Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Maryam, tunggu!" seorang pria dengan kaos hitam, bercelana jins, berlari mengejar seorang wanita berambut panjang.
Wanita itu terus berjalan, pandangan matanya lurus, di telinganya terpasang headset yang tersambung ke MP3 player.
Pria itu berhasil mengejar dan berhenti di depan Maryam. Ia memegang kedua lututnya, napasnya tersengal.
Wajah Maryam langsung berkerut, matanya sedikit melebar, senyumnya hilang, "Ada apa lagi, Budi?!" Kedua tangannya memegang pinggang.
"Heh... Hoh..." Helaan napas terdengar, Budi berdiri tegak, tangannya menahan perut.
"Sorry, tapi gua... mau ngajak lu jalan malam minggu," ucap Budi, matanya menatap mata Maryam.
Maryam membuang muka, rona merah menjalar di wajahnya, lalu memandang Budi dengan tajam, "Sudah berapa kali gua bilang Budi, gua nggak suka lu, capek gua digangguin lu tiap hari!" bentak Maryam.
"Tapi–" Budi masih mencoba, dadanya bergetar mendengar kalimat itu.
"Nggak ada tapi-tapi, awas! Gua mau lewat." potong Maryam, ia lalu menabrak tubuh Budi, lalu berjalan, tanpa menengok ke belakang.
Budi menatap Maryam berjalan menjauh, dadanya sesak ia menunduk, memegang kepalanya. "Bodoh...bego lu, dah cari cewek lain." batinnya berkata.
"Tapi–
"Aaaaaaa," teriak Budi, mahasiswa yang belum pulang, menoleh, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Ia melangkah menuju jalan raya, ada warung kopi di sebrang kampus, yang jelas sekarang ia butuh segelas kopi dan sebungkus rokok.
---
Budi duduk di depan meja, segelas kopi panas terhidang, sebungkus rokok di samping gelas, mata memandang pantulan cahaya gelas, kenangan tiga tahun yang lalu terlintas.
Universitas Ibn Khaldun
Budi berdiri di tengah lapangan dengan dua orang mahasiswa lainnya. Hari itu Senin tanggal 27 Agustus 2010, masa orientasi mahasiswa baru.
"Nama lu siapa?" Seorang senior menunjuk dada Budi dengan tongkat bambu.
"Budi bang, Budi Cahyono," jawabnya dengan suara bergetar.
"Jurusan?"
"Teknik Sipil, bang."
Tiba-tiba seorang gadis datang memasuki gerbang kampus, mahasiswi senior langsung menghadang, menarik kerahnya.
"Mau kemana lu, enak aja, main masuk," bentak seorang mahasiswi berambut pendek.
Gadis itu berdiri membungkukkan badan, terlihat lututnya bergetar, "M-maaf kak, tadi anter ibu ke Puskesmas dulu," jawabnya.
"Nggak ada alasan, sekali terlambat tetap terlambat, kamu jalan jongkok ke kakak yang pake kerudung biru." Senior itu menunjuk, mahasiswi yang berada di depan.
Dengan lutut bergetar, gadis itu memaksa berjalan jongkok, peluh bercucuran membasahi kemeja putih, mukanya merona terkena sinar matahari, saat itulah–
Pandangan mata Budi tertuju kepada gadis itu, satu ide melintas di kepalanya, ia menengok ke kiri ke kanan, lalu berlari ke arah gadis itu.
"Hey! mau kemana lu?" teriak seorang mahasiswa senior yang memakai topi.
Budi mempercepat larinya, tepat di depan gadis itu, ia pura-pura tersandung, terjatuh menyerempet gadis itu.
Gadis itu terjatuh bersimpuh,
"Cepat pura-pura pingsan," bisik Budi.
Gadis itu mengangguk, memegang keningnya, lalu jatuh,
Mahasiswa-mahasiswa senior yang menjadi panitia mendekat.
Budi berdiri, badannya sengaja di getarkan, tangannya memegang perut, mulutnya meringis,
M-maaf kak, saya nggak kuat pengen–"
DUUUT
PRET PRET
semua orang yang mendekat, menutup hidungnya, bau busuk tercium.
DUGH
Sebuah tendangan melayang mengenai pantat Budi,
"Sana ke WC dulu," bentak mahasiswa yang berambut cepak.
Budi mengangguk lalu berlari ke arah kamar mandi, dia menoleh lalu tersenyum, melihat gadis itu ditandu tim kesehatan kampus.
---
Budi memijit keningnya, ia mengangkat gelas kopinya, seorang pria masuk ke dalam warung.
"Woy, ngopi dewe-dewe bae Bud," tegur pria itu, lalu duduk di samping Budi.
Budi melirik, meminum kopinya lalu menyalakan rokok untuk sekian kalinya.
Pria itu memandang Budi, menghela napas, mengambil sebatang rokok, menyalakannya.
Hening.
"Lu nggak masuk kelas Bu Nurma, Bud?" tanya Joko.
Budi hanya menggeleng pelan, "Gua sakit," jawabnya.
"Hahaha, kocak! Mending lu pindah jurusan sastra."
"Kenapa?" tanya Budi pelan.
"Gimana mau merencanakan sebuah bangunan, kalau bangunan di hati lu sudah runtuh."
Budi tersenyum kecil, "Bisa aja lu, lagian gua tinggal 4 sks lagi,"
"Gua salut sama lu, walau hati lu hancur lebur, tapi nilai lu nggak ikut hancur." Joko berkata sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Setidaknya gua masih ada harapan, lulus kuliah gua langsung lamar saja maryam ke orangtuanya."
"Nekad lu, kalau ditolak?"
"Perjuangin!" Budi mengeluarkan ponselnya, melihat foto Maryam yang ia jadikan wallpaper
Joko melihat sahabatnya yang terkenal di kampus, mahasiswa pintar yang dijuluki 'militan cinta'.
"Gua pinjam gocap dong!" Alis Joko dinaik turunkan menggoda.
