Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
Ular-Ular Berbisa
0
Suka
16
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kala libur tiba, para santri sibuk menyiapkan segala pakaian yang akan mereka bawa pulang ke kampung halamannya–gamis, koko, sarung, kopiah, serban, hingga sajadah lusuh yang sudah melekat dalam hidup mereka. Para wali murid pun silih berganti memenuhi ruang administrasi, melangsungkan pembayaran, dan membawa anak mereka pulang ke rumah. Libur inilah yang dinantikan seluruh santri, terkecuali Danar, si yatim-piatu, ireng-kucel ora duwe duit.

***

Danar kecil baru setahun masuk ke pondok pesantren, ia diambil dari Desa Karangsari, Banyumas sana. Pimpinan pondok lah yang mengajaknya untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama dan Al-Qur'an. Karena semasa di desa, Danar hanya memancing di hilir sawah dan kemudian pergi ke surau ketika petang. Tetangganya memberinya sejumlah uang, lalu ia belanjakan habis untuk membeli nomor dan ditukar dengan barang sesuai dengan nomornya. "Sialan." Begitu ketusnya ketika berulang kali menukar, malah kuaci yang ia dapatkan.

Di surau desa, ia juga menghabiskan malamnya bukan dengan mencari pahala–sholat malam, membaca Al-Qur'an atau zikir-zikiran. Melainkan menunggu waktu yang tepat untuk menggasrak isi kotak amal. Mudah sekali bagi Danar mengambilnya, berbekal sepucuk lidi yang ujungnya ia tempelkan selotip dan dimasukkan ke dalam sana. Sambil terus menusuk ke dalam, dirasa sudah ada yang tersangkut lalu lah ia menariknya. "Anjir, gocap."

Danar melancarkan aksinya hanya sekali dalam semalam, dan hanya memasukkan sekali saja. Karena dia berpikir, dia hanya butuh segitu dan ia rasa itu sudah cukup. Danar pun pergi ke pojok halaman surau berbekal alas kardus seadanya dan terlelap hingga azan subuh membangunkan.

"Le, bangun, Le." Suara marbot biasa membangunkan Danar, digepukkan paha, dan pipinya berulang. Mata Danar yang masih masam berangsur segar. Marbot tadi sudah kembali ke surau dengan mikrofon lirih puji-pujian. Para jama'ah terus berdatangan. Danar yang masih memeluk dengkulnya diteriaki Pak Kades. "Woy, Danar." Danar tergontai-gontai bergegas ke kamar mandi hingga sholat usai.

Para warga yang risau dengan Danar mengadukannya kepada seorang kyai yang akrab dipanggil “Mbah Komar.” Ini bukan pertama kalinya. Melainkan sudah hampir delapan kali Mbah Komar diminta untuk mengajak Danar ikut dengannya. Delapan kali warga mengadu, delapan kali pula Mbah Komar datang. Kali ini Pak Kades ikut menunggu. Tidak ada lagi yang keberatan. Mereka hanya sepakat: kalau Danar mau, bocah itu harus dibawa pergi dari desa.

Kala pertemuan Pak Kades dengan Mbah Komar itu tiba, si Danar masih memancing di hilir sawah. Sedangkan anak sebayanya masih berada di sekolah mendapat ilmu, sedang Danar mendapatkan ikan untuk dijual dan mendapat upah. Pak Kades dan Mbah Komar menunggunya hingga petang, bersamaan tiba pula si Danar.

Ketika waktu menunggu sudah hampir usai, si Danar tunggang-langgang dikejar warga. Pak Kades dan Mbah Komar pun sigap melihat dan menolongnya. Pak Kades menebak-nebak permasalahan kali ini. “Kayanya iki bocah maling lagi iki.” Ujar Pak Kades dengan mata melotot.

