Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Senyumnya seperti dipangkas oleh waktu, apalagi ketika bersapa dengan pasangan hidup, mendadak aura di wajahnya redup. Akan tetapi justru membuat pergerakan tangan membungkus bubur lebih cekatan. Dia robek daun pisang, diletakkan di atas kertas minyak, lalu menyendok bubur dadi kuali di atas kompor. Bibirnya bergerak tiada teratur, seperti ucapnya yang tidak terukur.
‘Baru bulan lalu minta kiriman! Sekarang minta lagi? Memangnya aku ini bank?’ gedumelnya sambil melayani pembeli.
Dia seringkali menumpahkan curhatan ke sembarang tempat, tidak peduli telinga orang amat lebat, bahkan abai masalahnya bisa jadi gosip masyarakat. Ada dongkol di dada, serupa lahar panas yang siap diletuskan, jika tidak maka hanya menyulut api di raga. Pelampiasannya para pembeli, terkadang ada yang kena sentak bahkan omel tiada alasan.
“Aku bubur dua ribu, Mbak!”
“Ya memang harganya dua ribu!” ketusnya. Beruntung pembeli anggap itu gurauan. Maka tidak perlu dimasukkan rasa ke dalam hati sang perasa.
Akan tetapi kisahnya menjadi lain jika telinga pendengarnya sosok pria berkepala tiga dengan tatapan datar yang jarang berkabut. Suaranya bahkan mengalun lembut.
Pria itu—Kang Awan, meluangkan waktu dari sepeda motor. Sibuk mengatur keseimbangan gerobak dengan kedua ban lalu disangga oleh kayu panjang sebagai standar bantuan. Ia melangkah perlahan menuju warung bubur, mendorong badan pintu lalu atur suara untuk sampaikan sebuah kabar. Perihal gas subsidi di Pak Lurah yang sudah bisa dioder. Pemimpin kampungnya memang tukang jual gas elpiji, dan wanita yang pandai menyentak jantung orang itu adalah langganan utama.
“Mak … gasnya sudah ada! Mau diambilkan atau kau ambil sendiri!”
Diam beberapa saat, diabaikan sosok pria yang temani hidupnya selama delapan tahun belakangan. Kang Awan menggelegak air liur, meremas kepalan demi netralkan kesabaran.
“Mak …,” masih pelan dia berkata.
“Terserah!” sahut Alina dengan raut semuram langit kala itu.
November menyapa bumi, alam basah kuyup oleh titik-titik air deras yang kerap kali gaduh di atas genting rumah-rumah warga. Jalanan menjadi lembab dan terlihat menjijikkan ketika telek ayam bercampur dengan genangan air sisa hujan. Unggas peliharaan meringkuk dalam gigil, sementara dada Kang Awan terbakar amarah gelagat istrinya yang ngambek karena penghasilan beberapa hari kemarin ditransfer ke saudara.
Kang Awan si berhati lunak mendadak geram. Sudah berkali-kali memberi penjelasan tetapi tidak ada pemahaman. Perselisihan kecil bahkan terjadi sebelum fajar bangun. Ia tahan kata-kata bernada tinggi supaya tidak melukai, akan tetapi Alina kelewatan, justru umbar persoalannya di telinga warga. Ia berpaling melanjutkan menata sayuran dan lauk yang bermaksud dikelilingkan. Kang Awan pencari nafkah dengan menjual sayur keliling menggunakan sepeda motor butut keluaran tahun 2000. Suara mesinnya meraung-raung serupa renta batuk. Knalpotnya amat berisik sampai membuat bayi kehilangan kantuk. Dia telan mentah-mentah obrolan Alina dengan para pembeli—ibu-ibu tak berpeluang menyiapkan sarapan karena sulit atur waktu lantaran masih menggendong belia-belia tak miliki dosa. Mereka berbaur dalam kerumunan antrean di warung Alina. Sayur matang dipamerkan, gorengan masih panas dipertontonkan di atas nampan, maka perut-perut memohon haknya. Mereka bergerilya datang ke warung Alina, tempat mengadukan kerepotan demi kerepotan. Entah apa sebabnya bibir mudah sekali tergelincir di warung Alina, tempat penjual bubur itu menjadi penampung keluh resah dan pelipur lelah.
“Makanya aku memang jengkel! Nafkah anak istri kok dikirim ke orang yang bekerja!” gerutu Alina sambil menyerok gorengan dari atas wajan.
“Lima ribu, tahu campur tempe, Mbak!” pinta Mbok Suminah sambil mengulurkan lembar transaksi perekonomian orang Indonesia berwarna hijau.
“Ada apa lagi, Mbak? Pagi-pagi wes grememeng kayak ayam mau bertelur!”
Lantas kaum hawa lain yang juga antre dilayani tertawa.
“Ya aku kesal, orang saudara Kang Awan kerja kok masih minta uang kiriman dari rumah.”
