Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Tak... Tak... Tak...” Detak jarum jam menyadarkanku setelah aku meletakkan tubuh di sandaran kursi dan meluruskan kaki. Suasana kantor sudah sangat sepi dan gelap, kecuali cahaya dari lampu yang berada di atas tempat dudukku dan di ujung ruangan. Sepertinya hujan juga sudah reda sejak tadi. Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, aku bergegas mematikan laptop dan mengemasi barang-barangku, mematikan lampu, lalu pulang.
Jalanan di Jakarta selalu macet setelah hujan deras. Karena itu, aku meninggalkan mobil di parkiran gedung kantor dan memutuskan pulang dengan ojek online agar cepat sampai di rumah. Lagi pula, gedung kantor adalah tempat paling aman untuk menitipkan mobil dibandingkan dengan rumah yang kosong berhari-hari karena ditinggal liburan penghuninya. Ya! Liburan sekolah kali ini, aku sudah berjanji kepada istri dan anak-anak untuk membawa mereka ke Lombok. Istriku pun sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari.
“Bang, kita lewat jalan tikus nggak apa-apa kan, Bang? Macet soalnya,” kata pengemudi ojek meminta izin padaku setelah aku memakai helm dan duduk di belakang.
“Oke, bang. Asal cepet sampainya aja.” Aku menjawab dengan memercayainya.
Kami masuk ke dalam jalan kecil setelah merayap di antara kemacetan jalan raya yang panjang. Mobil-mobil berbaris berjalan tersendat karena keramaian pasar yang tak mengenal waktu. Satu ingatan masa lalu kembali. Saat aku meninggalkan pulau yang menjadi rumah bagi para Dewa, aku memasrahkan diriku bagai patahan ranting yang hanyut di aliran sungai yang deras. Akhirnya, bus yang membawaku dari Denpasar sampai di pemberhentian terakhir di agen sebelah pasar yang baru saja kulewati. Aku termenung memeluk tas yang isinya tak seberapa namun sangat berharga saat itu, menunggu pagi yang terasa sangat lama. Setelah matahari membangunkan kehidupan, aku berjalan menyusuri lorong-lorong pasar menawarkan diriku untuk bekerja menjadi apa pun sampai akhirnya aku bertemu Pak Bambang, mandor gudang beras yang lumayan besar dan terkenal di pasar.
“Udah... Kerja nggak usah pilah-pilih asal bisa makan dan hidup.” Katanya saat aku memikirkan tawarannya untuk menjadi kuli panggul beras di pasar yang gajinya bahkan lebih murah dari harga sewa kos sebulan.
“Kamu sekalian bisa tinggal di sini jagain gudang. Dari pada bayar hansip.” Katanya memberi tawaran lebih yang membuatku akhirnya mau menerima tawaran untuk bekerja menjadi kuli panggul. Lagi pula, Lik Made sudah mengajarkanku hidup mandiri.
Awal kehidupanku di Jakarta dimulai dari sana. Di gudang beras yang dimandori oleh Pak Bambang. Sampai dua tahun tabunganku cukup untuk menyewa kamar kos sendiri, aku pergi dari sana untuk menata kehidupan yang lebih baik. Bermodalkan ijazah SMA kusut, aku bekerja sebagai buruh pabrik dengan gaji yang jauh lebih besar sambil melanjutkan kuliah di kampus kecil yang tidak terkenal. Aku merangkak naik melewati satu demi satu anak tangga hingga sampai di titik kehidupanku yang sekarang. Tidak mudah memang, tapi aku tak ingin mengecewakan Lik Made yang telah mendidikku dari kecil.
Sampai di depan rumah, istri dan anak-anakku masih terjaga menungguku pulang. Canda tawanya terdengar saat aku membuka pintu. Mereka berlari ke arahku seakan telah merindukanku begitu lama. Mereka adalah cahaya yang menerangi hidupku dari kegelapan panjang. Apakah Lik Made dan yang lainnya juga pernah merindukanku? Apakah mereka masih mengingat seseorang yang pernah dianggap sebagai keluarga, namun menjadi pengkhianat dan melarikan diri? Aku ingin segera menebus segala rasa bersalah yang kubawa seumur hidupku. Bagaimanapun tanggapan mereka saat melihatku, aku sudah menyiapkan diri jika mereka tak menerima kehadiranku.
