Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Malam yang panjang sekaligus menjadi malam terakhirku di sini. Di negara mimpi masa kecil yang berhasil kugenggam. Dalam cermin kamar kecil, aku menatap diriku yang berhasil melewati badai, namun tak menyisakan apa pun untuk dibawa pulang. Tubuhku layu hampir mati kekeringan. Setelah menunggu delapan jam lebih, akhirnya pengeras suara memanggil nomor penerbanganku. Irama degup jantungku menjadi sangat berantakan. Keringat dingin tiba-tiba bercucuran dari kening melewati alis, sudut mata, hingga berderai di pipi bercampur dengan air mata. Aku sangat gugup lebih dari ketika aku pergi meninggalkan rumah lima tahun yang lalu. Aku sangat ketakutan. Rasanya ingin berbalik arah membatalkan perjalanan ini, tapi aku tak ingin bertahan lebih jauh dengan rasa sakit yang semakin dalam di tempat ini. Kakiku terus melangkah ragu menuju pesawat. Hatiku terus menjerit, mengatakan jangan pulang sekarang! Waktu tak pernah memberi kesempatan lebih lama padaku untuk berpikir hingga akhirnya pesawat membawaku meninggalkan Haneda Airport. Selamat tinggal, Kota Tokyo. Selamat tinggal, Jepang. Aku berjanji pada diriku sendiri akan kembali lagi saat aku berhasil sembuh dan tumbuh dari luka yang menyayat jiwaku begitu dalam hingga membuatku hampir mati.
Meski raga ini begitu letih, namun jiwaku tak ingin berkompromi sedikit pun. Aku mengurai satu per satu nama-nama orang yang bisa kutemui saat aku sampai nanti. Bapak adalah orang yang paling hancur atas kepergian ibu. Dia mencintai ibuku lebih dari dunia dan seisinya. Kakakku juga begitu menderita setelah sekian lama menjadi perawat pribadi ibu. Pasien satu-satunya telah pupus. Rasanya tak ada yang baik-baik saja saat seorang primadona di rumah pergi untuk selamanya. Ibuku, sang bunga kenanga, telah gugur empat puluh hari yang lalu karena kelopak bunganya mengering sampai ke akar-akarnya. Dan aku menjadi satu-satunya orang yang tak ada di sisinya saat matanya terpejam untuk selamanya karena tak ada penerbangan saat bumi ini sakit. Rasa sakit juga telah tumbuh dan menjalar ke seluruh tubuhku. Rasanya percuma aku mengejar dunia jika ibuku tak melihatnya. Rasanya hidup ini tak ada artinya lagi.
Dalam perjalanan pulang yang sangat panjang dan menguras hati, aku menemukan satu nama seseorang yang sangat ingin kutemui. Meski namanya bukan yang pertama muncul dalam ingatanku tentang sahabat karib, dia tak pernah pergi meninggalkanku seperti beberapa karibku yang juga telah berpulang.
Matahari terbit menembus jendela, menyadarkanku dari ilusi-ilusi yang diciptakan oleh trauma bertubi-tubi. Malam kelam mengantarkanku pulang. Waktu terus mendorongku untuk menghadapi kenyataan bahwa di rumah tak ada siapa pun lagi kecuali luka-luka yang tak pernah sembuh. Kecuali kenangan masa kecil yang hidup dalam hidupku. Aku menghadapi rasa sakit yang amat sangat ketika kakakku tak sanggup menjelaskan bagaimana ibuku pergi dalam dekapannya. Menggenggam erat tangannya seperti dia menggenggam tangan kami saat kami bayi. Bagaimana Bapak masih terus memastikan bahwa Ibu hanya tertidur, Ibu tidak mungkin mati, bagaimana kain kafan membungkus tubuhnya, bagaimana ibuku diantarkan pulang tanpa anak laki-laki yang selalu dia banggakan. Kami berdiri di atas kuburan basah penuh bunga melati yang tak berhenti ditaburkan seolah-olah memang ibu menyukai bunga-bunga seperti yang dia tanam di halaman rumah. Adakah kehancuran yang lebih sakit untuk seorang anak laki-laki selain kehilangan ibunya? Bisa jelaskan padaku sakit yang melebihi kehilangan seorang ibu seperti ini.
