Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
VUDU
Matahari baru saja naik, tetapi keringat dingin sudah membasahi punggung Genta. Seragam putih-abunya yang menguning di bagian kerah dan kusam di keseluruhannya tampak kontras dengan seragam mulus dan bersih teman-temannya. Di depan gerbang sekolah, tiga orang sudah menunggunya.
"Woi, cacing tanah datang!" teriak Riko, suaranya melengking dan merendahkan membelah parkiran, disambut tawa teebahak-bahak dua temannya.
Genta menunduk, mempercepat langkahnya. "Permisi, Rik. Gue mau lewat," ucapnya pelan saat Riko membentangkan tangan ke arahnya.
"Eits, tunggu dulu. Buru-buru amat? Bau lo busuk banget hari ini, Nyuk," hadang Dodi, tangan kanannya sengaja menutup hidung, membuat Genta makin menunduk.
"Maaf, Dod, gue udah mandi kok," ucap Genta lirih, merapatkan tas kainnya yang robek di sudut bawah.
"Mandi? Pake air comberan? Hahaha!" Denis menimpali, dua yang lain tertawa lagi, lebih keras. Lalu Denis sengaja menendang kaki Genta hingga pemuda itu tersandung.
Bruk.
"Aduh ..." Genta meringis. Celananya yang sudah lapuk robek seketika, menyingkap kulit kakinya yang penuh bercak korengan kemerahan yang mengering.
Riko mundur selangkah, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Ih, najis! Koreng lo pecah ya? Jangan deket-deket, ntar nular ke sepatu mahal gue!"
"Rik tolong, gue harus masuk kelas. Ada ujian," pinta Genta dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya memelas.
"Ujian? Anak miskin kayak lo mau jadi apa sih? Paling ujung-ujungnya jadi kuli bangunan kayak Bapak lo yang mati tertimbun semen itu," ejek Dodi sambil meludah ke arah sepatu Genta yang menganga di bagian depannya.
"Jangan bawa-bawa almarhum Bapak, Dod," suara Genta bergetar. Geram menguap.
"Kenapa? Nggak terima? Mau mukul gue? Ayo coba!" Tantang Dodi, memajukan wajahnya.
Genta diam. Dia semakin geram. Amarahnya naik namun berusaha sekuat mungkin menahan diri. Dia tahu, satu pukulan darinya berarti dia akan habis dikeroyok tiga orang.
"Sudah kuduga, mental tempe. Nih, bersihin sepatu gue. Tadi kena debu gara-gara lo jatuh," perintah Riko, menyodorkan sepatu kets putihnya tepat ke wajah Genta yang masih terduduk di tanah.
"Rik, jangan keterlaluan ..."
"Cepet! Atau gue seret lo ke toilet dan gue guyur pakai air kloset lagi kayak minggu lalu?" ancam Riko.
Dengan tangan gemetar, Genta merobek sedikit bagian bawah kaos dalamnya yang sudah usang, lalu mengelap sepatu Riko.
"Bagus. Anjing yang penurut," tawa Riko meledak. Dodi dan Denis tersenyum merendahkan. Sekuriti di belakang gerbang hanya bisa diam melihat kelakuan tiga siswa berkuasa itu. Bagi sekuriti itu, berurusan dengan ketiga siswa itu berarti akan kehilangan pekerjaan. Di zaman serba susah ini, mendapatkan pekerjaan layak menjadi hal yang sulit dicapai sebagian besar masyarakat. Makanya sekuriti itu tidak melakukan apa-apa saat ketiga siswa memperlakukan tindakan yang buruk terhadap Genta.
"Yuk cabut, guys. Bau korengnya makin menyengat," ajak Riko. Denis dan Dodi mengikuti di belakangnya.
Genta memandang kesal kepergian Riko dan genknya itu. Sepintas dendam menguap.
Riko adalah anak pengusaha sukses. Bapaknya memegang sebagian besar saham sekolah ini. Sementara Genta, lahir dari keluarga dengan ekonomi yang sulit. Bisa melanjutkan sekolah sampai tingkat akhir merupakan mukzizat yang diterimanya. Dengan keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, Genta tak berharap banyak bisa sekolah di tingkat akhir ini, bisa lulus sekolah lanjutan tingkat pertama saja membuatnya puas sekaligus lega. Gimana tidak, bayang-bayang tidak dapat mengikuti ujian akhir terus menghantui karena sudah sembilan bulan tak mampu membayar sekolah. Tapi tiba-tiba Genta dapat kabar dari wali kelasnya kalau ada seorang wali murid yang telah melunasi tunggakannya. Sujud syukur dia panjatkan. Akhirnya Genta bisa ikut ujian dan lulus jadi siswa terbaik. Dari situlah dia mendapatkan beasiswa penuh melanjutkan sekolahnya.
