Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pada zaman dahulu kala, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Kahar di negeri Vashur, matahari gurun selalu menyala bagai bara yang tak padam. Angin kering membawa butir pasir berputar di antara menara-menara batu, sementara di kejauhan, kubah emas istana memantulkan cahaya hingga seolah langit terbakar. Vashur dikenal sebagai kota paling makmur di padang Sahamir tempat para pedagang dari timur dan barat bertemu, tempat unta-unta membawa rempah, permata, dan cerita.
Di kota inilah seorang anak bernama Nailan tumbuh. Ia bukan anak bangsawan, bukan pula keturunan saudagar kaya. Ayahnya hanya seorang penjaga gerbang barat istana, dan ibunya menjual kain di pasar dekat sumur tua. Namun Nailan memiliki sesuatu yang jarang dimiliki anak-anak lain di Vashur yaitu rasa ingin tahu yang tak pernah hilang.
Sejak kecil, Nailan gemar menatap istana dari jauh. Kubahnya, menaranya, dan dindingnya yang berukir kisah leluhur selalu memanggil-manggilnya. Ia sering bertanya pada ayahnya, “Apa yang terjadi di balik dinding itu? Apakah benar ada taman yang penuh air dan pohon kurma di tengah pasir?” Ayahnya selalu tertawa kecil. “Itu tempat bagi mereka yang ditakdirkan berbeda, Nak. Bukan untuk kita.”
Tetapi bagi Nailan, kata tidak mungkin hanya bahan bakar bagi rasa penasarannya.
Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit pasir dan bayangan menara menjulur panjang, Nailan diam-diam menyelinap melewati gerbang kecil di sisi timur istana. Ia mengenali jalur itu karena sering melihat ayahnya berjaga di sana. Ia menunggu hingga penjaga lain berpaling, lalu merayap di balik tembok batu, menahan napas, dan akhirnya masuk ke dalam halaman istana.
Matanya membelalak. Di hadapannya terbentang taman hijau, sungguh nyata air mancur memercik, burung-burung kecil beterbangan, dan aroma bunga mawar memenuhi udara. Di tengah taman berdiri seorang pria tua berwibawa dengan jubah putih, memandang ke langit yang mulai jingga.
Nailan tak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan Raja Kahar sendiri.
“Apa yang kau lakukan di sini, anak kecil?” suara itu dalam, namun tak menakutkan. Nailan terkejut, lututnya gemetar. “Ampun, Tuanku. Aku hanya ingin tahu bagaimana bentuk taman istana.”
Raja Kahar menatapnya lama, lalu tersenyum samar. “Keingintahuan bisa jadi anugerah, tapi juga kutukan, Nak. Kau ingin tahu? Maka lihatlah, tapi jangan sampai lupa jalan pulang.”
Sejak hari itu, Raja Kahar mengizinkan Nailan datang sesekali ke istana. Tidak untuk bekerja, melainkan untuk belajar. Nailan duduk di aula besar, mendengarkan para penulis kerajaan menyalin kitab, para astronom menggambar lintasan bintang, dan para arsitek merancang menara baru. Ia belajar membaca tulisan kuno yang terukir di dinding istana, memahami arti simbol-simbol gurun, dan menghafal kisah leluhur Vashur.
Lama-kelamaan, para penulis dan ilmuwan istana pun mengenal Nailan. Mereka kagum pada ketajaman pikirannya, namun juga khawatir akan semangatnya yang terlalu besar. Seorang penulis tua pernah berkata padanya, “Anak muda, pena bisa menjadi lebih tajam dari pedang. Gunakanlah untuk menyalakan terang, bukan untuk menebas bayangan.” Kalimat itu menancap di hati Nailan dan menjadi petuah yang ia simpan diam-diam.
Namun semakin banyak ia belajar, semakin besar pula rasa ingin tahunya. Ada satu hal yang tak pernah diajarkan kepadanya Ruang Sunyi, tempat yang hanya Raja dan penasihat agung yang boleh masuk. Di balik pintu logam berukir matahari itu, konon tersimpan rahasia asal-usul Vashur.
