Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Semua bermula pada suatu Selasa sore yang kelabu, sekelabu masa depanku setelah melihat saldo ATM. Saat itu, aku, seorang pemuda yang hobi rebahan dengan dedikasi setingkat atlet olimpiade, merasakan sesuatu yang aneh.
Kaki kananku. Lebih tepatnya di bagian betis menuju lutut.
Rasanya bukan sakit biasa. Ini bukan rasa sakit seperti saat jari kelingking kaki menabrak kaki meja, itu sakit fisik. Ini berbeda. Rasanya seperti ada ribuan semut rangrang yang sedang mengadakan demo buruh menuntut kenaikan upah di dalam otot betisku. Berdenyut. Nyeri. Kaku.
"Aduh..." rintihku dramatis, padahal di kamar kos 3x3 itu cuma ada aku dan cicak yang menatapku dengan tatapan menghakimi.
Aku mencoba meluruskan kaki. Krek. Bunyi tulangku terdengar seperti kerupuk kaleng yang diinjak gajah. "Ya Tuhan," gumamku. "Apakah ini akhir dari karirku sebagai penjelajah kasur?"
Sebagai manusia modern yang hidup di era informasi (dan disinformasi), langkah logis pertama yang kulakukan bukanlah pergi ke Puskesmas. Oh, tentu tidak. Itu terlalu kuno. Itu terlalu memakan waktu dan biaya.
Langkah pertamaku adalah: Bertanya pada Mbah Dukun Digital alias Google.
Dengan jari gemetar, bukan karena takut, tapi karena kebanyakan kafein murah, aku mengetikkan kata kunci keramat di kolom pencarian: "Kaki kanan pegal, nyeri, dan berbunyi krek."
Aku menekan Enter. Dan di sanalah gerbang neraka terbuka.
Algoritma mesin pencari itu bekerja lebih cepat daripada mulut tetangga yang sedang nge-gibah. Dalam 0,5 detik, jutaan hasil muncul. Aku mengklik artikel paling atas. Judulnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri tegak hormat gerak: "JANGAN REMEHKAN PEGAL! 5 Tanda Anda Mengidap Penyakit Mematikan."
Aku membaca poin pertama: Asam Urat. Ah, biasa. Aku masih muda. Poin kedua: Radang Sendi. Masuk akal, tapi membosankan. Poin ketiga: Pengapuran Tulang Dini. Seram, tapi masih bisa hidup.
Lalu mataku tertuju pada poin kelima. Poin pamungkas. "Kanker Tulang Osteosarcoma Stadium Lanjut atau Penyumbatan Arteri Koroner yang Mengarah pada Amputasi Total dan Kematian Mendadak."
Jantungku berhenti berdetak. Aku ulangi membaca. Amputasi Total. Kematian Mendadak.
Aku menelan ludah. Rasanya seperti menelan bola pingpong. "Kanker?" bisikku parau. "Di usia semuda ini? Di saat aku bahkan belum pernah merasakan indahnya punya pacar yang tidak fiktif?"
Aku mencari artikel lain untuk pembanding (second opinion). Artikel kedua: "Gejala Awal Stroke Ringan dan Kelumpuhan Permanen." Artikel ketiga: "Virus Langka Pemakan Daging yang Bermula dari Nyeri Otot."
Cukup. Aku melempar HP-ku ke kasur. Duniaku runtuh. Langit-langit kamar kos yang penuh noda rembesan air hujan itu seolah berputar. Aku, Cahyo, divonis mati oleh internet.
Pikiranku mulai melalang buana, menembus batas logika, masuk ke ranah drama India. Aku membayangkan kakiku perlahan membusuk, lalu dokter dengan wajah sedih berkata, "Maaf Mas Cahyo, kami harus memotongnya sampai leher." Lalu aku mati.
Aku melihat bayangan pemakamanku. Sepi. Hanya ada tukang gali kubur yang mengeluh karena tanahnya keras, dan Ibu Kost yang datang menagih tunggakan listrik bulan terakhir ke batu nisanku. "Ngenes..." ratapku. "Matiku ngenes banget."
Rasa nyeri di kakiku makin menjadi-jadi. Ini pasti efek psikologis, atau mungkin virus pemakan daging itu sedang pesta barbeque di betisku. Aku harus bertindak. Aku harus mempersiapkan segalanya sebelum Malaikat Izrail datang mengetuk pintu kosan (semoga dia sopan dan ketuk pintu dulu).
