Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku dilahirkan dari sebuah telur yang ditemukan di dalam jam tua, pada pagi ketika seluruh jarum di kota berhenti menunjuk angka yang sama. Tidak ada yang tahu dari mana telur itu datang. Ia ditemukan seorang perempuan tua di atas meja makannya, terselip di antara cangkir teh yang belum sempat dicuci dan koran kemarin yang masih terlipat pada halaman kematian. Warnanya putih, tetapi bukan putih seperti kapur atau tulang, melainkan putih seperti sesuatu yang terlalu lama disimpan di tempat yang tidak pernah disentuh matahari. Perempuan itu tidak membuangnya, sebab menurutnya segala sesuatu yang muncul tanpa diundang barangkali sedang mencari tempat untuk tinggal, dan rumah yang baik tidak seharusnya mengusir sesuatu hanya karena tidak tahu siapa yang mengirimkannya.
Tiga hari kemudian, telur itu retak.
Aku keluar dengan sepasang sayap kecil yang belum tahu bagaimana caranya terbang, bulu-bulu yang masih basah, dan sepotong keyakinan yang entah bagaimana sudah tumbuh lebih dulu di dalam kepalaku: aku harus pergi sejauh mungkin dari kota itu.
Kota tersebut memang tidak ramah bagi burung. Orang-orangnya jarang menengadah. Mereka berjalan tergesa dengan kepala tertunduk, membawa tas, membawa payung, membawa percakapan yang belum selesai, sementara di atas kepala mereka burung-burung berputar-putar seperti sesuatu yang tidak lagi memiliki rumah. Setiap pagi, lonceng-lonceng berbunyi dari menara tua, dan setiap kali bunyi itu sampai ke jalan-jalan, beberapa burung akan jatuh dari atap seolah mendadak lupa bahwa mereka memiliki sayap.
Aku tidak ingin menjadi seperti mereka.
Maka ketika kedua sayapku mulai kuat, aku meninggalkan perempuan tua itu, meninggalkan jam yang berhenti, meninggalkan kota yang tidak pernah melihat langitnya sendiri, lalu terbang ke arah hutan di sebelah utara yang menurut cerita para burung merupakan tempat segala sesuatu yang tersesat akan berakhir.
Hutan itu jauh lebih tua daripada kota, bahkan mungkin lebih tua daripada orang-orang yang pertama kali memberi nama pada pepohonan di dalamnya. Batang-batang besar tumbuh saling mengitari, akar-akar keluar dari tanah seperti jari tangan yang enggan melepaskan sesuatu, sementara lumut menutupi batu-batu sampai tidak ada lagi yang tahu apakah benda yang diinjak itu batu, makam, atau seseorang yang sudah terlalu lama berbaring.
Anehnya, semua makhluk di sana tampak bahagia.
Rusa-rusa berkumpul di tepi sungai setiap senja untuk bertukar cerita tentang manusia yang pernah mereka lihat dari kejauhan. Rubah-rubah berlari di antara semak sambil membawa benda-benda kecil yang mereka temukan di jalan: kancing baju, sisir patah, cincin karat, bahkan gigi palsu yang pernah mereka temukan di dekat sebuah pondok. Burung hantu menyanyikan lagu yang tidak memiliki lirik, dan pohon-pohon akan menggoyangkan ranting mereka setiap kali lagu itu sampai pada nada tertentu.
Pada malam hari, hutan menjadi lebih ramai.
Kunang-kunang memenuhi semak-semak seperti bintang yang jatuh terlalu rendah, jamur-jamur kecil mengeluarkan cahaya dari bawah tanah, dan sungai mengalir sambil memantulkan wajah bulan yang selalu tampak lebih tua daripada malam sebelumnya. Tidak ada yang tidur terlalu cepat. Semua orang seperti takut kehilangan sesuatu apabila memejamkan mata.
Aku justru merasa sesak.
Barangkali aku memang dilahirkan dengan hati yang salah, sebab semakin banyak suara yang mengelilingiku, semakin kuat keinginanku untuk mencari tempat yang tidak memiliki suara apa-apa. Aku tidak mengerti mengapa semua orang begitu sibuk merayakan keberadaan mereka, seolah-olah hidup adalah pesta yang harus dihadiri sampai musik terakhir berhenti.
Pada malam ketujuh, aku pergi.
Aku terbang melewati sungai, melewati bukit, melewati pohon-pohon yang cabangnya mencakar langit, sampai suara hutan semakin jauh dan akhirnya tinggal gema yang tipis. Ketika aku menoleh, seluruh rimba telah berubah menjadi gumpalan hitam di bawahku, sementara di hadapan sana terbentang sebuah padang luas yang tidak ditumbuhi apa pun selain rumput pucat.
