Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Awalnya kepalaku terangguk-angguk ke bawah dan mata terpejam tipis-tipis, sontak tiba-tiba aku menengadah ke arah khatib yang sedang berdiri di mimbar ketika ia mengucapkan, “Wahai hadirin, ketahuilah sifat takabur adalah sifat yang berbahagia!”
Kantukku perlahan-lahan memudar demi mendengar kalimat yang ganjil itu. Dan kesadaranku semakin memulih ketika sekali lagi pria tua itu memberi nasehat Jumatnya, “Jadi hadirin, jelas sekali bahwa sifat takabur adalah sifat yang berbahagia!”
Ah, sang khatib bahkan mengulanginya untuk kali ketiga, keempat, dan kelima sampai khutbah itu berakhir. Aku sempat sedikit celingak-celinguk ke kiri dan kanan, nampak ada juga satu-dua orang—saja—yang terlihat terkejut.
Di warung makan dekat masjid, sembari menyantap soto banjar yang asapnya masih terlihat samar, aku mengajak bicara seorang pria yang seumuran denganku, “Rupanya bapak khatib tadi juga mengantuk ya, Mas. Saya kira cuma jemaah yang bisa ngantuk!”
Hal yang kuharapkan adalah pergibahan meski hanya sepatah dua patah kalimat. Tapi orang yang kuajak bicara ini malah hanya menatapku. Ia memang tersenyum tipis, tapi itu jenis senyum yang mengisyaratkan, “Kamu sok asik!” Setelah itu dia tidak berselera untuk menggubrisku lebih lanjut.
Tidak menyerah, sebelum masuk ke kamar, aku mengajak ngobrol seorang tetangga di samping indekos yang sedang mengecat pagar rumahnya. “Eh, Pak. Masa tadi bapak khatib bilang ‘sifat takabur adalah sifat yang berbahagia’. Kocak banget, ya!”
Si tetangga menghentikan pekerjaannya lalu melotot ke arahku. “Mas, berbaik sangka saja, bisa, ya!?”
Aku tersenyum kecut. “Eh, ngecat pagar ya, Pak? Bagus warnanya…” Kentara sekali aku berupaya mengalihkan pembicaraan. Salah tingkah. Aku nampak tolol.
Tapi kenapa orang-orang disini macam menghindar ketika kuajak menggunjing bapak khatib? Lagi pula itu juga bukan murni cercaan, kok. Hanya sekadar ingin omong-omong hal yang lucu di siang bolong begini.
Tapi, ya sudahlah. Aku tidak berhasrat lagi mengajak warga berbicara hal itu. Meski baru dua orang, aku khawatir setiap orang di perumahan ini memang akan bereaksi yang sama jika kuajak mencibir bapak khatib. Aku orang baru di sini, belum diterima sepenuhnya sebagai in-group. Mesti hati-hati.
Tapi ya, bagaimanapun aku sebenarnya penasaran juga. Di indekos tempatku tinggal, ada acil yang membantu pemilik kos menjaga serta membersihkan. Kali ini aku tentu saja tidak akan bercakap seperti sebelumnya. Aku juga khawatir, meski acil ini perempuan, dia bisa saja juga sama dengan dua jemaah Jumat yang kuajak ngobrol tadi.
“Eh Nak Izul, enggak ke kampus?” Ternyata beliau yang pertama menyapaku.
“Eh iya, Cil. Hari ini cuma kuliah online. Dosennya malas ke kampus.”
“Oooh.”
“Eh anu, Cil. Acil tahu siapa bapak-bapak yang tadi jadi khatib di masjid depan?” Sengaja kusebut “bapak-bapak”, meskipun yang lebih tepatnya adalah “kakek-kakek”. Waswas kalau itu juga menyinggung.
“Ciri-cirinya?”
Aku menyebutkan ciri-cirinya sejauh yang kuingat.
“Oh… itu Guru Taufik! Cuma memang beliau baru keluar lagi setelah sebelumnya hanya mendekam di rumah selama empat bulan. Sakit. Maklum, sudah uzur. Siapa yang tak kenal di sekitar sini sama beliau. Bahkan siapa yang tak kenal di kota ini?”
Oh, begitulah rupanya.
“Memangnya kenapa, Nak?”
