Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Way Back Home
1
Suka
15
Dibaca

Langit terlihat cerah. Bulan sabit menggantung indah ditemani bintang gemintang yang bersinar terang.

Siapa pun yang menatapnya akan tersenyum bahagia. Tapi itu tak berlaku bagi Naira.

Gadis itu berdiri di atap gedung kantor nya. Lantai 40. Seharusnya itu menjadi tempat terbaik untuk menatap langit malam ini.

Air matanya menetes perlahan membasahi wajah cantiknya yang ditimpa sinar rembulan.

“Ma, kenapa mama meninggalkan ku sendirian. Mengapa tak mengajakku pergi bersamamu”. Ia berkata lirih pada angin malam yang menerbangkan helai rambutnya. Berharap sang angin akan menyampaikan pesannya.

“Aku bahkan tak tau lagi untuk apa sebenarnya aku hidup di dunia. Tak ada yang peduli padaku, tak ada yang menyukaiku”. Air matanya mengalir semakin deras.

Berbagai kejadian berputar di kepalanya, seperti menonton video tragis. Ayah yang tak peduli padanya, atasan yang selalu memarahinya, rekan kerja yang meliriknya dengan tatapan merendahkan, dan terakhir dirinya sendiri, yang meringkuk sendirian di ujung kamar kos-kosan.

“Ma, maafkan aku. Aku sudah tak tahan lagi. Aku ingin pergi. Menyusulmu”. Matanya terpejam. Ia sudah tak peduli lagi, bahkan jika api neraka sedang menunggu di bawah sana. Hidup di dunia sudah menjadi neraka baginya.

Kaki kanannya menginjak udara kosong.

Ting!....

Sebuah notifikasi pesan masuk.

Sepersekian detik sebelum ia benar-benar melayang. Pesan itu menyelamatkannya.

Ia mengurungkan niatnya. Matanya kembali terbuka, mundur beberapa langkah dari pinggir atap gedung. Entah mengapa Ia merasa harus membuka pesan itu.

Kapan kamu pulang Nak? Ayahmu kangen

Itu pesan dari ibu tirinya.

Sialan. Seharusnya Ia meloncat saja tadi, tak perlu membuka pesan tersebut.

Omong kosong!. Apa pedulinya mereka pada Naira. Omong kosong memintanya pulang, mereka hanya ingin mengejek Naira, memamerkan kebahagiaan keluarga baru mereka.

Naira menutup ponsel tanpa membalas pesan tersebut. Ajaibnya, pesan singkat itu membawa langkah kakinya untuk pulang.

Malam panjang Naira kembali terulang. Meringkuk di ujung kamar kos yang kosong. Menangis. Sendirian.

***

“Kenapa tak kau kirimi Naira pesan dengan nomormu sendiri? Kau tau sendiri dia tak pernah menyukaiku”. Pagi-pagi Ibu sudah mengomel sambil menyiapkan sarapan. Mengomeli Ayah yang hanya mendengarkan, tak menimpali. Masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Astaga, Kau ini rumit sekali. Apa susahnya mengirim pesan. Bilang kau rindu, ingin dia pulang”. Ayah masih bergeming.

Uhuk... uhuk... uhuk!!!

Batuk Ayah semakin keras. Beberapa bulan terakhir batuknya semakin parah. Fisiknya juga mulai melemah. Ayah tak lagi segagah dulu.

“Sudahlah hentikan. Akan ku bersihkan nanti”. Ibu menatap Ayah prihatin. Ayah tetap bersikeras untuk membersihkan kamar Naira. Melarang siapapun menyentuh kamar itu. Menatap Ibu datar.

“Baiklah, terserah Kau saja. Hati-hati, sedikit debu akan membuat batukmu semakin parah”. Ibu hanya bisa mengalah. Melanjutkan kembali pekerjaannya menyiapkan sarapan.

Brakkkk!!!

Baru sebentar Ibu meninggalkan Ayah. Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari kamar Naira. Jantung ibu berdetak cepat. Segera berlari ke sumber suara.

“Astaga!!!”

Ayah sudah tergeletak di lantai. Kepalanya bersimbah darah. Ibu berteriak-teriak panik memanggil siapapun untuk menolongnya.

***

Pagi ini Naira tak berangkat kerja. Kepalanya tiba-tiba terasa berat.

