Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di kampung Wonoalam, ada seorang “orang pinter” bernama Pak Kasan. Gelarnya panjang: Ahli Spiritual, Konsultan Gaib, dan Distributor Sendok Sakral. Konon, ia punya alat pemanggil arwah paling mutakhir sebuah sendok ukuran tiga per empat.
Kenapa tiga per empat? Menurut Pak Kasan,
“Ukuran penuh bikin arwahnya kekenyangan. Ukuran setengah bikin mereka malas jalan. Nah, tiga per empat ini pas… kayak porsi mie instan kalau mau hemat tapi nggak mau kelaperan.”
Ritualnya sederhana: duduk mengelilingi meja, taruh sendok tiga per empat di tengah, lalu semua yang hadir harus mengaduk udara kosong sebanyak tujuh kali setengah putaran sambil melafalkan mantra,
“Kopi pahit… roti gosong… arwah datang… jangan bohong.”
Kalau ada suara aneh, tandanya arwah sudah hadir. Padahal aslinya, suara itu datang dari HP Nokia 3310 milik Pak Kasan yang disembunyikan di bawah meja, muter nada dering monofonik “Suara Seram #2”.
Setiap sesi ritual dihargai seratus ribu rupiah. Bukan buat bayar arwah, kata Pak Kasan, tapi “buat beli paket internet biar sinyal gaibnya lancar.”
Malam itu, lima orang duduk mengelilingi meja. Lampu diredupkan. Di atas meja, sendok tiga per empat itu berkilau samar, seolah memang punya energi mistis. Semua diam… sampai akhirnya terdengar suara:
“Halo… ini siapa ya?”
Sontak semua orang pucat. Padahal itu cuma operator pulsa yang nyasar telepon karena sinyal jelek.
Pak Kasan pura-pura tegang, lalu berkata,
“Ah… itu suara arwah Prabu Voucher, penguasa dimensi prabayar.”
Ritual berlanjut. Kursi Pak Joni, peserta yang duduk di pojok, tiba-tiba bergeser sendiri. Semua kaget. Faktanya, kaki kursi itu nyangkut kabel kipas angin yang nggak sengaja ketarik. Tapi Pak Kasan dengan khidmat berkata,
“Itu tandanya arwah mulai penasaran… atau lagi cari colokan listrik.”
Setelah 15 menit, arwah yang “dipanggil” belum juga muncul. Pak Kasan mengeluarkan langkah pamungkas: ia menyuruh semua peserta menutup mata dan memegang sendok tiga per empat itu bergantian. Saat sendok sampai di tangannya, ia tiba-tiba bergetar, lalu bersuara berat,
“Aku… arwah nenek moyangmu… apa pesanmu, wahai cucuku?”
Pak Joni langsung tersedak haru. Katanya, ia ingin minta restu buka warung nasi pecel. Pak Kasan mengangguk khidmat.
“Restu turun… asal warungnya pakai kupon diskon dari saya.”
Sesi berakhir. Semua peserta pulang dengan keyakinan bahwa mereka telah berkomunikasi dengan dunia arwah. Padahal yang mereka bawa cuma nota pembayaran.
Tinggallah Pak Kasan sendiri di mejanya. Ia menatap sendok tiga per empat itu, tersenyum kecil, lalu bergumam,
“Orang-orang pikir mereka manggil arwah. Padahal… yang mereka panggil cuma pantulan suara mereka sendiri… lewat sendok bekas bubur ayam.”
Lampu dimatikan. Ruangan gelap.
Di sudut meja, sendok itu berkilau samar… dan entah kenapa, terdengar suara pelan:
“Halo… ini siapa ya?”
Suara itu muncul lagi. Kali ini lebih pelan… tapi jelas bukan suara rekaman “Suara Seram #2” dari HP Nokia 3310 milik Pak Kasan.
Pak Kasan yang tadi sudah mau keluar, langsung berhenti di ambang pintu. Tangannya masih memegang gagang pintu, tapi badannya kaku. Pelan-pelan, dia menoleh ke arah meja.
