Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Prahara sederhana itu tidak pernah mereka duga akan datang.
Bukan sesuatu yang besar, bukan pula sesuatu yang datang dengan pukulan keras yang bisa mereka persiapkan sebelum melakukan benturan tajam.
Ia justru hadir dengan cara paling kejam—diam-diam, perlahan, lalu tiba-tiba saja menghantam tepat di titik yang paling rapuh.
Sore itu, di tengah sesi pemotretan pre-wedding Sarah dan Joseph di Powerscourt Gardens, semuanya terlihat sempurna. Cahaya matahari sore jatuh lembut di atas hamparan rumput hijau, tawa orang-orang terdengar ringan, dan dunia seolah berjalan sebagaimana mestinya.
Kecuali bagi dua orang yang berdiri dalam jarak aman.
Faira dan Hero.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk belajar melupakan.
Lima tahun cukup untuk membangun kembali hidup yang baru, untuk menyusun ulang versi diri yang lebih kuat, untuk meyakinkan diri bahwa apa yang dulu pernah ada… seharusnya sudah selesai.
Namun nyatanya, tidak ada yang benar-benar selesai.
Mereka berdua hanya menjadi lebih pandai berpura-pura.
Sampai akhirnya—
BUKK.
Sebuah tubuh kecil menabrak kaki panjang Hero dengan keras. Refleks tangan Hero langsung bekerja. Tangannya dengan sigap menangkap tubuh mungil itu sebelum jatuh.
Gerakannya cepat, seolah tubuh Hero sudah terbiasa menjaga sesuatu yang rapuh.
Faira yang berdiri tidak jauh dari sana ikut tersentak. Jantungnya mencelos, tangannya bahkan sudah terulur tanpa sadar. Untuk sesaat, ia lupa bernapas.
Namun Hero sudah lebih dulu memastikan semuanya baik-baik saja. Ia berjongkok di depan anak laki-laki itu, wajahnya berubah serius, penuh perhatian yang begitu tulus.
“Are you okay? Did you hurt yourself anywhere, mate?” tanyanya lembut, ada nada khawatir yang tidak ia sembunyikan. “
Anak kecil itu malah tersenyum lebar, seolah dunia tidak pernah punya alasan untuk membuatnya takut.
“I’m fine, Uncle,” katanya ringan, lalu menambahkan dengan nada memohon, “but don’t tell Mummy I was running, okay? She doesn’t like it.”
Ia menyeringai, memperlihatkan satu gigi yang tanggal di bagian depan.
Dan Hero tertawa.
Tawa kecil, hangat, yang entah kenapa terdengar begitu asing sekaligus terlalu familiar di telinga Faira.
Tangan Hero terangkat, mengusap kepala anak itu dengan lembut, penuh kasih sayang yang tidak dibuat-buat.
Faira hanya bisa diam.
Memandang.
Ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dadanya. Hangat. Rapuh. Menyakitkan dalam cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Cara Hero memperlakukan anak kecil itu… cara ia tersenyum… cara ia hadir sepenuhnya, memastikan bahwa makhluk dengan tubuh lebih kecil dibanding dirinya baik-baik saja, adalah gestur menyenangkan yang tak baru dari diri Hero.
Gestur itu melekat kuat sebagai bagian dari sosok Hero yang selalu Faira kenal.
Hero memang selalu menyukai anak kecil sejak dulu.
Dan mungkin, satu fakta itu juga yang paling menyakitkan untuk Faira kenang lagi.
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibir Faira.
Sampai Hero menoleh.
Dan tatapan mereka bertemu.
Seketika itu juga, senyum di bibir Faira menghilang.
Faira menegang, seperti seseorang yang baru saja tertangkap menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak lagi ia miliki.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan, mencoba terlihat biasa saja, seolah jantungnya tidak sedang berdetak terlalu keras.
Di sisi lain, Hero hampir saja tersenyum.
Bukan karena lucu. Tapi karena ia menyadari satu hal yang tidak pernah berubah.
Faira masih melihatnya dengan cara yang sama.
Namun ia menahan diri. Kembali pada anak kecil di depannya.
“What’s your name, buddy?”
“David. David Goth.”
“Goth?” alis Hero terangkat sedikit. “So you must be Halsey Goth’s son.”
David mengangguk cepat. “Uncle, please don’t tell Mummy I bumped into you. I promised I’d behave this time so Mummy could buy me an ice cream after her photoshoot session.”
Hero terkekeh pelan. “Your secret’s safe with me,” katanya, lalu bertanya santai, “Tell me, how old are you?”
David langsung mengangkat lima jari kecilnya.
“I’m five!”
Dan dunia seolah berhenti.