Dulu waktu Naira kecil, saat sakit, ayahnya akan memijat kepalanya, menggendongnya di punggung, mendongeng, atau melakukan apa saja agar Naira merasa lebih baik.

Air matanya kembali menetes mengingat momen tersebut. Entah mengapa tiba-tiba kenangan itu melintas di kepalanya. Secara tidak sadar Naira sungguh sangat merindukan ayahnya.

Pikirannya kembali melayang. Kali ini pada momen pertengkaran mereka. Saat itu Ibu baru meninggal 3 bulan. Naira yang masih berumur 12 tahun sakit keras. Badannya panas, menggigil. Entah apa yang dipikrkan ayahnya, Ia membawa seorang wanita ke rumah. Katanya, ayah akan segera menikah lagi. Hari itu dunia Naira runtuh seketika. Sejak saat itu naira tak lagi berbicara pada ayahnya.

Tahun berlalu dan hubungan mereka semakin canggung. Ayah sibuk dengan pekerjaannya, Ibu tirinya mengurus rumah, dan Naira lebih banyak diam, mengurung diri di kamar. Naira membenci Ibu tirinya, baginya Ibu tiri telah merebut Ayah darinya. Ia tak suka setiap kali Ibu tirinya mengajak bicara.

Puncaknya saat Naira kelas 3 SMP. Ibu tirinya hamil. Ayah tertawa bahagia mendengar kabar tersebut. Itu tawa pertamanya sejak Ibu meninggal. Dan dunia Naira runtuh untuk kesekian kalinya.

“Naira!, Ayah tak mengijinkanmu pergi!”. Ayah berteriak marah. Itu pertama kalinya Ayah meneriaki Naira.Naira masih mengingatnya. Hari itu hatinya hancur berkeping-keping.

Kejadian itu setelah kelulusan SMP. Naira sudah tak tahan lagi, Ia ingin pergi dari rumah.

“Jangan halangi Naira yah. Naira diam saat Ayah menikah lagi, kini jangan minta Naira untuk pulang”. Naira menatap tajam. Air matanya ia tahan agar tak keluar.

Ting!.....

Notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunannya.

Pulang Nak, Ayah sedang kritis

Sebuah pesan singkat dari Ibu tirinya. Seketika jantung Naira berdetak cepat membaca pesan tersebut. Kebenciannya luruh demi melihat kabar tersebut.

***

Udara terasa sejuk. Bunga matahari mekar terhampar luas sejauh mata memandang. Matahari pagi bersinar hangat. Indah sekali

“Mas Ray.....”. Sebuah suara memanggilnya. Ia mengenali suara tersebut. Suara yang selalu dirindukannya bertahun-tahun.

Ray menoleh, mencari-cari sumber suara.

Seorang gadis terlihat berlari kearahnya. Wajahnya bersinar tertimpa sinar matahari. Ia tersenyum anggun mengenakan dress berwarna putih.

Alissa. Istrinya. Gadis itu...

Senyumnya masih sama, sehangat matahari pagi. Tatap matanya masih sama, seindah sinar purnama.

Rasa bahagia membuncah di dadanya. Ray ingin berlari memeluknya, namun kakinya terpaku. Ray ingin berteriak memanggilnya, namun lidahnya membisu.

Gadis itu tersenyum. Berdiri beberapa meter di depannya.

“Selamat Pagi Mas”. Sebuah sapa hangat yang selalu Ray rindukan.

Ray masih membisu. Dia hanya bisa menatap gadis itu.

“Aku tau kamu pasti merindukanku. Begitu juga denganku. Namun, kamu masih harus menjaga Naira”. Gadis berkata pelan.

“Kamu tau dia sedang tak baik-baik saja....”.

“Kembalilah, pastikan kamu berbaikan dengannya. Peluk dia dan katakan Kamu sangat menyayanginya”.

Perlahan gadis itu hilang dari pandangannya. Ray berteriak panik tanpa suara.

***

“Ayahmu menghabiskan hari-harinya dengan merindukanmu Ra”. Ibu tirinya berkata pelan.

“Setiap hari dia membersihkan kamarmu. Berharap kamu akan merasa nyaman saat pulang”. Naira mulai terisak.

“Namun ayah dengan mudah melupakan aku dan Ibu. Ayah bahkan tak pernah menatap wajahku sejak Ibu meninggal”. Jawab Naira di sela isak tangisnya.