Aku tak bisa berada di rumah yang hampa terlalu lama. Jiwa-jiwa yang kehilangan. Tatapan-tatapan kosong. Kami tak bisa saling menguatkan karena luka yang kami rasakan sama besarnya, bukan? Aku tak bisa melewati hari-hari seperti ini. Aku kesakitan. Aku butuh pertolongan. Aku melarikan diri dari dunia yang dulu memberikanku cinta yang melimpah. Dunia yang memberiku kehidupan yang indah kini sirna dalam sekejap. Sekejap bagai kuncup bunga kenanga hingga dia mekar sempurna, sampai akhirnya layu dan tanggal.
Aku berkelana mencari sesuatu yang hilang dari hidupku meski aku tak tahu apa itu. Aku membutuhkan seorang tabib untuk menyembuhkan. Aku ingin sekali menemui Tuhan dan meminta penawar seandainya Dia masih menginginkanku hidup. Aku menuju pada seseorang yang masih singgah dalam ingatanku. Rasa sakit tahu ke mana dia harus disembuhkan. Aku menempuh perjalanan panjang untuk mencari Nara. Seorang yang ingin sekali kutemui saat ini. Seorang yang hidup di dalam masa laluku yang bersinar. Seorang yang tersisa dan menyimpan kenangan-kenangan indah.
“Aku pikir kau tahu tempat indah lain selain di sini,” kataku, mengagetkan lamunannya. Nara menoleh ke arahku tersentak. Tatapannya tajam; berusaha mencerna siapa yang ada di hadapannya. Beberapa kali mengusap seluruh wajahnya dengan tangan. Saat dia mulai mengenaliku, dia berlari tanpa sepatah katapun. Memelukku dan memecahkan rindu-rindunya. Tangisannya terdengar sangat menyedihkan; ia merintih karena rasa sakit. Kami melebur dalam rindu yang terobati. Harusnya seperti ini, bukan? Rindu-rindu memenuhi takdirnya dengan baik.
“Kau tahu aku di sini?” Nara mengusap wajahnya, ingin terlihat kuat meski aku telah mendapatinya hancur. Dia menatap wajahku sesekali lalu kembali menjatuhkan tubuhnya dalam pelukanku. “Kau jahat sekali. Kau meninggalkanku.”
“Aku mencarimu berhari-hari hingga aku berada dalam pelukanmu sekarang. Angin menunjukkan arah di mana kau berada. Karena hanya kau yang tersisa sekarang.” Aku merendahkan diriku agar dia tak merasa hancur seorang diri. Air matanya kembali berlinang menjadi-jadi. Meratap memohon belas kasih. Rasanya terlihat lebih menyakitkan daripada yang aku rasakan sekarang. Entah apa yang terjadi pada Nara selama ini.
“Apa arti tangisanmu? Kenapa kau merindukan tempat ini? Tempat kita berlima melihat senja bersama-sama.” Tanyaku tak tahu harus memulai dari mana.
“Aku kesepian. Aku menciptakan rindu pada orang-orang yang tak pernah bisa kutemui lagi. Aku kesakitan. Rasanya tak ada artinya lagi hidup ini.” Nara memelankan suaranya tersedu, menatap samudera lepas dengan matahari kian merendahkan dirinya. Suara angin beradu dengan deburan ombak menemani kehancuran kami di sini. Kami melebur bersama pasir berbisik yang juga terus berdesis tak bisa diam.