Langkah pertama: Membuat Surat Wasiat.
Aku mengambil secarik kertas bekas bungkus gorengan. Dengan pulpen yang tintanya macet-macet, aku mulai menulis pesan terakhirku. Aku menulisnya dengan air mata berlinang (bohong, itu keringat karena kipas angin mati).
SURAT WASIAT DAN PENGAKUAN DOSA
Kepada seluruh umat manusia yang (mungkin) mengenalku,
Jika kalian membaca surat ini, artinya Cahyo yang tampan (menurut diri sendiri setidaknya) telah tiada. Aku telah gugur dalam pertarungan sengit melawan penyakit misterius yang didiagnosis oleh Dokter Google. Penyakit ini ganas, menyerang betis kananku dan meremukkan harapan masa depanku.
Aku pergi dengan tenang, meski hati ini gundah karena belum sempat naik haji atau minimal naik gaji.
Berikut adalah pembagian harta gono-gini dari kekayaan yang kutumpuk selama tahun hidup:
Tertanda, Cahyo (Calon Almarhum)
Setelah menulis wasiat, aku merasa sedikit lega. Tapi masih ada urusan duniawi yang belum selesai. Aku harus berpamitan.
Aku membuka grup WhatsApp "SOBAT MISKIN & HALU". Jariku gemetar saat menekan tombol voice note. Aku menarik napas panjang, mengatur nada suara agar terdengar serak-serak basah, seolah-olah energiku tinggal 2%.
"Wahai kawan-kawan..." suaraku bergetar, penuh pathos. "Mungkin ini adalah pesan terakhir dariku. Kaki kananku... rasanya sudah tidak ada. Dokter (Google) bilang ini parah. Sangat parah. Aku mungkin tak akan melihat matahari terbit esok hari. Maafkan segala salahku, terutama utang gorengan 5 ribu perak ke Budi waktu itu, ikhlaskan ya. Jangan lupa datang ke tahlilanku, makanannya pasti enak, ibuku pintar masak. Selamat tinggal, kawan. Jaga diri kalian..."
Sent.
Aku menunggu balasan dengan berdebar. Apakah mereka akan menangis? Apakah mereka akan panik dan langsung datang ke kosan membawaku ke UGD?
Ting! Balasan pertama masuk dari Budi. "Lu mabok lem, Yo?"
Ting! Balasan kedua dari Tono. "Drama banget lu, bambang. Itu pasti kesemutan doang. Kalau mau mati, bayar dulu uang kas futsal bulan lalu."
Ting! Balasan ketiga dari Udin. "Kalau lu mati, PS4 lu buat gue ya? Oke, deal."
Aku melempar HP ke kasur lagi. "Manusia-manusia tidak punya hati!" teriakku pada tembok. "Teman sedang sekarat bukannya didoakan malah dijarah hartanya!"
Baiklah, manusia memang mengecewakan. Tapi aku masih punya satu makhluk yang pasti akan sedih kehilangan aku. Baginda Oyen. Kucing oren gemuk yang kupungut di jalanan dan sekarang menjadi penguasa absolut di kamar kosku.
Baginda Oyen sedang tidur di atas tumpukan baju bersihku (tentu saja, dia benci tempat kotor, dia maunya baju yang baru disetrika). Aku mendekatinya dengan merangkak, mendalami peran sebagai orang yang lumpuh.
"Baginda..." bisikku lirih. Oyen membuka satu matanya. Tatapannya datar. Tatapan yang berkata: 'Apa lagi sih, budak?'
Aku membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Air mata buayaku mulai menetes lagi. "Baginda Oyen, sebentar lagi Babu akan pergi jauh. Jauuuh sekali. Ke tempat di mana Whiskas mengalir seperti sungai dan mainan tikus bertebaran di mana-mana."
Oyen menguap lebar, memamerkan gigi taringnya, lalu mulai menjilati kaki belakangnya. Tidak peduli sama sekali.
