Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di desa yang asri nan sejuk, para masyarakat berkumpul di Masjid At-Taqwa. Masjidnya besar. Yang membuat masjid ini megah adalah kubah biru. Kubah ini mirip-mirip dengan masjid-masjid yang megah di Eropa. Di dalam masjid sedang diadakan musyawarah untuk menyambut bulan Ramadhan. Para takmir Masjid At-Taqwa mengeluarkan ide, memberi saran di tengah-tengah musyawarah. Pak Ihsan menyimpulkan ada beberapa kegiatan yang akan digelar di bulan Ramadhan nanti. Kebetulan, Pak Ihsan ini adalah ketua takmir.
“Beberapa ide dari kalian memang bagus-bagus, akan tetapi kita harus juga melihat kondisi masyarakat sekitar juga,” ujar Pak Ihsan.
“Iya, saya juga sependapat dengan Pak Ihsan,” respons Pak Udin selaku koordinator sie. sosial.
Walaupun di desa mempunyai masjid yang megah, mayoritas jamaahnya itu sudah tua-tua. Anak-anak muda yang tinggal di desa itu jarang berangkat ke masjid, mungkin datang ke masjid ketika hari Jumat. Dari subuh, jumatan, ashar, maghrib, isya’, lalu besoknya tidak terlihat di masjid, karena di hari Jumat takmir masjid melaksanakan Jumat Berkah dari subuh sampai isya’, dari makan sarapan, makan siang, makan malam, dan uang.
Karena jawaban dari masalah ini belum ditemukan, musyawarahnya dilanjutkan besok. Pak Ihsan menutup musyawarah tersebut, lalu beliau segera pulang. Sesampainya di rumah, Pak Ihsan disambut hangat oleh keluarganya.
“Bapak kok sholat isya’-nya lama banget?” tanya si bungsu, Aisyah.
“Tadi bapak itu musyawarah dulu dengan masyarakat,” jawab Kak Ahmad.
“Emangnya bapak musyawarah apa sih?” tanya Aisyah ke bapaknya.
“Bapak tadi membahas kegiatan di bulan Ramadhan,” jawab Pak Ihsan.
“Oh… iya, Pak, untuk kegiatan di Ramadhan, apakah Ahmad jadi panitia?” tanya istri Pak Ihsan, yaitu Shofia.
“Yaa, kita lihat besok, Bu,” jawab Pak Ihsan.
Di dalam hati Ahmad, dia itu pengen menjadi salah satu bagian dari panitia Ramadhan, karena Ahmad ingin menyibukkan diri. Ketika liburan sekolah, Ahmad selalu mengisi waktunya dengan tidur. Sering kali ibunya menyuruhnya untuk mencari kegiatan supaya tidak tidur terus, karena sifatnya yang pemalu. Semalaman Ahmad tidak bisa tidur karena kepikiran akan jawaban bapaknya tadi, tentang dirinya yang ingin ikut serta dalam panitia Ramadhan.
Sinar matahari menembus jendela rumah Pak Ihsan. Ibu Shofia sudah dari tadi mengetuk pintu kamar Ahmad karena Ahmad tak kunjung keluar dari kamarnya. Gimana mau keluar? Ahmad baru tidur jam dua belas semalam karena terus memikirkan jawaban bapaknya. Pintu kamar juga ia kunci. Tak lama kemudian, Pak Ihsan pulang dari masjid.
“Bapak kok baru pulang jam segini?” tanya Ibu Shofia sambil menyambut suaminya.
“Tadi habis sholat subuh lanjut lagi musyawarahnya,” jawab Pak Ihsan santai.
“Oh ya… tadi subuh Ahmad sholat di masjid mana?” tanya Pak Ihsan.
“Gimana mau sholat di masjid? Orangnya aja belum keluar kamar dari tadi,” jawab Ibu Shofia geram.
Tidak pakai lama, Pak Ihsan langsung menuju kamar Ahmad dan mencoba membuka pintu kamar yang terkunci. Pak Ihsan pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci cadangan yang ia simpan di lemari. Setelah berhasil membuka pintu kamar Ahmad, dan tentu saja Ahmad masih tertidur pulas, Pak Ihsan yang sedari tadi menyiapkan segelas air langsung menyiramkannya ke Ahmad yang sedang mendengkur.
“Kak Ahmad sudah sholat?” tanya Pak Ihsan sambil berkacak pinggang.
“Kan masih belum adzan, Pak,” jawab Ahmad sedikit shock sehabis disiram bapaknya tadi.
“BELUM ADZAN!? Lihat sekarang sudah jam berapa!” jawab Pak Ihsan dengan wajah marah.
Ahmad langsung berdiri tanpa ada bantahan, lalu mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Pak Ihsan dan Ibu Shofia sedang menunggu di meja makan, dan Aisyah yang menyiapkan makanan. Walau ia masih kelas 2 tsanawiyah, Aisyah memang jago memasak karena diajari ibunya. Setelah menunggu, akhirnya si Ahmad bergabung di meja makan sambil menguap. Ketika Ahmad mengambil nasi, Aisyah tertawa.
“Dek, kenapa tertawa?” tanya ibu bingung.
“Ini, Bu, Kak Ahmad ambil nasi tapi kok belum ambil piring,” jawab Aisyah sambil tertawa.
