Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit tak begitu cerah. Awan kelabu jatuh menyatu dengan samudera, seakan menjadi ruang hampa tak berujung. Aku mematung dalam tatapan kosong di sebuah bahtera yang terus membawa kami ke sebuah gunung di seberang pulau, pulau yang sangat jauh dari daratan, daratan tempat duka-duka bersemayam. Meski melarikan diri tak membuatku bisa menyembuhkan rasa sakit, aku terus berusaha melarikan diri dari rasa sakit yang bertubi-tubi menancap di hatiku bagai anak panah yang dilepaskan dari busur dan melesat tepat sasaran. Melukai sangat dalam sampai tak bisa lagi kumenahannya.
Kapal kami menembus kabut melewati dunia yang terlihat berbeda, membuatku merasa semakin jauh. Pulau-pulau yang sebelumnya nampak semu mulai terlihat semakin jelas di depan mata, begitu juga dengan gunung yang menjadi tujuan kami bersandar, semakin dekat bagai raksasa yang berjalan ke arah kapal kami. Beberapa jam yang lalu, sebelum aku pergi, duniaku masih berbeda. Hanya terasa masih beberapa jam yang lalu atau sebenarnya sudah sangat lama, lama sekali tertinggal di masa lalu, atau terus kubawa sampai sekarang–seseorang yang kuanggap akan menjadi masa depanku masih berada di sisiku. Ucapan selamat pagi masih berbisik di telinga saat aku membuka mata, yang kujadikan kekuatan untuk menjalani hidup setiap hari selama ini. Suaranya masih tinggal di dalam kepalaku hingga detik ini. Meski hari ini semuanya telah berakhir bagai kilat yang menyambar saat hujan deras turun. Begitu cepat sampai-sampai aku tak bisa menyadari sepenuhnya. Hingga aku butuh waktu untuk mencerna semuanya. Butuh waktu entah sampai kapan—Apakah hanya aku? Apakah hanya aku yang tak pernah menyiapkan hati untuk sebuah perpisahan? Hingga waktu seakan terhenti di hari saat dia meninggalkanku.
Dalam perjalanan mengarungi hamparan laut biru yang luas, kami bersandar di sebuah anak gunung yang ibunya telah hidup sejak jutaan tahun yang lalu yang telah menjadi saksi bagaimana bumi terus berubah. Seandainya ibuku menjadi bagian dari alam yang bisa hidup selama itu, pulang akan menjadi perjalanan yang selalu membuatku bahagia. Anak gunung ini pernah mengamuk, memenuhi takdirnya untuk menelan keindahan alam di sekitarnya, namun menciptakan keajaiban keindahan alam yang lain. Anak gunung ini pernah hancur karena dirinya sendiri, namun dia tumbuh karena takdir tidak meninggalkannya begitu saja. Takdir terus membawa apa yang harus dia bawa bersama waktu. Seandainya aku tak memiliki ingatan-ingatan yang meninggalkanku di masa lalu, aku pasti akan tumbuh sangat hebat.
Ann adalah keajaiban alam yang aku temui dalam perjalanan menikmati gunung ini. Perumpamaannya adalah bunga seroja putih yang ditanam ibuku di halaman rumah di dalam kolam buatannya sendiri. Terlihat tak ada yang istimewa, namun harumnya membuat semua orang ingin memetik dan membawanya pulang saat dia mekar. Sangat menawan, bahkan membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kami menyusuri jalanan pasir tandus menuju arah puncak gunung. Di tengah-tengah samudra biru yang tenang, terusik oleh angin dari arah barat laut. Dalam perjalanannya, banyak sekali pertanyaan yang bersemayam dalam pikiranku, namun rasanya aku tak berhak menanyakannya. Ann adalah orang asing yang tak semuanya harus kutahu tentangnya. Tapi bukankah orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidupku juga orang asing sebelumnya? Lagi pula Ann sibuk dengan gawainya daripada harus menikmati alam yang indah ini. Dia sedang sibuk memberi kabar kepada kekasihnya, dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri yang dipenuhi tentang Ann.
“Setelah ini, ke mana lagi kau akan pergi?” Tiba-tiba pertanyaan bodoh keluar dari mulutku. Aku ingin memiliki rekaman percakapan dengannya di sini. Meski tak begitu penting, aku tetap ingin menanyakannya pada Ann.
“Entahlah. Teman-teman seusiaku sudah sibuk menenangkan bayinya yang merengek karena demam, atau memikirkan pengeluaran bulanan keluarga.” Senyuman kecewa dari mulut Ann melukai hatiku. Seharusnya aku diam dan membiarkan dia yang memulai berbicara.