Sendok tiga per empat itu… diam.
Tapi entah kenapa, suasana ruangan berubah. Yang tadi cuma redup biasa, sekarang terasa… penuh. Kayak ada yang ikut duduk di situ, padahal kursi-kursinya kosong.
Pak Kasan mencoba bersikap santai. Ia tertawa kecil, maksa.
“Heh… efek sugesti,” gumamnya. “Kebanyakan denger suara sendiri.”
Ia melangkah mendekat lagi. Satu langkah. Dua langkah.
Lalu
kring… kring…
Sendok itu bergetar.
Bukan jatuh. Bukan tersenggol. Tapi benar-benar bergetar, pelan, ritmis… seperti HP yang dapat telepon.
Pak Kasan langsung refleks melihat ke bawah meja.
HP Nokia 3310-nya… mati.
Layarnya gelap.
Tangannya mulai dingin.
“Halo…” suara itu muncul lagi, sekarang agak kesal, “ini siapa sih dari tadi nelpon, tapi nggak ngomong-ngomong?”
Pak Kasan menelan ludah.
Ia menatap sendok itu, lalu dengan ragu mendekatkan wajahnya.
“Ini… siapa?” tanyanya pelan.
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu menjawab,
“Loh… ini bukan cucu saya? Tadi katanya ada yang manggil-manggil… pake mantra kopi pahit roti gosong segala…”
Pak Kasan langsung mundur setengah langkah.
“B-bukan… ini… ini cuma latihan…” jawabnya gugup.
“Latihan?” suara itu terdengar bingung. “Kamu ini siapa?”
Pak Kasan bingung harus jawab apa. Selama ini dia selalu jadi “operator arwah”, bukan yang ditanya balik.
“Saya… Pak Kasan…”
Sunyi sejenak.
Lalu
“Oh… yang jual sendok itu ya?”
Pak Kasan merinding.
“I-iya…”
“Wah,” suara itu terdengar seperti bergumam ke arah lain, “bener kata yang di sini… sekarang arwah dipanggil pakai alat makan…”
Pak Kasan makin pucat.
“Yang di sini?” tanyanya pelan.
“Iya,” jawab suara itu santai, “di sini lagi rame. Pada nonton kamu dari tadi.”
Pak Kasan langsung melihat sekeliling.
Kosong.
Tapi entah kenapa… kursi-kursi itu sekarang terasa seperti ada yang dudukin.
Sendok itu tiba-tiba bergetar lagi, lebih kuat.
“Mas Kasan,” suara itu kembali serius, “ini sebenarnya kamu lagi nelpon ke mana sih?”
“Nelpon?” Pak Kasan makin bingung. “Saya nggak nelpon…”
“Tapi dari sini kelihatan jelas,” kata suara itu, “kamu bikin semacam… jalur. Walaupun ya… kualitasnya jelek. Kayak sinyal 2G di tengah sawah.”
Pak Kasan terdiam.
Semua yang dia lakukan selama ini ritual, mantra, sendok tiga per empat itu cuma trik.
Harusnya.
Tapi sekarang…
“Ini… beneran nyambung?” bisiknya.
Di ujung sana, suara itu tertawa kecil.
“Telat sadar, ya?”
Tiba-tiba
KREK…
Salah satu kursi di dekat meja bergerak sendiri.
Bukan karena kabel. Bukan karena angin.
Perlahan… kursi itu bergeser, seolah ada yang menariknya untuk duduk.
Pak Kasan mundur.
“Eh jangan ditutup ya jalurnya,” kata suara itu cepat, “ini lagi seru.”
“A-apa maksudnya?”
“Ya… jarang-jarang ada orang hidup yang bisa kepencet tombolnya tanpa sengaja,” jawabnya santai.
“Tombol?”
“Iya. Yang kamu kira sendok itu… ya bukan itu sebenarnya.”
Pak Kasan menatap sendok itu dengan mata membesar.
“Terus… ini apa?”
“Ya… ya sendok. Cuma kebetulan… jadi kepencet.”
Ruangan makin dingin.