“Eh, saya mau tahu saja, Cil. Khutbahnya tadi bagus sekali.”
“Ya, sudah pasti! Kalau tak bagus, siapa yang mau hadir mendengar beliau berceramah? Ribuan orang hadir di majelis mingguan beliau, tak cuma dari kota ini, juga dari kota sekitar. Semua hadir. Warga biasa, santri, ustadz, artis, pejabat, hadir. Tapi sayang, semenjak sakit, beliau menghentikan majelisnya. Nah, kalau beliau mau mengisi khutbah, itu berarti jarang-jarang. Siapa tahu ada hal yang penting yang hendak beliau sampaikan?”
Aku hanya mengangguk-ngangguk meski batinku bercakap: yang ada malah si khatib salah-salah saat membaca teks khutbah. Ah, apa kata acil tadi? Beliau sudah uzur. Sakit-sakitan pula. Mungkin bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya. Oh, pantes. Dan soal dua orang jemaah Jumat yang kuajak berbincang tadi, wajar saja mereka sewot. Di tanah ini, ulama seperti dia ternyata memang sebegitunya dihormati. Terlebih kepada beliau yang menurut acil “siapa yang tak kenal di kota ini?”
***
Entah angin apa yang telah menimpa tubuhku, tau-taunya aku berada di masjid ketika petang telah tiba. Mungkin karena bosan, atau karena apa, aku ingin salat Magrib berjemaah di masjid. Biasanya juga cuma salat di kamar kos, dan biasanya pula juga tidak di awal waktu.
Belum lagi muazin mengumandangkan ikamah, tiba-tiba semua jemaah salat yang sudah di situ berdiri dan menatap ke arah belakang. Aku juga ikut menengok.
Seorang sepuh berbulang serban putih masuk sambil berjalan menggunakan tongkatnya. Sisa-sisa air wudhu masih membekas di jenggotnya yang tipis dan di ujung lengan jubah putih bersihnya yang panjang. Aku yang masih duduk serta-merta berdiri juga mengikut orang kebanyakan. Itu khatib Jumat siang tadi. Semua jemaah yang berdiri ternyata tidak benar-benar menatap beliau, kepala masing-masing mereka cenderung menunduk ke bawah –yang juga kemudian aku ikuti. Bapak khatib berjalan di tengah-tengah mereka, terus sampai ke shaf paling depan.
Beliau kemudian sholat sunah. Selepas salam, kepada muazin yang hendak mengumandangkan ikamah, beliau berbisik—yang sebenarnya cukup lantang sehingga terdengar olehku yang tak jauh dari situ, “Nak, Jumat depan khatibnya tetap saya, ya.” Si muazin mengangguk dengan mengucap, “Nggih. Akan saya kasih tahu khatib yang sebelumnya sudah terjadwal.”
Hahahanjay, batinku. Hebat sekali beliau, membatalkan jadwal pengkhutbah. Si muazin juga langsung sigap mengiyakan tanpa ada jeda untuk menimbang. Percaya diri sekali? Apakah tak seorang pun memberitahu kalau beliau sudah uzur dan siang tadi membuat kesalahan dalam khutbah Jumat yang sakral? Anjay. Hmm.
***
Jumat berikutnya. Aku tidak bisa tidak pulang. Meski ada satu kelas lagi selepas sholat Jumat, aku harus segera balik. Meski masjid besar yang lebih nyaman dan lebih adem berdiri di tengah-tengah kampus, aku harus sholat Jumat di masjid dekat indekos. Aku penasaran apa yang akan terjadi di khutbah Jumat hari ini.
Maka kulawanlah matahari siang yang terik. Dua puluh lima menit perjalanan. Sesampai di kos, aku mandi membersihkan bekas gerah di tubuh.
Duduklah aku bersama jemaah Jumat yang lain. Si ulama tua itu duduk berzikir menunggu masuknya waktu sholat yang segera datang. Ketika akhirnya azan kedua hendak dikumandangkan, si khatib itu naik ke mimbar menggunakan tongkatnya dan dengan bertopang sisi mimbar.
