Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Yang Kutinggalkan di Mengwi
0
Suka
17
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Langit yang tak begitu cerah hari ini membuat pancaran jingga dari senja enggan bersinar. Arak awan di Pantai Nyanyi biasanya terlihat sangat indah dan jernih dibandingkan dengan pantai-pantai lain di pesisir selatan Bali, tapi hari ini semua kelabu. Kami beranjak dengan sedikit rasa kecewa sebelum semesta padam dan angin menggoyangkan barisan penjor yang mengering setelah Hari Raya Galungan berlalu beberapa waktu yang lalu. Aku telah melewatkannya setelah dua puluh tahun tak pernah kembali lagi ke Mengwi, tempat aku dibesarkan yang telah aku tinggalkan begitu saja. Tanpa pamit. Tanpa sepatah kata pun.

Sampai di tempat kami menginap, istri dan anak-anakku lekas tidur setelah empat hari kami menjelajahi Bali tanpa henti. Namun, luka di hatiku yang paling dalam kembali terbuka dan terasa lebih sakit dari yang pernah aku rasakan dulu, hingga rasanya ingin menebus rasa sakit itu sekarang, namun entah bagaimana caranya. Atau dengan apa aku bisa membayarnya?

Besok adalah hari terakhir kami di Bali sebelum akhirnya aku kembali dikejar target angka-angka penjualan properti yang aku pasarkan. Aku masih memikirkan satu hal yang terus mengganjal di hati hingga mata ini enggan terpejam meski ragaku sangat letih. Bulan purnama hampir terbenam dalam samudera yang mendengkur. Aku masih terus meyakinkan diri sendiri untuk pergi mencari keluarga yang pernah memberikanku kehidupan dan kutinggalkan diam-diam.

Gaduh suara istri dan anak-anakku membangunkanku, yang entah sejak kapan mataku terpejam. Hujan angin tiba-tiba mengamuk, mengetuk-ketuk jendela kamar kami, membuat lonceng di depan pintu terus berdenting dengan irama tak beraturan. Kata istriku, sudah sejak dua jam yang lalu, namun tidurku sangat lelap. Aku menerima pemberitahuan surel bahwa penerbangan kami ditunda menjadi sore hari sebagai jawaban atas keraguan-keraguanku untuk pergi sekali lagi ke Mengwi. Lagi pula, istri dan anak-anak sudah sangat lelah jika harus bepergian lagi. Aku meminta izin kepada mereka untuk pergi sendiri dengan alasan membeli titipan dari teman kerja. Tentu saja mereka mengizinkan.

Sesaat usai hujan reda, aku meminta pihak hotel untuk mengantarkanku ke daerah Mengwi. Langit masih gelap seakan dia tak menginginkanku pergi sekali lagi, atau bahkan dia marah padaku yang pernah meninggalkan pulau ini tanpa sepatah kata pun.

“Kita akan pergi ke mana ya, Pak?” Kata sopir yang menyadarkanku bahwa aku juga tak tahu pasti ke mana tujuanku.

“Tanah Lot, pak.” Jawabku spontan tanpa berpikir panjang.

“Emm... Kita ke Kedungu saja, Pak.” Kataku segera sebelum sopir mengambil jalan menuju arah Tanah Lot.

“Di Kedungu sepi, lho, Pak. Yakin mau ke sana? Apalagi hujan begini.” Dia meyakinkanku, orang yang pernah menjadikan Kedungu sebagai tempat bermain masa kecil. “Iya, Pak. Kita ke Kedungu.” Sopir segera mengambil jalan ke arah Pantai Kedungu setelah aku merasa yakin.

Setelah melewati jalan-jalan yang membuat ingatanku kembali satu per satu, sopir memarkir mobil di depan warung-warung yang memang sepi jika dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di sini. Gerimis kembali turun, namun sama sekali tidak mengurungkan langkahku menuju bibir pantai. Sudah ada beach club di sini. Di atas tebing juga dibangun gapura dan tempat duduk untuk menikmati matahari terbenam. Aku berjalan menyusuri pantai dengan pasir hitam yang menjorok jauh ke arah laut dan ombak yang menggulung tinggi yang kapan saja bisa menyeretku bersamanya. Aku berjalan dengan tatapan kosong mencari sesuatu yang sepertinya kutinggalkan di pantai ini. Ya! Sesuatu yang sengaja kutinggalkan padahal sangat berharga. Gerimis kembali turun hingga hujan deras tiba-tiba mengguyurku dalam sekejap. Sopir berteriak memanggilku, namun suaranya tidak lebih keras dari suara hujan. Bahkan pandangan mata menjadi kabur karena derasnya.