Seketika Ahmad menyadari dirinya tidak membawa piring. Ia pun pergi meninggalkan meja untuk mengambil piring, karena piring yang telah disediakan untuk Ahmad dipakai Pak Ihsan untuk wadah duri ikan bakar.
Setelah Ahmad mengambil piring, ia pun ikut bergabung di meja makan. Momen ini akan berakhir tujuh hari lagi dan akan digantikan dengan sahur bersama.
“Kak Ahmad, nanti habis sholat zuhur kumpul dulu di masjid dulu ya, sama para takmir,” ucap Pak Ihsan.
“Kenapa, Pak?” tanya Ahmad penasaran.
“Kamu ditunjuk oleh Pak Udin untuk mengajak anak-anak muda untuk meramaikan masjid di Ramadhan nanti,” jelas Pak Ihsan.
Ahmad melonjak senang. Tak percaya ia terpilih menjadi panitia acara Ramadhan. Ini bagaikan mimpi!!
Setelah sholat zuhur, Ahmad ikut bapaknya di dalam forum penyambutan bulan Ramadhan. Sebelum musyawarah dimulai, seluruh takmir makan terlebih dahulu. Makanannya nasi kuning dengan ayam bakar. Saking lezatnya, Ahmad berbisik dalam hati, “Isi perut dulu sebelum musyawarah.”
Setelah makan, musyawarah pun dimulai. Para takmir tetap membahas bagaimana cara agar masjid ini makmur, baik anak muda maupun orang tua. Pak Udin menjelaskan supaya anak muda sering pergi ke masjid. Lalu ada yang usul untuk mengadakan sosialisasi memakmurkan masjid. Pak Ihsan setuju, dan para takmir lain juga setuju.
Sekarang Pak Udin memberi Ahmad tugas untuk mengajak masyarakat dalam keikutsertaannya dalam acara ini.
Para takmir sepakat mengadakan sosialisasi ini empat hari sebelum memasuki Ramadhan. Ahmad langsung mengirim chat ke teman-temannya, menyebarkan undangan sosialisasi yang diadakan takmir Masjid At-Taqwa. Setelah chat terkirim, banyak yang membalas mau ikut serta karena pasti disediakan makanan yang enak. Ada juga yang disuruh orang tuanya.
Waktu berjalan begitu cepat. Para takmir sudah menyiapkan acara ini dengan amat baik. Pemateri yang diundang juga tidak main-main. Pemateri ini bahkan sering masuk TV internasional. Beliau adalah Syekh Sirojuddin, Lc. Tidak disangka-sangka Masjid At-Taqwa ramai sekali dengan jamaah, baik yang muda maupun yang tua. Dan juga banyak reporter TV yang datang untuk menyiarkan sosialisasi tersebut.
“Sebagai orang muslim, entah tua maupun muda, seharusnya kita memakmurkan masjid. Apalagi kita sebentar lagi bertemu dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan. Maka dari itu, para jamaah sekalian, marilah kita bertaubat. Yang dulunya ogah-ogahan ke masjid, mulai sekarang harus lebih sering ke masjid. Jangan nunggu tua baru bertaubat. Kita tidak tahu kapan ajal kita menjemput,” ujar Syekh Sirojuddin, menyadarkan seluruh jamaah.
Setelah acara inti selesai, para takmir masjid pun membagi-bagikan makanan kepada para jamaah. Para jamaah pun makan dengan lahap hingga tandas.
Sebelum Syekh Sirojuddin pulang, Pak Ihsan berterima kasih kepada Syekh Sirojuddin yang telah meluangkan waktunya untuk mengisi acara sosialisasi ini. “Semoga masyarakat bisa lebih semangat lagi untuk berjamaah di masjid ini,” ujar Syekh Sirojuddin mendoakan kemakmuran masjid ini.
Selepas sholat zuhur, Syekh Sirojuddin pulang sambil dikerubungi reporter TV.
Ternyata acara sosialisasi ini sangat berdampak bagi para warga sekitar, sehingga masjid pun ramai dengan jamaah.
Sholat tarawih pun digelar di malam Jumat. Para masyarakat ramai-ramai datang ke masjid, dan begitu juga dalam kegiatan Ramadhan yang lainnya, seperti buka bersama, pengajian subuh. Bahkan banyak orang-orang yang berinfak. Ada yang berinfak nasi kotak untuk buka bersama, ataupun berupa uang. Bahkan anak muda sekarang selalu bantu-bantu takmir dalam menyukseskan kegiatan, dari bersih-bersih masjid, bagi-bagi takjil, sampai menyiapkan takjil tersebut. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu para takmir Masjid At-Taqwa. Alhamdulillah, masyarakat juga konsisten dalam meng-upgrade ibadah mereka, sampai salat Idulfitri digelar di lapangan. Takbir yang bergema di sudut-sudut desa, masyarakat sudah berkumpul di lapangan. Ahmad yang sedang mengondisikan saf para jamaah bersedih hati, karena bulan suci Ramadhan telah usai. Ahmad mengira masyarakat akan jarang pergi ke masjid lagi setelah Ramadhan usai, tapi ternyata dugaan Ahmad salah besar. Masyarakat masih tetap memakmurkan masjid.