***
Malam harinya, di sebuah gubuk di pinggiran rel kereta api, Genta duduk di atas tikar anyaman yang sudah bolong-bolong. Dia sedang mengoleskan minyak kelapa dicampur tumbukan daun jarak pada kakinya.
"Genta, anakku, kamu sudah makan?" Ibu Genta keluar dari balik tirai tipis yang menjadi pembatas kamar. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus kering digerogoti batuk menahun.
"Sudah, Bu. Tadi di sekolah dipesankan bakso sama teman," bohong Genta. Senyumnya dipaksakan.
Ibu duduk di sampingnya, membelai rambut Genta. "Jangan bohong. Ibu tahu kamu belum makan. Ini ada sisa nasi aking yang Ibu jemur kemarin, sudah Ibu goreng pakai garam."
"Ibu saja yang makan. Ibu harus minum obat."
Ibu Genta menghela napas berat, "obatnya sudah habis dua hari lalu, Nak. Uang hasil Ibu memulung botol plastik cuma cukup buat bayar kontrakan ini bulan depan." Ibu menghela napas berat lagi, sepertinya napas Ibu Genta terganjal cairan kental di tenggorokannya. Matanya menatap koreng di kaki Genta. "Kakimu makin parah ya? Maafkan Ibu, nggak bisa belikan salep di apotek."
"Nggak apa-apa, Bu. Ini sudah mendingan kok. Besok juga kering," kata Genta, menahan perih yang luar biasa saat minyak itu menyentuh luka terbukanya.
"Di sekolah, apa teman-temanmu masih suka jahil padamu?"
Genta terdiam sejenak. Dia mengingat bagaimana siang tadi kepalanya dimasukkan ke dalam tempat sampah oleh Denis sementara teman-teman sekelasnya hanya menonton sambil tertawa.
"Nggak, Bu. Semua temanku baik. Riko tadi bahkan ngasih aku tips belajar," bohong Genta lagi. Air matanya hampir tumpah, namun dia menahannya kuat-kuat. Dia tidak ingin beban ibunya bertambah.
"Alhamdulillah. Semoga gusti Allah membalas kebaikan mereka. Kamu harus rajin belajar ya, biar bisa angkat derajat keluarga kita."
"Iya, Bu. Genta janji," ucapnya pelan sambil meniup olesan minyak dan daun jarak di atas luka korengnya, biar cepat mengering.
"Ya sudah, Ibu masuk dulu ya." Ibunya kembali membelai rambut Genta yang kering, lalu berjalan masuk ke balik tirai tipis. Dari depan Genta memerhatikan tubuh ibunya yang semakin renta, dia begitu iba melihatnya, harusnya dia sudah bisa bekerja membantu ibunya mencari tambahan penghasilan, namun saat ini dia belum mampu melakukan itu. Sulitnya mencari lapangan pekerjaan jika hanya berbekal ijazah SMP.
Beberapa saat kemudian dia pun menyaksikan tangan ibunya yang sedang mengusap air matanya. Perih menyaksikan itu, batinnya teriris kuat. Dia belum mampu membalas jasa ibunya, dan cita-citanya menaikan derajat keluarga kecil ini belum kesampaian.
Keesokan harinya di sekolah, situasi justru semakin memburuk. Di kantin, Genta sedang memegang segelas es teh manis, satu-satunya jajanan yang mampu dia beli dengan uang koin sisa kembalian belanja ibunya.
Brakk!
Denis menggebrak meja. Es teh Genta seketika tumpah, membasahi tugas matematika yang baru saja diselesaikannya semalaman.
"Eh, kurap! Sini lo!" bentak Denis.
Genta memandang kertas tugasnya yang hancur. Lembaran itu penuh noda cokelat, tulisan tangannya luntur. "Tugas gue, kenapa lo hancurkan, Denis?"
"Halah, tugas sampah aja diributin. Nih, kerjain tugas gue sama Riko. Harus selesai sebelum jam istirahat habis!" Denis melempar dua buku tebal ke dada Genta.
"Gue nggak mau. Gue harus menyalin ulang tugas gue sendiri," tolak Genta dengan keberanian yang tersisa.
Riko yang baru datang langsung menjambak rambut Genta dari belakang. "Oh, sudah berani membantah sekarang, Hah! Lo lupa siapa yang punya sekolah ini? Bokap gue bisa bikin lo dan ibu lo yang pemulung itu diusir dari kota ini dalam semalam!"