“Kenapa kau menunggu senja dari jam empat? Ini masih terlalu lama.” Aku tak tahu ke mana arah pembicaraan kami. Aku melupakan dialog yang telah kususun rapi saat dalam perjalanan menuju tempat ini.
“Aku tak ingin melewatkannya lagi.” Jawab Nara menyesal karena saat itu dia melewatkan waktu senja terbenam. Aku melepas jaketku dan menggelarnya di pasir pantai yang mengubur kaki Nara.
“Ayo duduk.” Aku menarik tangannya. “Kita akan melewati senja bersama-sama hari ini. Seperti yang pernah kita lakukan dulu. Delapan tahun yang lalu.” Mataku mulai berkaca-kaca setiap mengingat perjalanan hidupku bersama mereka. Bersama para sahabat karib di sebuah perantauan yang kejam. Yang membuat kami saling mengasihi satu sama lain. Dan yang membuat kami lebih kuat dari apa yang kami kira dulu.
“Kenapa kau kembali sekarang? Apa kau menyerah?” Ekor matanya melirik ke arah wajahku. Dia ingin memastikan sekali lagi bahwa aku masih terkubur dalam rasa sakit.
“Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Bagaimana aku hidup jika orang-orang pergi begitu saja? Aku kebingungan. Kedinginan. Kesepian. Ketakutan. Setiap malam aku gelisah memikirkan bagaimana caranya bertahan dalam situasi sesulit ini.” Aku segera menyekat air mataku yang berderai sebelum Nara menangkapnya. “Kau sendiri? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau bahagia?”
“Dulu saat aku melihatmu dari kejauhan. Kau terlihat sangat hebat, ambisius, dan cerdas. Kau terlihat seperti bintang yang bercahaya seorang diri. Aku melihatmu seperti seorang idola. Saat kita mulai dekat, aku sadar kau bukan bintang. Cahayamu berasal dari benda lain yang menyinarimu. Keluargamu mendukung setiap langkah kaki, setiap mimpi, setiap tujuan yang kau susun. Kau diberkati dengan cinta yang melimpah. Sampai-sampai aku yang berada di sisimu juga mendapatkan kebahagiaan yang juga melimpah. Sangat melimpah hingga aku terbuai. Aku memutuskan menjadi sahabat kalian karena kalian adalah bintang-bintang yang bersinar. Karena kalian terikat satu sama lain. Karena kalian tulus. Saat kalian pergi satu per satu, tanpa disadari, aku juga kehilangan cahaya yang menyinariku. Aku hanya bebatuan yang tersesat di angkasa yang akan lenyap tanpa cahaya.” Suaranya samar-samar beradu dengan deburan ombak dan angin yang juga mendengarkan ratapan kami.
“Kau sedang bernostalgia? Jadi, kenapa kau datang ke tempat ini?”
“Karena tak ada tempat lagi di mana kalian hidup. Tak ada lagi tempat berkeluh kesah untukku. Aku hanya bisa mengenang kalian bersama-sama di tempat ini.”
“Sekarang ada aku di sini. Aku tak akan meninggalkanmu, jadi ceritakanlah apa yang terjadi padamu selama ini. Aku akan mendengarkan dengan baik seperti yang Willy selalu lakukan.” Nara masih tak ingin mengatakan apa yang terjadi padanya.
“Bukankah kau juga sedang hancur? Bukannya kau juga sedang mencari penawar?”
“Aku sudah menemukannya. Penawarku di sini sekarang.” Aku merangkul pundaknya. Lalu menarik tubuhnya agar kepala Nara bersandar di bahuku. Matahari masih terlalu tinggi untuk mengucapkan salam perpisahan sekarang.
“Jadi, apa yang menjadi penyesalanmu? Aku tidak pernah melihat dirimu sehancur ini. Kau yang paling kuat di antara yang lain. Kau yang paling menggebu mengejar mimpi.” Dia mendahuluiku bertanya.
