Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bus ekonomi itu berhenti dengan suara tarikan rem panjang "ngiikkkkk". Memang busnya sudah cukup tua yang terparkir di halaman terminal itu. Asap knalpot tercampur dengan bau jalanan dan teriknya sinar matahari di Siang hari menyambut Bejo yang turun dari dalam Bus.
Bejo baru pertama kali merantau ke kota orang. Dia percaya kalau hidup di kota bisa mengubah 180 derajat hidupnya, konon katanya kalau kerja dikota bisa jadi kaya raya. Dia menatap gedung-gedung tinggi di kota metropolitan. Kota yang ia lihat cuma dari TV dan cerita orang kampung.
"Busett...gedungnya tinggi banget." Ucapnya kagum terheran-heran.
"Kok bisa ya buat bangunan setinggi ini? Apa bener pake jin buat bantuinnya?" ucapnya masih berbinar heran
Tanpa sadar, Dia mendongkak dengan lamanya sampai hampir ditabrak tukang Mie Ayam.
"Heh, minggir!" ucap tukang Mie Ayam
Bejo kaget.
"Maaf Bang, saya pendatang," ucap Bejo dengan nada lirih.
Tukang Mie ayam diam seketika, "Saya gak nanya Bang, minggir!" ucapnya.
"Hadeh, baru juga pertama kali di kota udah ada drama baru aja," ucap Bejo sambil menepuk sebelah kepalanya.
Sebelum pergi merantau Ibu nya membekali beberapa nasihat.
"Jangan lupa sholat"
"Jangan ngomong sama orang yang gak dikenal"
"Jangan gampang percaya kalo di kota orang"
"Kalau nyebrang liat kanan kiri"
Begitulah kiranya nasihat Ibunya yang membekas dalam ingatan Bejo.Walau sebenarnya yang Dia takutkan hanya satu, takut naik eskalator. Pemuda dari kampung itu belum pernah sama sekali pergi ke kota sampai umurnya kini 21 tahun.
*****
Hari pertama Bejo cari kerja, Dia mengenakan kameja flannel kotak-kotak, celana bahan yang kedodoran dan sepatu pantofel pinjaman dari sepupunya. Dia memasuki minimarket.
"Mas, saya mau lamar kerja disini"
"CV nya mana Mas?"
Bejo sesegera mungkin mengeluarkan map plastik lengkap dengan dokumen unruk persyaratan lamaran kerja yang isinya:
Ijazah
Fotokopi KTP
Pas Foto
SKCK
dan lain sebagainya
"Lho Mas, ini buat apa?" terheran-heran dengan dokumen sebegitu banyaknya
"A anu, ini kata Ibu saya disuruh bawa semuanya," ucap Bejo sambil menggaruk kepalanya.
"Oh, kalau begitu di tempat lain saja. Maaf ya Mas." ucap penjaga toko minimarket tersebut.
******
Hari, demi hari kian berlalu. Bejo belum kunjung juga mendapat pekerjaan yang pasti.
Di tolak.
Cari lagi di tempat lain.
Di tolak lagi.
Sampai pada akhirnya Dia menyadari satu hal, kalau alasan paling sering, " Nanti kami hubungi." awalnya Dia senang karena ada harapan namun ternyata itu adalah kata penolakan yang halus. Dompetnya sudah mulai menipis, Bejo mulai kerja serabutan.
Dia pernah jadi kuli bangunan tapi cuma satu hari. Mandornya marah, baru saja setengah hari Dia sudah muntah-muntah karena ngaduk semen pake Jaket.
"Kamu ngapain pake jaket, panas begini?" ucap mandornya dengan nada tegas dan mata melotot ke arah Bejo.
"A anu Pak.. saya malu, badan saya item."
"Alasan, kamu saya pecat!" ucap mandornya sambil marah.
Besoknya, Bejo jadi tukang cuci piring diwarteg. Tapi malah mecahin piring setengah lusin.
"Astagfirullah, kamu gimana sih pegang piring?" bentak pemilik warteg.
"Saya licin bu, aaa..anu grogi maksudnya saya grogi bu," ucap Bejo terbata-bata.
"Grogi kenapa?!." tanya pemilik warteg sambil membentak.
"Soalnya Ibu galak...." ucap Bejo dengan polosnya.
"Gak ada lagi kerjaan buat kamu, saya pecat sekarang juga!" bentak pemilik warteg sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Bejo.
Pernah juga Bejo jadi Badut Promosi ditoko mainan.
Yang lain joged, Dia malah dadah-dadah kayak lagi nyaleg ke setiap orang yang lagi lewat didepan toko. Alhasil, banyak anak kecil menangis lihat mukanya.
*****
Sore hari itu, Bejo melipir ke sebuah taman kota sebelum Dia pulang ke kosannya. Tiba-tiba kakinya nyenggol sesuatu.
Dompet dan berkas dokumen.
Tebal.
Hitam.
Ketika dibuka....
"Masyaallah..."
Isinya uang banyak banget, dan beberapa kartu ATM.
"Gila, ini beneran uang? atau jangan-jangan buat mancing jadi tumbal ya?" ucap Bejo sambil menaruh jari telunjuknya dibibirnya.
"Apa aku ambil aja gitu?" Menoleh ke kanan dan ke kiri.
Otak miskinnya berkata
"Kalau diambil dikit juga kagak bakalan ketahuan."