"Lepas, Rik ... sakit ...."
"Kerjain nggak?!" Riko membenturkan kepala Genta ke meja kantin.
Dug!
Semua murid di kantin menoleh, namun tak ada satu pun yang bergerak membantu. Guru piket pun sedang tidak ada di tempat.
"I-iya, gue kerjain," bisik Genta, darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air mata dan keringat. Genta memilih mengerjakan karena teringat dengan ceritanya sendiri semalam pada ibunya, teman-temannya baik padanya meski Genta tahu kalau sebenarnya ibunya juga tahu apa yang dia alami di sekolah.
"Gitu dong. Dari awal kan enak. Oh ya, sekalian nih, bonus buat lo." Denis mengambil mangkok sisa soto mie yang berlemak dan dingin, lalu menuangkannya tepat di atas kepala Genta.
Kuah kuning, sisa mi, dan potongan seledri mengalir di wajah dan seragam Genta. Gelak tawa bergemuruh di kantin. Genta hanya bisa memejamkan mata, mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih.
Wajahnya berupaya keras menahan amarah. Tubuhnya berusaha menahan gejolak api yang membara di dadanya. Emosinya memuncak, Genta buru-buru meninggalkan kantin itu. Langkahnya cepat menuju tempat wudhu di musholla, dia segera membersihkan kuah soto di kepala, wajah, dan baju sekolahnya.
Setelah dirasa sudah bersih, Genta berjalan terburu lagi masuk ke kelas. Dia ingin segera menyelesaikan tugas untuk dirinya, Riko, dan Denis. Waktunya sangat terbatas sebelum jam istirahat habis.
Amarah belum hilang sepenuhnya, bahkan saat berjalan mulutnya tak berhenti komat kamit, seperti sedang merapal mantra.
Aku ingin kalian mati!
Bisik hatinya yang paling dalam.
Aku ingin kalian semua mati.
Ulangnya lagi sampai beberapa kali. Suaranya menggema di kalbu, menyentuh setiap sudut jiwanya. Pengharapan terdalam.
Tiba-tiba langit cerah berubah mendung. Angin bergemuruh kencang. Daun-daun tertiup angin berputar-putar di tengah lapangan basket. Riko, Denis, dan Dodi merasakan hal aneh. Kenapa cuacanya bisa berubah cepat. Sementara Genta mempercepat langkahnya, begitu sampai kelas dia langsung mengerjakan tugas itu.
***
Sepulang sekolah, dengan tubuh yang masih bau kuah soto dan darah yang mengering, Genta berjalan melewati pasar loak dekat terminal. Dia enggan pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini, ibunya pasti akan menangis histeris.
Saat menyusuri gang sempit di balik pasar, kakinya tersandung sesuatu. Sebuah kotak kayu hitam kecil, berdebu, tergeletak di dekat tempat pembuangan sampah. Sebuah kotak terpahat ukiran Jawa kuno, berwarna cokelat gelap. Entah mengapa, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk memungut kotak itu.
Setelah beberapa lama memelototi kotak yang menarik perhatiannya itu, Genta memutuskan mengambilnya, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah boneka kain usang yang terbuat dari karung goni, beberapa jarum karat yang panjang, dan secarik kertas usang bertuliskan mantra aneh dengan tinta merah darah. Di bagian atas kertas itu tertulis satu kata, VUDU!
"Kau tertarik dengan benda itu, anak muda?"
Suara serak dari samping mengejutkannya, entah dari mana datangnya seorang lelaki tua bermata katarak, dengan pakaian compang-camping tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Genta tak menyadarinya. Kakek itu layaknya bayangan yang menjelma menjadi nyata dari sudut kegelapan gang.
"I-ini apa, Kek?" tanya Genta ragu. Dia memerhatikan kakek itu diam-diam. Pakaiannya lusuh seperti pakaiannya. Wajahnya hitam terpanggang sinar matahari seperti wajahnya.
"Itu adalah penampung rasa sakitmu. Kulihat hatimu penuh dengan nanah kebencian. Dendammu begitu pekat, hingga aku bisa mencium baunya dari sini," kata si kakek sambil terkekeh pelan.
"A-aku hanya lelah dibully, Kek. Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan," kata Genta masih menahan amarahnya sejak keluar dari gerbang sekolah.
"Mudah sekali," bisik kakek itu, lalu mendekatkan wajahnya yang keriput. "Tulis nama orang yang kau benci di kertas itu menggunakan darahmu sendiri. Tempelkan kertas itu pada boneka goni. Lalu, tusukkan jarum itu ke bagian tubuh mana saja yang kau inginkan. Setiap tusukan akan mengirimkan rasa sakit yang tak terbayangkan pada mereka."
