Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kijang lawas hijau melaju pelan menyusuri jalanan pedesaan yang berbatu. Dari radio mobil terdengar suara Iis Dahlia menyanyikan lagu yang tak kalah lawasnya, Tamu Tak Diundang. Ingatanku terbang ke masa kanak-kanak, saat harus mengintip dari jendela rumah tetangga untuk bisa menonton televisi. Di layar televisi hitam putih itu, tampak Iis Dahlia dalam video musiknya tengah kedatangan tamu tak diundang di pesta perkawinannya, seorang wanita menggandeng anak kecil. Wanita tersebut mengaku sebagai istri sah dari si pengantin laki-laki. Tidak sama persis. Namun hampir serupa nasib yang dialami ibuku dengan kisah lagu Iis Dahlia. Bapak meninggalkan aku dan ibu untuk menikah dengan perempuan lain saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Kenanganku tentang bapak berhenti di umurku yang kedelapan. Nyaris tak ada yang tersisa. Bahkan wajahnya seperti apa, aku sudah hampir lupa. Hanya sesekali terbayang suara piring atau gelas yang pecah tiap kali bapak dan ibu bertengkar. Hingga dua puluhan tahun kemudian, tak ada lagi sosok bapak dalam kehidupanku. Aku menjalani hari-hariku hanya berdua bersama ibu.
Di sampingku, pakdhe yang duduk di depan setir tak henti-hentinya membanggakan tentang keluarganya, tentang anak perempuannya yang telah dinikahi oleh seorang polisi. Sebentar lagi kakak sepupuku yang lainnya juga akan menyusul menjadi istri seorang polisi. Baginya memiliki menantu seorang polisi adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Kulihat ke kaca spion dalam mobil, di kursi belakang kedua kakak sepupuku itu turut serta dalam rombongan. Bersama ibu dan budheku, mereka memangku barang-barang dan makanan untuk seserahan.
Tak banyak barang-barang seserahan yang kupersiapkan; mukena dan sajadah, satu stel pakaian, dan beberapa alat rias beserta produk kecantikan. Selain itu ada juga beberapa macam penganan yang dibuat sendiri oleh ibuku. Aku bersyukur karena calon istriku tidak banyak menuntut.
Jari-jari perempuan ini sudah rapuh digerogoti asam urat, namun ia dengan tabah mengaduk adonan nasi ketan bersama rebusan santan dan gula merah. Semua proses ia jalani satu per satu, dengan khidmat, khusyuk, dan telaten. Ia hayati betul setiap detilnya. Seperti ketika mengiris-iris tipis gula jawa sebelum dituang ke santan, ada harapan yang ia sematkan di tiap tekanan pisaunya. Ada doa dan zikir yang ia titipkan. Itu adalah adegan yang masih membekas jelas dalam ingatanku. Beberapa bulan yang lalu di sebuah malam menjelang lamaran.
Tiga buah nampan bundar termasuk dalam iring-iringan seserahan. Jadah, jenang, dan wajik gula jawa tersaji cantik dalam nampan anyaman bambu yang dihias plastik bening. Ibu bilang, makanan-makanan yang terbuat dari beras ketan wajib hukumnya untuk turut dihantarkan dalam upacara lamaran. Sifat nasi ketan yang lengket, menjadi sebuah perlambang agar pernikahan yang kelak dilangsungkan bisa langgeng karena kedua pasangan susah untuk dipisahkan. Sayangnya doa tak selalu bisa dikabulkan. Seringkali kenyataan melenceng jauh dari harapan yang dipanjatkan.
Wanita itu bernama Tari. Umurnya setahun lebih muda dariku. Ia adalah anak dari teman mengaji ibuku. Sebenarnya Tari adalah wanita yang mandiri. Ia memiliki usaha jual beli pakaian secara online. Usianya yang sudah kepala tiga, barangkali yang membuatnya tak bisa menolak perjodohan ini.
Dalam kesehariannya, Tari selalu mengenakan gamis dan cadar berwarna gelap. Pertama kali aku melihat wajahnya secara langsung saat hari lamaran. Aku tak pernah menyangka kalau ternyata Tari memiliki wajah yang cukup cantik. Walaupun sebenarnya, cantik atau jelek, bagiku sama saja. Aku pun sama, menerima perjodohan ini semata-mata karena ibuku. Ia yang kerap mendambakan untuk menimang cucu. Tentu saja, tak ada lagi yang bisa memikul kewajiban untuk memberinya cucu selain aku, anak laki-laki semata wayangnya.
“Maafkan saya, Bu.” Ucapku. Memecah keheningan malam.
Ibu menggeleng. Ia mencoba tersenyum sebelum menjawab permintaan maafku. “Kamu nggak salah, Le. Mungkin ibu yang terlalu memaksakan.”
“Apa ibu pernah menyesal memiliki anak seperti saya?” kurebahkan kepalaku di pangkuannya.
“Ibu tidak pernah menyesal. Dulu sekali, ibu yang berdoa, memohon agar diberi keturunan. Lantas hamil dan lahirlah kamu. Bagaimana mungkin ibu akan menyesal?” jawab ibu sambal membelai rambutku.
“Maaf kalau saya mengecewakan ibu.” Sekali lagi aku meminta maaf pada ibu.
“Le, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Manusia hanya bisa berusaha. Ibu pun sudah berusaha semampu ibu. Tapi kalau jalan hidup berkata lain, kita cuma bisa ikhlas menerima.”