"Dengarkan aku, Oyen!" seruku dramatis sambil memegang kedua kaki depannya. "Nanti kalau aku sudah tidak ada, kamu harus jadi kucing mandiri. Jangan nyolong ikan asin tetangga lagi. Jangan kencing di helm orang lagi. Kamu harus kuat. Kalau ada maling masuk, cakar mukanya! Jangan malah minta dielus!"
Aku memeluk tubuh gembulnya. "Aku akan merindukanmu, Oyen. Siapa yang akan membersihkan pasir kotoranmu kalau aku mati? Siapa yang akan kau gigit tangannya kalau kau lagi bad mood?"
PLAK! Oyen menampar pipiku dengan telapak kakinya yang bau terasi. Kuku-kukunya keluar sedikit. Dia melepaskan diri dari pelukanku, mendesis pelan, lalu berjalan pergi keluar kamar lewat jendela.
"Bahkan kucing pun meninggalkan aku di saat-saat terakhir," ratapku. "Sungguh tragis nasibku."
Malam semakin larut. Rasa sakit di kakiku tidak berkurang, malah bertambah kencang. Pikiranku makin kacau. Bayangan amputasi dan kematian menari-nari di pelupuk mata.
Aku tidak bisa tidur. Aku berguling ke kanan, sakit. Berguling ke kiri, gelisah. Telentang, menatap lampu kamar, membayangkan lampu operasi.
Pukul 7 pagi. Aku masih hidup. Tapi mataku bengkak karena begadang dan menangisi nasib. Kaki kananku terasa kaku seperti kayu ulin.
"Aku harus menghadapi ini," tekadku bulat. "Aku akan ke dokter. Aku akan mendengar vonis itu langsung dari mulut ahli medis, bukan dari mesin pencari."
Dengan langkah terpincang-pincang yang kusengaja lebih-lebihkan (biar orang lihat betapa menderitanya aku), aku memesan ojek online menuju klinik terdekat. Abang ojolnya bertanya, "Kenapa Mas? Kakinya sakit?" "Doakan saya, Bang," jawabku lemah. "Ini mungkin perjalanan terakhir saya." Abang ojol itu langsung ngebut, mungkin takut aku mati di boncengannya dan jadi urusan polisi.
Sampai di klinik. Baunya khas. Bau alkohol dan keputusasaan. Aku mendaftar. "Keluhan apa, Mas?" tanya resepsionis. "Dugaan Osteosarcoma Stadium Akhir atau Infeksi Jaringan Lunak Akut," jawabku dengan istilah medis yang kuhafal semalam. Mbak resepsionis menatapku bingung, lalu menulis: Kaki Sakit.
Namaku dipanggil. Aku masuk ke ruang periksa. Di sana duduk Dokter Haryanto. Dokter senior dengan wajah lempeng, kacamata tebal, dan aura yang tidak bisa diajak bercanda.
"Duduk, Mas. Apa yang dirasa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Aku duduk dengan hati-hati. "Dok..." suaraku bergetar. "Saya siap mendengar yang terburuk. Jujur saja, Dok. Berapa lama lagi sisa waktu saya?"
Dokter Haryanto mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Kaki saya, Dok. Kaki kanan saya. Kemarin sore tiba-tiba nyeri hebat, kaku, bunyi krek, dan rasanya seperti digerogoti dari dalam. Saya sudah cek di Google, gejalanya mirip kanker tulang atau penyumbatan pembuluh darah fatal."
Dokter Haryanto menghela napas panjang. Sangat panjang. Sepertinya dia sudah menghadapi ratusan pasien "Lulusan Fakultas Kedokteran Google" seperti aku.
"Coba naik ke kasur periksa. Celananya ditarik ke atas."
Aku menurut pasrah. Ini dia. Momen penentuan. Dokter Haryanto menekan betisku. "Sakit di sini?" "Aww! Iya Dok! Itu pusat kankernya!" teriakku.
Dia menekan lagi di dekat lutut. "Di sini?" "Aduh! Iya! Itu pasti penyebarannya!"
Dokter Haryanto mengambil palu karet kecil. Dia mengetuk lututku. Tuk. Kakiku menendang refleks. Dia menyuruhku meluruskan kaki, menekuk, lalu memutar pergelangan kaki. Dia terdiam sejenak. Mencatat sesuatu di rekam medis.