“Ayahmu tak pernah melupakan Ibumu sayang. Bagaimanalah dia akan kuasa menatapmu. Kau punya semuanya. Wajah itu, mata itu, senyum mu. Semuanya milik Ibumu”.

Naira semakin terisak.

“Mungkin kamu tak ingat. Saat itu kamu masih terlalu kecil. Kamu sakit keras beberapa bulan setelah Ibumu meninggal. Kamu demam tinggi, badanmu menggigil, nafasmu tersengal. Ayahmu sangat panik waktu itu. Dia yang memutuskan untuk tak menikah lagi, hari itu sadar bahwa Ia tak bisa merawatmu dengan baik sendirian. Akhirnya Ia memutuskan untuk menikah dengan ku”. Ibu tirinya menghela nafas berat.

Naira menangis. Air matanya tumpah tak tertahankan. Ibu tirinya menggenggam tangannya perlahan. Air matanya juga tumpah sejak tadi.

“Maafkan aku Naira. Maafkan aku tak berhasil membuka hatimu. Seharusnya aku bisa memperlakukanmu dengan lebih baik. Kau boleh membenciku sesukamu Ra. Tapi tolong,.... Tolong maafkan Ayahmu sayang. Dia tak pernah hidup untuk dirinya sendiri”.

Tangis Naira pecah. Ia memeluk Ibu tirinya untuk pertama kali.

“Maafkan Naira Bu. Naira telanjur membenci semuanya. Naira menutup hati, tak mau membuka mata untuk melihat dengan lebih baik. Sungguh maafkan Naira Bu”. Tangis keduanya pecah dalam pelukan.

“Tuhan... Aku tau diriku sungguh memalukan. Namun tolong beri satu kesempatan bagiku untuk meminta maaf pada Ayah. Aku belum sempat mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya”. Batin Naira berbisik lirih.

***

Jemari Ray bergerak perlahan. Matanya terbuka pelan.

Ia tak lagi berada di padang bunga matahari. Ia mengenali ruangan itu. Kamar rumah sakit. Kepalanya masih terasa sakit, namun itu tak lagi terasa saat putri yang sangat dirindukannya duduk di samping ranjangnya. Tertunduk menggenggam erat jemari Ray.

“Naira....”. Panggilnya pelan.

Naira mengengkat wajahnya.

“Ayah!”. Naira berseru melihat ayahnya sadar.

“Ayah. Tunggu sebentar. Naira panggilkan dokter”. Naira hendak berlari keluar. Namun tangan Ayah menahannya.

“Maafkan ayah sayang”. Kali ini Ayahnya menatap wajah Naira dalam.

Tangis Naira kembali pecah. Naira menggeleng.

“Naira yang seharusnya minta maaf yah”. Naira menggenggam erat jemari ayahnya sambil menangis.

Ray tersenyum. “Boleh ayah memelukmu sayang?”.

Naira menghambur ke pelukan ayahnya. “Ayah sangat menyayangimu Naira”.

Naira tak mampu lagi menjawab. Hanya air mata yang mampu mewakilinya.

Hari itu Naira sadar. Ia tak pernah sendirian. Ia hanya perlu membuka mata dan hatinya untuk menyaksikan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Way Back Home
kholifatussaadah
Cerpen
Bronze
Kartu Pos dari Berlin
Ren
Cerpen
Bronze
Takdir Berbalik
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Lima Kelopak di Taman yang Layu Sebelum Mekar
Nuryanti
Cerpen
Sekolah Orang Dalam
Putri Rafi
Cerpen
Bronze
The Supposer
Lail Arahma
Cerpen
Burung di Luar Sangkar
zain zuha
Cerpen
Bronze
Matahari Kembar di Langit Bruistagi
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Perempuan Pemakan Bangkai
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Cerpen
Kitab yang Ditulis oleh Bayangan
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Malam Dingin di Cigigir
Rafael Yanuar
Cerpen
(TAK) Harus Jadi PNS
Indira Raina
Cerpen
Bronze
Berjalan Menuju Merdeka
ardhirahma
Cerpen
Bronze
Ujung Fajar
Utia Nur Hafidza Rizkya Ramadhani
Cerpen
Bronze
Boneka Plastik
Sri Wintala Achmad
Rekomendasi
Cerpen
Way Back Home
kholifatussaadah
Cerpen
Buku Kehidupan Ali
kholifatussaadah
Flash
Menunggu Hujan Reda
kholifatussaadah
Flash
Selamat Tinggal
kholifatussaadah