Di tengah padang itu berdiri sebuah rumah.
Tidak besar. Tidak pula kecil. Dindingnya terbuat dari kayu tua dan atapnya ditumbuhi rumput liar. Di depan pintu terdapat sebuah kursi kosong yang menghadap ke timur, seakan-akan seseorang setiap pagi duduk di sana hanya untuk menyaksikan matahari muncul dari tempat yang sama.
Aku hinggap di sandaran kursi.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, aku merasa tidak ingin segera pergi.
Malam turun perlahan. Dari dalam rumah terdengar suara benda jatuh, lalu suara langkah kaki yang menyeret, kemudian suara seseorang bersenandung dengan lagu yang tidak kukenal.
Aku menunggu.
Pintu terbuka.
Seorang anak laki-laki keluar membawa mangkuk kecil berisi susu. Ia menaruhnya di tangga, lalu duduk di lantai sambil menengadah kepadaku.
"Kau tersesat?"
Aku menggeleng.
"Burung tidak bisa menggeleng."
Aku menggerakkan kepala ke kiri dan kanan.
Ia tertawa.
"Kalau begitu kau memang tersesat."
Aku tidak membantah.
Anak itu tinggal sendirian di rumah tersebut, atau setidaknya begitulah yang kupikirkan pada malam pertama. Ia tidak pernah bercerita tentang orang tuanya. Ia tidak pernah menyebut nama siapa pun. Setiap sore ia keluar membawa kursi kecil, duduk di bawah pohon di belakang rumah, lalu menunggu sampai matahari menghilang. Kadang-kadang ia berbicara kepada tanah. Kadang-kadang kepada kursi kosong di depan pintu. Kadang-kadang kepada sesuatu yang tidak bisa kulihat.
Aku mulai tinggal di sana.
Hari-hari berlalu, dan aku baru menyadari bahwa waktu di rumah itu berjalan dengan cara yang aneh. Pagi datang, tetapi tidak selalu membawa cahaya. Hujan turun, tetapi tidak selalu membuat tanah basah. Beberapa malam terasa sangat panjang, sementara beberapa pagi berlalu hanya dalam sekejap.
Anak itu tidak pernah bertambah besar.
Aku tidak tahu berapa lama kami tinggal bersama, tetapi setiap kali melihat pantulanku di genangan air, buluku semakin kusam dan sayapku semakin berat. Sementara anak itu tetap sama: kaki kecil, rambut berantakan, lutut penuh luka, dan mata yang selalu seperti baru saja selesai menangis meskipun tidak pernah ada air di sana.
Suatu malam ia bertanya, "Menurutmu, ke mana orang-orang pergi kalau mereka tidak pulang?"
Aku tidak tahu.
Ia menunjuk langit.
"Mungkin ke sana."
Lalu ia menunjuk tanah.
"Atau ke sana."
Aku menatapnya.
Ia tersenyum.
"Atau mungkin mereka tidak pergi ke mana-mana. Mungkin kita saja yang terlalu terbiasa mencari."
Aku tidak mengerti.
Tetapi entah mengapa kalimat itu tinggal lama di kepalaku.
Musim berganti. Rumput menguning lalu menghijau kembali. Sungai di belakang rumah pernah meluap sampai halaman penuh lumpur, kemudian menyusut menjadi aliran kecil yang bahkan tidak mampu membawa daun kering. Aku mulai menyadari sesuatu yang ganjil: setiap kali seseorang meninggalkan dunia, sebuah benda di rumah itu akan menghilang.
Pertama sebuah cangkir.
Kemudian sebuah sepatu.
Lalu sebuah foto.
Suatu pagi, kursi kosong di depan rumah juga lenyap.
Aku melihat anak itu berdiri lama di tempat kursi itu dahulu berada.
Ia tidak menangis.
Ia hanya berkata, "Akhirnya."
Aku ingin bertanya siapa yang pergi, tetapi untuk pertama kalinya aku memahami bahwa ada pertanyaan yang lebih baik dibiarkan tidak memiliki jawaban.
Malam berikutnya hujan turun.
Anak itu duduk di ambang pintu sambil memeluk lutut. Aku bertengger di bahunya. Untuk waktu yang lama kami hanya mendengarkan air yang jatuh dari atap.
Lalu ia berkata, "Aku capek menunggu."
Aku menoleh kepadanya.
"Aku kira menunggu itu berarti mencintai seseorang cukup lama sampai dia kembali."
Tangannya mengusap buluku.
"Ternyata tidak."
Hujan semakin deras.
"Kadang-kadang menunggu cuma cara paling halus untuk mengatakan bahwa kita belum rela ditinggalkan."