Semua perlengkapan sudah siap, termasuk hatiku yang sudah kutata baik-baik untuk menemui keluarga yang kutinggalkan. Kami bertolak ke bandara untuk menuju Lombok yang sudah kami rencanakan enam bulan yang lalu saat pulang dari Bali. Istri dan anak-anakku bersukaria sepanjang jalan, namun degup jantungku semakin berdebar. Aku merasa panik seolah-olah akan diadili karena dosa yang kulakukan di masa lalu.
“Kamu kenapa, sayang? Mau liburan, tapi kaya nggak happy gitu?” Istriku menyadari apa yang sedang kurasakan, mungkin dari raut wajahku yang terlihat panik dan gugup. Akhirnya aku menceritakan kebenaran yang selama ini kupendam sendirian. Aku memang pernah menceritakan tentang latar belakang keluargaku dulu. Namun, tak mendalam dan tak banyak yang perlu dia ketahui karena hampir semuanya menyakitkan. Dia juga tak pernah mempermasalahkannya karena dia melihat perjuanganku dari tak punya apa-apa, tinggal di kos yang berukuran kurang dari dua meter, sampai saat kami menikah, aku mulai mencicil rumah.
Dia menarik ujung bibirnya. Senyumannya terpaksa seolah menerima dengan hati yang lapang, tapi aku merasakan kekecewaan yang mendalam dari raut wajahnya setelah lebih dari tiga jam aku bercerita sambil menunggu jadwal penerbangan kami yang tertunda satu jam karena masalah teknis dari maskapai. Sekali lagi, aku mengecewakan orang yang paling dekat denganku. Orang yang paling aku cintai.
“Sayang, maafkan aku ya…” Kataku meraih tangan lalu menggenggamnya di dadaku.
“Harusnya hal sebesar ini jangan kamu pendam sendiri. Kan ada aku…” Benar kataku, dia kecewa. Sangat kecewa. “Semoga kita bisa menemukan mereka ya…” Dia melanjutkan, memberi harapan, dan tetap di samping untuk mendukungku. “Terima kasih banyak, sayang.” Aku memeluk dan mencium keningnya. Pengeras suara memanggil nomor penerbangan kami. Aku memanggil anak-anak yang sedang berlarian di ruang tunggu, lalu segera menuju antrean pesawat. Perjalanan ini akan menjadi yang paling berkesan untukku jika aku bertemu keluargaku lagi.
Kami sampai di Bandara Lombok setelah menempuh perjalanan udara selama lebih dari dua jam. Istriku telah mengatur semua perjalanan kami, termasuk hotel, transportasi, dan semua jadwal tempat yang akan kami kunjungi. Mobil yang dia sewa sudah menunggu di depan.
“Pak, kita ke Mandalika dulu saja, ya... Yang dekat dari sini. Rencananya mau saya ganti.” Katanya kepada sopir setelah aku memasukkan tas dan koper, lalu duduk.
“Kenapa diganti, sayang?” Tanyaku dari kursi depan melihat ke arah spion tengah.
“Setelah aku baca-baca, ke Gili paling enak terakhir sebelum pulang. Jadi tinggal capeknya aja.” Alasannya tidak bisa kuterima. Aku tahu dia adalah orang yang terstruktur dengan jadwal. Ini adalah karena tujuanku yang lain. Dia ingin aku segera menebus dosa-dosaku di Mandalika. “Oh, baik, sayang…” Aku tak ingin mengecewakannya lagi.
“Kita langsung ke hotel, sayang?” Tanyaku, setelah dua puluh menit perjalanan, kita sampai di hotel.