Aku tetap pada langkah-langkah penyesalan yang telah hidup dalam diriku selama bertahun-tahun. Tak ada siapa pun yang bisa ditemui untuk menanyakan sesuatu yang sejak kemarin telah membebani hati. Aku hanya berjalan menyusuri Kedungu yang sepi ditemani hujan, mengenang masa kecilku yang sangat beruntung.

“Ayo, Pak... Kita jalan, tapi pelan-pelan saja ya.” Kataku setelah berlari kembali ke mobil. Tentu saja, setelah hujan reda menjadi gerimis. “Kita mampir ke toko pakaian apa pun yang ada di depan, nanti ya, Pak.” Aku melanjutkan. “Dan toko Pia yang katanya sangat lezat di Bali.” Aku menambahkan lagi.

“Berhenti di depan, ya, Pak.” Tiba-tiba mobil berhenti mendadak setelah sopir membanting setir ke kiri. Aku mengagetkan sopir setelah melihat swalayan kecil di jalanan Mengwi yang sebenarnya juga membuatku terbangun dari lamunan. Aku membeli baju dan beberapa makanan di sana. Saat keluar dari pintu swalayan, tatapanku berlari ke arah seberang jalan. Ke sebuah banjar dengan gapura Dwarapala di kanan dan kirinya. Canang yang rusak karena hujan masih mengelilingi gapura. Beberapa dupa terlihat masih menyala, sepertinya baru saja diletakkan. “Pak, tunggu ya…” Kataku kepada Sopir pergi menuju kampung itu setelah meletakkan belanjaanku di kursi belakang.

Aku berjalan melewati gapura. Aroma dupa sangat khas di sini, bau yang tak asing di hidungku. Aku menatap baik-baik setiap sisi kanan dan kiri kampung ini. Kemudian mulai melangkah dengan jantung berdebar sangat keras. Rumah demi rumah yang sudah berubah dari dua puluh tahun silam aku lewati sampai di depan rumah keempat sebelah kiri dari jalan raya. Seorang wanita memakai kebaya putih dengan selendang kuning terikat di perutnya. Tangan kanan memegangi payung tertutup dan tangan kirinya memegang canang yang mungkin akan diletakkan di sekitar rumahnya. Kepalaku menoleh ke kanan. Ke rumah tempat aku dibesarkan. Jantungku luruh, membuat air mata tiba-tiba berlinang. Aku telah meninggalkannya dan tak pernah kembali lagi. Aku memaku di atas tempatku berdiri, kembali menoleh ke arah wanita sebelumnya. Dia berjalan ke arah warung di sebelah rumah itu dan aku segera mengikutinya. Tanpa kusadari, kakiku seakan ingin mengikuti ke mana wanita itu pergi.

“Iya, mau beli apa?” Kata wanita itu setelah memergokiku diam di depan warung beberapa saat. Bahkan aku tak mengerti apa yang sedang kulakukan. “Oh, ini… air minum.” Kataku secara tiba-tiba membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral. “Lima ribu.” Katanya masih mengagetkanku sekali lagi. Aku bingung mencari dompetku di saku celana kanan, kiri, dan depan. Ternyata tak ada. “Maaf, Mbak, nggak jadi.” Kataku mengembalikan air ke tempatnya dan segera pergi dari warung dengan perasaan sangat gugup.

Hati kecilku menghentikan langkahku. Aku berhenti sejenak untuk berpikir apa yang harus kutanyakan. Aku tak punya keberanian sedikit pun meski rasanya ada sesuatu yang harus kulakukan untuk menebus sebuah dosa masa lalu.

“Maaf. Mbak, apakah betul itu rumah Pak Made?” Aku kembali ke warung dan menanyakan hal yang sudah kutahu. Atau memang aku ingin memastikan lagi apakah mereka masih tinggal di sana. Banyak hal yang ingin kutahu dari rumah itu dan isinya.

“Pak Made? Mereka sudah pindah lama sekali, Bli.” Wanita itu menjawab dengan logat khas Bali. “Oh...” Kataku merasa kecewa pada diri sendiri.

“Bli ini siapa? Mereka sudah pindah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Hampir ndak pernah lagi ke sini.” Tanya wanita itu merasa aneh denganku.