Budi mengeluarkan dompet, mengambil selembar uang lima puluh ribu, "Nggak usah diganti, desain gua dibayar mahal kemarin."
Joko tersenyum kecil, "Makasih, lu memang sobat gua yang paling the best."
"Kaya sama siapa aja, doain aja hati Maryam luluh." Budi menarik napas, dadanya lega, "Gua masih beruntung, Joko berjuang sendiri membiayai kuliahnya, ayah ibunya sudah nggak ada," lirihnya.
"Lu kagak masuk?" tanya Budi.
"Bentar lagi, gua juga tinggal 6 sks, memang lu doang yang pinter." Joko mengepalkan tangan di dada berpose.
"Gaya lu, gua juga bingung sama lu, kenapa milih jurusan bahasa inggris, nama lu Joko," ledek Budi.
Joko mengambil sebatang lagi, "Itulah seninya, gua nggak ada waktu buat galau, bagi gua kehidupan hanya jokes, hehe." Joko menjawab sambil tertawa.
Joko melihat jam dinding, "Gua masuk dulu, nanti malam gua doain lu biar sukses dunia, percintaan dan akhiratnya."
"Amiin, doa anak yatim piatu pasti terkabul."
Joko bangun, menepuk bahu Budi, "Sialan lu, tapi memang doa gua mujarab." Melangkah keluar warung.
Budi memandang punggung Joko, "Setidaknya gua nggak pernah kelaparan." Mata Budi berkaca-kaca, ia meneguk kopi yang tinggal sedikit, lalu keluar setelah membayar.
Siang itu keyakinan tertanam kuat setelah berbagi dengan sesama.
---
POV Maryam
Namaku Maryam, anak ke-2 dari tiga bersaudara, aku bukan anak yang paling pintar, bukan anak yang paling kuat, orang-orang di sekitarku berkata, aku anak yang paling cantik.
Pendidikan termasuk yang paling tinggi di dalam keluarga. Kakakku Sarah hanya lulusan SMK yang langsung dilamar pacarnya tepat setelah penerimaan ijazah sekolah, sedangkan adik bungsuku Surya, menunda kuliahnya setelah dapat tawaran kerja di Kalimantan, gaji yang tinggi membuatnya malah memutuskan drop out selamanya dari kampus.
Bapakku yang seorang guru, menaruh harapan ke pundakku, agar minimal aku mendapat gelar sarjana.
Masalah yang pertama datang, aku bukan orang yang pintar secara akademik. Nilai ujianku hanya rata-rata hanya tujuh, berbanding terbalik dengan nilai kesenian dan bahasa yang mencapai nilai sempurna.
Mempunyai keunggulan otak kanan malah menjadi aib di dalam keluarga yang rata-rata pendidik dan pengajar.
Bapakku kecewa ketika tidak satu pun aku lulus SPMB : Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru., yang bapak selalu menyebutnya UMPTN. Dadaku terasa sesak, melihat nama dan nomorku tidak ada di koran.
Mataku basah bukan karena tidak lulus, lebih ke rasa protesku kepada langit, "Tolong, beritahu bapak!" lirihku dalam hati.
Akhirnya bapak memasukkanku ke Universitas Swasta yang ada di kota Bogor, Universitas Ibn Khaldun, terkenal dengan sebutan UIKA.
Aku hanya mengangguk, mataku melihat tanah, tanganku lemas, aku melangkah gontai–masuk ke dalam kamar.
---
Pagi itu, aku bangun kesiangan, setelah semalaman menyiapkan peralatan yang harus dibawa ketika Ospek.
Bapak yang duduk di depan meja makan, memandangku, "Maryam, kamu belum berangkat juga?!" tegur bapakku dengan nada naik.
"Sebentar pak, ini langsung berangkat," jawabku sambil menghampiri bapak, mencium tangannya lalu berlari keluar, menaiki angkot yang lewat.
Mataku memandang rumah yang semakin menjauh, aku mengepalkan tangan, "Sudah terima saja!" Teriak hatiku, mengalihkan pandanganku ke depan.
---
Aku turun dari angkot dengan langkah lemas, aku menyodorkan ongkos, lalu melangkah memasuki gerbang bertuliskan, UNIVERSITAS IBN KHALDUN.
Baru dua langkah memasuki gerbang, tanganku tiba-tiba ada yang menarik.
"Mau kemana lu? Enak aja main masuk," bentak seorang Mahasiswi berambut pendek dengan kartu panitia tergantung di dadanya.
"Maaf kak, tadi antar adik ke Puskesmas dulu." Hanya itu alasan yang terlintas di benakku.
"Terlambat tetap terlambat, nggak ada alasan apapun."
Badanku bergetar, perutku perih, hanya air putih yang sempat aku minum pagi tadi.
"Lu liat kakak yang pakai kerudung biru, lu jalan jongkok sampai kesana." Mahasiswi itu menunjuk seorang perempuan yang berdiri hampir sejauh 200 meter.
"Cepat!" Teriaknya.
Dengan terpaksa aku berjongkok, lalu berjalan perlahan, matahari seperti sedang senang, buktinya baru jam sembilan, ia sudah tersenyum panas.
Setengah jalan, aku berhenti sejenak, perutku semakin perih. Dan entah kenapa dari arah sebelah kananku seorang lelaki–mahasiwa baru berlari ke arahku,
BRAAK
Ia terjatuh, tangannya menyerempet bahuku, ia berbisik, "Cepat, pura-pura pingsan."
Otakku memproses dengan cepat, aku menjatuhkan diri, memejamkan mata, mulutku sedikit terbuka, sampai telinga mendengar suara yang kukenali, menyusul bau busuk yang mampir di hidungku, tapi aku tidak berani bergerak.
"Maaf kak, nggak kuat." Lalu terus berlari.
"Ini orang kenapa?" Salah seorang panitia yang memakai topi menunjukku yang sedang terbaring di atas tanah.
"Pingsan," jawab seorang mahasiswi yang memakai baju putih.
