Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Valentine Untuk Baskara
0
Suka
7,611
Dibaca

Mungkin terdengar menggelikan bila perempuan seusiaku begitu bersemangat menyambut tanggal 14 Februari layaknya remaja yang tengah terkontaminasi film-film drama romantis produksi Hollywood. Tidak, aku menunggu minggu kedua di bulan yang konon merupakan bulan penuh cinta itu hanya karena satu alasan. Baskara Adi Sukmo. Lelaki yang baru kukenal beberapa bulan lalu, namun sudah mampu membangun ruang istimewa sebagai tempat tinggalnya di dalam hatiku.

Dia memang tidak setampan Robert Pattinson yang pernah digilai perempuan seantero dunia, juga tidak seatletis Rafael Nadal yang dua kali berturut-turut menjuarai Wimbeldon, hanya sedikit mengingatkanku pada bintang film era tahun 90an, Ongky Alexander. Lepas dari penilaian secara fisik, aku berani menyandingkannya dengan jenius sekelas Dustin Moskovitz si pencipta facebook. Usianya belum genap 25 tahun, namun sudah berhasil menyelesaikan program masternya dan menjadi dosen di beberapa universitas swasta terkemuka ibukota. Penampilannya jauh dari kesan kutu buku seperti yang sering digambarkan sebagai tokoh intelektual dalam film-film. Dia tidak mengenakan kaca mata minus tebal apalagi memakai kemeja yang dikancing hingga mencekik leher. Saat pertama kali bertemu dengannya di busway, aku bahkan tidak menyangka sama sekali kalau dia seorang dosen. Kemeja kotak-kotak yang menjadi kostum andalannya tidak pernah dimasukkan dengan rapi ke dalam celana pantaloon-nya sehingga terkesan begitu santai dengan lengan baju yang digulung tiga perempat plus jam tangan sportif Garmin-nya yang sekali lagi tidak sedikitpun mencerminkan gaya seorang intelektual.

"Aku pikir kamu masih anak kuliahan!" komentarku meragukannya kala itu. Dia tertawa lepas hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi meskipun sedikit kecokelatan khas perokok.

"Berarti aku kelihatan awet muda ya?"

Aku ikut tertawa, mengiyakan dengan ikhlas. Wajahnya memang tampak kekanakan, like a baby face seperti vampire yang tidak kenal menua. Tetapi begitulah dia, penampilan luarnya sanggup menipu mataku hingga akhirnya pelan-pelan kubiarkan juga menipu akal sehatku.

"Bulan depan aku diundang ke acara workshop di sebuah bank swasta nasional, temanya tentang risk based audit...." Aku mengerling, mulai menerka-nerka arah pembicaraannya. "Mungkin kamu berminat untuk menukar undangan gratis dariku dengan name card kamu?"

Astaga, Baskara. Dia masih saja menggunakan gaya kuno seperti itu di saat orang kebanyakan lebih memilih bertukar nomor handphone dan langsung mengatur jadwal kencan di minggu berikutnya. Mungkin dia memang bukan tipikal manusia modern yang serba instan, meskipun tidak juga bisa dikatakan sebagai tipe lelaki konservatif yang sulit mengungkapkan perasaan. Dia hanya sedikit ajaib dibandingkan jenis lelaki kebanyakan. Aku tahu, dia menyukaiku sejak pertama kali kami bertemu. Aku juga tahu, aku memiliki perasaan yang sama padanya. Tetapi kami juga sama-sama tahu, sesuatu yang telah melingkari jari manisnya merupakan penghalang yang tidak bisa diremehkan keberadaannya.