“Iya, ini sudah sore. Biarkan anak-anak istirahat. Ayo, sayang.” Lagi-lagi, aku hanya menurut. Rencananya berubah total karena aku menceritakan tujuanku yang lain ke Lombok. Perasaannya pasti sangat kecewa padaku. Aku segera menurunkan tas dan koper kami, lalu menuju lobi hotel. Anak-anak terlihat sangat gembira, berlarian ke sana ke mari, bukankah aku juga telah menyakiti hati mereka seandainya mereka telah mengerti?
“Kamarnya luas banget, Ma…” Kata anak sulungku setelah kami masuk ke dalam kamar. “Lihat! Lautnya kelihatan.” Katanya berlari ke arah jendela dengan tirai terikat di kanan dan kiri, melihat pemandangan laut biru dengan goresan ombak seperti dalam lukisan.
“Mama memang pinter ya milih tempat untuk liburan.” Kataku menyusulnya.
“Ayo, anak-anak, siapa yang mau mandi duluan?” Kata istriku kepada kedua anaknya.
“Aku mau mandi…” Kata bungsu berlari ke kamar mandi. “Aku juga...” Sulung berlari menyusul.
“Sayang, maafkan aku ya…” Aku mendekati istriku dan meminta maaf. Tentu saja, karena rencana liburan kali ini, jadi berantakan. “Aku akan menemani anak-anak istirahat. Kamu bisa mencarinya. Mereka di sekitar sini, kan?” Kata istriku dengan nada menekan.
“Sayang, tapi...”
“Sayang, tujuan kamu pergi ke sini mencari mereka. Jadi, selesaikan saja dulu, baru kita bersenang-senang. Mau menunggu sampai kapan?” Dia memotong pembicaraanku dengan meninggikan nadanya, membungkamku seketika.
“Baiklah. Aku minta maaf karena telah mengacaukan semuanya.” Sungguh aku merasa bersalah karena telah membuat perasaannya menjadi kacau.
“Kamu sudah sangat dekat dengan mereka. Jangan ditunda.” Istriku memeluk dan mengusap-usap punggungku. “Baiklah. Aku pergi dulu.” Aku keluar setelah mencium keningnya. Tentu saja masih dengan rasa bersalah.
Aku pergi menggunakan mobil hotel tanpa sopir agar lebih leluasa, menuju pusat keramaian di Kuta, melewati jalanan kecil yang dipenuhi pedagang suvenir kerajinan dari kerang, toko baju khas Kuta, dan warung-warung seafood di sisi kanan dan kirinya. Entah harus mulai dari mana, tapi mataku terus mengeja satu per satu setiap warung makan dengan hati yang semakin gusar.
Aku sudah sampai di ujung jalan, lalu belok ke arah pantai, dan kembali ke jalan sebelumnya. Memutar sekali lagi, siapa tahu ada warung makan yang terlewat dari pengawasanku. Melewati perempatan jalan dan mengambil jalan lain yang belum aku lewati, terus berputar-putar. Seharusnya mereka tak jauh dari ini karena hanya ini saja pusat keramaian di sini. Aku menepi dan berhenti, membuka ponsel dan mencari di map. “Rumah makan Lik Made.” Tak ada “rumah makan Bali.” Tak ada juga. Apa kira-kira nama warung makannya? Saat sibuk melakukan pencarian, seorang laki-laki kurus dengan tongkat di tangannya sedang menyeberang mengalihkan pandanganku. Kata Ratna, kaki kiri Yasa diamputasi. Sama persis dengan orang itu. Rasa sakit di hatiku seakan muncul secara tiba-tiba, seakan aku telah menemukan Yasa meskipun itu masih dugaanku. Tapi firasatku mengatakan dia adalah Yasa. Aku segera turun dari mobil dan mengikuti ke mana laki-laki itu berjalan.