“Baiklah...” Kami terus melangkah untuk memenuhi rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi di puncak gunung ini. Puncak gunung yang dihancurkan oleh dirinya sendiri.
Hamparan daratan tandus akibat letusan gunung tiba-tiba berubah menjadi taman yang dipenuhi bunga seroja yang mekar saat Ann tersenyum di atas puncak gunung. Menari bagai seorang gadis yang kehilangan masa mudanya. Seperti sebelumnya, aku menikmati setiap pemandangan alam yang disuguhkan di hadapanku. Ini masih belum setengah perjalanan kami. Terlalu cepat jika aku menyimpulkan bahwa itu adalah salah satu perjalanan yang indah dalam hidup.
Peluh merengkuh raga seorang pengembara yang tak kunjung sampai pada tujuannya. Bahkan senja yang dinantinya bersembunyi dalam kabut kelabu. Tapi bunga seroja putih tumbuh sangat cantik dan merekah di hadapan mata yang membasuh luka-luka. Bersama langit memadam, kami meninggalkan anak gunung ini dan pergi menuju sebuah pulau yang akan menjadi tempat meluruhkan letih kami malam ini. Tempat ini adalah yang paling tepat untuk melarikan diri. Bukan karena Ann, tapi karena tempat ini adalah kepingan surga yang Ann tinggal di dalam surga tersebut.
Sampai di dermaga di ujung pantai yang memiliki bukit-bukit berbaris gagah di belakang barisan rumah-rumah. Meski hanya nampak bayang-bayang dalam gelap, aku sudah membayangkan bagaimana keindahan tempat ini saat matahari tumbuh esok hari.
Riuh ombak yang datang dari samudera adalah yang paling sunyi di sini. Terengah-engah terdengar kelelahan membawa pesan misteri dari laut lepas namun menenggelamkanku sekejap dalam kedamaian malam yang kelam. Aku ingin berada di tempat ini lebih lama, bersama orang-orang baru, dan asing. Di tempat tak kutemukan dirimu di sudut mana pun. Di tempat alam memeluk rasa sakit dan menyembuhkannya, meski tak benar-benar menyembuhkan.
Bulan baru tersenyum dari langit yang membentang tanpa penghalang. Cahaya temaram membias di bibir pantai tempatku terpaku. Awan-awan berarak mengikuti arah angin malam yang membuat pohon-pohon pinus menari seirama. Aku masih terus mencari jawaban atas luka-luka yang tak berhenti menghujam di jiwaku sampai tak ada penawar yang bisa menyembuhkan. Bunga seroja putih menjelma menjadi sosok bulan yang lain, berjalan bergurau bersama gelombang yang membawa ombak ke tepian. Senyuman merekah lebih indah dari gugusan bintang yang bertabur di langit. Atau lebih indah dari barisan pulau-pulau yang dilukis oleh alam begitu menakjubkan.
Cahayanya mendekat membuat mataku mengernyit silau begitu terang. Dia menyapa dengan suara lebih lembut dari angin yang tak berhenti berdesis. Ann, gadis yang membawaku dalam pelarian ini, adalah bagian dari alam yang indah. Tak hanya aku, dia juga terbentuk dari takdir-takdir yang menyeret tubuhnya hingga sekujur luka dia bawa ke hadapanku bersama tangisan yang mengering di pipi. Aku pikir dia sudah pergi bersama rombongan, meninggalkanku hanyut di tepi pantai seorang diri. Irama degup jantungku lebih kacau dari ombak yang membawa pergi puing-puing yang terdampar saat tangannya melambai bersama sapaan yang lebih merdu dari kicau burung kenari pagi hari.
“Kira-kira, apa yang seseorang tinggalkan saat dia meninggalkanmu?” Aku tak tahu hendak mulai dari bagian mana untuk berbicara dengannya lagi setelah kegagalanku di gunung. Aku hanya sedang membutuhkan seorang teman untuk terluka bersama. Sekali lagi, aku ingin memiliki ingatan yang indah tentang perjalanan kami ke tempat ini bersama.
“Ayah pergi setahun setelah seorang kekasih meninggalkanku tidak dengan cara baik-baik. Saat itu aku baru menyadari bahwa ada rasa sakit yang jauh melebihi apa pun dari ditinggalkan oleh seorang kekasih, yaitu ditinggal mati oleh orang yang paling mencintaimu. Aku merawat ayah yang menjadi satu-satunya laki-laki di rumah, hingga dia tak sanggup lagi menahan rasa sakitnya dan akhirnya menyerah. Merelakan adalah satu-satunya wasiat yang dia berikan agar aku tetap bisa menjalani kehidupan setelah ditinggalkan. Kejadian saat itu adalah yang paling menghancurkanku yang tak pernah kulupakan dalam hidup ini.”