"Bawa ke klinik, bau tadi memang bikin pingsan." Mahasiswa bertopi tadi mengibaskan udara dengan tangannya.
Aku merasa tubuh diangkat, lalu diletakkan di atas tandu.
---
Ospek sudah berakhir lusa kemarin, hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah, jurusan yang kuambil adalah jurusan pendidikan.
Seminggu ospek, ternyata sedikit melegakan dadaku, beban di pikiranku sedikit berkurang, ada sepercik semangat untuk kuliah mulai menyala.
Aku turun dari angkot, seperti hari pertama ospek, bedanya aku sekarang memakai almamater warna hijau tua dengan logo kuning di bagian dada.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling kampus, gedung fakultasku berada di sebelah kiri, mataku terpaku ke seorang pria memakai kaos dan celana jins. Ia menengok ketika aku lewat di sampingnya, pandangan mataku beradu dengan pandangan matanya.
Ia melangkah menghampiriku sampai kami berdiri berhadapan.
"Terimakasih." Hanya itu kata yang bisa kuucapkan.
Ia tersenyum, mengulurkan tangan, "Budi Cahyono, teknik sipil, dan namamu?" tanyanya, sinar matanya berubah, hangat.
Aku menjulurkan tangan, "Maryam." Rasa hangat menjalar dari tangan mengalir ke dada.
Ia melepaskan genggamannya, merogoh kantongnya. "Boleh minta nomor?"
Aku ingin menggeleng tapi kenapa daguku berat mengikuti gravitasi.
Budi memberikan ponselnya kepadaku, aku mengetikkan nomorku lalu memberikannya kembali.
"Aku save ya, nanti aku miscall."
Ia melambaikan tangan sambil berlari menuju ke fakultas teknik yang berada di sebelah barat. Dan aku hanya membalas dengan anggukan. Aku tersenyum, berjalan dengan cepat menuju gedung fakultas pendidikan.
Aku tidak akan menyangka pertemuan tadi, akan berubah menjadi tragedi.
---
Maryam duduk di kantin, sendirian, di depannya segelas es jeruk dan batagor.
Teriakan Budi tadi di tengah lapangan, membuatnya pikirannya buyar, Maryam masih ingat awal-awal masa perkuliahan, hangat, manis.
Maryam meneguk es jeruk, memakan satu suapan kecil batagor, memejamkan mata, terlihat seperti menikmati tapi padahal sedang mengusir gemuruh di dadanya.
"Andai saja, keluargaku tidak memojokkanku, mungkin aku sukarela menyerahkan hati ini untuk kau jaga.
Setetes air mata jatuh ke meja, ia buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.
---
Joko menunggu Budi di depan kelas fakultas teknik, ia sengaja duduk di tangga, mengeluarkan buku, mengerjakan rangka skripsi.
Budi keluar dari kelas, ia terbiasa tidak berada di kelas setelah jam habis. Ia melihat Joko sedang sibuk menulis.
"Tuh bocah, malah belajar di situ," gumamnya.
"Wooi, jokes!" teriak Budi, ia berjalan mendekat.
Joko mengangkat wajahnya, melihat Budi sudah ada di hadapannya.
"Ngapain lu?" tanya Budi, tangannya berada di pinggang.
Joko memasukkan bukunya, "Sholat," jawabnya singkat.
Budi mengalihkan pandangan ke taman, "Males gua, nanti aja mending kita ke kantin." Budi mencoba mengajak.
"Habis shalat saja, lu katanya habis lulus, lu mau melamar Maryam, gimana mau kuat mimpin rumah tangga, kalau lu kagak ingat Tuhan."
Budi langsung tersentak, menarik lengan Joko, "Hayu shalat, tapi jangan kencang-kencang teriaknya. Malu gua." bisik Budi.
Joko menyeringai, "Malu sama Tuhan!" tegur Joko.
Budi tersenyum canggung, mereka berdua berjalan bersisian, menuju masjid kampus yang terletak di tengah-tengah area kampus.
---
Selesai shalat, mereka berdua duduk di teras masjid, sejuk dan damai, udara berhembus bertiup dari pepohonan sekitar masjid.
Joko bersila, memandang jalan raya yang terlihat dari celah pagar besi pembatas. Matanya meredup, jarinya menyusuri garis antar keramik teras.
"Nanti sore, gua boleh ke rumah lu." Joko berkata membuka percakapan.
Budi yang ikut memandang jalan, menoleh.
"Sok aja, kayak sama siapa saja," jawab Budi singkat.
"Semua orang ternyata menghadapi masalah masing-masing, masalah gua, hanya gua yang bisa menghadapi... Masalah lu, juga hanya lu yang bisa menyelesaikan." Joko memegang tenggorokan.
Budi membuka tasnya, mengeluarkan sebotol air mineral, "Kebanyakan prosa jadinya haus," ledek Budi.
Joko tertawa kecil, mengambil botol minum Budi dan meneguknya.
"Masalah biaya kuliah, buat gua guncang Bud." Joko kembali berkata.
Budi menghembuskan napas, memegang bahu Joko, "Masalah gua sama kaya masalah Sangkuriang." Matanya kembali menatap jalan
Giliran Joko yang menoleh, dahinya berkerut.
"Maksudnya–"
"Mencintai orang yang salah." Lirih Budi، lalu tertawa sarkas.
Mulut Joko terbuka, tapi tertutup kembali.
Budi bangun, "Yang penting jurusan lu, bukan ekonomi."
Joko kembali mengerutkan dahi, "Memang kenapa?"
"Orang ekonomi tapi dilanda kesulitan ekonomi, bunuh diri namanya haha."
Joko tertawa terbahak-bahak, "Bisa aja, lu."
"Tenang Jokes, lu sobat gua, gua pinjemin berapa pun, nggak diganti pun nggak masalah."
Joko menunduk, tangannya mengusap mukanya. Budi melihat pipi Joko sedikit basah, "Yah, mewek!"