“Ono opo toh, Le?” Mbah Komar lirik kanan-kiri warga semakin dekat, ia mengajak Danar bersembunyi di belakang tempat wudhu dan Pak Kades menghampiri warga untuk bertanya dan mencari sebuah fakta. “Loh, ada apa ini Bapak-bapak, Ibu-ibu.” Pak Kades mencegat mereka, pura-pura tidak tahu.

“Anu, Pak. Danar mukulin anake Pak Ngatijo,” seru seorang Ibu yang masih mengenakan caping di kepala. Tubuhnya berlumur lumpur dan bau kali. “Saya juga tadi didorong masuk sawah sama itu bocah.” Lanjutnya.

“Iya, Pak. Saya juga tadi lagi ngangon bebek di pinggir sawah malah bebek saya yang dilempar sama itu Danar.” Kakek tua dengan kaus dalam juga tak ingin kalah mengadu apa yang Danar lakukan terhadapnya.

“Bener tuh, Pak. Ikan saya juga dipancing mulu sama itu anak. Padahal satu bulan lagi bisa panen.” Abang-abang kepala tiga juga tak kalah saing mengadukan kelakuannya Danar.

Situasi semakin ricuh, Pak Kades pun menyuruh warga untuk pergi pulang dan akan berusaha menyelesaikan masalah mereka. Mereka juga dijanjikan akan diganti seluruh kerugiannya oleh Pak Kades, karena Danar tidak ada yang menanggungnya.

Pada situasi lain, Mbah Komar cepat menginterogasi Danar yang engap bernapas, sesekali batuk dan terduduk. Bau lumpur sawah yang anyir menguar dari kaus Danar yang koyak. Kyai sepuh itu berulang kali menaikkan pandangan dari ujung kaki hingga ujung kepala Danar, tidak marah, ia hanya menatap Danar dengan pandangan teduh, seolah sedang melihat sebatang bambu yang masih muda tumbuh bengkok namun ia yakin masih bisa diluruskan.

"Kamu tahu, Le, kenapa warga begitu marah?" tanya Mbah Komar lirih.

Danar menyandarkan kepalanya ke dinding tembok, sesekali mengopek bekas lumpur yang kering di kedua betisnya, matanya liar memandang sandal-sandal jepit yang berserakan, ingusnya naik-turun seruputan. "Karena mereka benci saya, Mbah. Dari dulu saya dianggap sampah, beban, yatim, miskin."

Mbah Komar menggeleng pelan. "Bukan. Mereka takut. Kamu itu seperti ular berbisa yang masuk ke pekarangan rumah warga. Suka mematuk, mencuri, dan bikin resah. Tapi saya tidak pernah menyalahkan kamu. Tapi, ular itu berbisa karena dia harus bertahan hidup di alam liar, bukan?” Danar terhenti pandangannya pada akhir kata kyai.

“Saya punya satu tawaran, bagaimana jika sekarang kamu ikut saya ke pondok. Kita buang bisa-bisa beracun di tubuhmu itu, kita ganti dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Tenang saja, urusan makan, rebahan, bayaran, dan lainnya. Itu semua saya yang pikirkan. Tugas kamu hanya belajar saja."

“Kalau saya ikut, nanti saya disuruh ngaji terus?” tanya Danar.

Mbah Komar ceringai menjawab “Ya, pasti.”

Danar menunduk. “Kalau saya nakal?”

“Saya marahi.” Jawab Mbah Komar.

“Kalau saya nyolong?”

“Saya marahi lebih keras.”

Danar terdiam. “Hmm, kalau saya diusir?”