“Sangat banyak. Aku terlalu egois dan ambisius dengan mimpi-mimpiku. Aku haus tepuk tangan. Aku ingin Bapak dan Ibu bangga padaku. Aku ingin sahabat-sahabatku bangga. Aku ingin berada di atas angin, membuktikan pada dunia bahwa mimpi-mimpiku bisa kugenggam dengan tanganku sendiri. Ambisi dan mimpi-mimpi menutup hatiku untuk merasakan cinta kalian. Penyesalan pertamaku adalah aku tak ada di sisi ibuku saat dia pergi. Bukankah satu alasan saja cukup menghancurkan seorang anak laki-laki?”
“Itu adalah sebuah balasan. Kau menyakiti hati ibumu sehingga dia membiarkanmu menerima kenyataan pahit ini. Dia merindukanmu sepanjang hidupnya, tapi kau sibuk membuktikan pada dunia.” Kata-katanya bagai busur panah yang tepat menancap di jantungku. Aku terisak, tak kuasa menahannya lagi. Nara menatapku, melemparkan senyum simpul: “Kau kelihatan sangat menyedihkan sekarang. Sungguh aku tak pernah menyangka kau bisa tersungkur dan kalah dalam perangmu.”
“Aku lebih dari menyedihkan dan hancur daripada apa yang kau lihat. Karena itu, aku ingin menemuimu.”
“Untuk apa? Semua sudah terjadi. Setiap hari senja hanya terbenam sekali. Kau akan melihat senja yang berbeda meski terlihat sama besok. Berhentilah menangis dan nikmati lukamu dengan baik.” Nara menjadi sangat bijak sekarang. Ini pertemuan pertama kami setelah sekian lama aku pergi, tapi rasanya tak pernah asing. Persahabatan kami sangat dekat bagai sendi-sendi yang melekatkan tulang.
“Bagi seorang gadis kampung, bersahabat dengan empat laki-laki hebat dan cerdas di kampus adalah sebuah keuntungan. Aku pikir mendekati kalian akan memudahkanku menyelesaikan kuliah. Ternyata aku malah jatuh cinta dan hanyut di dalamnya. Aku terjebak dalam hubungan yang didasari kasih sayang yang mendalam. Kematian Hyun membuatku sangat hancur saat itu. Lalu kau melarikan diri berkedok meraih mimpi. Willy menikah. Orang-orang menghilang, menyisakan seorang gadis yang berusaha menemukan arah hidup, tapi dituntut keluarganya untuk menjadi tulang punggung. Aku belajar sangat banyak dari kalian. Aku bertahan dan berusaha memahami takdir yang bertubi-tubi menghujamku. Aku belajar untuk tidak menceritakan kisah pilu kepada orang lain karena tak ingin membuat orang lain merasakan kesedihanku. Sampai pada akhirnya jiwaku tak sanggup lagi menahannya, hingga dia meminta ragaku memikul bebannya sendirian. Za, kapan aku boleh menyerah? Sekarang kau di sini. Coba katakan kapan aku boleh menyerah?” Gadis malang. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Rasanya sangat melelahkan jika harus terus menangis seperti ini, bukan? Mengapa air mata tak pernah mengering meski terus-menerus berderai?
“Ayahmu masih belum berubah?” Tak ada lagi yang bisa kutanyakan padanya. Nara menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya kalah dalam pemilu. Nara memikul semua kerugian yang disebabkan oleh ayahnya.
“Iya, dia terus menambah bebanku. Aku tak bisa hidup seperti gadis-gadis lain. Pergi ke salon dan berbelanja barang-barang yang mereka inginkan. Aku harus mengurus semuanya sendiri. Seandainya kita masih berkumpul, hidup seberat apa pun rasanya tak masalah bagiku. Tapi sendiri seperti ini, rasanya air mata lebih mudah berderai dibanding senyum simpul. Saat datang ke tempat ini, aku berdoa semoga kalian turut hadir di sini. Lalu kau datang. Tuhan masih mendengarkanku, tapi tak pernah menjawab doaku yang lain.” Nara telah menumpahkan isi hatinya sekarang. Aku mengusap pundaknya terus-menerus.