Joko mengacungkan tinju, "Sialan emang."
Budi melangkah, "Kantin, gua lapar."
Joko mengikuti dari belakang, "Besok, kebaikan lu pasti gua balas," lirihnya. Satu cahaya masuk ke kepala joko, seperti membisikkan sesuatu, Joko mengangguk.
---
"Password komputer apa?" tanya Joko sambil menekan tombol power.
Budi melepas jaket, menggantungnya dibalik pintu. "Rajin amat, gua aja yang pinter, biasa saja."
Joko tertawa, "Beda nasib Bud, buru paswordnya apa?" Sambil mencoba mengetikkan sesuatu.
Budi baru saja mau menjawab, melihat layar komputernya sudah terbuka, "Itu, lu tahu," ujarnya.
Joko menyeringai, "Maryam, passwordnya, haha."
Budi tersenyum, mukanya memerah, "Lu mau makan nggak?" tanya Budi, mengalihkan.
"Nanti aja, gua mau ngetik bab dua dulu."
"Ya udah, gua tidur dulu, nanti ashar bangunin, ada roti sama buah di dalam kulkas." Budi memejamkan mata, tak lama ia pun terlelap.
Joko memasukkan disket kedalam komputer, membuka file skripsi, lalu mulai sibuk, nanti malam ia berencana mengajak Budi mengunjungi seseorang.
Udara sejuk berhembus dari luar rumah, awan menutupi cahaya matahari, dari kejauhan mendung mulai datang.
---
Rumah itu terlihat asri, di sebelah kanannya terlihat bangunan luas berkubah, di sebelah kiri berderet bangunan kayu yang di petakan menjadi kamar-kamar kecil.
"Jokes, ini bener disini?" Budi mengamati sekeliling, di pintu gerbang tertulis, 'Pondok Pesantren Darul Muttaqin'.
Joko mengangguk, "Iya Bud, tapi gua juga baru kesini. Hayu masuk," ajaknya.
Mereka berdua melangkah memasuki gerbang pesantren. Seorang santri menghampiri, "Assalamualaikum, mau bertemu siapa?"
Budi menyikut pelan tangan Joko, "Waalaikumsalam, kami mau bertemu Ustad Fahmi."
Santri itu mengangguk, "Mari, akang kebetulan baru selesai mengajar, biasanya beliau sedang ngopi di belakang."
"Mangga a, tunggu dulu disini, saya ngasih tahu akang dulu, mudah-mudahan beliau berkenan."
Joko berbisik, "Mudah-mudahan, cita-cita kita terkabul."
---
Santri yang tadi kembali menghampiri Joko dan Budi, "Mangga a, akang menunggu di ruangan belakang."
Mereka berdua kembali mengikuti santri tersebut, sampai ke sebuah ruangan di belakang rumah.
Dinding ruangan itu berwarna krem dengan cat plafon berwarna putih, seorang pria duduk di sofa, memakai kaos putih panjang, memakai kopiah hitam, beliau adalah Ustad Fahmi, seorang alim yang sudah berumur lima puluh tahun lebih.
Budi menunduk ketika melihat sosok Ustad Fahmi, tiba-tiba bahunya bergetar, dadanya berdetak kencang.
Santri mengucapkan salam, mempersilahkan mereka berdua masuk.
Joko mencium tangan Ustad Fahmi diikuti oleh Budi.
"Mangga duduk," ucap Ustad Fahmi mempersilahkan. "Darimana akang-akang ini?"
"Dari Cilebut Ustad," jawab Joko pelan.
"Jauh juga ya, nama siapa?" Pandangan Ustad Fahmi menatap mereka berdua.
Budi tidak kuasa menjawab, ia hanya tertunduk diam.
"Saya Joko, ini temen saya Budi." Joko menjawab sambil mengangguk.
Ustad Fahmi memandang ke atas, "Alhamdulillah, calon surga," gumamnya.
Mereka semua terdiam sejenak,
"Nama kamu Budi?" tanya Ustad Fahmi dengan tiba-tiba.
"I-iya ustad," jawab Budi, "S-saya mau minta bantuan, Ustad."
"Maryam namanya ya," tebak Ustad Fahmi.
Joko mengangkat kepalanya, mulutnya terbuka, begitupun Budi disebelahnya kembali mengusap lehernya.
"Ustad, k-kok bisa tahu."
Ustad Fahmi tersenyum, "Kalau saya kasih dzikiran, mau nggak ngamalinnya."
"Dzikir–, dzikir kaya gimana Ustad?"
"Bismillah seribu, setiap habis shalat."
Budi tercengang, Joko mengangkatkan wajahnya menatap Ustad Fahmi.
---
"Bud, bangun." Joko menggoyangkan tubuh Budi. "Dah waktunya shalat hajat."
"Duluan aja jok, gua masih ngantuk," jawabnya, matanya kembali tertutup.
"Katanya, akan kulakukan segalanya untuk Maryam, tapi–"
Budi langsung meloncat bangun, "Diam jok! Oke diam, tiga tahun gua sudah berkorban."
Joko tersenyum, "Berarti tidak masalah, kalau hanya ibadah sepertiga malam?"
Budi memegang kepala dengan kedua tangannya, "Aaaaaaa–, Maryam kamu menyiksaku."
"Berisik Bud, ganggu orang, cepet wudhu, kita bareng shalatnya." Joko menghamparkan sajadah di samping ranjang.
Budi mendelik, lalu berdiri sempoyongan, menuju kamar mandi.
Joko berdiri melihat ke atas, menghembus napas, meringankan dadanya yang berat.
---
"Assalamualaikum, warohmatullah."
Budi mengusap wajahnya, mencolek bahu Joko.
"Habis ini bagaimana jok?"
"Bentar, gua baca catatan dulu yang dikasih Ustad Fahmi" jawab Joko, ia mengeluarkan selembar kertas.
Budi menunggu, tapi pikirannya melayang ke hari kemarin.