“Saya keluarganya.” Aku menjawab dengan nada lesu dan kebingungan. “Kamu??? Arif?” Wanita itu mengenaliku setelah beberapa detik menatapku dan berpikir. Mataku terbelalak menatap wajahnya.

“Ratna?” Satu lagi dari ingatanku kembali. Dia adalah Ratna, teman dekatku dulu. Dulu sekali.

“Arif? Astungkara... Kamu Arif?” Ratna masih tak percaya aku kembali setelah sekian lama. Sifatnya masih sama seperti dulu, ceria dan bersemangat. Raut wajahnya berubah seketika, senyumannya padam, tangannya menggenggam erat selendang kuning di perutnya. Aku tahu dia sangat kecewa padaku. Meski begitu, aku dipersilakan masuk ke rumah Ratna yang terasa sangat tidak asing bagiku.

“Jadi, ke mana Lik Made pindah?” Pertanyaanku kembali mengarah ke sana setelah dia meletakkan segelas minuman dan mengenalkan suami dan anaknya. Aku tetap harus menanyakannya meskipun suasana sangat canggung. Kami seperti dua orang yang baru saja saling mengenal, meski sangat jauh di masa lalu kami adalah dua orang yang sangat dekat. Sangat dekat.

“Mereka ke Lombok. Lik Made punya usaha rumah makan di sana.” Ratna menjawab pertanyaanku dengan menurunkan nada bicaranya. Banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan, atau Ratna juga. Tapi ini terlalu cepat untuk membicarakan hal terlalu jauh.

“Emmm... Dia pindah ke sana setelah Yasa mengalami kecelakaan dan kaki kirinya diamputasi.” Ratna memberitahuku sebelum aku bertanya lagi. “Oh.” Jantungku runtuh berkali-kali. Aku menahan air mataku di hadapannya.

“Rumah makan yang ada di jalan arah Tanah Lot itu?” Aku ragu bertanya kepada Ratna.

“Yang aku tahu, semua sudah dijual dan mereka semua pindah. Restoran mereka ada di dekat Pantai Kuta, di Mandalika. Kamu bisa datang ke sana jika ada waktu.” Sepertinya Ratna masih sama seperti yang dulu yang selalu mengerti isi hatiku. “Mereka beberapa kali mencari kamu. Bahkan sempat lapor polisi. Kami semua berpikir kamu hilang atau terseret ombak. Ternyata kamu kelihatan sangat baik, Rif.” Ratna juga kecewa padaku. Semua orang kecewa dan aku menerimanya.

“Aku... Aku. Aku minta maaf ya, Rat.” Sungguh aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan.

“Untuk apa minta maaf sekarang, Rif? Aku pikir kita semua adalah keluarga. Bahkan Lik Made mencari kamu ke mana pun sampai berbulan-bulan. Membuat upacara Mapag Gong di Kedungu agar kamu pulang. Bahkan Yasa tak pernah diperbolehkan memakai barang-barang milikmu karena mereka selalu berharap kamu akan pulang suatu saat. Kalau pun harus minta maaf. Kamu harus minta maaf sama mereka, Rif. Bukan sama aku.” Ratna sedikit meninggikan nada bicaranya, tapi menahan emosinya karena ada suami yang duduk di sampingnya.

“Baiklah. Tetap aku harus minta maaf padamu juga. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Kataku ingin segera pergi sebelum Ratna menghakimiku lebih banyak lagi. Ratna memberiku senyuman kekecewaan setelah aku berjabat tangan dengannya dan suaminya. “Rif, seharusnya kamu tak perlu pergi.” Kata Ratna sekali lagi.

Air mataku berderai sangat deras kali ini. Lebih deras dari hujan yang turun dan reda hari ini. Melihat sekali lagi rumah penuh kenangan yang benar-benar telah ditinggalkan seluruh isinya.

“Ayo, Pak. Kita beli oleh-oleh, lalu pulang. Kita lewat jalan yang ke arah Tanah Lot ya, Pak.” Kataku kepada sopir setelah aku masuk ke dalam mobil.

Penjor-penjor mengering masih bergelantungan. Mengwi banyak berubah. Aku meletakkan tubuhku di sandaran kursi yang kudorong ke belakang. “Ratna benar. Seharusnya aku tak perlu pergi.” Dalam hatiku yang masih dipenuhi penyesalan. Semua ingatan tumbuh kembali menghujamku bertubi-tubi.