Mbah Komar tidak menjawab. Tangannya justru merapikan rambut Danar yang penuh lumpur dan menepuk pundak anak kecil itu. “Kowé wis kerep banget ditinggal saka uripé wong liya, Le. Nèk aku ana ing posisimu, kowé mesthi bakal nggawé kesalahan. Nanging aja mlayu saka iku.” (Kau sudah terlalu sering disingkirkan dari kehidupan orang lain, Le. Jika aku berada di posisimu, kau mungkin akan melakukan kesalahan. Tapi jangan lari dari sana)

Malam itu, di desanya yang dingin dengan penuh pertimbangan, Danar memutuskan untuk ikut bersama kyai. Ia juga sudah lelah tidur dengan nyamuk di halaman surau itu dan berulang kali mengenakan baju yang sama yang tak pernah dicuci. Sudah sebau apa ini baju jika orang lain disuruh menciumnya, maka kemustahilan untuk bertahan. Paling tidak pingsan tujuh hari tujuh malam.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada tangan tua yang tidak melayang untuk menampar pipinya, atau menendang bokongnya. Yang satu ini beliau, Mbah Komar merangkul pundak Danar yang kurus. Kulit ireng berdebu Danar sudah permanen dan sulit untuk berubah karena terik matahari.

***

Lamunan Danar buyar. Suara deru mesin mobil terakhir yang membawa santri pulang perlahan menjauh dari gerbang pesantren. Suasana pondok mendadak sunyi senyap, menyisakan angin sore yang berhembus pelan memainkan ujung anak rambutnya yang terurai dari kopiah.

Satu tahun telah berlalu sejak malam di belakang tempat wudhu itu. Danar melihat tangannya sendiri—tangan yang dulu cekatan menyelipkan lidi berperekat ke lubang kotak amal, kini telah bersih, memegang sebuah tasbih kecil yang mulai kendur temalinya.

Ia berjalan pelan menuju ruang administrasi yang kini sudah kosong. Di atas meja kayu, ia melihat sebuah kotak kaca dengan lubang kecil di atasnya. Tulisan "Kotak Infaq" tertera jelas di sana.

Danar sedari tadi menunggu momen ini. Ia merogoh saku kokonya yang kedodoran, mengeluarkan selembar uang dua ribu rupiah hasil upahnya membantu menyapu halaman pondok tadi pagi yang diberikan Mbah Komar. Uang itu lecek, ia lipat sekecil sisa kuaci yang dulu sering ia rutuki. Sambil tersenyum, Danar memasukkan uang itu ke dalam kotak. Tidak ada lagi lidi berujung selotip. Kali ini, si "ular berbisa" tidak sedang mengambil, melainkan sedang membeli penawarnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
Ular-Ular Berbisa
Mus'ad Firdaus
Flash
Jejak yang Tak Pernah Terlambat
Penulis N
Novel
Jump on the Bandwagon
Dita Anggita
Skrip Film
Ancala: A Love Story Between Two Mounts
Imajinasiku
Novel
Suami titipan
Sriwahhh
Cerpen
GARIS LAUT LANGIT YANG SAMA
Priy Ant
Flash
Keras Hati
Lisnawati
Novel
Bronze
Embun di Atas Daun Maple
Hadis Mevlana
Novel
Bronze
Lelaki Kupu Kupu yang Bertemu Tuhan (Revisi)
Imajinasiku
Novel
Gold
Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Sosial (REPUBLISH)
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Hanya karena Aku Wanita: Tak Berhakkah Aku Punya Cita-Cita?
lina sellin
Novel
Juli Selepas Senja
Mochamad Rozikin
Novel
Luka Aqila
Izza Rahmawati
Flash
Hari Lebaran Badru
Rudi Rustiadi
Novel
Bronze
Pintu Tauhid
Imajinasiku
Rekomendasi
Cerpen
Ular-Ular Berbisa
Mus'ad Firdaus
Cerpen
Bronze
Bentang di Akhir Bulan
Mus'ad Firdaus
Cerpen
Lalu Pak Slamet Meng"iyakan"
Mus'ad Firdaus
Cerpen
Joko Delivery
Mus'ad Firdaus
Novel
Ditodong Dito
Mus'ad Firdaus
Novel
Izin Bertanya. NIM 105
Mus'ad Firdaus