Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Duduk sendirian sudah seperti ritual bagi Sam, apalagi di tahun pertama ketika Rei pergi. Di tangannya ada kotak kecil berisi sebuah cincin. Bukan cincin mahal bahkan mungkin terlalu biasa untuk sebuah lamaran. Ia menghela napas panjang.
“Terlambat,” gumamnya.
Di dalam kafe, lampu-lampu hangat menyala, musik pelan mengalun, dan suara tawa orang-orang terdengar samar dari luar, tempat itu dulu penuh kenangan terutama dengan Rei.
Sam pertama kali bertemu Rei tiga tahun lalu di perpustakaan kota ketika hari itu gerimis. Rei duduk di lantai di antara rak buku, memegang novel yang tebalnya hampir seperti batu bata. Sam berhenti di depannya.
“Kamu tahu ada kursi, kan?” katanya.
Rei mengangkat wajah, menatapnya datar.
“Dan kamu tahu ada banyak tempat lain untuk berdiri selain tepat di depan buku yang sedang kubaca?”
Sam tertawa.
“Baiklah, argumen yang bagus.”
Ia lantas duduk di lantai di seberang Rei.
“Aku Sam.”
“Rei.”
“Hanya Rei?”
“Kalau kamu baik, mungkin nanti aku sebut nama belakangku.”
Sam tersenyum, dan sejak hari itulah, mereka sering bertemu. Awalnya hanya kebetulan kemudian menjadi kebiasaan, lalu akhirnya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan.
Rei adalah tipe orang yang membuat dunia terasa lebih ringan. Ia tidak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya selalu punya makna. Suatu malam mereka duduk di kafe kecil itu. Rei menyesap kopinya.
“Kamu tahu,” katanya.
“Apa?”
“Kamu orang yang aneh.”
Sam mengangkat alis.
“Aneh yang buruk atau aneh yang menarik?”
Rei berpikir sebentar.
“Aneh yang membuat orang ingin tetap tinggal.”
Sam tersenyum karena jawaban Rei itu membuat dadanya hangat sepanjang malam. Namun Sam punya satu masalah besar. Ia selalu merasa punya waktu, untuk memperbaiki diri, menjadi lebih mapan dan hatapan bisa memberi Rei kehidupan yang lebih baik. Ia sering berkata pada dirinya sendiri, Nanti saja, aku ajak dia liburan, beli bunga, karena betapa pentingnya dia. Selalu nanti, sampai suatu malam Rei berkata,
“Kamu tahu hal yang paling menakutkan dalam hubungan?”
Sam sedang menatap layar laptopnya.
“Apa?”
“Bukan pertengkaran.”
“Lalu?”
“Merasa seperti pilihan kedua.”
Sam menutup laptopnya.
“Kamu merasa seperti itu?”
Rei mengangkat bahu kecil.
“Kadang.”
“Kenapa?”
“Kamu selalu sibuk mengejar masa depan.”
Sam tersenyum lelah.
“Bukankah itu bagus?”
Rei menatapnya lama.
“Bagus untuk masa depan.”
“Bukan untuk hari ini.”
Sam tidak menjawab. Ia pikir Rei akan selalu mengerti.
Beberapa bulan kemudian, mereka mulai jarang bertemu bukan karena bertengkar tapi hanya karena jarak yang tumbuh perlahan. Pesan yang dulu panjang berubah menjadi singkat, panggilan yang dulu setiap malam berubah menjadi seminggu sekali. Suatu malam Rei berkata melalui telepon,
“Sam?”
“Iya.”
“Kamu masih bahagia bersamaku?”
Sam tertawa kecil.
“Tentu saja.”
“Kenapa kamu tidak pernah menunjukkannya?”
Sam terdiam beberapa detik, dan Rei menghela napas.
“Tidak apa-apa.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Sam,” katanya lembut.
“Aku hanya ingin dicintai dengan cara yang terasa.”
Kalimat itu menggantung di udara tanpa kepastian jawaban.
***
Mereka putus dua bulan setelah itu. Tanpa drama hanya melalui sebuah percakapan di taman. Tempat yang sama di mana Sam duduk malam ini.
Rei berkata,
“Aku lelah menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.”
Sam mengusap wajahnya.
“Aku sedang berusaha.”
“Aku tahu.”
“Berikan aku waktu.”
Rei tersenyum sedih.
“Aku sudah memberimu tiga tahun.”
Sam ingin mengatakan banyak hal, bahwa ia mencintainya, ingin memberikan yang terbaik, namun kata-kata itu tidak pernah keluar. Akhirnya Rei berdiri.
“Terima kasih sudah pernah menjadi rumah.”
“Rei”
Ia berhenti.
“Jaga dirimu.”
Lalu ia pergi.
***
Dua tahun berlalu. Sam akhirnya menjadi pria yang dulu ia harapkan. Tapi setiap kali ia melewati taman ini, ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang.
Sampai suatu hari ia menerima undangan pernikahan. Nama Rei tertulis di sana dengan pria lain. Sam menatap kartu itu lama sekali. Itulah sebabnya ia berada di taman malam ini dengan cincin yang seharusnya ia berikan dua tahun lalu. Ia menertawakan dirinya sendiri.