Senyum di wajah Hero menghilang begitu saja, seperti sesuatu yang dipadamkan secara paksa. Bukan perlahan—tapi hilang, tanpa sisa.
Faira dapat merasakannya bahkan sebelum Hero melihatnya.
Ada sesuatu yang berubah. Sesuatu keretakan tak kasat mata yang sayangnya, dapat tertangkap dalam radar Faira.
Perlahan, Hero menoleh ke arah Faira. Dan kali ini, tidak ada yang bisa mereka sembunyikan.
Hanya ada luka yang sama.
Luka yang pernah mereka bagi berdua di masa lalu.
“David, come here!” panggil seorang asisten fotografer. Anak kecil didepan Hero langsung berlari pergi, melambaikan tangan kecilnya ke arah Hero dengan senyum merekah ceria.
Namun kali ini, Hero tidak membalas senyum tulu David kecil.
Sekujur tubuhnya seakan kaku. Dadanya disesaki perasaan anomali yang janggal, yang dulu pernah sangat sulit untuk Hero kendalikan.
Hero berdiri perlahan, lalu berjalan mendekati Faira dengan pandangan nyaris mengabur.
“You heard that?” tanya Hero pelan.
Faira menoleh, memaksa dirinya tetap terlihat tenang, sementara gemuruh hatinya sendiri saat ini sudah kacau balau.
"Hear what?"
Hero menatap Faira dalam. “Don’t do that, Fay… you know exactly what I mean.”
Faira tidak menjawab. Tatapannya yang tak terbaca beralih memandang hamparan taman, lebih tepatnya ke cahaya sore yang menyorot luasnya rumput hijau taman yang sinarnya mulai memudar.
“Five. Five years old.” ulang Hero lirih.
Tangan Faira mencengkeram lengannya sendiri. Ke sepuluh jemarinya terasa begitu dingin, sedingin udara sore di Powerscourt Gardens yang membuat Faira mulai bergidik.
Hero menarik napas pelan, sekaligus berat, lalu berkata tanpa benar-benar melihat ke arahnya.
“If things had been different… he would be about that age now. Same as David's."
Kalimat itu tidak diucapkan dengan emosi.
Tidak dengan marah.
Tidak dengan tuduhan.
Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih kejam.
Yang di ucapkan Hero merupakan kebenaran.
Dan kebenaran selalu lebih menyakitkan daripada apa pun.
Faira tidak sanggup tinggal lebih lama. Ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya cepat, hampir terburu-buru, seolah jika ia berhenti, ia akan benar-benar hancur di hadapan Hero.
Dan kali ini pun, Hero tidak menahannya.
****
Keesokan harinya, Faira kembali ke Oxford lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Faira memberikan alasan berupa pekerjaannya di ESCAT yang sudah mendesak, satu alasan yang cukup masuk akal untuk menutup semua rentetan pertanyaan dari Sarah atas kepulangannya yang mendadak.
Namun begitu Faira sampai di apartemennya, tidak ada lagi kekuatan yang tersisa untuk Faira pertahankan.
Faira tidak langsung bergerak. Ia berdiri di balik pintu itu cukup lama, seolah tubuhnya lupa bagaimana caranya melangkah.
Napasnya terasa berat, dadanya sesak dengan cara yang familiar namun tetap menyakitkan.
Lalu perlahan, tanpa kekuatan, tubuhnya merosot turun hingga ia terduduk di lantai, bersandar pada pintu yang kini menjadi satu-satunya penyangga.
Sejak meninggalkan Irlandia untuk kembali ke Oxford, pikiran Faira mengambang tak tentu arah. Semua terasa seperti kabut panjang yang ia lalui tanpa sadar.
Yang ada hanya satu hal yang terus berulang di kepalanya—suara Hero, nada suaranya yang terlalu tenang, dan kalimat yang ia ucapkan tanpa emosi, seolah itu hanya fakta biasa.
Five.
Five years old
If things had been different…
He would be about that age now.
Faira menutup matanya rapat, dengan tangannya seraya naik menekan dadanya sendiri yang kini tersasa seperti diremas dari dalam.
Ia mencoba bernapas, mencoba mengatur ritme jantungnya yang sudah berantakan, namun entah kenapa, setiap tarikan napas yang Faira hela justru terasa semakin menyakitkan. Seolah ada sesuatu yang ia paksa tetap terkubur selama ini, dan kini akhirnya menemukan jalan untuk keluar.
Faira tidak tahu berapa lama ia duduk di sana, sampai akhirnya tubuhnya bergerak sendiri, seperti ditarik oleh sesuatu yang lebih kuat dari kehendaknya.
Langkahnya goyah saat ia berjalan menuju kamar, menuju lemari yang bahkan belum sepenuhnya ia rapikan sejak kembali ke Oxford.