---
"Nak Budi tahu tentang takdir." Ustad Fahmi menatap tajam.
Budi mengangguk lalu menggeleng, "Saya tidak tahu jelas, Ustad. Setahu saya takdir itu jalan hidup yang ditentukan oleh Tuhan."
Ustad Fahmi tersenyum, "Kalau Maryam bukan jodoh Nak Budi, bagaimana?"
Budi menundukkan kepala, "Saya tidak tahu, apakah hati saya akan kuat, Ustad?"
Pandangan Ustad Fahmi beralih kepada Joko, "Ayah dan Ibumu ingin dilongok."
DEGH
Joko menatap pandangan Ustad Fahmi, dahinya berkerut.
"Nak Joko, paham maksud saya?"
Joko menggeleng, kemana ia harus melongok sedangkan orangtuanya sudah tiada.
"Ziarah Nak Joko. Kamu sering merasa tidak beruntung karena sudah kehilangan, kamu sering menyalahkan takdir, betul begitu Nak Joko?"
Wajah Joko memerah–menunduk, tak lama suara tangis terdengar.
"Maafkan saya Ustad." Tangan Joko terkepal, bahunya bergetar.
"Jangan minta maaf ke saya, minta ampun pada orangtuamu. Makam orangtuamu tidak jauh, hanya seratus meter dari rumah."
Joko mengangguk, "Iya Ustad, saya nggak tahu."
"Besok-besok sempatkanlah ziarah, doakan orangtuamu. Sanggup?"
"Sanggup Ustad."
---
"Waladdholiin. Amiin."
"Dzikirnya masing-masing, istighfar 100, Shalawat 100 dan Bismillah 1000." Mereka berdua mulai memutar tasbih mereka.
Lantunan Dzikir terdengar lirih di atas bumi tapi menjerit kencang di langit.
---
Budi berjalan perlahan melalui lorong, menuju kelas yang berada di pojok, mulutnya mengucap bismillah berulang kali.
Semalaman dia berjuang menyelesaikan bismillah, tasbehnya berulangkali jatuh karena tertidur. Sehingga ia mengira-ngira berapa jumlah yang sudah ia baca.
Tadi pagi mereka berdua berangkat kuliah dalam keadaan mengantuk berat. Ada mata kuliah penting yang harus diselesaikan untuk lulus tahun depan.
Budi melihat jam, "Masih setengah jam, ngopi dulu ah, mata sepet," pikirnya.
Budi duduk di depan meja dengan secangkir kopi hitam.
"Woii Bud, tumben lu kesini." Faldano menghampirinya.
"Ngantuk gua, jadinya ngopi dulu." Budi menyalakan sebatang rokok. "Rokok Fal," tawarnya.
Faldano duduk di samping Budi, ikut menyalakan sebatang rokok, mengisapnya perlahan lalu meniupkannya.
"Lu lagi ngapalin apa?" Faldano menoleh, telinganya menangkap suara lirih yang keluar dari mulut Budi.
Budi mengatupkan mulutnya, "Rumus Statika 2," jawabnya asal. "Gawat, nanti dikira gua melet Maryam lagi," gumamnya.
"Owhh, bukannya dah lulus?" Faldano masih penasaran.
Budi mengalihkan pandangannya ke plafon kantin. "Takut lupa, hehe."
"Kerajinan lu," ledek Faldano.
Budi bernapas lega.
---
Joko menatap dua buah makam bersampingan yang dipenuhi rumput liar, ia berjongkok, mengusap nisan yang basah oleh gerimis pagi itu.
"Bapak–"
"Ibu–"
Joko mulai mencabuti rumput, sedikit demi sedikit, sehelai demi sehelai.
Mulut Joko berdzikir lirih, "Bismillah... Bismillah."
Dadanya sesak oleh rasa rindu yang membuncah, 18 tahun sudah ayah dan ibunya wafat, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan, mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah truk sampah yang sedang melaju.
Joko waktu itu masih berumur 5 tahun, ia belum terlalu mengerti arti kehilangan. Ia dirawat neneknya, lalu pindah ke rumah paman ketika neneknya meninggal.
"Al-fatihah," suara lirih Joko membaca surat Fatihah, pembuka dari semua surat di dalam Al-Quran.
Selesai berdoa, Joko terdiam lama melihat kedua makam yang telah bersih kembali.
"Maafin Joko, anakmu yang durhaka, yang baru datang, yang jarang mendoakan, yang–" suara itu terputus oleh tangis.
"Yang durhaka," tangannya menggenggam ujung nisan. "Maafin Joko, maafin."
---
"Akhirnya selesai juga," gumam Budi, meregangkan tubuh. Ia pun bangun dari kursinya, melangkah keluar kelas.
Budi memutuskan untuk pulang, ia ingin tidur sebentar sampai waktu Dzuhur. Ia bertekad menyelesaikan amalan dzikirnya selama 7 hari. Ia melangkah ringan menuju parkiran motor, tiba-tiba langkahnya terhenti, mata membeku ke satu titik. "Maryam."
Budi memandang Maryam yang sedang memandang dirinya.
"Hai." Tangan Budi melambai.
Maryam berjalan mendekati Budi, wajahnya datar tanpa senyum, "Minggu depan–aku tunggu di cafe biasa jam delapan malam, ingat malam Minggu jam delapan." Lalu berjalan melewati Budi yang membeku, tanpa menoleh lagi.
Pandangan mata Budi kosong, detak jantungnya pelan, kemudian perlahan berdetak-detak kencang. Ia melompat ke atas sambil berteriak kencang.
"Amalan Ustad Fahmi mujarab, ngantuk gua jadi hilang," serunya.
"Lu kenapa lagi?" Sebuah teguran berasal dari belakang.
Budi menoleh berlari dan memeluk Joko. Joko kaget, melepaskan pelukannya, "Apa-apaan sih?" tegurnya.
"Maryam Jok, dia–"
"Iya, Maryam kenapa? Lu dibentak lagi? Sehari juga belum dzikirnya," ucap Joko ketus, ia mengira Budi nekat nyamperin Maryam.