Selain dalam kegelapan, kami tenggelam dalam duka mendalam yang menelan seluruh jiwa habis-habisan. Yang tertinggal dari seseorang yang telah pergi adalah rasa cinta yang terus memeluk raga yang terluka, lalu menghentikan waktu hingga aku terus hidup dalam masa lalu yang tak pernah selesai.
“Entah bagaimana menggambarkan rasanya, tapi aku menjalani masa yang paling tak ingin aku ingat sepanjang hidupku. Aku tidak pernah selesai dengan diriku sendiri. Sampai-sampai aku tak tahu cara membedakan perasaan-perasaan yang aku terima dari orang-orang baru. Semua sama. Sama seperti saat kau menelan ludahmu sendiri.” Ann melanjutkan saat aku merangkai diksi terbaik untuk bicara.
Sekejap kami membeku, membuat suasana hening. Bahkan angin dan ombak seakan berhenti berdesis dan berdebur larut dalam kisah duka lara yang saling kami lempar.
“Aku bertekad untuk sembuh dan keluar dari masa lalu. Semoga suatu hari, aku menemukan atau ditemukan oleh orang yang akan kujadikan yang terakhir dalam hidup ini. Semoga saat itu tiba. Aku dan siapa pun orangnya telah memaafkan masa lalu dan hidup untuk masa depan. Aku sedang mendambakan hal seperti itu. Tidak ada salahnya, kan?” Dia mulai banyak bicara sekarang hingga tak memberikanku lagi kesempatan untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
Benarkah seorang bulan purnama membawa takdir yang berat untuk menerangi malam? Bukankah dia tak memiliki sinar untuk melakukan semuanya sendirian? Mungkin saja di dunia ini, bukan aku satu-satunya orang yang pernah ditinggalkan. Tapi mungkin aku orang yang paling sering ditinggalkan. Seandainya aku bisa mencintai lagi dengan mudah, aku pasti sudah mencintai bulan yang bersinar hingga ke dalam sukma ini. Memberi petunjuk jalan keluar, namun aku masih tak ingin melewati jalan itu. Aku tak ingin pergi ke hati mana pun karena rasa takut yang mengalahkan segala perasaan apa pun.
“Manusia itu dinamis. Dia bisa berubah bahkan lebih cepat daripada sebuah pergantian musim sekalipun. Bertumbuh, berkurang, bertambah, dan hilang. Tapi bagaimana bisa memori-memori dari masa lalu tak pernah pergi dari ingatan?” Kataku seakan kami sedang beradu siapa yang lebih banyak menerima rasa sakit. Tumbuh lebih banyak pertanyaanku tentang mengapa Ann lebih terbuka sekarang.
Adalah benar bahwa malam yang sunyi menjadi tempat pengakuan yang paling sempurna yang tak pernah dimiliki oleh siang. Ann adalah malaikat yang mencatat segala penderitaan yang baru saja kucurahkan. Tapi aku tak bisa menjadi tabib yang mencoba merasakan deritanya. Kami adalah iringan ombak yang memecah batu-batu bergantian. Tak ada pembahasan apa pun kecuali tentang rasa sakit yang terus menemani kami. Tak ada pembicaraan tentang masa depan atau sekadar menanyakan hal-hal yang sedang hangat untuk dibincangkan.
“Suatu hari kau harus sembuh dan memaafkan dirimu. Menerima dirimu yang baru dan memulai dari awal. Kau harus mengizinkan orang lain kembali mengisi hatimu. Kau tak bisa tinggal dalam masa lalu terus-menerus, sedangkan waktu menyeret tubuh kita ke arah masa depan.” Ann masih tak berhenti. Lantunannya diiringi alunan angin yang membawa kami semakin dalam pada dialog patah hati masa lalu yang terus terluapkan.
“Ke arah masa depan menuju kematian. Kadang, aku berharap kematian menjegal langkah-langkahku untuk berusaha sembuh sebelum aku berhasil.” Aku memotong sebelum dia kembali berbicara.