Inilah momen yang kunanti. Apakah si khatib masih ngelantur? Khutbah Jum’at pun dimulai setelah azan selesai. Sehabis diucapkannya bacaan berbahasa Arab, lelaki sepuh ini mulai memberi nasihat dengan berbahasa Indonesia. Dan, dan, dan, temanya tentang takabur lagi. Sejauh ini, seingatku, isinya persis seperti Jumat lalu. Tak kreatif betul. Self-plagiarism kalau kata orang kampus.
Dua menit pun berlalu. Tahu tahu, setelah rentetan nasihat takwa, Guru Taufik terdiam beberapa saat. Ia menatap kosong ke arah jemaah. Aku heran. Apakah dia sedang lupa hafalannya?
“Hadirin jemaah sholat Jumat, ketahuilah bahwa sifat takabur adalah sifat yang berbahagia.” Diucapkannya kalimat itu bak baris pamungkas.
Lalu dia terdiam lagi beberapa waktu.
Baru kemudian ia meneruskan khutbahnya. Kali ini dia benar-benar hanya mengucapkan diksi typo itu sekali saja sampai khutbah berakhir, tapi kata-kata itu seperti disengaja dan dengan penekanan yang serius.
Kalimat itu bermasalah. Bodoh-bodoh begini aku paham bahwa takabur itu sifat yang buruk. Bukan sifat orang-orang suci calon penghuni surga.
Harusnya, harusnya, bukankah harusnya dia mengucapkan “hadirin yang berbahagia” dan “sifat takabur adalah sifat yang berbahaya”? Haduh!
Selepas prosesi ibadah Jumat berakhir, aku lihat tidak ada satupun jemaah yang mempertanyakan isi khutbah. Seperti tidak terjadi apa-apa. Wajah mereka adem ayem. Tak ada yang saling berbisik. Kalau minggu lalu masih ada satu-dua yang terlihat kaget.
Tak salah lagi, mereka semua kelewat baik sangka dengan si kakek khatib. Fanatisme buta barangkali? Di kampus, kami biasa saling menyanggah antara dosen dan mahasiswa. Kalau keliru, dosen tak malu mengakuinya. Masih feodal ternyata komunitas beragama kita. Si tua bangka yang tak sadar diri dan masyarakat yang kurang kritis!
Kalau saja suatu saat aku bertemu Guru Taufik, aku akan sampaikan terus terang bahwa beliau melakukan kesalahan. Mentang-mentang sudah lanjut usia dan diagungkan sebagai pemuka agama, bisa sekenanya tanpa ada yang menegur. Ini tidak begitu lucu lagi, sungguh.
***
Hari masih terik. Kamar kosku hanya mengandalkan kipas angin untuk penyejuk, tak akan kuat mengusir panas. Aku masih menghabiskan segelas es kopi susu gula aren yang kupesan secara daring, menjelang waktu Ashar, ketika suara toa masjid berbunyi ngiiing tanda baru saja dinyalakan.
Lalu, cukup jelas kudengar kalimat berduka “innalillah” diucapkan seseorang yang sedang di depan mikrofon.
“Telah wafat, guru kita semua, Ayahanda Guru Taufik bin Abdullah pada usia 78 tahun…”
Entah mengapa, aku meloncat dari kursi tempatku duduk. Perasaan cemas merubungku. Orang tua sepuh itu masih kuprotes keras dalam batinku sekitar satu jam yang lalu. Kali ini dia sudah tiada.
Tak selang berapa lama, diiringi azan Ashar, lingkungan di sekitar indekos tiba-tiba ramai. Aku gugup. Kuambil peci dan kupasang pakaian yang kukenakan saat sholat Jumat tadi, pergi ke keramaian di luar.
Setelah sholat Ashar di masjid, aku mengikuti langkah para tetangga ke rumah Guru Taufik yang ternyata hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari masjid. Sebuah tongkat berbendera kain kuning bertuliskan lafadz innalillah dipasang di pagar rumah.
Aku masuk juga. Mengikuti teladan orang-orang yang juga bertakziyah, aku mengambil buku Yasin lalu membacanya. Peristiwa ini begitu cepat. Aku sendiri masih agak heran mengapa aku begitu menyesal. Aku mencurahkan seluruh fokusku untuk menyelesaikan surah Yasin sampai-sampai aku tidak menyadari rumah ini telah penuh oleh orang-orang yang datang. Di antara mereka bergerombol orang-orang berjubah putih, ada juga yang memakai sarung, dan tentu saja berpeci.
