Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku cuma mau beli kapas.
Stok kapas bulat di rumah habis. Padahal micellar water masih ada setengah botol, dan rasanya sayang kalau tidak segera beli kapas baru. Jadi sepulang kerja, aku mampir ke sebuah minimarket kecil yang letaknya hanya beberapa menit dari rumah.
Tidak ada rencana untuk berlama-lama.
Tidak ada rencana untuk bertemu siapa-siapa.
Sampai aku melihat seseorang berdiri di antara rak makanan ringan.
Aku berhenti.
“Eh…”
Dia menoleh.
“Mega?”
Aku langsung mengenali suara itu.
Awan.
Untuk beberapa detik kami hanya saling melihat, seperti dua orang yang sedang sama-sama memastikan bahwa yang berdiri di depan mereka benar-benar orang yang mereka kenal.
Lalu kami tertawa.
“Kamu ngapain di sini?”
“Belanja.”
“Ya iyalah.”
“Terus kamu?”
“Ya sama.”
Percakapan kami masih sama seperti dulu. Tidak pernah terlalu pintar.
Kami kemudian berjalan menyusuri minimarket sambil mengobrol. Tidak benar-benar berdiri di satu tempat. Aku mencari kapas, dia mencari sesuatu yang bahkan aku tidak sempat tanyakan.
Kami membicarakan pekerjaan.
Tentang orang-orang yang dulu kami kenal.
Tentang kabar masing-masing.
Tentang hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu dibicarakan dengan seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak ditemui.
Tapi anehnya, semuanya terasa mudah.
Seolah-olah tidak pernah ada jeda selama itu.
Aku akhirnya menemukan kapas.
Entah kenapa, sebelum menuju kasir, kakiku justru berhenti di depan freezer.
Mataku menyapu deretan es krim.
Lalu berhenti pada satu.
Lapisan cokelat dengan kacang-kacang kecil yang menempel di permukaannya. Di dalamnya, es krim vanila yang lembut.
Tanganku mengambil satu.
Aku bahkan tidak berpikir.
“Masih suka yang itu?”
Suara Awan terdengar dari belakang.
Aku menoleh.
“Masih.”
Dia tersenyum kecil.
“Kirain udah ganti selera.”
Aku tertawa.
Kemudian aku berbalik menuju kasir.
Ketika sampai di sana, aku baru sadar Awan sudah tidak ada.
Aku menoleh ke belakang.
Kosong.
Aku tahu dia masih di antara rak-rak minimarket dan belum pulang.
Aku tidak mencarinya.
Aku membayar kapas dan es krim itu, lalu berjalan pulang.
Malam itu, sambil membuka bungkus es krim, aku tiba-tiba teringat masa SMA.
Dan sebuah kebiasaan kecil yang ternyata masih kuingat dengan sangat baik.
---
Aku dan Awan sebenarnya sudah saling mengenal sejak kecil.
Kami pernah satu SD.
Satu SMP.
Rumah kami juga hanya berjarak sekitar lima menit berjalan kaki.
Tapi anehnya, waktu itu kami tidak dekat.
Kami baru benar-benar saling mengenal ketika aku kelas dua SMA dan dia kelas tiga SMK.
Sekolah kami memang berhadapan.
Tapi bukan sekolah yang membuat kami dekat.
Ratna yang membuat semuanya dimulai.
Ratna adalah teman SMP-ku yang setelah lulus tidak melanjutkan ke SMA. Dia bekerja di sebuah konter pulsa. Kebetulan, dia berpacaran dengan Galih, teman Awan.
Suatu sore sepulang sekolah, aku datang ke konter Ratna.
Ayah yang mengantarku.
Awan sedang ada di sana.
Kami mengobrol seperti biasa. Aku sudah lupa percakapan pertama kami tentang apa.
Yang kuingat, setelah hari itu kami mulai sering bertemu.
Karena rumah kami dekat, Ratna beberapa kali meminta Awan mengantarku pulang.
Kalau aku datang ke konter dan Awan sedang ada di sana, hampir selalu begitu.
Awalnya cuma diantar pulang.
Lama-lama kami mulai pergi sekolah bersama.
Aku naik bus dari sekolah menuju konter Ratna, lalu dari sana pergi bersama Awan menggunakan motornya.
Di antara perjalanan pulang dan berangkat sekolah itulah kami mulai banyak bicara.
Aku juga semakin sering nongkrong di konter Ratna.
Ratna dan Galih adalah pasangan.
Aku dan Awan?
Entahlah.