“Kematian adalah harapan untuk orang-orang yang putus asa. Sedangkan kau melihat sendiri betapa dunia ini sangat indah untuk dinikmati. Kau hanya perlu melakukan apa yang perlu kau lakukan tanpa berharap apa pun pada manusia-manusia yang datang silih berganti. Hiduplah selagi jiwamu menyatu dengan raga meski dipenuhi luka-luka.” Rasanya Ann adalah seorang penyair yang sajak-sajaknya adalah penawar. Aku terus dipatahkan olehnya hingga habis sudah isi kepalaku.
Bulan baru ditelan malam. Kilaunya memudar ke arah barat. Aku ingin menghentikan dialog bersama Ann, namun aku masih ingin tahu banyak tentangnya. Tentang bagaimana dia keluar dari kehidupan kelam dan berdamai dengan dirinya sekarang. Seandainya kami bisa saling menyembuhkan satu sama lain. Atau seandainya Ann bisa menyembuhkan lukaku. Aku akan menyerahkan segala hidup ini padanya. Sayangnya, jarak kami terlampau jauh.
“Ayo, anak-anak, tidur. Kegiatan kita besok masih padat. Kasur kalian sudah Ibu siapkan.” Seorang wanita senja dalam rombongan kami merasa khawatir karena kami belum berada di kamar sejak tiba di pulau ini. Ibuku selalu melakukan hal yang sama padaku ketika aku pulang larut malam. Wanita itu mengingatkanku padanya, pada ibuku yang telah tertidur di bawah pohon kamboja selamanya. Kami mengakhiri perayaan patah hati di sini, meninggalkan ombak dan angin-angin yang menari bagai bulan meninggalkan bintang-bintang pada waktu subuh.
Aku menunggu fajar bersama Ann dan temannya. Di tepi pantai yang sama tempat kami meninggalkan cerita pilu semalam. Adakah sesuatu yang tak indah di sini? Matahari lahir dari batas samudera di ujung timur. Membiaskan cahayanya membelai wajah kami yang membeku. Merah padam mengelilingi dunia tempatku hidup sekarang, memantul di bawah ombak, menjadi permadani untuk kapal-kapal yang bersandar. Alam – yang di dalamnya ada Ann – telah menyembuhkanku dalam sekejap. Kami melanjutkan perjalanan indah ini. Aku ingin mengikuti ke mana Ann pergi sekarang. Saat dia menjelma menjadi bulan yang tersenyum dalam malam kelam saat aku kesepian atau sekuntum bunga seroja putih di tengah gurun sisa ledakan gunung berapi.
Kami meninggalkan kenangan di pulau tempat kami singgah semalam. Kenangan sebanyak bunga pinus yang tanggal di tepi pantai. Deru mesin kapal menyakiti hatiku lagi, mengoyak luka yang hampir saja sembuh. Setiap kali pikiranku melayang menatap awan berarak, angin menangkapnya dan mengembalikannya padaku dalam bentuk parasmu. Seakan kau telah menjadi bagian dari diriku yang hilang namun tak pernah pergi. Rasanya begitu sulit hingga aku hampir putus asa melupakanmu. Jika ada sesuatu yang terlupakan dalam perjalanan ini, semoga itu adalah kamu. Semoga Ann, sang bulan, tersenyum lekas menggantikanmu dalam hatiku, meski kami tak banyak bicara dalam perjalanan ini.
Di tengah laut lepas, kapal kami menepi ke sebuah pulau kecil yang dikelilingi pantai pasir putih dan barisan pohon bangkal yang seolah menjadi penjaga pulau. Semua orang merayakan dirinya masing-masing. Berlari berhamburan menuju tempat yang diinginkan. Aku menuju sebuah batu tinggi di ujung pulau. Tempat aku berdiri adalah yang paling indah di pulau ini. Batu besar menatap tajam ke arah pulau yang lain di mana gunung tunggal gagah bertengger di atasnya diselimuti awan tipis. Aku melupakan Ann dalam sekejap dan mengingatnya kembali seketika. Kutemukan dia juga sedang merayakan dirinya di kejauhan. Berlari bersama temannya, bergurau dengan ombak di atas pasir putih. Birunya laut yang jernih melengkapi pemandangan yang hampir tak pernah kusaksikan setelah sekian lama jiwaku mati dalam raga yang terus mengalirkan darah.
Kami berteduh dari terik matahari di bawah pohon-pohon bangkal yang beruntung karena mereka ditanam di tempat seindah ini. Meneguk air kelapa yang dipetik langsung oleh para penjaga pantai, menikmati waktu yang tersisa tak lama di sini. Kami telah hanyut dalam keindahan alam yang melelapkan tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Aku bisa memutuskan sekarang. Perjalanan ini adalah salah satu yang terindah dalam hidupku, setelah aku menguraikan banyak perjalanan indah yang pernah kulewati.