Hatiku mulai lepas gundahnya begitu aku menamatkan satu surah ini. Karena aku belum makan siang, dan karena banyak orang yang sudah mengantri di luar rumah untuk masuk juga, aku langsung mencari celah untuk keluar.
Rumah dan sekitarnya telah benar-benar dipenuhi banyak sekali orang. Bisa jadi semakin sore akan semakin padat. Orang-orang terus berdatangan. Sementara itu, perutku yang lapar kubawa ke salah satu gerobak mie ayam tak jauh dari keramaian.
Kusantap mie ayam sepuluh ribuan ini. Ketika porsinya tinggal separo, sebuah mobil MPV premium menepi di pinggir jalan. Di belakangnya mobil yang sama persis, hanya berbeda warna, juga menepi. Dari dua mobil itu keluar orang-orang berpakaian hitam, setiap yang pria dari tiap mobil ditemani oleh seorang perempuan. Dari gelagatnya, mereka adalah suami-istri suami-istri.
Ketika mereka saling bertemu, dua pasangan itu saling terkejut senang. Yang pria saling bersalaman. Yang perempuan cipika-cipiki.
“Eh, Pak Herman. Bu Herman. Enggak nyangka ketemu di sini…”
“Lah, iya Bu Junaidi, Pak Junaidi. Tadi ketika kami mendengar beritanya, kami langsung cus ke sini. Takut beliau segera dibawa ke pemakaman.”
“Iya, kami juga. Takut ketinggalan. Eh, si kecil enggak dibawa?”
“Aduh, ribet deh kalau bawa dia. Nanti menangis. Nanti cerewet. Lagian kami enggak bakal lama. Kalau dik Toni enggak diajak?”
“Aduh, kasian dia. Lagi sibuk magang di international company, perusahaan jasa keuangan gitu, deh.”
“Wah… keren banget ya, Ibu. Nanti kalau si kecil Lena sudah besar, semoga dia jadi begitu juga, deh. Apalagi meski usianya baru hampir empat tahun, tapi sudah cap-cip-cup ngomong english.”
“Wah, kalau Toni magangnya di international company dari Jepang gitu sih sebenarnya, Bu. Jadi selain bahasa Inggris, dia juga harus ngomong Jepang. Enggak sia-sia saya kasih kursus di dua tempat. Hehehe.”
“Wah, aduh, beruntung banget sih Ibu punya anak pinter…”
“Hehe. Ngomong-ngomong, mobil kita sama hari ini, ya?”
“Hehehe, iya. Sudah lama sih belinya, Bu. Cuma jarang dipakai aja. Kebetulan yang minivan lagi agak kotor, belum dibersihkan…”
Mereka masih mengobrol dengan senyum dan tawa ketika sebuah mobil limosin hitam mengkilap datang menepi di sebelah dua mobil MPV premium.
“Eh, itu siapa ya yang pakai limosin?”
“Aduh, iya ya, siapa ya?”
“Eh, aduh, itu istri walikota. Aduh. Kita harus samperin.”
“Eh, iya. Iya. Kebetulan suamiku juga masih menunggu persetujuan pak walikota untuk proyeknya. Agak macet, nih.” “Eh, sayang. Jangan enggak salaman sama dia. lo,” bisik Bu Herman kepada Pak Herman.
“Halo Ibu, sendirian aja? Pak walikota enggak ikut?” tanya Bu Junaidi ramah kepada istri walikota.
“Eh iya, sendiri aja, nih. Bapak lagi nemenin Haji Ghofur ke Amerika buat beli jet. Itu loh pengusaha yang baru ketiban proyek besar dari Pak Gubernur. Haji Ghofur itu keponakan kami. Katanya dia lelah naik pesawat komersil terus. Dihitung-hitung juga kayaknya bakal lebih hemat kalau punya pesawat sendiri. Eh iya, kebetulan, minta tolong dong fotokan saya. Latar belakangnya rumah almarhum, ya. Biar saya bisa segera mengucapkan belasungkawa di Instagram.”
Kupandang-pandang, mereka memang benar-benar bahagia. Tak salah. Beliau tak salah. Wajah Guru Taufik dengan jenggotnya yang basah pun membayang di lamunku.[]
(Pernah dimuat di Majalahelipsis.id)