“Pak, kita berhenti sebentar di depan.” Kataku sebelum sampai di depan sebuah warung makan. Yang ternyata sudah terbengkalai. Beberapa atapnya roboh, kursi-kursi ditata terbalik di atas meja tertutup debu, pagar kayu tertutup ilalang yang tumbuh bebas. Warung ini ditinggalkan begitu saja seperti aku meninggalkan mereka. Aku pernah hidup dari warung ini, belajar tentang kehidupan dari warung ini, dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah juga dari warung ini. Kali ini pikiranku benar-benar tenggelam ke dalam masa lalu yang belum selesai sampai dengan hari ini.

Ayahku meninggal saat aku duduk di bangku kelas lima SD. Ibuku menikah lagi dengan laki-laki dari Sumatera dan membawa kedua adikku pergi bersamanya setelah dua bulan kepergian ayah. Aku terancam tak punya masa depan sehingga ibu mengirimku ke Mengwi untuk tinggal bersama sahabat ayah, karena suami barunya tak menginginkan ibu membawa tiga anak. Orang tuaku tak memiliki keluarga besar yang bisa dititipi seorang anak kecil yang masih memerlukan biaya yang sangat banyak untuk sampai bisa mandiri.

Ibuku menitipkanku pada seorang kenek bus yang membawaku sampai di Kota Denpasar dengan bekal beberapa lembar uang kertas dan dua tas berisi baju-bajuku. Aku pikir saat itu hidupku akan berakhir di jalanan. Entah menjadi gelandangan atau paling tidak pengamen lampu merah di Kota Denpasar. Tetapi Lik Made sudah berada tepat di depan pintu bus yang berhenti. Dia dan anak laki-lakinya, Yasa, terus berteriak memanggil namaku hingga aku menyadari mereka benar-benar telah menerima pesan ibuku dan menjemputku ke terminal.

Sejak saat itu, aku mulai tinggal dan hidup bersama Lik Made, begitu sapaan akrabku untuk ayah angkatku yang juga sahabat almarhum ayah. Di rumah itu, juga ada istrinya, Bu Sari, yang kupanggil dengan sebutan Mamak. Mbak Ning, anak pertama Lik Made. Yasa, anak kedua mereka yang seumuran denganku, dan Komang, anak bungsu di rumah ini. Lik Made adalah teman seperjuangan ayah di Jakarta saat mereka bekerja di sebuah pabrik. Dia kembali ke Bali untuk meneruskan usaha rumah makan milik orang tuanya di Tanah Lot.

Keluarga ini memberiku kehidupan yang tak pernah kudapatkan dari orang tuaku. Mereka memberiku bagian yang sama dengan yang mereka berikan kepada ketiga anaknya. Mereka menghargaiku sebagai Muslim dan memberiku ruang untuk beribadah. Mereka juga menyuruhku pergi ke masjid untuk mengaji dan belajar agama. Bahkan Mamak hampir tak pernah masak babi di rumah. Aku melanjutkan sekolah bersama Yasa dan tumbuh dengan baik di dalam keluarga Hindu ini. Tumbuh dengan sangat baik tanpa kekurangan apa pun yang dibutuhkan seorang anak untuk tumbuh.

Dalam perjalananku menuju remaja, Lik Made dan Mamak mengajarkanku hidup mandiri. Sedikit berbeda dengan anak-anaknya, aku membantu mereka di rumah makan setiap pulang sekolah. Aku melakukannya dengan suka cita sebagai bentuk terima kasih untuk Lik Made dan Mamak. Lik Made tak hanya membayarku dengan pelajaran hidup, dia juga selalu memberiku uang sebagai upah kerja kerasku.

Yasa adalah yang paling dekat denganku di rumah. Kami seakan menjadi saudara kembar meski beda rupa. Usia kami hanya selisih beberapa bulan. Kami belajar di sekolah yang sama sejak aku pindah hingga SMA. Dia tak pernah membiarkanku merasa tak punya siapa pun. Bahkan dia selalu meminta Lik Made membelikan baju yang sama untukku, baju yang dibelikan untuknya. Aku adalah anak kedua dari keluarga ini. Begitu Lik Made selalu mengenalkanku kepada orang. Yasa juga sering menemaniku di warung sampai larut malam karena merasa kasihan. Meski dia tak membantu, dia hampir tak pernah meninggalkanku sendirian di warung.