Hening yang mencekam. Aku memejamkan mata, merapal doa tobat. "Bagaimana, Dok?" tanyaku dengan suara mencicit. "Apakah harus diamputasi hari ini? Saya belum pamit sama orang tua..."
Dokter Haryanto melepas stetoskopnya, menatapku dengan tatapan datar, datar sekali, sedatar aspal jalan tol Cipali.
"Mas Cahyo," panggilnya.
"Ya, Dok?" Jantungku mau copot.
"Kerjaannya apa?"
"Freelance, Dok."
"Sehari duduk di depan komputer berapa jam?"
"Emm... bisa 12 sampai 14 jam, Dok. Kadang lebih kalau lagi deadline."
"Olahraga?"
"Jari saya olahraga di atas keyboard, Dok."
Dokter Haryanto mengangguk pelan. Lalu dia tersenyum. Senyum yang mengandung unsur kasihan dan ingin meruqyah pasiennya.
"Mas Cahyo, ini bukan kanker. Bukan tumor. Bukan virus pemakan daging."
"Lalu apa, Dok?! Penyakit langka yang belum ada namanya?!" tanyaku histeris.
"Ini namanya..." Dokter Haryanto memberi jeda dramatis, "...Kram otot dan kekakuan sendi akibat kurang gerak."
Hening. Jangkrik di luar klinik pun sepertinya berhenti mengerik untuk mendengarkan kebodohanku.
"Ha?"
"Kurang gerak, Mas," ulang dokter itu dengan penekanan. "Posisi duduk Mas mungkin salah. Kakinya ditekuk terus di bawah kursi, aliran darah nggak lancar, ototnya tegang (spasme). Ditambah kurang minum air putih, jadilah nyeri begitu."
Aku melongo. Mulutku terbuka lebar saking syoknya. "Jadi... saya nggak bakal mati?"
"Semua orang bakal mati, Mas. Tapi tidak gara-gara kaki pegal ini," jawab dokter itu sarkas. "Obatnya cuma satu: Pulang dari sini, minum air putih yang banyak, kompres air hangat, tempel koyo, dan tolong... touch grass. Keluar rumah. Jalan kaki. Jangan duduk terus kayak patung pancoran."
Wajahku panas. Merah padam. Rasa malunya lebih menyakitkan daripada rasa sakit di kaki. Aku sudah membuat surat wasiat. Aku sudah pamit dramatis di grup WA. Aku sudah menangis di depan kucing. Aku sudah mendoakan abang ojol.
Ternyata... Ternyata cuma PEGAL LINU BIASA KARENA MAGER.
"Ini saya kasih resep vitamin B kompleks dan obat pereda nyeri otot. Murah kok," kata dokter sambil menyodorkan kertas. "Dan satu lagi resep tambahannya."
"Apa itu, Dok?"
"Stop Googling penyakit. Itu bikin umur pendek karena stres."
Aku keluar dari ruang periksa dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Rasanya ingin kubungkus wajahku dengan kantong kresek hitam. Saat membayar di kasir, aku melihat total biayanya. Murah. Jauh lebih murah daripada biaya pemakaman yang sudah kubayangkan.
Aku membuka HP. Grup WA sudah ramai. Tono mengirim stiker orang tertawa guling-guling. Udin mengirim pesan: "Gimana Yo? Jadi mati gak? Gue udah OTW mau ambil PS4 nih."
Aku mengetik balasan dengan jempol yang terasa berat: "Gak jadi mati. Dokter bilang gue cuma butuh pacar biar ada yang ngingetin olahraga."
Sesampainya di kosan, aku melihat Baginda Oyen sedang duduk di ambang pintu. Dia menatapku. "Meong," katanya singkat. Aku tahu artinya. Dia bilang: "Udah pulang, Babu bodoh? Mana jatah makanku?"
Aku merobek surat wasiatku, membuangnya ke tempat sampah, lalu menempelkan koyo cabe sebanyak lima lembar di betis kananku. Panasnya koyo itu membakar kulitku, tapi setidaknya itu nyata.
Pelajaran moral hari ini: Jika kakimu sakit, pergilah ke dokter. Jangan ke Google. Karena di Google, panu pun bisa didiagnosis sebagai tanda awal kiamat.
Dan ya, besok aku akan mulai jogging. (Mungkin. Kalau tidak hujan. Dan kalau tidak bangun kesiangan).