Tiga tahun berlalu. Nailan tumbuh menjadi remaja dengan tatapan tajam dan pikiran cepat. Suatu malam, ketika badai pasir mengamuk dan seluruh penjaga berlindung, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri isi Ruang Sunyi itu.
Ia menyelinap ke aula barat, menyalakan lentera kecil, dan berjalan perlahan melewati lorong batu. Pintu itu ada di ujung, berdiri megah dan dingin. Di tengah ukiran matahari, terdapat lubang kecil berbentuk segi enam. Nailan menyentuhnya dan teringat pada liontin yang pernah diberikan Raja Kahar kepadanya bertahun lalu. Tanpa ragu, ia menempatkan liontin itu ke dalam lubang.
Pintu bergetar perlahan dan terbuka, mengeluarkan bunyi seperti tiupan angin.
Ruangan itu dipenuhi cahaya biru yang lembut. Di tengahnya berdiri bola kristal besar, berputar perlahan, memantulkan bayangan gurun, sungai, dan bintang. Di sekelilingnya, puluhan lembar naskah tua bertebaran di meja batu. Nailan melangkah mendekat, matanya terpaku pada tulisan di salah satu lembar: “Vashur bukanlah kerajaan pertama, melainkan bayangan dari negeri yang tenggelam di bawah pasir.”
Ia menelan ludah. Negeri yang tenggelam? Apakah itu berarti Vashur dibangun di atas reruntuhan lain?
Sebelum sempat membaca lebih jauh, sebuah suara berat menggema dari balik pintu. “Aku tahu kau akan datang ke sini suatu hari.”
Raja Kahar berdiri di ambang pintu, matanya tajam tapi tidak marah. “Kau pikir aku tidak tahu? Keingintahuanmu sudah kutebak sejak pertama kali kau melangkah ke taman.”Nailan menunduk. “Ampun, Tuanku. Aku hanya ingin tahu kebenaran.”
Kahar berjalan mendekat, lalu menatap bola kristal itu. “Kebenaran bukan untuk ditelan utuh, Nailan. Ia seperti pasir jika kau genggam terlalu keras, ia akan lepas dari tanganmu.”
Raja itu menatap jauh ke dalam cahaya biru. “Vashur dulu adalah kota yang dibangun di atas reruntuhan Sahira, negeri tua yang menentang matahari. Mereka ingin menguasai alam, menantang gurun, dan akibatnya, mereka ditelan badai. Aku menjaga rahasia ini agar rakyatku tidak mengulang kesalahan yang sama.”
Nailan terdiam. Angin gurun yang melolong di luar terdengar seperti bisikan masa lalu.
“Sekarang,” kata Kahar pelan, “kau sudah melihat apa yang tidak seharusnya dilihat. Apa yang akan kau lakukan dengan pengetahuan itu?”
Nailan menatap sang raja, lalu berkata dengan suara gemetar, “Aku ingin menuliskannya, Tuanku. Agar suatu hari nanti, ketika generasi baru lahir, mereka tahu dari mana kita berasal.”
Kahar tersenyum senyum yang penuh lelah tapi juga harapan. “Maka tulislah, tapi tulislah dengan hati. Jangan biarkan kesombongan mengubah pengetahuan menjadi senjata.”
Tahun-tahun berlalu. Raja Kahar wafat dalam usia lanjut, dan Vashur berubah di bawah penerusnya. Nailan tumbuh menjadi penulis istana, dikenal sebagai “Penjaga Cahaya.” Ia tidak pernah lagi membuka Ruang Sunyi, tapi di setiap kata yang ia tulis, setiap kisah tentang bintang dan pasir, selalu ada pesan tersembunyi dari Raja Kahar bahwa pengetahuan harus disertai kebijaksanaan.
Konon, ketika badai besar datang bertahun-tahun kemudian dan menelan sebagian kota Vashur, hanya satu hal yang tersisa utuh sebuah ruang bawah tanah berisi ratusan gulungan tulisan dengan nama Nailan bin Rafiq terukir di dindingnya.
Dan di antara naskah-naskah itu, ada satu kalimat yang menjadi legenda di seluruh padang Sahamir
“Selama manusia masih bertanya, Vashur takkan pernah benar-benar hilang."