Aku tidak tahu mengapa dadaku tiba-tiba terasa berat.
Malam itu ia tidur lebih awal.
Aku tetap terjaga di dekat jendela.
Menjelang tengah malam, aku mendengar suara pintu terbuka.
Anak itu berdiri di halaman.
Ia berjalan menuju pohon tua di belakang rumah, tempat selama ini ia duduk setiap sore. Ia menengadah lama sekali, kemudian berbaring di atas rerumputan yang basah.
Aku terbang mendekatinya.
Ia tidak bergerak.
Aku memanggilnya dengan suara yang hanya bisa didengar burung.
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya aku takut pada kesunyian yang selama ini kucari.
Aku menunggu sampai pagi.
Matahari muncul perlahan di balik bukit, menghangatkan rerumputan, mengeringkan embun, dan membuat segala sesuatu tampak begitu biasa sehingga kematian terasa seperti kesalahan kecil yang tidak pantas mengubah jalannya dunia.
Aku terbang kembali ke rumah.
Pintu masih terbuka.
Mangkuk susu masih berada di tangga.
Selimut masih terlipat di atas ranjang.
Hanya anak itu yang tidak ada.
Dan pada saat itulah aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Di atas meja, terdapat sebuah jam tua.
Jarumnya bergerak.
Tik.
Tak.
Tik.
Tak.
Aku mendekatinya.
Di bawah jam itu ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang tidak kukenal.
Jangan takut pulang hanya karena pernah ditinggalkan.
Aku tidak tahu siapa yang menulisnya.
Aku juga tidak tahu untuk siapa kalimat itu ditujukan.
Tetapi ketika aku membacanya, sesuatu di dalam diriku yang selama bertahun-tahun ingin terbang sejauh mungkin mendadak menjadi sangat lelah.
Aku keluar dari rumah.
Padang masih sama.
Langit masih luas.
Tidak ada seorang pun di sana.
Aku mengepakkan sayap dan mulai terbang.
Bukan ke utara.
Bukan ke selatan.
Bukan menuju kota, bukan pula kembali ke hutan.
Aku terbang tanpa tujuan, sampai tubuhku tidak lagi mampu membawaku lebih tinggi.
Di bawah sana, dunia tampak kecil sekali. Rumah-rumah menjadi titik. Sungai menjadi garis. Hutan menjadi bayangan. Bahkan kehilangan yang selama ini terasa sebesar langit ternyata dari kejauhan hanya tampak seperti sebuah tempat kecil yang pernah kulewati.
Aku terus terbang.
Sampai akhirnya bulu-buluku rontok satu per satu.
Sayapku tidak lagi kuat.
Dan ketika tubuhku jatuh, aku tidak mencoba melawannya.
Aku membiarkan angin membawa ke mana ia ingin membawa.
Di bawahku terbentang tanah yang lembut.
Aku jatuh di antara rerumputan.
Tidak sakit.
Tidak ada suara.
Hanya detak jam yang entah bagaimana masih kudengar dari kejauhan.
Tik.
Tak.
Tik.
Tak.
Lalu untuk pertama kalinya aku mengerti mengapa beberapa hal harus pergi tanpa pernah benar-benar kembali.
Sebab mungkin pulang bukan berarti menemukan pintu yang sama, rumah yang sama, atau seseorang yang masih menunggu di tempat semula.
Mungkin pulang hanya berarti berhenti terbang menjauh dari sesuatu yang sejak awal tidak pernah mengejarmu.
Ketika mataku mulai terpejam, seekor burung kecil hinggap di dekatku.
Ia memandang tubuhku yang semakin ringan, lalu bertanya kepada udara, "Kau tersesat?"
Angin bergerak pelan di antara rerumputan.
Dan entah dari mana, sebuah suara menjawab:
"Sudah tidak."
Pagi terus berjalan.
Rumput kembali tumbuh.
Sungai kembali mengalir.
Hutan kembali ramai.
Kota kembali membunyikan lonceng-loncengnya.
Dunia tidak kehilangan apa-apa.
Tetapi di tempat seekor burung pernah jatuh, tumbuh sebatang pohon kecil yang setiap musimnya selalu menghasilkan bunga-bunga putih, seolah-olah tanah menyimpan sesuatu yang tidak sanggup dikembalikan dalam bentuk semula.
Dan setiap kali angin datang, bunga-bunga itu berguguran.
Bukan karena mereka mati.
Barangkali hanya karena ada beberapa hal yang memang diciptakan untuk jatuh, agar setelahnya kita tahu bahwa jatuh pun dapat menjadi cara lain bagi sesuatu untuk kembali kepada bumi.