Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di daerahku, ada tradisi khusus setiap ada bayi lahir: mengubur ari-arinya bersama beberapa bumbu dapur tertentu.
Di antara bumbu itu terselip gula. Harapannya, wajah sang bayi kelak akan tampak ramah, ceria, dan semanis gula. Tapi aku curiga, saat penguburan ari-ariku, mungkin orang-orang lupa menaruh gula.
Lihat saja cermin ini.
Di sana ada sebentuk wajah dengan alis tebal dan sorot mata yang seperti Adolf Hitler. Dengan mata seperti itu, meski mulut tersenyum manis, yang muncul malah senyum sinis. Jika diam, orang beranggapan aku ngambek. Jika bicara, lawan bicara merasa sedang dimarahi. Jika menatap, aku dikira sedang menantang. Padahal aku hanya diam, tidak marah, dan tidak sedang berencana jahat!
Bertahun-tahun aku belajar tersenyum lebih lebar. Berbicara lebih lembut. Memicingkan mata agar aegyo sal-ku menebal, yang konon bisa menciptakan kesan ramah. Bukan karena itu diriku, tapi karena aku lelah dihukum oleh wajah yang bahkan bukan pilihanku...
Wajah sekecut lemon ini bukan pilihanku. Hidup memberiku wajah itu.
***
Pagi ini, kuputar murottal Mishary Rashid di kios minumanku.
Seorang driver ojol menghampiri.
“Lemon tea dua,”
“Panas atau dingin?” sambutku ceria.
“Panas,” jawabnya, tapi dengan mata mendelik. “Kenapa Mbak marah begitu?”
Aku kaget. Bukankah aku bertanya dengan sopan?
Sedetik kemudian aku mengerti. Aku familiar dengan situasi ini. Apalagi, sejak turun dari motor tadi, masker ini lupa kulepas. Dibungkus masker dan hijab, maka yang tampak di penglihatan orang lain hanyalah mata yang tajam menusuk. Meskipun di balik masker aku tersenyum ramah.
“Tidak marah Pak, wajah saya memang begini... Hehe...,”
Kulepas masker dan kuracik pesanan sambil mengeluh. Dibanding pedagang, mungkin aku lebih cocok menjadi debt collector.
“Dua puluh ribu, Pak. Bonus gula sachet barangkali kurang manis.” Kulebarkan senyum semampuku.
Wajah bapak ojol mengendur, membayar sambil tersenyum. Syukurlah.
When life gives you lemon, add sugar...
***
Putaran murottal baru dua halaman, saat seorang manusia silver mendekati kios. Kututup mushaf kecilku.
“Jus alpukat, Mbak,”
Aku mengangguk dan tersenyum. Kuusahakan menghindari eye contact dengan pembeli. Aku takut mereka merasa seperti terdakwa yang sedang diadili.
“Ekstra kental manis ya, biar semanis yang jual,” dia senyum-senyum.
Rautku berubah pastinya. Catcalling demikian membuatku jengah. Ia sering menyamar sebagai pujian, padahal sejatinya merampas rasa aman seseorang.
“Wah, makin cemberut makin cakep, sayang!” Dia tertawa tanpa rada bersalah. Bahkan berani mencolek lenganku.
Aku sedang merebus air gula. Tapi yang mendidih adalah darahku.
Aku mendongak. Kutatap matanya lima detik tanpa suara. Dia mulai canggung.
“Bercanda Mbak. Ini uangnya.” Lalu tergesa pergi.
Ingin kuperas lemon dan kutuang di matanya tadi. Tapi tak jadi. Lemon itu telah kucampurkan banyak-banyak di jus alpukat. Anggap saja resep baru. Hahaha...
Jika wajahku lemon asam, maka hatiku mungkin lemon busuk?
When life gives you lemon, squeeze them into villain’s eye...
***
Satu juz Mishary Rashid hampir selesai.
Seorang ibu keluar dari mobil membawa totebag bertuliskan klub pilates ternama. Outfit yang dikenakan menjelaskan strata sosialnya. Ia melangkah dengan wajah tak ambil pusing.
“Jus melon. Tanpa gula.” Kalimat terakhir mudah ditebak. Barangkali gula bisa membuat pilatesnya sia-sia.
Kuperhatikan alisnya yang digambar rapi, kulit pualam dan lipstik nude. Memberi kesan bersih, premium dan sulit ditiru. Satu-satunya persamaan denganku adalah wajah masamnya.
Tapi tidak, tetap tidak sama!
Ia adalah lemon yang tidak berusaha menjadi stroberi.