Genta menelan ludah. "Ini ... i-ini sihir hitam? Ini dosa?"
Kakek itu tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk. "Dosa? Apakah mereka yang menginjak-injak harga dirimu memikirkan dosa? Apakah dunia ini adil padamu yang miskin dan sakit-sakitan? Pikirkan itu, Genta!"
Genta menatap boneka goni di tangannya. Kata-kata Riko, Dodi, dan Denis terngiang-ngiang di telinganya. Anak miskin. Korengan. Bapakmu mati tertimbun semen. Anjing yang penurut.
Tanpa mengucap kata lagi, Genta memasukkan kotak itu ke dalam tasnya dan berlari hendak pulang.
Sudah beberapa langkah, Genta berbalik, dia teringat kakek itu. Tapi ketika membalik tubuhnya kakek itu sudah tidak ada di sana. Cepat sekali menghilangnya. Genta melanjutkan langkahnya pulang ke rumah, dia tak mau memikirkan ke mana kakek itu. Yang terlintas di benaknya saat ini, Riko, Denis, dan Dodi harus menerima ganjaran atas perbuatan mereka pada dirinya.
***
Malam itu, hujan deras mengguyur kota. Di kamarnya yang bocor di sana sini, Genta menyalakan sebatang lilin. Di depannya tergeletak boneka dari karung goni dan jarum yang sudah berkarat.
Menggunakan jarum tersebut, Genta pelan-pelan menusuk ujung jari telunjuknya sendiri hingga mengeluarkan setetes darah. Dengan gemetar, dia menulis satu nama di kertas usang, DENIS.
Dia menempelkan kertas itu ke dada boneka. Nafasnya memburu. Amarah yang selama bertahun-tahun dia pendam menguap ke permukaan.
"Ini untuk soto mie di kepalaku tadi siang," bisik Genta dengan mata melotot liar. Tatapan tajamnya tertuju ke nama Denis yang ditempelkan di boneka goni itu.
Dia mengambil sebatang jarum panjang, lalu menusukkannya perlahan namun dalam tepat ke bagian paha boneka goni tersebut.
Di tempat lain, di sebuah rumah mewah ber-AC, Denis sedang asyik bermain game di kamarnya. Tiba-tiba, dia menjerit histeris. Paha kanannya terasa seperti ditusuk oleh besi panas yang membara. Dia jatuh dari kursi, berguling-guling di lantai sambil mencakar-cakar pahanya yang mendadak melepuh tanpa sebab.
"Aaaahhh! Papa! Mama! Sakit! Pahaku terbakar! Mama ...." jerit Denis berulang kali hingga suaranya serak, sebelum akhirnya pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
Sementara itu, di gubuknya, Genta tersenyum. Senyuman pertama yang tulus, dan mengerikan, setelah sekian lama. Dia merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir dalam nadinya. Genta telah menyerap energi Denis.
***
Kabar tentang Denis yang mendadak lumpuh dan dirawat di ICU karena infeksi kulit misterius menyebar cepat di sekolah keesokan harinya, paha kanannya membusuk. Riko dan Dodi tampak gelisah di kelas, namun mereka tidak menghentikan kebiasaan buruk mereka. Justru, mereka melampiaskan kekhawatiran mereka pada Genta.
"Heh, kurap! Lo tahu sesuatu kan soal Denis? Lo kan kemarin yang terakhir ribut sama dia!" Dodi menarik kerah baju Genta di lorong sekolah yang sepi.
"Gue nggak tahu apa-apa, Dodi. Gue kan cuma di rumah," jawab Genta dengan nada suara yang anehnya sangat tenang. Tidak ada lagi ketakutan di matanya. Dodi diam, lalu melepas kerah baju Genta.
Riko menyadari perubahan tatapan Genta. Hal itu membuatnya naik pitam. "Lo berani natap mata gue sekarang? Hah?! Dasar anak haram!" Riko melayangkan pukulan keras ke rahang Genta hingga Genta tersungkur dan bibirnya pecah.
Genta menyeka darah di bibirnya. Dia menatap Riko dan Dodi secara bergantian, lalu tersenyum tipis. "Nikmati hari ini, Riko. Dodi. Karena besok, kalian mungkin tidak akan bisa berjalan lagi."
"Apa lo bilang?! Sialan!" Dodi ingin memukul lagi, namun bel masuk berbunyi dan seorang guru tampak berjalan ke arah mereka. "Awas lo pulang sekolah nanti!" ancam Riko.