Laki-laki itu berjalan ke arah rumah makan dengan halaman luas di depannya. Setelah aku perhatikan, ternyata benar. “Rumah Makan Keluarga” tertulis di atas papan kayu yang ditempel di tiang rumah makan paling depan. “Masakan Bali dan Nusantara” tulisan di bawahnya. “Dijamin halal.” Di bawahnya lagi. Di ujung sebelah kiri terdapat bangunan menyerupai candi berukuran kecil yang biasa dijadikan tempat berdoa masyarakat Hindu. Firasatku semakin kuat. Rumah makan ini milik Lik Made. Kakiku mematung di tempatku berdiri; tak ada keberanian mendekat atau keinginan untuk menjauh. Sayatan-sayatan yang kubuat sendiri kembali muncul hingga air mataku menetes seketika. Aku memilih kembali. Yang penting aku sudah menemukan tempatnya. Besok aku akan kembali bersama istri dan anak-anak.
“Bagaimana, sayang? Ketemu?” Tanya istriku yang sedang makan bersama anak-anak di kamar setelah aku kembali. “Ayah dari mana, ayah? Ayah pergi-pergi melulu.” Luka-lukaku sembuh ketika melihat mereka, namun kembali saat aku sendirian. Sungguh aku harus segera menebusnya agar aku bisa menjalani hidup dengan tenang di masa depan.
“Sepertinya ketemu tempatnya. Tapi aku belum bertemu mereka.” Jawabku masih yakin itu rumah makan milik Lik Made. Model bangunan dan konsep rumah makannya sangat identik dengan yang dia miliki di Bali. Aku menunjukkan foto-foto yang kuambil sebelum pergi.
“Ya sudah. Kamu makan dulu, terus istirahat. Besok pagi-pagi kita ke pantai.” Katanya merasa iba.
Bersama mentari yang semakin tumbuh, kami sudah berada di Pantai Kuta. Anak-anak sudah selesai membuat istana pasir yang berkali-kali runtuh karena ombak, mengumpulkan cangkang-cangkang unik yang ditinggalkan klomang atau pecahan karang berbentuk aneh dengan lubang-lubang kecil, sampai berlari ke sana ke mari berkejaran dengan ombak hingga membuat tubuh mereka berlumuran pasir putih yang lembut. Saat panas mulai menyengat kulit, istriku berteriak di atas dipan kayu dengan payung besar di tepian. Sebelum dia menghampiri kami, aku segera mengajak anak-anakku untuk menyelesaikan permainan menyenangkan pagi ini dan membawa mereka ke kamar bilas.
“Kita sarapan di mana, sayang?” Tanyaku kepada istriku sebelum kami beranjak dari Pantai Kuta.
“Di tempat yang fotonya kamu tunjukan semalam, sayang.” Istriku tersenyum. Aku sangat terkejut mendengarnya. Dia benar-benar sedang mendesakku. Aku bingung harus beralasan apa untuk menolak. Akhirnya aku menuruti kemauannya dan membawa mereka menuju rumah makan keluarga—yang seharusnya milik Lik Made.
“Aku aja yang turun. Kalian tunggu ya…” Kata istriku setelah aku memarkir mobil di depan rumah makan dengan jantung hampir meledak. “Oke.” Aku menjawab.
Terlihat seorang pelayan menghampiri istriku, memberikan menu makan, dan berdiri menunggu di samping istriku. Mereka berbincang terlalu lama setelah istriku menunjuk beberapa menu dan pelayan itu mencatatnya. Aku mengepalkan tanganku yang tiba-tiba dingin. Degup jantungku tak beraturan. Anak-anak asyik berebut mainan di kursi belakang, kuabaikan. Tak berakhir sampai di sini. Seorang wanita paruh baya dengan kebaya kuning dan selendang hijau yang diikat di perut keluar dari pintu samping rumah makan. Kedua tangannya menatang besek berisi canang dan dupa. Dia berjalan dengan hati-hati melewati mobilku menuju ke depan jalan, lalu meletakkan canang di beberapa tempat. Wanita itu adalah Mbak Ning. Dia benar-benar Mbak Ning. Aku tak salah lihat. Tempat ini benar-benar rumah makan milik keluarga Lik Made. Aku telah menemukan mereka.
Istriku kembali ke mobil lalu mengetuk kaca pintu.
“Ayo kita makan di sini aja…” Katanya setelah aku menurunkan kaca. Mengejutkan! Apa yang sedang istriku rencanakan? Apakah dia berniat mempertemukanku dengan keluarga Lik Made sekarang? Aku belum siap. “Di hotel aja, sayang.” Kataku tanpa alasan.
