh.
Tubuh Gilang muncul dari balik pintu. Ia menenteng paper bag dan bungkusan plastik berisi beberapa botol air mineral dan camilan.
Ia melangkah menuju dapur.
“Udah beres?” Gilang meletakkan bungkusan itu di meja dapur dan menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja.
“Udah.” Nindy tersenyum lebar.
Ia mengambil satu botol air mineral lalu membukanya. Ia minum seteguk.
“Untung ada kamu, Lang. Makasih banyak ya.”
Gilang hanya tersenyum tipis.
“Nih.”
Gilang memberikan paper bag yang ia bawa dari bawah.
“Lego.”
Sudut bibirnya terangkat sebelah. Alisnya naik sedikit.
“Lego?” Kening Nindy sedikit berkerut. “Yang kamu beli tadi siang?”
Nindy menerima paper bag itu. Rasanya terlalu berat untuk Lego.
Ia membukanya.
Tangannya mengeluarkan satu dus kecil berisi mug keramik.
“Serius?” Suara Nindy meninggi.
“Nggak sama sih. Tapi seenggaknya warnanya sama.”
“Nggak apa-apa.” Matanya berbinar. “Makasih ya.”
Nindy mengeluarkan mug keramik itu dari dalam dus. Ia memutarnya pelan. Warnanya sama persis seperti mug kesayangannya yang pecah.
Hijau lumut.
“Aku suka banget! You’re my best friend indeed.”
Senyumnya masih menggantung ketika ia kembali memandangi mug hijau lumut di tangannya.
Gilang ikut tersenyum.
Tipis.
Nyaris tak terlihat.
Namun, entah mengapa… dua kata itu mengusik pikirannya.
Best friend.
Ia masih menatap wajah sahabatnya itu.
Tanpa mengalihkan pandangan, Gilang meraih sebotol air mineral dari dalam kantong plastik. Tutupnya dibuka pelan. Ia meneguk sedikit.
Ia berdeham pelan.
“Nin.”
“Hmm.”
Gilang menarik napas pendek.
“What if I could be more than just your best friend?”
Mata mereka bertemu.
Sesaat.
Tak satu pun berpaling.
Tak ada senyum tipis.
Tatapannya seakan menembus kepala Nindy.
Nindy menggenggam erat mug keramik hijau lumut itu.
Takut mug itu terlepas dari tangannya yang mulai gemetar.
***
Pantulan cahaya lampu gedung sebelah masuk melalui balkon.
Gilang masih bersandar di meja dapur. Tatapannya lurus ke arah Nindy.
Nindy terpaku di depannya. Kedua tangannya semakin erat menggenggam mug baru itu.
Rasa panas menjalar dari punggung ke lehernya. Perlahan naik ke wajahnya. Matanya yang berbinar kini mulai memerah. Sedikit berair.
Bibirnya terkatup rapat, seperti sedang menahan kalimat-kalimat yang sejak tadi memaksa keluar.
Akhirnya Nindy memalingkan pandangannya ke arah mug yang ia genggam sejak tadi.
Ia meletakkan mug keramik itu di meja dapur—tepat di samping Gilang.
Ia melangkah pelan menuju kamarnya. Seakan tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
Gilang menatap punggung Nindy. Membiarkannya pergi tanpa berkata apa-apa.
Ia memejamkan mata. Kepalanya mendongak ke atas.
Ia mencoba menarik napas panjang. Namun, dadanya tetap terasa sesak.
Ruang tamu kembali sunyi.
Gilang tetap berdiri di tempatnya. Tangannya masuk ke saku celana.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia berharap waktu berjalan sedikit lebih cepat.
Nindy berdiri di balik pintu kamarnya.
Ia tidak langsung melangkah. Ia membiarkan dadanya yang berdebar perlahan mencari ritmenya sendiri.
Tatapannya jatuh ke sudut meja rias.
Kotak sepatu kusam itu ada di sana.