Malam harinya, Genta tidak lagi ragu. Dia menyiapkan dua nama di atas kertas goni baru yang dia buat sendiri dari sisa karung di rumahnya. Lalu menyiapkan dua lembar kertas bertuliskan, DODI dan RIKO.
"Dodi ... kamu suka menendang kakiku hingga korengku pecah, kan?" Genta mengambil dua jarum. Dia menusuk kedua lutut boneka bernama Dodi hingga tembus.
"Dan Riko ... mulutmu terlalu tajam untuk menghina ibuku." Genta mengambil jarum terpanjang yang dia miliki. Tanpa belas kasihan, dia menusukkannya tepat ke bagian mulut boneka bernama Riko. Raut wajahnya dingin tak berekspresi. Dendam telah membutakannya.
Malam itu, keheningan kota dipecahkan oleh sirine ambulans yang meraung-raung menuju dua rumah megah yang berbeda. Dodi mengalami kecelakaan aneh di kamarnya, kedua lututnya retak dan hancur secara spontan saat dia mencoba berdiri dari tempat tidur. Di tempat lain, Riko dilarikan ke rumah sakit karena lidah dan tenggorokannya mendadak membengkak dan membusuk, membuatnya tidak bisa lagi mengeluarkan suara selain erangan kesakitan.
Dua siswa yang biasa merundung Genta menemui karmanya.
***
Seminggu berlalu. Genta kini duduk di kelasnya yang sepi. Tiga bangku di belakangnya kosong. Tidak ada lagi yang berani mendekatinya, bukan hanya karena baunya, tetapi karena aura mistis dan dingin yang kini memancar dari tubuhnya. Dia tidak lagi ditindas. Dia telah menjadi sosok yang ditakuti. Tak ada satupun teman kelas yang berani mendekatinya, apalagi sampai berteman dengannya. Semua siswa takut padanya sekarang.
Namun ilmu hitam tak selamanya berpihak pada si empunya, melainkan ada sesuatu yang harus dibayar.
Sesampainya di rumah, Genta mendapati ibunya tergeletak di lantai dapur dengan kondisi lemas. Wajah ibunya dipenuhi bercak-bercak kemerahan yang sangat mirip dengan koreng di kaki Genta tapi jauh lebih parah dan bernanah.
"Ibu! Ibu kenapa?" Genta memeluk tubuh ibunya yang menggigil kedinginan.
"Genta ... perih, Nak ... seluruh tubuh Ibu rasanya seperti ditusuk ribuan jarum ..." rintih ibunya dengan suara lemah.
Genta tersentak. Dia berlari ke kamarnya dan membuka kotak kayu hitam itu. Di dasar kotak, muncul tulisan baru yang memancarkan cahaya merah temaram. Setiap rasa sakit yang kau kirimkan pada musuhmu, akan dibayar oleh kehilangan orang yang paling kau cintai.
"Nggaaakkk!" jerit Genta histeris. Dia melempar kotak itu ke luar jendela.
Dia kembali ke dapur, memeluk ibunya yang mulai kehilangan kesadaran. "Ibu, maafkan Genta ... maafkan Genta, Bu ...." teriaknya menggelegar di gubuk reotnya.
"Genta anakku, tetap jadi anak yang baik ya ... Ja-jangan dendam pada dunia ..." bisik ibunya, napasnya mulai menghilang sedikit demi sedikit sebelum akhirnya napas terakhir berembus dari tubuh yang kurus kering itu.
Jiwa ibunya melayang ke atas, menyaksikan tubuh tak berdayanya, juga tubuh anak yang selalu dia banggakan.
Genta meraung, menangis sejadi-jadinya di dalam gubuk yang gelap dan dingin. Dia telah memenangkan pertarungannya melawan para perundung, namun dia kehilangan satu-satunya alasan mengapa dia ingin bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Boneka goni dan kotak Vudu itu tergeletak di luar dekat rel kereta api, Genta tak berani menyimpannya lagi. Dia menyesali tindakannya, sekarang Genta kehilangan sosok perempuan tegar yang telah mengajarinya apa arti hidup ini.
Dan kotak itu menanti keputusasaan berikutnya dari jiwa-jiwa teraniaya dari penganiaya yang sok berkuasa.
Di luar gubuk Genta, seorang pemulung pria dan renta mengambil kotak itu lalu memasukannya ke dalam karung, mencampurkannya dengan botol-botol plastik. Pemulung itu berharap ada barang berharga yang bisa dia temukan di dalam kotak itu.
***
*Nasi aking : nasi sisa yang sudah dikeringkan setelah dijemur.