“Silakan Tante."
“Terima kasih.” Ia menatapku. Aku merasa terintimidasi. Ini jugakah yang dirasakan orang saat bertatapan denganku?
“Bibirmu kering sekali, Dek. Pakailah lip balm,” ujarnya. Kalimat yang penuh kepedulian, terasa tidak sinkron dengan wajah bengisnya.
Ia adalah lemon asam, tapi bijinya jatuh di hatiku dan menumbuhkan pohon baru.
When life gives you lemon, peel the rind...
***
“Mbak, aku mau jus mangga dong, banyakin esnya,” seorang perempuan muda muncul.
“Oke kak." Aku tersenyum, kali ini menatap mata pembeli. Biasanya aku memilih menunduk, karena takut mereka takut.
Déja vu! Aku mengenali wajah itu.
“Ira?!”
“Ya ampun Nia! Waaah, sekarang kamu pebisnis?” serunya antusias. “Aku konten kreator sekarang. Aku rekam buat channelku yaaa?”
Aku mengangguk. Promosi gratisan, simbiosis mutualisme.
“Kamu masih jutek aja... Emang ada yang mau beli jusmu?” Ledeknya. Aku meringis.
“Nanti thumbnailnya ‘owner jus yang galak tapi baik hati dan rajin mengaji’. Hihihi..." ia terkikik. "Semoga viewer naik. Kamu natural aja ya. Tinggal pasang muka judesmu,” Hera nyerocos tanpa henti.
Nun jauh di lubuk hatiku, aku menolak. Beban dan deritaku dijadikan komoditas yang menguntungkan. Mukaku dijual. Lukaku dikontenkan.
Tapi mulutku mengkhianati hatiku. “Boleh.”
When life gives you lemon, take a video...
***
Seorang lelaki bermasker keluar dari penginapan seberang kios.
“Jus sirsak ada?"
"Ada,"
"Satu ya, Mbak,” ia melepas masker dan tersenyum. Lesung pipitnya dalam. Sorot matanya teduh.
Aku iri pada lelaki babyface itu. Andai wajahku seramah ia, mungkin kiosku lebih ramai.
Tiba-tiba jus sirsak tumpah tersenggol tangannya.
“Maaf, saya rabun parah, autoimun. Tolong buatkan lagi, ya.”
Aku tak fokus pada jus yang tumpah. Tapi pada kelegaanku karena ia rabun.
“Kacamata saya ketinggalan.” keluhnya.
Aku menahan tawa. “Maaf, Pak. Kacamata Anda di atas topi.”
Ia memasangnya. Dan kami tertawa terbahak-bahak. Suasana mencair.
“Lebih baik lupa kacamata, Pak. Banyak pembeli takut lihat muka saya. Muka saya asem kayak lemon,” ucapku mengalir.
Ia menggeleng. “Daripada lemon, Mbak lebih mirip utrujjah."
"Apa itu?"
"Jeruk citron. Jeruk manis yang disebut dalam hadits," jawabnya.
Sudut pandang yang asing bagiku. Tapi wajah ini serasa tak asing. Pendakwah-kah? Selebgram? Atau motivator?
“Saya lihat dari pagi, Mbak tidak jauh dari Alquran," ujarnya sambil membersihkan tumpahan jus.
“Jangan kecil hati, Mbak.” Ia bangkit dan memasang masker. “Manusia tidak sesederhana itu untuk dinilai.” pungkasnya, lalu pergi.
Sampai pembeli kesekian, ucapannya masih terngiang.
Utrujjah? Kubuka smartphone-ku untuk mencari tahu.
"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti buah utrujjah. Wanginya harum dan rasanya manis."
Jadi, ini yang dia lihat dariku?
Barangkali, aku terlalu sibuk dengan lemon asam, hingga lupa setiap orang punya utrujjah yang harus disiram dan ditumbuhkan.
Kuraih buah lemon di rak sampingku. Lemon itu tetap sama. Tapi cara pandangku yang berbeda. Kupotret ia. Kuunggah dengan caption ucapan terakhir lelaki tadi, "Manusia tak sesederhana itu untuk dinilai."
Aku hendak menutup layar, saat unggahan lain muncul di beranda medsosku.
Tunggu! Wajah teduh itu...
“DICARI!!! HERI IRAWAN (43). PELAKU PENGANIAYAAN DAN KDRT. Jika menemukan, hubungi hotline Polri 110.”
Aku terpana.
Tubuhku lunglai.
Lelaki itu mungkin bersalah. Tapi, kalimat terakhirnya benar...
Agustus 2026