Sementara isi hatinya berkata
"Haram, nanti nyesel loh."
Bejo menghela nafas panjang.
"Yaudah lah, gagal jadi kaya sehari. Apa ku kasih aja ya ke alamat pemilik dompet ini?"
Kemudian, Bejo berhasil mencari alamat di KTP tersebut. Begitu sampai, betapa terkejutnya dia...
"YA AMPUN... INI RUMAH APA ISTANA?" ucapnya dengan penuh rasa kagum
Sorot matanya yang tadinya sayu, kini pupilnya membesar.
"Gede banget busett," ucap dalam hatinya
"Gerbangnya aja lebih besar dari pada palang kampung"
Satpam melihat Bejo dengan tatapan curiga, lalu menghampirinya.
"Mau ngapain mas?" ucap satpam penjaga rumah tersebut.
"Ini saya nemu dompet." Sambil menunjukkan dompetnya.
"Mana saya lihat?" ucap satpam dengan nada intimidasi.
Ketika dibuka, betapa terkejutnya saat melihat KTP tertera dengan nama Arif Wijaya.
Satpam tanpa basa basi, panik langsung masuk ke rumah dan memberikan dompet beserta dokumen tersebut kepada Pak Arif.
Sementara Bejo, nampak kebingungan karena tak sepatah katapun terucap dari satpam. Sehingga, Dia menunggu sejenak diluar rumah sambil menatap gemerlapnya bintang malam.
"Pak.. ini dompet Bapak, barusan ada yang nganterin." Satpam memberikan dompet tersebut.
"Oh ya, mana orangnya? Saya pengen ketemu." ucap Pak Arif dengan penasaran.
"Baik Pak, saya suruh masuk ya."
"Silahkan." Pak Arif menunggunya diruang Tamu.
Tanpa basa basi, satpam itu kemudian menyuruh Bejo masuk ke dalam rumah.
"Sandalnya dipake aja mas, jangan dilepas," ucap satpam dengan wajah datar.
"Oh hehe, iyaa saya pake kalau begitu. Ini kalau di kampung namanya gak sopan, masa masuk rumah pake sandal." Bejo menjawabnya dengan tertawa pelan.
"Iya kan itu di kampung mas, ini kan di kota." tetap saja wajah satpam itu datar.
Seketika, Pak Arif menyambutnya dengan hangat. Mengenggam erat salamannya dengan Bejo dan bertanya mengenai beberapa hal.
"Makasih ya, udah kembaliin dompet saya. Dokumennya masih utuh juga." ucap Pak Arif dengan tersenyum seperti bulan sabit.
Ia menatap Bejo dengan rasa kagum serta keheranan.
"Kamu gak ambil isinya kan?"
"Tadinya saya mau Pak, tapi saya takut dosa."
Tertawa bersama, sampai satpam batuk.
Untuk pertama kalinya Pak Arif bertemu orang sejujur Bejo dizaman saat ini.
"Kamu kerja?"
"Saya kerja jadi apa aja Pak. Selama gak disuruh jadi pawang ular saya mau."
"Lho kenapa?"
"Saya takut ular hehe." jawabnya dengan jenaka.
*****
Keesokan harinya Bejo dipanggil pak Arif masuk kantor. Dia dijadikan office boy, baru pertama kerja langsung bikin heboh. Dia menyeduh kopi tapi pake dispenser dingin.
"Kenapa kopinya ngga panas?" ucap Pak Arif kepada Bejo sambil memicingkan matanya.
"A anu Pak, dispensernya dingin." Wajahnya polos.
"Ya ampun, pencet tombol warna merah kalau mau air panas Jo." Tertawa Pak Arif terbahak bahak.
Hari itu juga Dia belajar cara naik lift.
"Wihh gagah, ini pintu bisa buka tutup sendiri," ucap Bejo sambil memencet tombol tombol di dalam Lift tersebut.
Bukannya sampai ditujuan, dia malah muter-muter naik turun sampai akhirnya pusing sendiri didalam lift. Untungnya beberapa staff kantor membantunya.
Hari kedua kerja, Bejo salah masuk ruangan. Dia masuk ruangan meeting, sehingga orang-orang mengiranya peserta meeting.
"Bagaimana grafik penjualan minggu lalu?" ucap manager keuangan kepada peserta meeting.
Bejo berdiri pelan.
"Kalau menurut saya, yang laku dijual udah laku Pak."
Semuanya terdiam.
Pak Arif malah tertawa sampai batuk-batuk karena terhibur oleh tingkah polosnya.
Bejo memang katro, tapi Dia punya kejujuran dan rajin.
Seperti namanya Bejo, selalu Untung. Kini, hidupnya perlahan-lahan mulai membaik.
Gajinya masih UMR. Pas-pasan tapi sekarang. Dia udah gak ngutang lagi kalau tiap makan apalagi beli gorengan. Bahkan, sebulan sekali Dia rajin mengirimi Ibu nya uang untuk keperluan keluarganya dikampung halamannya tercinta.
Setiap Video Call, Ibunya selalu bilang:
"Alllhamdulillah ya Nak, sekarang udah kerja enak dikantor"
"Iya Bu, berkat Ibu juga Bejo jadi beruntung kayak iklan sebelah, hehe." ucap Bejo dengan senyum yang seperti bulan sabit.
Tamat.