Jadi Kang Awan memiliki saudara di luar kota, sedang abdikan tenaga untuk mencari pemasukan bekal hidup di masa depan. Pria, dan masih lajang belum meminang anak orang. Sementara keuangan tidak teratur sebagaimana yang diharapkan, setiap akhir bulan masih saja kurang. Alasan belum bayar kos-kosan, kesulitan makan belum gajian, terakhir uang angsuran sepeda motor belum dibayar. Kang Awan sendiri masih harus mencukupi kebutuhan Alina—penjual bubur yang bangun sebelum ayam berkokok. Tangannya telah lincah memotong sayuran di talenan, meracik bumbu-bumbu dapur, uleg rempah sementara dua buah hatinya meringkuk di pembaringan, bukan payah tak mau bantu orang tua, melainkan memang masih berusia di bawah umur, baru duduk di jenjang TK dan SD kelas rendah.
“Begitulah serba-serbi kekurangan uang, Mbak! Dimaklumi saja!”
“Maklumi bagaimana? Kalau Runa mau bayar uang sekolah lantas minta siapa? Dari dulu dagang sayur juga rasa-rasanya tak pernah untung!” seru Alina.
“Aku malah pagi-pagi anak ngompol! Padahal jemuran kemarin belum kering, kesel banget kasur basah, belum lagi cucian menumpuk di kamar mandi! Ah … siapa mau bantu? Aku gratisi gorengan!” curhat Dewi, wanita luar daerah yang baru memiliki batita.
“Zaman sekarang mah bisa digiling!” respon Mbok Suminah sementara kakinya bersiap melangkah pulang.
“Digiling kalau ada mesinnya, Mbok! Lah aku nyuci masih manual! Tidak ada yang bantu! Suami pulang selalu sudah kelelahan kerja, esoknya berangkat sebelum anak bangun,” ujar Dewi mengharap pengertian.
Wanita lain menanggapi dengan senyum, Mbok Suminah angkat kaki mengurangi antrean. Begitu tiap pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah, warung Alina akan sesak dengan cerita-cerita kecil. Masalah yang tidak perlu diperpanjang lebar, perihal lelah yang tak berkesudahan.
“Anakku rewel semalam, aku tidak bisa tidur jadi telat bangun! Mau masak malas!” ungkap ibu muda selanjutnya.
Alina terkadang menanggapi dengan semangat, tetapi lain sisi dia abai tak peduli karena sibuk mengamankan gorengan supaya tidak gosong, atau tangannya sedang konsentrasi membungkus bubur supaya tidak bocor. Warung Alina ramai, bukan hanya dengan celoteh di waktu pagi, tetapi menjadi tempat berkumpulnya kantong-kantong sepi yang butuh pengakuan mampu dari sebuah kebutuhan—entah terdesak atau mendesak.
Bank-bank kecil sering berkunjung, tawarkan pinjaman dengan bunga miring. Maka yang tidak repot akan melingkar di hari Selasa Wage, menyetorkan angsuran dengan wajah cemberut. Warung Alina menjadi penyelesaian masalah dari tunggakan sekolah yang belum dilunasi, bisa juga untuk mencicil kendaraan, bahkan untuk meminang perhiasan dari toko milik orang Cina di kecamatan.
Begitu berjasa warung Alina, bangunan yang tak memiliki pondasi itu pantas dijuluki sebagai pahlawan, sudah reyot doyong ke barat tetapi masih mampu memberikan bantuan tangan ibu yang repot meracik masakan, juga solusi dompet ibu yang kekurangan. Usianya selusuh sarung kakek-kakek, banyak angus dan percikan minyak yang menjadi karak, sudah dibersihkan berulang tetaplah tak mau hilang. Sekalipun demikian, tempat itu menjadi persinggahan favorit kaum hawa di kampung Majamanis.
Sayangnya, di Selasa Wage sebagian ibu melipir dari warung Alina. Ada yang absen tak beli bubur di pagi hari, tak mau antre gorengan, bahkan enggan membeli sayuran matang di Selasa Wage. Ibu-ibu repot mendadak kehilangan kerepotannya. Sisa dagangan Alina banyak. Auranya menjadi mendung tanpa pertolongan. Apalagi jika hujan turun deras sementara Kang Awan tak berkeliling menjajakan sayuran. Benar-benar apes perasaan Alina. Emosinya akan pecah sembarangan. Keluhan berserak di atas wajan penggorengan. Piring-piring kotor tak bersalah terkadang menjadi pelampiasan. Selasa Wage menjadi momok mengerikan. Ia bermaksud meliburkan jualan di hari tersebut, akan tetapi tanggung jawab di hari Selasa Wage tak bisa ditunda atau dianggap tak tahu diri, sudah dibantu malah kabur dari kewajiban.
Alina tidak akan bisa menutup pintu rumah sementara warungnya buka lebar. Warungnya akan menjadi tujuan utama karena banyak ibu yang ajukan pinjaman. Setres kepala sampai terbawa ke tungku perapian. Tiada heran bibirnya mudah tergelincir jika perasaannya kacau. Apalagi mengetahui uang Kang Awan baru ditransfer kemarin, amarahnya tak mau hilang.
Pada Selasa Wage siang pekan selanjutnya—pekan setelah dia uring-uringan, bukan hanya pintu rumah yang tertutup rapat, warung Alina digembok dari luar, entah di mana jejak berpindah, tetapi sepeda motor butut Kang Awan juga tidak parkir di teras rumah.
Magelang, 09 November 2024.