“Di sini aja, mama udah pesen. Ayo, kakak, ade, turun yuk, kita makan.” Dia menggunakan anak-anak sebagai umpan agar aku juga turun. Aku menghela napas panjang untuk menyiapkan diri. Istriku memang orang yang selalu ingin menyelesaikan setiap masalahnya dengan segera. Mungkin sekarang, dia juga ingin luka-lukaku segera sembuh. Aku bisa memakluminya.
Aku melangkah penuh keraguan dan ketakutan. Bagaimana jika mereka tidak pernah memaafkanku? “Jika mereka tidak bisa menerimamu lagi, setidaknya kamu sudah mencobanya.” Aku teringat perkataan istriku yang membuatku dipenuhi keyakinan.
“Silakan pesanannya…” Mbak Ning meletakkan makanan pesanan istriku di meja tempat kami duduk. Mataku dan istriku bertemu, seakan dia memberikan isyarat untukku agar aku melakukan sesuatu.
“Pesanannya sudah semua, ya…” Kata Mbak Ning setelah meletakkan makanan dan mengejanya satu per satu.
“Terima kasih,” kataku agar dia lekas meninggalkan kami.
“Permisi, Mbak. Apakah Pak Madenya ada?” Istriku memanggil Mbak Ning dengan pertanyaan yang mengejutkan. Dia pasti sudah mendapatkan informasi dari pelayan tadi.
“Oh, Bapak? Ada di rumah, Kak. Sedang sakit.” Jawab Mbak Ning dengan logat Bali yang masih kental, meskipun sudah tinggal di Lombok cukup lama.
“Sakit apa, Mbak?” Istriku bertanya lagi. “Kalau boleh tahu, kakak siapa ya maaf?” Istriku memancing rasa ingin tahu Mbak Ning.
“Suami saya ingin ketemu dengan Pak Made,” tanpa jeda. Dia seakan mendesakku untuk segera menyelesaikan semuanya saat ini juga.
“Mbak Ning, saya Arif.” Aku menata hatiku dan menyiapkan segalanya dengan baik dalam waktu kurang dari dua menit.
“Arif?” Mbak Ning bingung mengurai ingatan masa lalunya.
“Astaga, Arif? Kamu beneran Arif?” Ingatan Mbak Ning kembali. Dengan ragu dia menatapku dalam-dalam. Setelah yakin, Mbak Ning memegang kedua pipiku. Air matanya berderai…
“Pak... Arif datang, Pak… Pak Arif datang... Dia sudah pulang…” Seketika tangisannya histeris, aku memeluknya untuk menenangkan kakak perempuanku itu. Rindu-rindunya terobati sekarang. Rindu-rinduku juga berjatuhan.
Mbak Ning duduk bersama kami, menyapa istri dan anak-anakku dengan sukacita seakan-akan aku tak pernah bersalah pada mereka.
“Mamak meninggal tiga tahun yang lalu karena kanker payudara. Setelah mamak meninggal, bapak jadi ikut sakit-sakitan. Malah sekarang darah tinggi sampai stroke.” Mbak Ning menceritakan semua yang terjadi setelah kepergianku waktu itu. Syukurlah, mereka hidup dengan baik. Setidaknya, itu membuatku lega.
“Aku dan anak-anak ke hotel dulu. Mereka harus mandi lagi karena habis main pasir.” Kami selesai makan. Mbak Ning mengajak kami ke rumah yang berada di belakang warung. Namun, istriku sangat paham bahwa ini adalah tentang aku dan keluargaku. Sejauh ini aku mengikuti semua rencananya dan tak bisa mengelak dari apa pun.
“Nanti ke sini lagi ya, sayang…” Kata Mbak Ning kepada anak-anakku setelah mereka mencium tangan.
“Ayo! Bapak pasti sangat senang.” Kata Mbak Ning menarik tanganku setelah istri dan anak-anak pergi. Dalam hatiku berdoa, semoga Lik Made memaafkanku.