"B-bukan Joko, Maryam t-tadi." Suara Budi terputus lagi.
"Diem, bentar!"
PLAK..
Budi mengusap pipinya, "Tega lu!"
Joko tertawa, "Lebih baik sakit di dunia nyata daripada senang dalam khayalan."
"Maryam, malam Minggu ngajak ketemuan." Budi akhirnya bisa berbicara normal.
Joko melotot, "Beneran?"
Budi mengangguk kencang, "Asli nyata, tadi di sini, gua papasan, trus d-dia." Ucapan Budi terputus lagi.
Joko sudah mengusap-usap telapak tangannya, matanya melirik pipi Budi yang sebelah kiri.
"Dia ngajak ketemu, malam Minggu besok, demi! Gua nggak bohong."
Joko ikut meloncat, sambil berteriak.
PLAAK
Joko mengusap pipinya, Budi tersenyum sinis, "Satu sama."
---
Budi bercermin di depan kaca lemari, memutar-mutar badannya.
Joko yang masih sibuk mengetik skripsi, menggeleng melihat tingkah laku Budi.
"Jangan kesenengan Bud, takut unexpected."
Budi menoleh, bibirnya maju. "Kali-kali Jokes, gua pan sudah rajin wirid seminggu ini."
Joko berhenti mengetik, ia memutar kursinya ke arah Budi, matanya menatap tajam, "Kalau kejadiannya diluar harapan, apakah lu bakal menyalahkan wiridan?!"
Budi mengalihkan pandangan dari mata Joko. "Maaf Jok, kayanya lu bener, gua terlalu over excited."
Joko memutar kembali kursinya, melanjutkan mengetik, sambil bergumam lirih, "Jangan sampai harapan kita, melebihi cinta kita pada Tuhan."
Budi mengangguk pelan, mengambil tas pinggangnya, membuka pintu. "Doain gua jok, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Joko menjawab singkat, tangan mengetikkan sebuah kalimat, 'Semoga berhasil kawan'.
---
Maryam duduk di pojok sebuah cafe, dulu masa awal kuliah, ia dekat dengan Budi, tapi keadaan yang memaksanya untuk meremukkan cinta yang telah berakar.
3 tahun yang lalu
"Maryam, sini bapak lihat nilai semester dua," ucap bapak ketika aku baru saja tiba dari kampus.
Jantungku berdetak kencang, tanganku bergetar ketika membuka resleting tas.
Bapak langsung merebut tasku, mengambil transkip nilai,
Muka bapak langsung memerah, tasku dibanting begitu saja.
"Apa ini Maryam!" Bapak meremas kertas nilai itu.
Aku melirik, di kertas itu tertulis 'IPK 2,1.
"Kamu bolos?" bentak bapak.
Aku menggeleng, dadaku mulai sesak.
"JAWAB MARYAM!"
"M-maryam... nggak pernah... minta dikuliahkan," jawabku tersendat. "Bapak, nggak pernah mau mendengarkan Maryam." Nada suaraku mulai tinggi.
Bapak menatapku tajam, lalu bangun melewatiku tanpa sepatah kata pun.
Aku terduduk bersimpuh, terisak.
Semenjak itu, bapak tidak pernah mau bicara lagi padaku.
---
Budi berjalan mendekati Maryam yang sedang duduk di pojok cafe.
"Assalamualaikum, maaf lama," ucap Budi, ia menarik kursi–duduk di hadapan Maryam.
Maryam hanya menatap sebentar, "N–nggak apa, aku juga baru datang." Tangannya mengaduk es kopi.
Budi mengamati pipi Maryam terlihat basah, "Aku pesan dulu," Budi beranjak ke arah kasir.
Setelah memesan Budi kembali duduk di hadapan Maryam, "Kamu nggak apa-apa?"
Maryam mengangkat wajahnya, "Aku mau nikah, maaf!"
Budi terdiam membeku, tangannya dikepalkan menahan tubuhnya yang mulai bergetar.
"Aku hanya ingin memberitahu, bahwa selama ini aku tidak pernah membencimu."
Budi mengalihkan pandangan ke arah lain, memejamkan mata.
"Kenapa?... kamu harus memberitahuku... bukankah lebih baik membiarkan aku saja," ucap Budi dengan lirih.
Air mata Maryam mengalir, "Aku hanya ingin– sekali saja mengungkapkan apa yang aku rasakan... maaf apabila ini terdengar tidak adil bagimu," Maryam mengusap air mata dengan ujung jari.
Budi menarik napas panjang, menghembuskan dengan kencang.
Maryam berdiri, "Maafkan aku, aku menyukaimu dari semenjak kita bertemu." Berlari meninggalkan Budi yang terdiam.
---
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar pelan, Joko bangun, ia baru saja akan memejamkan mata.
Joko membuka pintu, di depan pintu Budi berdiri dengan pandangan mata kosong, rambutnya berantakan.
"Bud–" kalimat itu terpotong oleh Budi yang langsung memeluk Joko.
Joko mengusap punggung Budi, membiarkannya melampiaskan kesedihan. Ia tahu ada kesakitan yang tidak bisa diceritakan dan ini bukanlah penolakan biasanya.
Budi melepaskan pelukannya, mengusap air matanya, "Lu belum tidur jok," Budi tersenyum.
"Baru mau merem, kirain gua lu bakal datang pagi." Joko menjawab dengan santai.
Budi menyodorkan plastik hitam, "Temenin gua ngopi, gua beli rokok buat lu."
Joko membuka plastik itu, "Lu mau ngopi, apa mau mati karena kopi," canda Joko.
"Gua bikin kopi, lu mending ganti baju dulu," ucap Joko.
Budi hanya mengangguk, melihat Joko pergi ke dapur.
---
Sementara di waktu yang sama
Maryam duduk di teras lantai dua, mendekap lutut, matanya menatap jalan, tapi pikirannya melayang.