Lemari itu terbuka lebar, memperlihatkan ruang-ruang kosong yang belum terisi—seperti bagian hidupnya yang ia biarkan tidak tersentuh.
Faira berjinjit, meraih sebuah kotak di bagian paling atas, yang selama ini ia simpan jauh di belakang, seolah dengan menyembunyikannya, Faira juga bisa menyembunyikan semua masa-masa kelamnya dibelakang lemarinya sana.
Sebuah kotak berwarna hijau tua itu terasa lebih berat dari yang seharusnya saat ia membawanya ke atas kasur.
Ia duduk perlahan, tangannya diam sejenak di atas tutup kotak itu, seolah memberi dirinya kesempatan terakhir untuk mundur.
Namun Faira membukanya juga.
Dan serpihan masa lalu nya… masih ada di sana. Dalam bentuk sebuah barang-barang kecil yang sengaja Faira tinggalkan sampai dengan hari ini.
Masih tersusun rapi, seolah waktu tidak pernah benar-benar menyentuh satupun barang-barang itu disana.
Isinya beragam, berupa tiket-tiket pertunjukan teater Hero di RADA yang dulu sering Faira kunjungi, lembaran bagian cerita romantis Shakespeare dengan tulisan tangan Hero yang sedikit berantakan, foto-foto photo box yang penuh tawa—semuanya masih utuh, masih hidup, masih terasa nyata.
Dan semua itu membuat Faira semakin sulit bernapas.
Karena jika semua ini masih ada, berarti apa yang mereka miliki dulu juga pernah nyata.
Dan jika itu nyata… maka kehilangannya pun nyata.
Pandangan Faira bergerak perlahan hingga berhenti pada satu benda kecil di sudut kotak itu.
Putih.
Sederhana.
Namun menjadi pusat dari rasa sesak dan sakit di dada Faira.
Tangan Faira gemetar saat mengambil benda putih berbentuk pipih itu, jari-jarinya bahkan hampir tidak cukup kuat untuk menggenggam benda sekecil itu.
Benda ditangannya kini terasa masih sama seperti lima tahun lalu.
Sebuah benda putih yang memperlihatkan dua garis merah yang tampak tegas, tidak memudar sedikit pun, seolah waktu tidak pernah terpangkas sedikitpun untuk Faira. Sekeras apapun Faira telah berusaha melanjutkan hidup selama lima tahun terakhir ini.
Napas Faira tercekat.
Matanya mulai kabur oleh air yang tiba-tiba menggenang.
Sebuah Test Pack ditangannya itu bukan hanya pengingat.
Test Pack itu merupakan bukti nyata.
Bahwa pernah ada sesuatu di antara dirinya dan Hero yang lebih dari sekadar cinta.
Sesuatu yang pernah mereka jaga diam-diam, mereka lindungi dari dunia, mereka rencanakan dalam bisikan-bisikan kecil tentang masa depan yang belum tentu datang.
Sesuatu yang tidak pernah mereka minta… namun mereka terima kehadirannya, mereka cintai sepenuhnya.
Dan sesuatu itu—
direnggut oleh takdir dari mereka.
Terlalu cepat.
Terlalu tiba-tiba.
Tanpa memberi mereka kesempatan untuk menyapa bahkan sebelum ia lahir ke dunia.
Tubuh Faira mulai bergetar hebat. Tangannya mencengkeram test pack di tangannya semakin erat, seolah jika Faira melepaskannya, Faira akan kehilangan satu-satunya bukti bahwa semua kenangan itu pernah ada.
Dan di detik itu, semua yang selama ini Faira tahan akhirnya runtuh.
Faira terkulai ke lantai, lututnya tidak lagi mampu menopang tubuh.
Tangisnya pecah tanpa bisa Faira kendalikan, mengguncang seluruh pertahanan Faira.
Suaranya tertahan, tercekik di tenggorokan, namun air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya tanpa henti.
Faira tidak hanya menangisi kehilangan itu.
Faira menangisi semua yang tidak pernah mereka jalani.
Semua yang seharusnya bisa mereka miliki.
Semua versi kehidupan yang tidak pernah terjadi.
Dan di antara tangis yang mengguncang tubuhnya, satu kesadaran datang dengan begitu kejam.
Bahwa ternyata, Faira tidak pernah benar-benar meninggalkan apa pun.
Ia hanya… memaksakan dirinya untuk berjalan menjauh. Sementara sebagian dari dirinya tetap tertinggal di sana.
Bersama Hero.
Bersama sesuatu yang dulu pernah mereka sebut sebagai masa depan.
Calon anak mereka.
Yang bahkan belum sempat mereka beri nama.