Hari itu, enam bulan sebelum kelulusanku dan Yasa dari SMA. Kami sekeluarga berlibur ke Lombok. Waktu itu adalah pertama kalinya aku merasa sangat takut. Takut menyakiti semua orang di dalam keluarga yang telah memberiku segalanya ini. Di sebuah pantai yang indah yang memiliki pasir berwarna cokelat kemerahan. Yasa menulis nama kita berdua dengan sebatang kayu dengan simbol cinta di antara kedua nama kita. Aku menyadari dan mengabaikannya. Aku juga menelan ketakutanku sendiri karena tak ingin menyakiti siapa pun. Aku pikir Yasa hanya bergurau karena dia tak tahu harus menulis nama siapa lagi.

Sore hari berikutnya, kami pergi ke atas bukit yang memiliki padang rumput sepanjang mata memandang yang dibingkai oleh pantai pasir putih dan samudera hingga cakrawala. Hanya aku dan Yasa. Lik Made dan yang lain tak bisa mendaki ke atas bukit karena lututnya sakit, sedangkan Yasa sangat ingin pergi ke tempat tersebut. Aku selalu merasa memiliki utang budi yang tak terhitung di sini, sehingga aku selalu menuruti semua yang Yasa inginkan.

“Indah sekali ya…” Kata Yasa menatap jauh ke ujung samudera yang menyatu dengan langit.

“Iya sangat indah.” Aku menjawab. Ujung mataku melirik ke arah Yasa. Senyumannya merekah seakan hatinya sedang bahagia.

“Ayo kita duduk di sana.” Kataku menunjuk ke arah sebuah batu. Yasa menarik tanganku dan berlari.

“Rif, semoga kita bisa selalu begini, ya…” Kata Yasa setelah kami duduk bersanding di atas batu.

“Iya... Semoga kita selalu diberi kesehatan agar bisa berlibur bersama-sama.” Aku membalas perkataannya.

“Bukan itu. Semoga kita bisa selalu bersama-sama… Selamanya...” Kata Yasa meletakkan kepalanya di pundakku. Aku mematung, tak bergerak, tak tahu bagaimana harus bersikap.

“Aku suka sama kamu, Rif. Kamu juga, kan?” Yasa bicara lagi. Kali ini sekujur tubuhku merinding seakan kilat menyambar di atas kepala.

“Kita kakak-beradik, Yas.” Sungguh aku tak punya kata-kata lagi saat itu. “Ayo pulang. Lik Made nyariin nanti.” Aku melanjutkan dengan keinginan untuk mengakhiri kebersamaan kami segera.

“Sebentar lagi senja tiba. Bapak kan tau kita di sini.” Yasa menolakku begitu saja. Aku tak bisa melakukan apa pun lagi selain menuruti apa yang dia inginkan. “Baiklah... Ayo kita tunggu senja terbenam.” Kataku. Setelah senja terbenam, kami pulang dengan sepeda motor menuju penginapan. Yasa duduk di belakang, menangkupkan kedua tangannya di perutku. Sebenarnya dia biasa begitu. Tapi kali ini sungguh membuatku takut. Atau bingung dengan apa yang sebenarnya Yasa rasakan padaku. Aku selalu merasa kita sangat dekat seperti saudara kandung. Bukankah saudara kandung adalah hubungan yang paling dekat dari apa pun?

Lombok. Menjadi tempat terakhirku bersama mereka berlibur. Hari-hari berikutnya aku menjaga jarak dengan Yasa. Aku tidur di warung dengan alasan menjaga keamanan warung. Aku hanya bicara seperlunya pada Yasa dan lebih sering pergi dengan Ratna seakan aku ingin menunjukkan sebuah penolakan. “Kamu bisa melupakan perkataanku di bukit dan tidur di rumah.” Kata Yasa merasa gelisah. “Iya, aku akan pulang.” Kataku diselimuti perasaan risau.

Hari-hari menuju ujian akhir sangat berat untuk kami. Aku tak tahu bagaimana cara menyikapi perkataan Yasa dan nama kami yang dia tulis di pasir pantai. Aku tak tahu apakah aku harus melaporkan kepada Lik Made, Mamak, Mbak Ning, atau Ratna? Bagaimana jika mereka terluka karena apa yang aku katakan tentang Yasa? Atau mereka sebenarnya sudah tahu dan membiarkan hal itu terjadi. Yasa? Jika apa yang dia lakukan untukku adalah benar menggambarkan isi hatinya, maka waktu menjadi hari-hari yang menyakitkan untuknya karena aku menolak perasaannya. Sungguh aku berada di tempat yang salah. Kebingungan dan tak tahu kepada siapa harus bertanya.