6 bulan yang lalu
[De, pulang. Bapak masuk rumah sakit] sebuah chat dari nomor Kak Sarah masuk, ketika aku masih di kelas.
Aku segera berdiri, maju ke depan diikuti pandangan teman-teman sekelasku.
"Bu, saya izin. Bapak saya masuk rumah sakit."
Dosen tertegun lalu mengangguk mengizinkan. Aku segera berlari keluar ke sisi jalan, menyetop angkot.
Di perjalanan, keringat dingin keluar membasahi sekujur tubuhku.
[Kak, Maryam sudah di jalan, Bapak gimana?]
Aku menunggu balasan tidak kunjung datang, aku coba menelpon tapi hanya berdering, tidak diangkat.
Aku turun di depan RSUD Bogor, ponselku bergetar.
[Maryam, kamu dimana? Bapak sedang di ICU, Kakak di depan IGD.]
Aku berlari menuju ruang IGD yang berada di samping kanan bangunan utama, Kak sarah bersama Surya berdiri menungguku.
Aku langsung memeluk mereka, "Bapak gimana?"
"Bapak kena serangan jantung De," jawab Kak Sarah, "Sekarang Bapak minta kita kumpul di dalam."
Kak Sarah menghapus air mataku, "Sudah, jangan nangis, ayo masuk."
Di dalam kamar, Bapak terbaring terpejam. Seorang laki-laki berdiri di samping Bapak, berpakaian seragam PNS, tersenyum padaku, aku mengangguk.
Bapak membuka mata, aku langsung memegang tangannya, "Pak, maafin Maryam... Maryam–" suaraku terpotong oleh Isak tangisku sendiri.
Bapak memberi isyarat kepada Sarah, agar selang oksigennya dilepas.
Bapak menoleh kepadaku, setelah selang oksigen dilepas.
"Maryam, Bapak minta maaf... ambisi Bapak yang gagal... menjadi PNS, membuat Bapak memaksa kamu meneruskan ambisi Bapak... uhuk... uhuk," Bapak terbatuk hebat, memegang tanganku kencang.
"Sebelum Bapak pergi," ucap Bapak dengan suara parau.
"Bapak–" seruku.
"Bapak minta satu hal kepadamu, menikahlah dengan pria yang sudah PNS."
Mendengar ucapan Bapak, tubuhku seperti tersambar petir, aku menoleh kepada Kak Sarah.
Kak Sarah hanya menggeleng pelan, mencegahku berontak.
Aku memandang Bapak kembali, kupaksakan untuk mengangguk, walau aku tahu anggukan itu adalah penjara bagi hatiku yang sudah tertulis satu nama.
"Terima kasih, sekarang Bapak sudah tenang," Bapak memejamkan mata, perlahan napasnya terhenti.
Aku memanggil Bapak, suaraku melolong keras seakan meminta keadilan.
Kak Sarah dan Surya langsung memelukku, kami bertiga menangis. Sekarang kami tidak mempunyai orang tua, setelah ibu meninggal ketika kami bertiga masih kecil.
"Dunia tidak pernah adil bagiku," lirihku dalam batin.
---
Budi dan Joko duduk di teras kamar kontrakan Budi. Asbak sudah dipenuhi oleh puntung rokok.
Joko berdiri, meregangkan pinggangnya, "Dah jam 2, Bud."
Budi mengerutkan dahi, " Emang kenapa?"
"Waktunya wiridan, tadinya gua mau mulai jam 12, tapi gua takut lu gantung diri di pohon pakis," ucap Joko tertawa.
Budi terdiam sejenak, lalu ikut berdiri, "Ayo, gua ikut wirid, siapa tau nasib takdir berubah, hehe."
Joko merangkul Budi, "Ini baru pria sejati."
Mereka berdua melangkah, memasuki kamar untuk melaksanakan satu amanat.
---
Dua tahun kemudian
Maryam berdiri di depan kamar kontrakan, ia mengangkat tangannya mengetuk pelan.
Seorang lelaki membuka pintu perlahan, terpana melihat Maryam yang berdiri di depan pintunya.
"Joko ya?" tanya Maryam
Joko mengangguk, keluar dari pintu lalu menutup pintu kembali.
"Duduknya diluar saja ya, takut–" ucap Joko Pelan.
Maryam mengangguk, "Iya saya ngerti."
Joko duduk di atas kursi kayu berhadapan dengan Maryam.
"Budi sekarang kerja di luar pulau, ia memimpin proyek jembatan gantung di sumatera." Joko menjelaskan tanpa diminta.
"Ya, saya sudah tahu itu... tujuan saya kesini, saya minta diantar ke Ustad Fahmi." Maryam berkata pelan, tangannya meremas sapu tangan .
Joko mengerutkan dahi, "Kok bisa–"
"Dari mimpi, kira-kira kapan Kang Joko bisa mengantar?" tanya Maryam. "Nanti saja, saya jelaskan disana."
Mulut Joko langsung menutup kembali, "Bagaimana, kalau besok sore, tapi Maryam harus mengajak teman perempuan."
Maryam mengangguk, berdiri, "Saya pamit dulu, besok sore saya jemput." Lalu melangkah perlahan menuju jalan raya.
Joko pun masuk kembali kedalam kamar, ia sedang menyiapkan bahan ajar untuk mengajar besok.
---
Mobil Avanza terparkir di depan gang kontrakan Joko.
Joko berjalan keluar dari gang, Maryam mengikuti dari belakang.
"Kenalin, nama gua Joko." Joko mengulurkan tangan ke seorang lelaki yang berada di belakang kemudi.
"Surya, adeknya Kak Maryam." Surya menyambut tangan Joko–bersalaman.
Joko menoleh ke belakang, menyapa seorang wanita berhijab yang mirip Maryam.
"Saya Sarah, kakaknya Maryam." Mengatupkan telapak tangannya.
Joko hanya mengangguk, "Joko, jadi tiga bersaudara?" Joko membuka obrolan.