Mungkin cuma dua orang tambahan yang kebetulan selalu ikut.
Dan di tempat itu, Awan punya satu kebiasaan.
Setiap kali dia membeli es krim, dia akan membelikanku satu.
Selalu yang sama.
Lapisan cokelat dengan kacang-kacang renyah di luar.
Vanila di dalam.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.
Sampai suatu hari aku bertanya,
“Kok selalu yang ini?”
Dia menjawab santai.
“Kan kamu sukanya itu.”
Aku tidak pernah merasa pernah memberitahunya.
Tapi ternyata dia tahu.
---
Saat itu aku punya pacar.
Hubungan kami jarak jauh.
Dan kemudian aku tahu dia selingkuh.
Aku hancur.
Suatu hari sepulang sekolah, aku tidak pulang.
Aku langsung naik bus ke konter Ratna.
Begitu sampai, aku menangis.
Cerita semuanya.
Tentang perselingkuhan itu.
Tentang bagaimana aku merasa bodoh.
Tentang bagaimana aku masih sayang meskipun sudah disakiti.
Ratna mendengarkan.
Awan juga ada di sana.
Aku bahkan tidak ingat berapa kali aku mengulang cerita yang sama setelah itu.
Setiap datang ke konter, topiknya bisa kembali ke orang yang sama.
Awan tidak pernah terlihat bosan.
Kadang kami pulang bersama menggunakan motor.
Aku duduk di belakang sambil bercerita.
Kadang Sabtu malam dia datang ke rumahku.
Bukan untuk mengajakku pergi.
Bukan untuk apa-apa.
Cuma mendengarkan aku bercerita tentang pacarku.
Suatu hari, di tengah masa paling kacau itu, Awan malah bercerita bahwa dia baru putus dengan pacarnya.
“Kenalin gue sama temen-temen lo dong.”
Aku tertawa.
“Boleh. Kebetulan besok temen-temenku mau main ke rumah.”
“Serius?”
“Datang aja. Pilih sendiri.”
Dan dia benar-benar datang.
Ada tiga temanku waktu itu.
Meta, Santi, dan Hani.
Awan memperhatikan mereka seperti orang yang sedang memilih menu makan.
Aku bahkan ikut membantu.
Akhirnya dia memilih Meta.
Beberapa waktu kemudian dia cerita bahwa dia sudah menyatakan perasaan kepada Meta.
Ditolak.
Aku menertawakannya.
Setelah itu dia memilih Santi.
Kali ini dia pergi sendiri ke rumah Santi.
Beberapa hari kemudian dia kembali dengan kabar yang sama.
Ditolak lagi.
Aku menertawakannya lagi.
Aneh memang.
Di satu sisi aku sedang patah hati dan hampir setiap hari menangis karena pacarku.
Di sisi lain aku sibuk menjadi mak comblang untuk Awan.
Tidak pernah terpikir sedikit pun bahwa mungkin seharusnya aku melihat dia dengan cara berbeda.
Bagiku, Awan adalah Awan.
Teman.
Teman yang sangat dekat.
Seseorang yang rasanya lebih seperti kakak sendiri.
Bahkan dia pernah mengatakan sendiri,
“Lo itu adik kesayangan gue.”
Aku cuma menjawab,
“Cie.”
---
Ada satu sore yang masih kuingat.
Aku sedang benar-benar lemah.
Kami sedang berdua.
Aku hampir menangis.
Awan tidak banyak bicara.
Dia hanya menarik kepalaku pelan ke bahunya.
Kemudian dia memainkan sebuah lagu.
“Ya Sudahlah.”
Aku diam mendengarkan.
“Kalau lagi sedih, dengerin lagu ini,” katanya.
Aku mengangguk.
Sesederhana itu.
Tidak ada kata-kata manis.
Tidak ada janji.
Tidak ada apa-apa.
Tapi bertahun-tahun kemudian, aku masih ingat suara lagu itu.
Dan bahu yang menjadi tempatku bersandar sore itu.
---
Ketika kelas tiga SMK, Awan mengikuti proses seleksi perusahaan dari sekolah.
Dia menceritakan semuanya kepadaku.
Dari awal.
Tes demi tes.
Sampai akhirnya tinggal pemeriksaan kesehatan.
Hari itu dia datang menjemputku.
“Doain gue ya.”
Aku mendoakannya.
Dan dia lolos.
Kami merayakannya di konter Ratna.
Dengan es krim.
Seperti biasa.
Setelah mulai bekerja, Awan punya jadwal yang membuat kami harus menunggu.