“Cekrek...” Pintu ruang tamu dibuka. Aku masuk dan berdiri di ruang tengah menunggu Mbak Ning memanggil Lik Made di dalam. Kepalaku berputar mengitari ruangan. Satu sisi tembok dipenuhi dengan foto keluarga. Foto pernikahan Mbak Ning. Foto kelulusan dan pernikahan Komang: dia sudah dewasa sekarang. Foto anak-anak kecil yang mungkin anak-anak Mbak Ning atau Komang. Dan foto keluarga lama dengan bingkai lusuh: aku ada di dalamnya.
“Rif, ini bapak.” Kata Mbak Ning mendorong kursi roda Lik Made menuju tempatku berdiri.
“Aku mematung, namun air mataku tiba-tiba berderai.” Lik Made sudah menangis saat aku menoleh karena panggilan Mbak Ning.
“A... rif...” Lik Made mengeja namaku dengan baik meski kesulitan. Tapi aku mendengar dia memanggil namaku dengan jelas. Aku segera bersimpuh di kakinya dan menangis sejadi-jadinya. Ampun... Ampuni saya... Ampun... Ampuni saya... Hanya itu yang bisa terucap.
“Kenapa lama sekali pulangnya?” Kata Lik Made terbata dipenuhi rasa kecewa. Meskipun bicaranya susah karena stroke yang menyerangnya, aku bisa mendengar dengan jelas apa yang dia katakan. Dia kecewa padaku.
“A... riiiifffff...” Rintihannya terus menikam dadaku, membuat rasa sakit yang sangat hebat. Menjalar ke sekujur tubuhku. Ini adalah penebusan dosa. Aku menegakkan tubuhku dan menatap wajahnya yang termakan usia. Aku memeluknya agar rindu-rindu kembali dengan baik. Agar luka-luka terobati
“Yasa mengakui kesalahannya setelah sebulan lebih kamu nggak pulang. Dia menceritakan tentang dirinya kepada kami saat itu. Tapi kamu sudah pergi tanpa jejak. Tak ada yang tahu ke mana harus mencari.” Mbak Ning menceritakan yang terlewat sebelumnya.
“Kami tidak pernah membencimu, Rif. Kamu tetap bagian dari keluarga ini. Mamak membawa semua baju dan buku-bukumu ke sini saat pindah. Dia bilang, “Siapa tahu Arif datang.” Kamu tak pernah dihapus dari ingatan siapa pun di sini. Kami selalu membawamu ke mana pun kami pergi.” Mbak Ning terus menambahkan. Aku masih bersimpuh di pangkuan Lik Made.
“Ke mana, Yasa dan Komang? Dan yang lain.” Tanyaku penuh rasa penasaran karena rumah ini sangat sepi.
“Suamiku melaut, Rif. Pulangnya sebulan sekali. Anak-anak mungkin sedang bermain. Komang, istrinya, dan anaknya tinggal di Surabaya. Aku jaga warung dan bapak di rumah. Yasa menjual layang-layang di pantai. Kadang di Kuta, kadang ke Tanjung Aan. Hidupnya berhenti setelah tragedi yang membuat kaki kirinya diamputasi. Temuilah dia. Yasa harus minta maaf padamu.” Suasana rumah ini menjadi sangat damai. Aku kembali kepada keluargaku. Aku membawa seluruh rasa bersalahku dan memohon pengampunan di sini. Istri dan anak-anakku kembali. Pertama kalinya istriku merasakan memiliki ayah mertua dan anak-anak pulang ke rumah kakeknya. Raut wajah Lik Made berbinar karena anaknya kembali. Karena anaknya kembali membawa rindu-rindu yang dia pikul selama puluhan tahun.
Yasa tak kunjung kembali meski hari mulai meredup. Mbak Ning mengantarkanku ke Tanjung Aan agar aku bisa bicara dengan leluasa, meninggalkan istri dan anak-anakku bersama Lik Made.