"Tiga, gua bungsu, tapi paling ganteng," jawab Surya, tertawa kecil. "Jadinya kita ke arah mana?"
"Ke Nanggung, terus saja ke arah barat." Joko menjawab sambil memakai sabuk pengaman.
Surya memutar mobil ke arah barat, menekan tombol radio. Terdengar suara petikan gitar Garry Moore yang melengking.
---
Mereka berempat duduk mengelilingi Ustad Fahmi,
"Nak Joko, sehat?" tanya Ustad Fahmi.
Joko menunduk, "Alhamdulillah, sehat Ustad. Maaf jarang silaturahmi kesini," ucapnya pelan.
Ustad Fahmi tersenyum, "Tidak apa-apa Nak Joko, silaturahmi nggak musti ketemu, ada silaturahmi melalui doa, fatihah... Nak Joko silaturahmi ke saya, enam kali setiap hari."
"Ini rame-rame, ada keperluan apa?"
Joko menoleh ke Maryam yang sedang menunduk, lalu kembali menatap Ustad Fahmi.
"Ini Maryam, Ustad. Mau menyampaikan sesuatu."
Maryam tersentak, mengangkat wajah lalu menunduk kembali.
"Saya bermimpi bertemu Budi–"
Maryam menarik napas sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskannya perlahan
"Ia memberi pesan yang sangat jelas, 'kalau kamu ingin mendapatkan kebahagiaan sejati... bertamulah ke Ustad Fahmi'–" Maryam kembali terdiam.
Ustad Fahmi tersenyum, "Cinta memang luar biasa, dalam dzikir Budi selalu ada nama kamu."
Ustad Fahmi menegakkan tubuh, tangannya berada di pangkuannya, "Sayangnya... doa Budi tidak bisa menyelamatkanmu, hanya kamu sendiri yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri."
Keempat orang itu menunduk, air mata menetes dari mata Maryam, "Tolong bimbing saya, saya mohon." Maryam berkata dengan suara serak.
"Hilangkan dulu semua dendam kepada bapakmu, lalu raihlah kunci kebahagiaan."
"K-kunci, apa kuncinya Ustad?" Suara Maryam bergetar.
"Bismillahirrahmanirrahim."
---
Joko duduk di depan kontrakan, secangkir kopi dan sebungkus rokok terpampang diatas meja.
Matanya kembali memandang ke arah langit, "Begitu jauh keinginanku, sedangkan kakiku terus menapak di bumi, mencoba terbang–" batinnya berpuisi.
Setahun yang lalu, ia bersujud setelah menerima ijazah S1, Budi bersujud di sampingnya.
Mereka berdua menjadi lulusan terbaik di jurusannya masing-masing.
Ponsel Joko bergetar, sebuah chat masuk dari nomor yang tidak dikenal.
[Assalamualaikum, Joko ini kakaknya Budi, maafkan kesalahan Budi, Budi sekarang sudah tiada.]
Joko meletakkan ponselnya memejamkan mata, napasnya tersengal, Air mata menetes perlahan.
"Selamat jalan kawan, kebahagiaan sejati menunggumu."
---
Maryam membuka matanya, "Indah sekali, dimana ini?"
Sebuah istana tampak di hadapannya, kubah dan dindingnya berlapis emas, hiasannya berupa batu mulia berwarna warni.
Maryam berjalan perlahan mendekati bangunan, seorang pria dengan wajah bercahaya, mendekatinya.
"Assalamualaikum, selamat datang Maryam."
Maryam tertegun, tenggorokannya tercekat, "B-budi, kamu ada disini. Dimana ini?"
Budi menengok ke arah bangunan, "Ini bangunan taqwa, hanya untuk orang-orang yang menyerahkan takdir hidupnya kepada Allah."
Maryam menunduk, "Apakah aku bisa masuk kedalam?"
Budi tersenyum, menunjuk gerbang, "Liat tulisan itu... kunci untuk bisa masuk," jawab Budi.
Maryam memicingkan mata, tulisan itu samar-samar terlihat, bertuliskan arab.
'Bismillahirrahmanirrahim'
Seketika gelap menyelimuti, Maryam tersedot kedalam sebuah lubang, suara berbisik di telinganya, "Aku menunggumu disini."
Maryam membuka matanya, keringat membasahi sekujur tubuhnya, ia duduk mengusap keringat yang membasahi mukanya.
"Mimpi itu nyata sekali," lirihnya. "Sudah jam satu."
Maryam pun bangun, berjalan ke kamar mandi bersiap melaksanakan shalat malam.
---
Sebulan kemudian
Joko menghadiri pemakaman Maryam, aroma wangi menyambut penciumannya.
Ia duduk dihadapan jenazah Maryam, bersila membacakan hadiah puji lalu doa.
Surya menghampiri Joko, menepuk bahunya.
"Terima kasih, sudah bersedia datang, maafkan bila Kak Maryam ada kesalahan."
Joko mengangguk, "Kita ngobrol di luar," ajaknya.
Surya mengikuti langkah Joko, sampai ke samping rumah.
"Saya turut berdukacita, tapi saya lega Maryam menemukan kebahagiaan, bukan di dunia tapi di alam abadi sana."
Surya menunduk, air matanya kembali mengalir.
"Kasihan Kaka, ternyata ia menyimpan–"
"Tidak usah diceritakan, sekarang bukan saatnya membahas masa lalu," potong Joko. "Saya pamit pulang, tidak bisa mengantar almarhum ke pemakaman."
"Tidak apa-apa, hanya doakan saja Kak Maryam," ucap Surya, matanya kembali basah.
Joko memeluk Surya, lalu melangkah memasuki mobilnya.
"Mereka sudah merasakan kebahagiaan abadi, sedangkan aku masih terjebak didunia fana."
Joko melajukan mobil perlahan, masih banyak sekali amal yang belum ia kerjakan.
---
Kisah ini diangkat dari kitab Hikayatul Ajibah karangan Syekh Asmuni