Aku menahan kegelisahan hatiku selama enam bulan seorang diri dan tak pernah menemukan jawabannya. Tak ada yang berubah dalam keluarga ini kecuali aku. Kecuali aku seorang pendatang yang sudah menerima kehidupan di sini. Aku merasa aku tetaplah orang asing yang tak pernah bisa mengerti dengan baik. Aku tak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang Yasa karena aku tak ingin ada yang terluka satu pun di sini. Aku tak ingin menghianati Yasa yang sudah kuanggap sebagai adikku, apalagi Lik Made dan Mamak sebagai orang tua kami.

Satu hari sebelum Hari Raya Nyepi waktu itu. Semua orang pergi melihat Pawai Ogoh-ogoh kecuali aku. Aku memasukkan beberapa lembar baju dan celengan ke dalam tas sekolah. Keluar dari rumah begitu saja dan pergi menuju terminal bus yang mengantarkanku saat aku datang. Dua hari aku menginap di terminal dan pergi menuju Jakarta setelah perayaan Nyepi selesai. Tak ada yang kupikirkan selain menyelamatkan perasaan semua keluarga Lik Made. Termasuk aib Yasa yang mungkin hanya aku saja yang tahu.

“Pak, kita sudah sampai di tempat oleh-oleh.” Kata sopir membangunkanku dalam lelapnya masa lalu. “Oh, oke. Tunggu sebentar ya, Pak.” Kataku segera turun dari mobil.

Setelah itu, aku kembali ke hotel untuk menemui keluarga masa depanku. Aku menikah dengan istriku setelah sepuluh tahun memperjuangkan hidup seorang diri di Jakarta. Kegigihanku membuatku mendapat kepercayaan di tempatku bekerja. Setelah dua tahun menikah, anak pertamaku lahir sangat cantik dan disusul anak keduaku yang tampan tiga tahun kemudian. Perjalanan ini adalah yang pertama setelah aku dan istriku merasa keuangan kami stabil.

“Ayaaah...” Kata si bungsu berlari menghampiriku. “Ayo kita pulang.” Kataku seakan melupakan kembali kejadian di masa lalu yang baru saja menguasai pikiranku.

“Ayah, nanti kita liburan lagi ya…” Kata sulung menyusul adiknya.

“Iya, tentu saja, sayang.” Kataku merendahkan tubuh dan memeluk mereka. Mencium kening mereka berkali-kali seperti yang biasa kulakukan.

“Ke mana lagi nanti kita?” Istriku turut mendekat.

“Ayo kita liburan ke Lombok.” Aku menjawab dengan penuh semangat. Aku akan menyelesaikan masa laluku yang terus menelan jiwaku karena rasa kecewa yang tak berujung. Aku pasti akan kembali pada mereka suatu saat nanti.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Yang Kutinggalkan di Mengwi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Bronze
Duka dalam Tawa
Anggrek Handayani
Cerpen
Bronze
TRIJATHA
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
GLADIS MUDIK
Toni Al-Munawwar
Cerpen
Asing Lagi
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Bronze
Journey
Ika nurpitasari
Cerpen
Bronze
Ibu Jangan Tinggalkan Adek
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Bronze
Terima Dan Kembali Maju
Nabilla Shafira
Cerpen
Bronze
Tangis Hujan
Arsya
Cerpen
Bronze
Pelarian
Wafiqah
Cerpen
Beruntungnya
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Enchanted
Lady Queen
Cerpen
Mbak Jamu
Siska Sekar Arum Sumulyo
Cerpen
Aku Manusia Perak
Alwi Hamida
Rekomendasi
Cerpen
Yang Kutinggalkan di Mengwi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Tumbuh dari Patahan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin
Novel
THE WAY HOME
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kubawa ke Mandalika
Mochamad Rozikin
Novel
Juli Selepas Senja
Mochamad Rozikin
Cerpen
Rangkaian Duka Cita
Mochamad Rozikin
Cerpen
Surat Yang Tak Pernah Selesai Ditulis
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kau Tinggalkan Saat Pergi
Mochamad Rozikin
Novel
Biru
Mochamad Rozikin
Cerpen
Luka-luka Yang Disembuhkan Dari Perjalanan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Di Antara Luka Kehilangan
Mochamad Rozikin