“Ayo pergi, kapal sudah menunggu di dermaga.” Aku membangunkan Ann dari mimpi-mimpi indahnya yang teduh di bawah pohon bangkal.
“Rasanya, ingin tinggal di sini lebih lama, bukan? Kita akan kembali lagi suatu saat jika kau mau.” Kataku penuh iba pada Ann.
“Sekali saja cukup. Kita pergi ke tempat yang lain saja. Kau tak perlu mengulang dua kali sesuatu yang kau suka. Kau perlu mencoba hal baru yang bisa saja lebih indah dari yang pernah kau lakukan.” Rasanya harapan terus datang padaku meski kata-katanya terlalu menyudutkan.
“Apakah kita akan pergi ke suatu tempat yang lain, yang tak kalah indah dari tempat ini?”
“Tentu saja...” Jawab Ann sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dalam keadaan setengah sadar. Mungkin saja mimpinya sangat indah. Dan mungkin saja dia tidak benar-benar menyadari dengan apa yang dia katakan padaku baru saja.
Semua berlalu begitu saja bagai mimpi siang bolong. Kapal kami telah pergi membawa raga-raga, namun meninggalkan kenangan yang mendalam di tempat ini. Ann duduk di belakangku, bersandar pada tiang kapal, dan memejamkan matanya sekali lagi. Melanjutkan mimpinya yang belum selesai saat kubangunkan tadi. Aku kembali mematung menghitung setiap hentakan kapal pada ombak yang membawa kami kembali pada riuh kehidupan masing-masing. Aku tak sempat memperhatikan lagi Ann hingga kami sampai di dermaga tempat kami memulai perjalanan ini.
Aku menyukai tempat di mana hujan lebih sering turun. Di sini matahari nampak lebih lama bersinar hingga menyusup ke dalam ruang di dasar lautan yang menjadikannya terlihat jernih dan indah. Hujan akan merusak keindahan tempat ini sama seperti kau yang terus merusak ingatan-ingatanku tentang masa lalu. Tapi aku selalu lebih memilih hujan daripada senja yang juga menghapus keindahan warna-warna kehidupan. Jadi, aku lebih memilih rasa sakit bersamamu daripada aku harus bahagia seorang diri. Bagaimana jika rasa sakitku sembuh dan kau benar-benar lenyap dari hidupku? Bagaimana jika kau hilang dari duniaku? Mengapa aku mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya aku lakukan? Bukankah perjalanan ini adalah bagian dari langkah-langkah menghapus dirimu dalam hidupku? Menghapus semua yang kau tinggalkan di sini. Akankah aku mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari saat aku bersamamu dulu? Rasanya, ingatanku selalu kembali pada masa lalu sekalipun aku melarikan diri sejauh mungkin.
Perjalanan kami segera berakhir, namun aku belum benar-benar menemukan tujuan dari perjalanan ini kecuali bertemu seseorang yang bercahaya dalam gelapnya malam. Seorang bunga yang mekar di tengah gurun yang tandus. Seorang yang ingin kutemui lagi dalam dialog-dialog tentang kehidupanku tentang masa depan.
Perjalanan ini lebih panjang dari sekadar perjalanan melarikan diri. Kami berganti kapal yang lebih besar untuk sampai di tempat yang disebut rumah. Rumah yang membuat riuh isi kepala. Deru ombak yang menyembuhkan telah hilang. Gaduh suara mesin kapal besar mengacaukan ingatan yang sudah kutata ulang. Aku menghilang dalam gelapnya samudra yang ditelan malam. Perjalanan hanya menyembuhkan luka dalam angan-angan. Rasa sakit akan terus kubawa hingga waktu merenggutnya sendiri. Kami terus melayang dalam angan-angan. Ann akan menjadi orang asing seperti sebelumnya. Aku akan sibuk menyiapkan diriku untuk memulai perkenalan lagi dengannya. Semoga pada malam saat bulan baru tumbuh, Ann datang dengan senyuman yang tertinggal di pulau itu. Semoga Ann menjadi bagian dari perjalanan-perjalanan indah yang lain di masa depan.
Tak ada kisah dongeng yang tak indah, bukan? Semoga perjalanan ini juga menjadi bagian dari kisah dongeng yang berakhir indah. Untuk aku dan Ann. Entah akan menjadi apa kami nantinya, tapi aku berharap kebahagiaan akan menjadi penawar luka-luka dari masa lalu.