 

***

 

Sebenarnya Gazebo Cafe kurang sesuai untuk malam spesial yang telah kupersiapkan untuknya, cafe ini terlalu ramai untuk sesuatu yang seharusnya hanya dinikmati oleh kami berdua. Maklumlah, malam ini malam Valentine, jadi sah-sah saja kalau banyaknya pasangan muda-mudi yang reservasi membuat pemilik cafe berinisiatif mengundang penyanyi jazz terkenal, Maliq & D'Essentials untuk ikut meramaikan suasana. Meski cukup lama aku mempersiapkan segala hal untuk malam istimewaku ini, tetapi tetap saja tidak ada candle light dinner, tidak juga cake atau wine sebagai pertanda sebuah perayaan. Di mejaku hanya ada segelas Frappucinno dingin dan kotak kado super mini di sebelahnya. Baskara juga belum datang, mungkin kemacetan Jakarta yang menghambat jalannya menuju ke sini. Jarak tempat tinggalnya di Ciawi memang tidak bisa dikatakan dekat dengan Kota Tua di Utara Jakarta ini. Aku berkeras untuk tidak memikirkan alasan lain yang sebenarnya lebih masuk akal, karena aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri. Aku tidak boleh cemburu, ini semua hanya konsekuensi logis dari sebuah pilihan yang impulsif. Sebuah kesalahan yang indah.

"Sorry, aku terlambat!" Aku menoleh sekilas dan langsung mendapati sebuah kecupan singkat di pipi kiriku. Baskara, dia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna biru magenta yang dipadu dengan celana jeans belel dan sepatu kets putih, warna-warna pilihan seorang player alias playboy kacangan. Tetapi harus kuakui, malam ini dia kelihatan jauh lebih tampan dari biasanya.

"Aku tahu kamu benci perayaan ulang tahun dan segala macam ritualnya," gumamku sambil menghirup Frappucinno dalam gelas kaca dengan pipet plastik. Baskara duduk disebelahku, memperhatikan kotak kado di hadapannya sekilas lalu kembali fokus menatapku. "Tapi aku ingin memiliki sebuah kenangan yang romantis bersamamu, Bas!"

Baskara langsung mengernyit dan mulai menggaruk-garuk rambut cepaknya yang kurasa tidak gatal, itu hanya kebiasaannya bila sedang kebingungan. Dia lantas memanggil seorang pelayan dan memesan segelas espresso tanpa gula. Aku luar biasa heran pertama kali mendapati selera minum kopinya yang cukup ekstrem. Tidak terbayang bagaimana rasanya kopi pekat semacam itu.

"Aku gak ngerti maksudnya gimana, hari ini bukan ulang tahunku, dan kamu tiba-tiba saja bicara aneh-aneh, come on, Vin, jangan membuatku pusing.” Baskara menggeleng-geleng tidak mengerti. Nada bicaranya merepet cepat dan agak cadel sehingga kurang jelas saat mengucapkan huruf 'r' dan membuat kata-katanya terdengar lucu di telingaku. Setidaknya hal itu menjadi hiburan tersendiri untuk tekanan mentalku atas keputusan yang akan kuambil sebentar lagi.

"Aku gak mungkin menunggu 4 tahun lagi demi merayakan tanggal kelahiranmu kan, Bas?" aku tertawa kecil setengah dipaksakan. Hari ini memang bukan ulang tahun Baskara, dia lahir di tanggal 29 Februari yang artinya baru bisa merayakan ulang tahunnya di tahun kabisat saja.

"Entah kenapa aku bisa sayang banget sama kamu,” gumamku menerawang pada akhirnya. "Sialnya, kita bertemu di waktu yang salah...." Baskara meraih bahuku dan membenamkannya ke dalam pelukan. Aku tidak menolak, lebih tepatnya tidak sanggup menolak. Seorang pelayan datang membawakan pesanan Baskara dan langsung menyalakan proyektor seperti yang sudah kupesan sebelumnya. Di layar lebar berukuran lima meter di hadapan kami langsung terputar film pendek yang telah kubuat bersamanya beberapa minggu lalu saat kami menghadiri acara gathering kantorku di Lembang. Tepuk tangan riuh langsung memenuhi seisi cafe terlebih saat manager cafe berbicara di depan sana yang kurang lebih menjelaskan tentang maksud pemutaran film itu atas permintaanku.