Dua bulan bekerja.
Dua minggu libur.
Setiap kali dia pulang, kami kembali berkumpul.
Ratna.
Galih.
Aku.
Awan.
Dan hampir selalu ada empat es krim dengan lapisan cokelat dan kacang.
Seolah-olah waktu tidak pernah bergerak.
---
Sampai suatu hari hidup benar-benar mulai bergerak.
Aku kuliah di luar kota.
Awan bekerja.
Kadang dia pulang ketika aku sedang pergi.
Kadang aku libur ketika dia kembali bekerja.
Kami tidak pernah benar-benar bertengkar.
Tidak ada perpisahan besar.
Tidak ada pesan terakhir.
Kami hanya mulai jarang bertemu.
Tapi pernah, saat aku sedang libur semester dan berada di rumah, Ratna menelepon.
“Ke konter, ada Awan.”
Aku ingin datang.
Tapi saat itu aku sudah kembali dengan pacarku.
Dan pacarku melarangku berhubungan dengan Awan.
Apalagi bertemu.
Jadi aku tidak datang.
Sekarang kalau mengingatnya, aku sering ingin menertawakan diriku sendiri.
Bagaimana bisa dulu aku menurut begitu saja?
Tapi saat itu aku tidak berpikir panjang.
Aku hanya menurut.
Dan mungkin setelah itu, kesempatan-kesempatan kecil untuk bertemu memang semakin sedikit.
Sampai bertahun-tahun kemudian—
aku bertemu dengannya lagi di minimarket.
---
Malam itu aku duduk sendirian sambil menghabiskan es krim.
Aku menggigit lapisan cokelatnya.
Kacangnya masih renyah.
Vanilanya masih lembut.
Rasanya masih sama.
Aku tersenyum.
Ternyata ada beberapa hal yang bisa bertahan bertahun-tahun tanpa berubah.
Sayangnya, manusia tidak selalu begitu.
Aku teringat semua hal yang pernah kami lakukan.
Naik motor pulang sekolah.
Nongkrong di konter.
Aku menangis karena pacarku.
Awan mencari pacar dari teman-temanku.
Aku membantu mencarikan.
Dia menyebutku adik kesayangan.
Dia menjemputku ketika sedang sedih.
Aku mendoakan pekerjaannya.
Kami merayakan kelulusannya dengan es krim.
Dan entah berapa banyak percakapan yang sekarang hanya tersimpan di kepala.
Kami pernah begitu dekat.
Tapi tidak pernah benar-benar menjadi apa-apa.
Bukan pacar.
Bukan gebetan.
Bukan saudara.
Tapi juga rasanya terlalu dekat untuk disebut sekadar teman.
Mungkin kalau dulu aku datang ke konter ketika Ratna menelepon, ceritanya akan berbeda.
Mungkin tidak.
Aku tidak pernah tahu.
Dan mungkin memang tidak perlu tahu.
Karena beberapa hubungan tidak membutuhkan akhir yang jelas.
Beberapa orang hanya datang untuk menjadi bagian paling hangat dari satu masa dalam hidup kita.
Lalu pergi ke hidupnya sendiri.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa pengakuan.
Tanpa pernah tahu apakah sebenarnya ada sesuatu yang hampir terjadi.
Aku menghabiskan gigitan terakhir.
Cokelatnya patah kecil di antara gigiku.
Aku tersenyum.
Rasanya masih sama.
Hanya kami yang sudah berbeda.
Dan mungkin memang begitu seharusnya.
Karena pada akhirnya, kami bukan kisah cinta yang gagal.
Kami bahkan tidak pernah benar-benar menjadi kisah cinta.
Kami hanya dua orang yang pernah sangat dekat.
Dua orang yang pernah saling menemukan di waktu yang tepat—
lalu tetap saja tidak pernah sampai ke mana-mana.
Tapi kalau suatu hari nanti aku bertemu Awan lagi, mungkin aku akan bertanya satu hal.
Bukan tentang masa lalu.
Bukan tentang kenapa kami tidak pernah jadi apa-apa.
Aku mungkin hanya akan menunjuk freezer dan bertanya,
“Masih suka yang itu?”
Dan kalau dia tertawa sambil mengambil satu untuk dirinya sendiri, mungkin aku akan tahu—
beberapa hal memang tidak pernah benar-benar hilang.
Mereka hanya menunggu bertahun-tahun,
untuk ditemukan kembali.
Di sebuah minimarket kecil.
Beberapa menit dari rumah.