Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
Bronze
Wasilah Cinta
2
Suka
2,668
Dibaca

"Maryam, tunggu!" seorang pria dengan kaos hitam, bercelana jins, berlari mengejar seorang wanita berambut panjang.

Wanita itu terus berjalan, pandangan matanya lurus, di telinganya terpasang headset yang tersambung ke MP3 player.

Pria itu berhasil mengejar dan berhenti di depan Maryam. Ia memegang kedua lututnya, napasnya tersengal.

Wajah Maryam langsung berkerut, matanya sedikit melebar, senyumnya hilang, "Ada apa lagi, Budi?!" Kedua tangannya memegang pinggang.

"Heh... Hoh..." Helaan napas terdengar, Budi berdiri tegak, tangannya menahan perut.

"Sorry, tapi gua... mau ngajak lu jalan malam minggu," ucap Budi, matanya menatap mata Maryam.

Maryam membuang muka, rona merah menjalar di wajahnya, lalu memandang Budi dengan tajam, "Sudah berapa kali gua bilang Budi, gua nggak suka lu, capek gua digangguin lu tiap hari!" bentak Maryam.

"Tapi–" Budi masih mencoba, dadanya bergetar mendengar kalimat itu.

"Nggak ada tapi-tapi, awas! Gua mau lewat." potong Maryam, ia lalu menabrak tubuh Budi, lalu berjalan, tanpa menengok ke belakang.

Budi menatap Maryam berjalan menjauh, dadanya sesak ia menunduk, memegang kepalanya. "Bodoh...bego lu, dah cari cewek lain." batinnya berkata.

"Tapi–

"Aaaaaaa," teriak Budi, mahasiswa yang belum pulang, menoleh, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Ia melangkah menuju jalan raya, ada warung kopi di sebrang kampus, yang jelas sekarang ia butuh segelas kopi dan sebungkus rokok.

---

Budi duduk di depan meja, segelas kopi panas terhidang, sebungkus rokok di samping gelas, mata memandang pantulan cahaya gelas, kenangan tiga tahun yang lalu terlintas.

Universitas Ibn Khaldun

Budi berdiri di tengah lapangan dengan dua orang mahasiswa lainnya. Hari itu Senin tanggal 27 Agustus 2010, masa orientasi mahasiswa baru.

"Nama lu siapa?" Seorang senior menunjuk dada Budi dengan tongkat bambu.

"Budi bang, Budi Cahyono," jawabnya dengan suara bergetar.

"Jurusan?"

"Teknik Sipil, bang."

Tiba-tiba seorang gadis datang memasuki gerbang kampus, mahasiswi senior langsung menghadang, menarik kerahnya.

"Mau kemana lu, enak aja, main masuk," bentak seorang mahasiswi berambut pendek.

Gadis itu berdiri membungkukkan badan, terlihat lututnya bergetar, "M-maaf kak, tadi anter ibu ke Puskesmas dulu," jawabnya.

"Nggak ada alasan, sekali terlambat tetap terlambat, kamu jalan jongkok ke kakak yang pake kerudung biru." Senior itu menunjuk, mahasisw...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp3.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
Bronze
Wasilah Cinta
Ahmad Iki Muqimudin
Cerpen
Bronze
Manasik
Kiiro Banana
Cerpen
Bronze
culture shock
Farhan Bashori Hasan
Skrip Film
Asa Beragama
Kumara Rajendriya Kamandaka
Novel
Bronze
Kita Bertemu di Korea
LeeNaGie
Cerpen
Bronze
Titipan Rindu
Rinz Sugianto
Cerpen
Bronze
Perahu Nuh
Bisma Lucky Narendra
Novel
Romancing Mr. CEO
Awan Senja
Novel
Gold
Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (Republish)
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Pajak Itu Zakat
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Lelaki di Seberang Istiqlal (Membicarakan Adam 14)
Silvarani
Novel
Gold
Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Sosial (REPUBLISH)
Bentang Pustaka
Novel
Semua Akan Pulang Pada Waktunya: TΣBU- Anteb ing Kolbu
Erik Armayuda
Novel
Gold
Reclaim Your Heart
Noura Publishing
Novel
Bronze
Manusia Yang Telah Ditakdirkan
Relung Fajar Sukmawati
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Wasilah Cinta
Ahmad Iki Muqimudin
Novel
Bronze
Takdir Sang Pencopet
Ahmad Iki Muqimudin