"Aku sengaja menyiapkan ini semua buat kamu Bas, karena aku ingin malam ini menjadi malam Valentine pertama dan terakhir yang aku rayakan bersamamu!" desisku hampir tidak mampu menahan bulir-bulir bening yang memburamkan penglihatanku. Aku tidak ingin menangis. Tidak ada yang perlu ditangisi. Baskara mengucapkan terima kasih bertubi-tubi sambil menciumi pucuk rambutku.

"Terima kasih untuk Valentine terindah sepanjang hidupku Vin, tapi please, jangan pernah bicara ini sebagai Valentine terakhir, aku gak mau kamu pergi, aku gak bisa kehilangan kamu, Demi Tuhan, Vina!"

Kusurukkan wajahku ke dalam dadanya. Kudengarkan suara detak jantungnya yang menggebu, aku tahu dia tidak sedang membohongiku. Dia bukan lelaki gombal. Aku selalu mempercayainya, bahkan seandainya dia ingin menipuku sekalipun.

"Kalau begitu kamu yang harus pergi dari aku, Bas." Seketika Baskara meregangkan pelukannya. “Kamu harus kembali ke Zani, aku yakin istrimu gak akan sanggup kehilangan kamu," lanjutku tak rela dengan mata berkaca-kaca.

"Vin..."

Aku hanya sanggup memejamkan mata, merasakan kehangatan telapak tangannya yang sedang mendekap wajahku. “Vina, aku sayang kamu. Aku benar-benar sayang kamu"

Aku mengangguk sambil menggigiti bibirku sendiri. "Aku juga, Bas...."

"Aku sayang kamu melebihi apapun, karena itu aku rela melepaskanmu," kali ini entah mengapa, aku merasa seperti tengah menusuk-nusuk jantungku sendiri. Kupaksakan diriku untuk menerima kenyataan bahwa Baskara telah menikah. Dia telah memiliki seorang istri sejak kali pertama kami bertemu, aku pun sudah mengetahuinya sejak dulu. Bodohnya aku tetap membiarkan rasa itu tumbuh dan menjalariku seperti alergi yang tidak bisa diobati. Aku tahu, bahagiaku malam ini hanya semu yang kuciptakan dalam imajinasi bodohku. Namun setidaknya aku sudah berani bertanggung jawab atas dosa yang sudah kubuat, aku sanggup melepas orang yang paling kusayang tepat di hari yang katanya merupakan hari kasih sayang. Bukan demi Zani, istri Baskara, tidak juga demi Baskara Adi Sukmo yang begitu kusayangi, tetapi lebih demi diriku sendiri. Selamat Hari Kasih Sayang, Vina Rusdiana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Aurora di Petala Langit
Nabil Jawad
Cerpen
Valentine Untuk Baskara
Tri Wahyuningsih
Novel
Bae You
Tata
Novel
Bronze
Turun Ranjang
Yulistya Yoo
Cerpen
I Love You but
Nadiah Alwi
Novel
Gold
Amor Est Poena
Mizan Publishing
Novel
Daddysitter?
V Missv
Novel
Bronze
Frankfurt to Jakarta
Leyla Imtichanah
Novel
Gold
Hector & the Search for Love
Noura Publishing
Novel
Gold
Asal Muasal Pelukan
Bentang Pustaka
Skrip Film
Save The Love
Aza Muliana
Novel
Bronze
BERDETAK (Berakhir dengan Takdir)
Niti Rahayu
Cerpen
Bronze
Cinta di Ujung Skripsi
Nurrafi Prasetyo Sumarno
Novel
Bronze
MY PROUD TO BE OF YOU
Dimas Anggarda
Skrip Film
PULIH
Euis Anisa R
Rekomendasi
Cerpen
Valentine Untuk Baskara
Tri Wahyuningsih
Novel
Siluet
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Marshmallow Merah Jambu
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Senja di Bontang Kuala
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Siluet
Tri Wahyuningsih
Novel
KULMINASI
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Euforia Hipokampus
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Lelakiku
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Rahasia Hati
Tri Wahyuningsih