Waktu kecilku dulu, kudengar kisah ibu dan sosok laki-laki yang begitu sempurna. Bersama ibuku, dia adalah kembang dan kumbang desa. Mereka dielu-elukan. Mereka dibanggakan. Ketika akhirnya keduanya menikah, semua turut bersuka cita. Sayangnya kesempurnaan itu hanya menjadi dongeng bagiku. Yang aku ingat hanya perlakuan kasar dan umpatan marah yang keluar dari mulutnya kepada ibuku. Laki-laki itu meninggalkan ibuku demi wanita lain saat usiaku baru delapan tahun. Mereka berpisah. Aku tak pernah punya sosok ayah.
Sejarah seperti roda yang berputar dan nasib buruk kembali terulang. Belum ada setahun pernikahan, pagi itu tukang pos datang membawa surat gugatan perceraian yang dikirim pengadilan agama. Dari awal aku sudah merasa ada yang mengganjal. Namun setiap kali pikiran buruk itu datang, aku berusaha untuk menepisnya. Aku hidup dalam penyangkalan. Semua akan baik-baik saja. Semua bisa kujalani.
Sayangnya, hidup berumah tangga tidak lah sesederhana tinggal satu atap bersama. Ada hak dan kewajiban suami istri yang mestinya dipenuhi. Pada akhirnya wanita itu menyerah juga. Tak jauh beda dengan nasib ibuku, pernikahanku gagal di tahun pertama.
Suatu hari, Tari mengadu pada ibuku. Ia mencurigaiku sebagai laki-laki yang tak bernafsu pada perempuan. Sekian bulan pernikahan, aku memang tidak pernah menyentuhnya. Aku ingin. Hanya saja aku tak bisa. Tari meminta perpisahan. Ibu berusaha menahan. Dari sorot matanya, ibu berharap aku akan menyangkal tuduhan yang diberikan. Namun aku hanya bisa diam. Aku tak mencegah ketika Tari pulang kembali ke rumah orang tuanya.
Aib seperti bau bangkai yang cepat menyebar. Pakdhe merasa menjadi orang yang paling tercoreng mukanya. Desas-desus yang sampai di telinganya, bahwa sang keponakan bercerai karena tak bernafsu pada wanita. Bahkan ada juga yang bilang kalau keponakannya selingkuh dengan seorang pria.
Tentu saja itu semua bohong. Aku sampai bersumpah di depannya bahwa tidak pernah sekalipun berselingkuh. Apalagi dengan laki-laki. Namun sayangnya, sekeras apapun upayaku untuk meluruskan cerita yang beredar, Pakdhe seolah tak peduli. Ia menutup kedua telinganya. Usahaku sia-sia. Pakdhe lebih percaya pada omongan para tetangga.
Dalam seminggu ini sudah dua kali pakdhe datang ke rumah bersama seorang laki-laki tua. Orang-orang desa memanggil laki-laki yang selalu memakai sarung dan peci itu sebagai Pak Kyai. Laki-laki tua itu melarangku keluar rumah sebelum aku terbebas dari jin yang menguasai diriku. Katanya, ada jin perempuan dalam tubuhku. Untuk mengusir jin perempuan itu, aku harus dirukyah.
Pak Kyai bilang, jin perempuan itu yang telah mengendalikan pikiran, hati, dan kemaluanku. Itulah sebabnya aku tak bernafsu pada perempuan dan malah menyukai laki-laki. Sambil membaca doa dan ayat-ayat dari kitab suci, dengan beberapa batang lidi, Pak Kyai memukul-mukul punggungku. Itu adalah usahanya untuk mengusir jin perempuan agar pergi dari tubuhku.
Mula-mula aku tidak merasa apa-apa. Ketika Pak Kyai memulai dengan memijat telapak kakiku, aku hanya merasakan sakit. Saat ia menyuruhku meminum segelas air putih yang telah didoakan, aku tak melihat perubahan yang berarti pada diriku. Namun ketika ia menyuruhku memejamkan mata sembari mendengarkannya membacakan doa, aku mulai meneteskan air mata. Tiba-tiba aku mendapati perasaan sedih yang teramat perih. Di pejam mataku, selalu yang terbayang adalah wajah ibuku yang sendu. Makin lama, isak tangisku makin menjadi-jadi.
Setiap harinya, ibu mendapatkan tugas dari Pak Kyai untuk membisikkan doa di telingaku saat menjelang subuh sewaktu aku tidur. Aku hanya diam dan terus pura-pura tertidur. Semata-mata kulakukan karena aku tak ingin mengecewakannya. Selain itu ada pantangan-pantangan yang harus kujalani. Untuk sementara waktu aku tak boleh melakukan aktivitas perempuan seperti memasak ataupun mencuci piring.
Setelah sebulan, pakdhe dan Pak Kyai tidak lagi datang. Pak Kyai bilang sudah berhasil mengusir jin perempuan itu dari dalam tubuhku. Meski begitu, ibu masih sering membisikkan doa di telingaku saat tengah malam. Kadang aku ingin ibu menyudahinya, agar bisa beristirahat sepenuhnya, dan tak perlu terjaga hingga menjelang subuh. Tapi urung kusampaikan padanya.
Kini. Yang tersisa kembali kami berdua di rumah ini. Hanya ada aku dan ibuku. Saat malam, ia akan sibuk berdoa untukku agar jin perempuan itu tidak datang lagi. Sedangkan di siang hari, ibu makin sering tenggelam dalam adonan wajik ketan gula jawa. Meski ia tahu tak akan ada lamaran-lamaran selanjutnya.
Magelang, Oktober 2023