Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
🚨Konten mengandung beberapa adegan berbahaya. Tidak disarankan untuk yang memiliki sensitivitas mental.
Suara ledakan besar menggema ke seantero pusat kota. Jerit tangis penghuni gedung terdengar menusuk gendang telinga manusia-manusia sekitar ketika hendak menyaksikan tanpa merespon pertolongan mereka yang sekujur tubuhnya perlahan dilahap jago merah. Sontak, malam romantis pernikahan massal berubah menjadi tragedi pembantaian dimana korban tewas mencapai lima puluh pasangan pengantin muda.
Dua hari pasca tragedi, pelaku ditemukan yaitu seorang duda yang telah bercerai dengan istri tercinta satu bulan sebelum festival pernikahan massal diselenggarakan oleh perusahaan biro jodoh dimana, dia juga salah satu karyawan perusahaan itu sendiri. Setelah melalui proses persidangan berkala, pelaku bernama Anton akhirnya dihukum mati. Beritanya sempat menggemparkan media sosial dan media massa selama beberapa hari sampai perlahan hilang bagaikan asap hitam yang terhempas angin tenang.
Setahun kemudian, perusahaan biro jodoh selesai di rekonstruksi ulang dan dibuka kembali. Ditandai dengan dibangunnya sebuah monumen berupa patung sepasang kekasih yang saling melempar senyum bahagia meski sekujur tubuhnya berselimut api dan luka. Patung cinta setinggi delapan meter berdiri megah tepat di depan gedung bertingkat sembilan itu sebagai bentuk rasa duka sekaligus simbol kekuatan cinta yang tak bisa dihancurkan kecuali oleh alam dan takdir Tuhan.
Sarina, mantan istri almarhum Anton mendekam di rumah sakit jiwa akibat depresi berat pasca perceraian dan kepergian mantan suaminya. Seorang suster yang merawatnya selama hampir setahun berusaha menyembuhkan dengan memberikan buku-buku tentang kesehatan dan novel romansa karena semasa warasnya, Sarina gemar membaca buku. Hampir setiap malam ia luangkan waktunya membaca demi meredakan stres perihal konflik ekonomi dan batin dengan Anton. Selain hidup dalam ekonomi lemah, pasangan yang telah menikah dua puluh tahun ini belum juga dikaruniai anak. Hal itu juga membuat rumah tangga mereka kala itu seperti sepasang iblis yang hidup di liang neraka yang api-nya tak akan bisa padam.Â
“CERAIKAN AKU MALAM INI JUGA!! AKU CAPEK HIDUP MISKIN SAMA KAMU!! TALAK AKU!!” tuntut Sarina matanya melotot tajam. Ia tak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya.
Anton yang sudah geram dan murka membalas lontaran dengan kalimat yang cukup menyakitkan batin sang istri. “BESOK AKU CERAIKAN KAMU!! AKU JUGA MUAL PUNYA ISTRI YANG DIAM-DIAM MANDUL. AKU BERASA DIKHIANATI DENGAN KATA-KATA BUSUK KAMU SEMASIH KITA PACARAN. KAMU BILANG KAMU SEHAT-.”
“EMANG AKU SEHAT! KENAPA?” potong wanita empat puluh tahun itu tak terima. “AKU SAKIT GARA-GARA KAMU! UDAH GITU PUNYA LAKI KERJA DI PERUSAHAAN YANG GAK JELAS. MENDING KAMU SEKALIAN CARI PELACUR BARU DI SANA!”
Anton tertawa sarkas seakan melecehkan perasaan sang istri. “SUDAH!! BAHKAN AKU SUDAH PERNAH BERCINTA DENGAN SALAH SATU PEREMPUAN DI SANA DAN TERNYATA MENYENANGKAN JUGA DARIPADA AKU TERUS BERCINTA SAMA KAMU TAPI TIDAK ADA HASILNYA. HANYA BUANG-BUANG SPERMA.”
Tangis Sarina pecah, menambah keramaian ruang tamu yang dahulu sempat menjadi tempat keharmonisan mereka di awal-awal pernikahan. Telapak tangannya spontan melayang ke pipi tegas Anton yang seketika itu dibalas dengan dorongan kejam sampai tubuh kurusnya terpelanting di atas lembutnya sofa. “Tega kamu Anton! Biar Tuhan membalas semua kekejaman kamu.”
“AMIN!” Anton pergi tak memperdulikan nasib hati Sarina yang sering ia lukai.