“Kepencet apa?” tanya Pak Kasan hampir berbisik.
Suara itu diam sebentar.
Lalu menjawab pelan,
“Pintu.”
Hening.
Lalu dari arah lain bukan dari sendok terdengar suara baru.
“Masih nyambung nggak?”
Pak Kasan langsung menoleh.
Tak ada siapa-siapa.
Tapi suara itu jelas. Dekat. Seperti ada di belakangnya.
Sendok di meja kembali bergetar.
“Iya masih,” jawab suara pertama. “Ini orangnya juga masih di situ.”
Pak Kasan panik.
“Ini… ini siapa lagi?!”
Suara pertama menjawab santai,
“Ya itu… yang duduk di belakang kamu.”
Pak Kasan langsung berbalik.
Kosong.
Tapi hawa di belakangnya… berat.
Seperti ada yang berdiri sangat dekat.
Napasnya mulai tidak teratur.
“Mas Kasan,” suara itu kembali memanggil, “kamu biasanya nutup sesi pakai apa?”
“D-doa…” jawabnya gemetar.
“Ya sudah, coba ditutup sekarang.”
Pak Kasan langsung komat-kamit. Semua doa yang dia ingat keluar campur aduk, dari yang serius sampai yang setengah lupa.
Beberapa detik berlalu.
Sendok itu berhenti bergetar.
Sunyi.
Sepi.
Pak Kasan langsung jatuh terduduk di kursi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Udah… udah selesai…” gumamnya lega.
Ia bangkit pelan, lalu berjalan ke arah pintu.
Satu langkah lagi keluar
kring…
Sendok itu berbunyi lagi.
Pak Kasan membeku.
Pelan… sangat pelan… ia menoleh.
Sendok itu tidak bergerak.
Tapi suara itu muncul lagi.
Lebih pelan.
Lebih dekat.
“Halo… ini masih nyambung ya?”
Pak Kasan hampir menangis.
“Belum ditutup ternyata,” sambung suara itu santai.
“Kenapa… kenapa nggak bisa ditutup?!” teriak Pak Kasan panik.
Di ujung sana, suara itu terdengar seperti menghela napas.
“Masalahnya… ini bukan kamu yang buka.”
Pak Kasan diam.
“Terus siapa?” tanyanya lirih.
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu menjawab
“Yang penasaran sama kamu.”
Lampu tiba-tiba mati total.
Gelap.
Benar-benar gelap.
Dan di tengah kegelapan itu…
terdengar beberapa suara sekaligus.
Bukan satu.
Bukan dua.
Banyak.
Berbisik.
Saling tumpang tindih.
“Ini dia orangnya…”
“Yang jual sendok…”
“Lucu juga ya…”
“Coba lagi dong mantranya…”
Pak Kasan gemetar hebat.
Tangannya meraba-raba mencari pintu… tapi rasanya ruangan itu berubah.
Lebih luas.
Lebih jauh.
Lebih… penuh.
Sendok itu tiba-tiba jatuh dari meja.
TING…
Suara nyaringnya bergema lebih lama dari seharusnya.
Lalu
sunyi.
Beberapa detik kemudian, satu suara muncul lagi.
Yang pertama tadi.
Lebih pelan.
Lebih serius.
“Mas Kasan…”
“I-iya…”
“Besok… jangan buka praktik dulu ya.”
“Kenapa…?”
“Ada yang mau datang langsung.”
Pak Kasan terdiam.
Tubuhnya kaku.
Napasnya tertahan.
“Siapa…?”
Suara itu menjawab singkat.
“Yang kemarin cuma nonton.”
Lampu tiba-tiba menyala lagi.
Ruangan kembali normal.
Meja. Kursi. Sendok.
Semua seperti semula.
Pak Kasan berdiri sendirian.
Tapi di meja…
ada satu hal yang berubah.
Nota pembayaran yang tadi kosong…
sekarang bertambah satu tulisan.
Dengan tinta yang bukan miliknya.
Tulisan tangan yang asing.
“Pembayaran: Sudah. Kunjungan: Besok malam.”