Ia mengembuskan napas panjang lalu meraihnya.
Perlahan, Nindy membuka pintu kamarnya.
“Lang.”
Kesunyian itu akhirnya pecah.
Gilang menoleh.
Di depan pintu kamar, Nindy berdiri. Sebuah kotak sepatu kusam dipeluknya erat.
Nindy berjalan pelan ke ruang tamu lalu duduk di sofa.
Gilang menghampiri lalu duduk di sampingnya.
Nindy meletakkan kotak sepatu itu di pangkuannya. Tangannya tetap memegang kotak itu.
Gilang mengamati kotak sepatu itu.
Warnanya pudar. Sudut-sudutnya sedikit penyok.
Ia mengangkat satu alisnya.
“Fosil?”
Nindy tertawa kecil.
Ia membuka kotak itu lalu mengeluarkan satu buku catatan berukuran kecil warna biru gelap.
“Kamu ingat ini apa?”
Nindy memberikan buku catatan itu padanya.
Gilang membolak-balik sampulnya.
“Buku catatanku.”
“Betul.” Nindy tersenyum. “Dulu kamu pinjamin aku waktu kita mau ujian bahasa Inggris dadakan di kampus.”
Nindy mengambil benda lain dari dalam kotak dan menyerahkannya ke Gilang.
“Kalau ini?”
Gilang mengamati dua lembar kertas di tangannya. Tulisannya nyaris hilang sempurna.
“Tiket bioskop?”
Nindy tersenyum kecil.
“Waktu kita bolos rame-rame di kelas Pak Warso.”
Nindy kembali membuka kotak sepatunya dan mengeluarkan tiga lembar foto polaroid. Ia menyerahkan foto itu ke Gilang.
Gilang memandang foto itu satu per satu. Foto saat pentas seni di kampus.
Fotonya bersama Nindy dan Rimba.
Fotonya bersama Nindy, Intan, dan Andre.
Fotonya hanya bersama Nindy. Ada satu bentuk hati kecil digambar menggunakan spidol merah di sudut kertas putihnya.
Nindy memandang kotak sepatunya itu. Masih banyak benda-benda lain di dalamnya.
“Bisa aja semua barang ini aku buang.” Nindy menutup kotak sepatunya.
“Tapi…” Nindy menahan napasnya beberapa detik.
“Aku nggak mau.” Suaranya bergetar.
Gilang menatap Nindy. Tangannya masih memegang foto-foto polaroid itu.
Nindy membalas tatapannya. Matanya kembali memerah dan sedikit berair.
“Kamu sahabat terbaikku, Lang.”
Nindy menyeka ujung matanya dengan jari.
“But you’re also someone special.”
Nindy tersenyum kecil.
“Always.”
Gilang memindahkan kotak sepatu dari pangkuan Nindy ke atas meja. Menyimpan kembali foto-foto polaroid itu ke dalam kotak.
Nindy kembali menyeka ujung matanya dengan jari.
Dengan lembut, Gilang meraih tangan Nindy.
Ia mencondongkan tubuhnya.
Memeluk Nindy.
Nindy menenggelamkan wajahnya di pundak Gilang.
Perlahan, suara isakan mulai terdengar.
“Kenapa sih kamu baru ngomong?”
Nindy memeluk Gilang erat. Kausnya masih sedikit basah karena keringat.
“Kenapa juga harus sekarang?”
Gilang tertawa kecil.
Ia mengusap-usap rambut Nindy pelan.
Gilang mengendurkan pelukannya.
Nindy masih setengah terisak.
Ia menatap wajah mungil sahabatnya itu. Menyeka air mata di pipinya yang mulai basah.
“Kalau nggak sekarang, kapan lagi?”
“Tapi aku lagi dekil begini, Lang.”
Nindy memukul pelan pundaknya.
“That’s okay.”
Tawa kecil bercampur isakan tangis mengisi ruangan itu.
*****