“Hebat sekali, Sam.”
Seorang pria duduk di bangku sebelahnya tanpa ia sadari. Pria itu menatap kotak cincin di tangan Sam.
“Terlambat?”
Sam tersenyum pahit.
“Sepertinya begitu.”
“Dia menikah?”
“Besok.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Kenapa tidak lebih cepat?”
Sam memandang hujan.
“Aku pikir aku punya waktu.”
Pria itu tertawa pelan.
“Kita semua pikir begitu.”
Malam semakin larut. Sam akhirnya berdiri, lalu ia berjalan ke depan kafe. Melalui jendela, ia melihat seorang wanita duduk di meja dekat jendela. Untuk sesaat jantungnya berhenti.
Rei.
Rambutnya sedikit lebih pendek. Senyumnya masih sama, di depannya duduk seorang pria yang tampak hangat dan tenang. Mereka tertawa bersama. Sam berdiri di luar, tak terlihat oleh mereka. Ia berbisik.
“Dia terlihat bahagia.”
Tapi anehnya, itu sedikit menenangkannya.
Beberapa menit kemudian Rei keluar dari kafe sendirian, mungkin ke toilet luar atau hanya ingin menghirup udara malam. Ia berhenti ketika melihat Sam. Keduanya terdiam. Hujan turun lebih pelan sekarang. Rei tersenyum membalasnya.
“Sam.”
“Hai.”
“Sudah lama.”
“Iya.”
Mereka berdiri canggung beberapa detik. Akhirnya Rei berkata,
“Kamu terlihat baik.”
“Kamu juga.”
“Terima kasih.”
Sam menatap tanah.
“Kudengar kamu menikah.”
“Besok.”
“Selamat.”
Rei tersenyum lembut.
“Terima kasih.”
Hening lagi, kemudian Rei berkata,
“Kamu masih suka datang ke taman ini?”
“Kadang.”
“Kenangan buruk?”
“Tidak.”
Sam tersenyum tipis.
“Kenangan yang terlalu baik.”
Rei menatapnya.
“Kamu bahagia sekarang?”
Sam berpikir.
“Lebih dewasa.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kadang bahagia.”
“Kadang?”
“Kadang merindukan seseorang yang dulu terlalu sabar menungguku.”
Rei tertawa kecil.
“Dia pasti orang yang hebat.”
“Dia luar biasa.”
Hening lagi, Sam akhirnya membuka kotak cincin itu.
Rei terkejut.
“Kamu?”
“Ini seharusnya untukmu.”
Rei menatap cincin itu lama sekali.
“Kapan?”
“Dua tahun lalu.”
Rei tertawa canggung.
“Timing kita memang selalu buruk.”
Sam mengangguk.
“Ya.”
Rei berkata pelan,
“Sam?”
“Iya?”
“Kamu tahu hal yang lucu?”
“Apa?”
“Aku dulu hanya ingin kamu memegang tanganku lebih sering.”
Sam tersenyum pahit.
“Aku tahu sekarang.”
“Kenapa kamu tidak melakukannya?”
“Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat masa depanmu sempurna.”
Rei menatapnya hangat.
“Aku hanya ingin masa kini.”
Kalimat itu menembus dada Sam seperti hujan dingin.
Dari dalam kafe, pria yang bersama Rei keluar.
“Rei?”
Ia berjalan mendekat, Rei tersenyum padanya.
“Ini Sam. Teman lama.”
Pria itu mengulurkan tangan.
“Rafi.”
Sam menjabatnya.
“Senang bertemu denganmu.”
Rafi berkata tulus,
“Rei sering cerita tentangmu.”
Sam melirik Rei.
“Mudah-mudahan yang baik-baik.”
Rei tersenyum.
“Sebagian besar.”
Rafi merangkul bahu Rei dengan lembut, perhayian kecil yang dulu jarang Sam lakukan.
“Ayo pulang?” kata Rafi.
Rei mengangguk.
Sebelum pergi, ia menatap Sam.
“Sam?”
“Iya?”
“Terima kasih sudah pernah mencintaiku.”
Sam tersenyum.
“Maaf karena aku tidak menunjukkannya.”
Rei menggeleng pelan.
“Kita hanya belajar terlalu lambat.”
Mereka berjalan pergi bersama. Sam berdiri di bawah hujan sambil mencoba mengerti sesuatu. Cinta bukan hanya tentang memiliki tapi bisa berupa pelajaran yang datang setelah semuanya terlambat.
Ia menutup kotak cincin itu, lalu berbisik pelan ke malam yang basah.
“Aku harap nanti dia membelikanmu bunga.”
Ia tersenyum sedih.
“Hal-hal yang dulu seharusnya kulakukan.”
Hujan terus turun, Sam akhirnya berjalan pulang. Tanpa Rei, namun dengan satu kebenaran yang akhirnya ia pahami, ketika seseorang sepertinya baru belajar bagaimana seharusnya mencintai, setelah orang yang paling ia cintai sudah menjadi milik orang lain.