Aku berjalan menyusuri pantai dengan warna pasir merah kecoklatan. Angin sepoi menyapa kedatanganku dengan lembut. Tempat ini tak asing bagiku. Tempat liburan keluarga yang sangat indah yang pernah kutinggalkan. Di ujung pantai di bawah kaki bukit, penjual layang-layang menggantungkan layangan di sebuah rak kayu. Dia adalah Yasa dan aku sedang menuju padanya.
“Berapa harga layangannya?” Kataku bertanya dari balik layang-layang burung warna pelangi.
“Lima puluh ribu.” Katanya sambil berusaha berdiri dengan tongkatnya.
“Apa kabar?” Aku menyapa setelah dia melihat wajahku.
“Rif?” Katanya terkejut langsung mengenaliku. “Arif? Ya Tuhan, Arif?” Tanpa ragu aku memeluknya. Tangisan kami pecah. Yasa terisak-isak seakan menyesali apa yang pernah dia lakukan yang mengubah kehidupan kami.
“Mau ngobrol di atas?” Aku menunjuk ke arah bukit. Dia melihat ke arah kaki kirinya.
“Ayo, naik.” Aku membalikan badan dan membungkuk. “Ayo. Aku bisa menggendongmu sampai atas.” Kataku meyakinkan. “Aku pernah jadi kuli panggul.” Aku meyakinkan sekali lagi sampai akhirnya dia menggenggam ujung bajuku dan merayap naik ke punggungku. Aku membawanya berjalan ke atas bukit. Di antara jalan setapak yang membelah ilalang menari yang bunga-bunganya terbang ketika angin bertiup lebih kencang. Tanpa sepatah katapun. Entah harus mengurai dari bagian mana, yang jelas, kami telah saling memaafkan. Aku tahu itu. Dia telah memaafkanku.
Aku menurunkan tubuh Yasa di dekat sebuah batu yang menatap ke arah senja terbenam. Entah ini batu yang sama atau bukan, aku ingin mengulang hari sejak kami pergi dari tempat ini waktu itu.
“Aku mengakui kesalahanku. Aku membuatmu ketakutan.” Katanya memulai pembicaraan. “Kamu terlihat sangat baik sekarang. Jauh lebih baik.” Dia menambahkan setelah menatapku dari atas sampai bawah.
“Aku juga bersalah. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Aku takut menyakiti semua orang di rumah. Aku sangat bodoh.” Kami beradu siapa yang lebih bersalah dalam kisah pilu ini. “Kamu terlihat menyedihkan. Karena tidak ada orang yang membantumu, kan?” Kataku bergurau menyenggol pundaknya dengan pundakku. “Betul. Dulu aku terlalu bergantung padamu sampai-sampai takut Ratna merebutmu. Kalian terlihat sangat dekat sebelum ujian.” Dia mengakui segalanya. Rambut ikal pirang terbakar matahari dengan kulit cokelat tua tidak terlihat seperti Yasa dulu yang selalu terlihat bersih dan enggan kotor.
“Aku tahu kamu akan berhasil. Meskipun kabur dari rumah. Jadi, aku satu-satunya orang yang tak pernah mengkhawatirkanmu, tapi juga satu-satunya orang yang paling merasa bersalah atas kepergianmu.” Aku tersenyum dengan sangat lega. Kami mengantarkan senja terbenam di Bukit Merese sekali lagi. Mengurai rindu-rindu dan mengobati rasa sakit.
“Ayo pulang. Anak-anakku menunggu di rumah.” Senja telah habis termakan gelap. Aku meraih tangannya untuk berdiri, mengendongnya untuk pulang.
“Hati-hati, jangan sampai aku jatuh.” Kata Yasa dalam gendonganku. Jalan setapak disinari cahaya temaram dari sisa-sisa senja. Angin laut melunak membimbing kami menuruni bukit. Kami telah memaafkan kesalahan-kesalahan masa remaja. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup untuk menghukum kesalahan anak-anak. Aku membawa lagi jiwaku, mengembalikannya kepada ayah yang kehilangan anak, ibu yang menunggu anaknya pulang, saudara yang kehilangan pelindungnya, dan sahabat yang kehilangan belahan jiwanya.