Dua tahun Anton mengabdi di perusahaan biro jodoh setelah kena PHK dari perusahaan manufaktur sebagai operator produksi selama sembilan tahun sedangkan sang istri pernah menjadi kepala teknisi listrik di perusahaan listrik negara sebelum pernikahannya memaksa dia berhenti. Sarina sangat tidak setuju Anton bekerja di perusahaan aneh itu karena selain upahnya kecil dibandingkan tempat kerja sebelumnya, dia sering mempergoki sang suami digoda wanita-wanita genit yang ikut kompetisi di sana. Namun Anton kekeh melanjutkan pekerjaannya demi bisa memenuhi kebutuhan rumah meski harus terlibat juga dalam hutang-piutang baik dengan tetangga maupun pinjaman online.
Sarina dan Anton resmi bercerai setelah ketuk palu hakim terketuk tiga kali di ruang sidang nan sunyi tanpa ada saksi-saksi yang duduk di bangku belakang. Rumah tempat mereka bernaung dan berbagi cerita, cinta serta luka kini perlahan tak bernyawa, kusam, suram, tinggal menunggu waktu untuk hancur dengan sendirinya. Sarina tinggal di rumah kontrakan murah sedangkan Anton di mess yang sengaja disiapkan pihak perusahaan.
Waktu terus bergulir tapi melupakan Anton sangatlah tidak mudah. Cintanya terhadap pria empat puluh tiga tahun sudah mendarah daging meski terus diselimuti baluran luka. Rasa sayangnya mengalahkan sakit hati atas semua kekejamannya dan ia sempat ikhlas jika harus dicambuk ribuan kali tiap malam dengan besi panas sekali pun.Â
Namun semua cintanya lama-kelamaan hilang rasa, berganti dendam saat ada momen dimana ia mengetahui Anton terlibat dalam kompetisi biro jodoh melalui media sosial. Tentu saja Sarina tidak punya hak melarang mantan suaminya tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Dia menganggap Anton seorang bajingan yang membuang cinta wanita malang itu seperti membuang bangkai kucing ke tong sampah dengan senyum bahagia.
Sarina berencana mengacaukan malam pesta pernikahan massal itu sekaligus membunuh mantan suaminya yang kini dia benci. Tepat pada malam puncak tiba ia berhasil menyelinap masuk ke belakang gedung atau lebih tepatnya di ruang instalasi listrik yang rawan kebakaran, tak jauh dari aula tempat pesta pernikahan dilaksanakan. Di tuangkan dua buah jerigen berisi bensin ke mesin-mesin instalasi serta ruangan di sekitarnya tanpa pengawasan ketat dari pihak keamanan sehingga bisa beraksi seorang diri dengan leluasa.
Api berkobar hebat dan langsung membakar seisi ruangan. Suara ledakan dan percikan kembang api berhasil menembus tembok aula sehingga dengan mudah api merambat ke benda-benda yang mudah terbakar. Asap hitam mengepul dahsyat, meruntuhkan satu persatu pasangan pengantin yang berusaha menyelamatkan diri. Listrik seketika padam, mengunci pintu utama sehingga banyak yang terjebak dan tidak bisa keluar melalui pintu darurat karena terkubur kobaran api.
Kini giliran tawa sarkas Sarina yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Dia melihat gumpalan asap raksasa dan bara yang mengurung dihiasi suara teriak kesakitan nan merdu menandakan seolah pestanya berjalan sangat meriah. Hatinya seketika merasa bebas ketika membayangkan Anton sedang berjibaku dengan api ganas yang perlahan memakan kulit serta jiwanya. Setelah berhasil membakar gedung itu, dia memutuskan pergi ke rumah sakit jiwa tak jauh dari lokasi kebakaran dengan mengaku depresi dan ingin hidup tenang di kamar barunya sampai waktu mati tiba.
Dua hari pasca kebakaran, Anton masih hidup. Ia batal menghadiri acara tersebut karena diare. Tubuhnya menerobos ke belakang gedung yang sudah di garis polisi karena penasaran dengan penyebab utama dari kekacauan ini sampai tiba di masuk ruang instalasi listrik lalu tak sengaja menemukan dua jirigen yang belum sepenuhnya terbakar. Hidung mancungnya mengendus-endus mulut jerigen yang masih tersimpan harum bensin namun nasib sial kemudian menimpa dirinya dimana dua polisi dan satu detektif mempergoki Anton yang ketahuan menerobos area terlarang serta kedapatan memegang sesuatu dengan tangan telanjang.
Anton dituduh sebagai pelaku meski sempat melawan tapi barang bukti kuat berhasil membantu menjerumuskan dirinya ke lajur hukum. Selama persidangan yang beberapa kali dilaksanakan, mulut Anton dipaksa mengaku sampai akhirnya ia menyerah dan harus menjalani hukuman mati. Saat detik-detik Anton mau ditembak, bibir kusamnya sempat melontarkan satu kalimat sederhana sebagai pesan untuk mantan istri yang masih dia cintai.
“Hukuman ini bukan karena saya dinilai pembunuh tapi bentuk karma saya terhadap Sarina.”
Tembakan dilepaskan dan karma berhasil terbayarkan.
Selesai.