“Ceritakan lagi padaku. Apa yang terjadi selama aku pergi selain itu? Kau tak pernah pergi berkencan? Menjalin hubungan dekat dengan orang atau apa pun yang membuat hidupmu berwarna lagi.”
“Setelah Willy menikah, aku bekerja dan berusaha untuk tidak kesepian. Bergabung dengan komunitas pendakian. Pergi ke gunung, ke pantai, mengikuti kegiatan sosial dan pergi ke tempat-tempat melarikan diri yang lain seperti yang pernah kau lakukan. Rumahku masih tetap berbeda dengan rumahmu. Ibumu memasak hatinya setiap hari, sedangkan ayahku mengganti pelanaku setiap hari agar aku bisa terus berlari. Rasanya itu tidak adil untuk seorang anak perempuan.”
“Aku telah kembali. Meski hanya berdua, bagaimana jika kita perbaiki hidup ini? Masih belum terlambat, kan?” Aku berusaha menenangkan hatinya saat hatiku juga hancur. Kami bergantian memberi harapan. Senja meredup menyembuhkan rindu-rindu sahabat karib. Deburan ombak masih menjadi musik pengiring terbaik sore ini. Jingga melebar ke arah timur, memeluk hangat tubuh kami yang membeku.
“Senja di Pantai Tanjung Layar memang yang paling indah.” Nara memecah hening di dalam kepala beberapa saat.
“Benarkah? Kau sudah melihat senja di mana saja selama aku pergi.” Kami mereda, sembuh perlahan dan menciptakan senyuman-senyuman kecil.
“Hanya di sini.” Katanya membuat kami tertawa, mengeringkan air mata.
“Aku melihat banyak senja yang indah tapi sepi dan dingin. Jadi, tempat ini memang menjadi senja yang paling indah.” Kataku melarutkan suasana. Menyetujui pernyataan Nara.
“Saat bertemu, seharusnya seseorang sudah memikirkan bagaimana mereka akan berpisah kelak, agar tidak ada luka yang ditinggalkan. Agar mereka menyiapkan hati untuk sebuah perpisahan.” Nara terlihat lebih tenang sekarang.
“Aku tidak setuju. Saat bertemu, seharusnya kita memikirkan bagaimana perpisahan menjadi sangat menyakitkan.”
“Kenapa menyakitkan?” Tanya Nara terheran.
“Jika sebuah perpisahan menjadi sangat menyakitkan, berarti kita telah melewati hari-hari yang indah dan bahagia. Tapi jika sebuah perpisahan menjadi menyenangkan, itu artinya kita tidak pernah melewati kebahagiaan dalam pertemuan itu. Jadi, biarkan kita hancur seperti ini. Karena kita telah berhasil menjalin kisah. Membuat kenangan yang indah.” Aku menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Hanya karena bertemu dengan seseorang, rasa sakit bisa terobati, rindu-rindu seakan sembuh dalam sekejap.
“Apa rencanamu setelah ini?” Tanya Nara bersama langit yang semakin padam. Matahari terbenam semakin dalam. Kilaunya berlinang di samudera hingga ketepian.
“Masih aku pikirkan. Aku ingin pergi ke suatu tempat tanpa ada yang mengenalku atau ke tempat masa lalu saat hidupku sangat bersinar. Aku masih belum memutuskan. Yang jelas, aku akan sembuh dan kembali menjalani hidup. Aku menuruti kata-katamu sekarang.” Jawabku membelai rambutnya yang terus tertiup angin. Aku menyayangi Nara seperti seorang kakak pada adiknya.
“Pergilah ke mana pun kamu ingin pergi. Bawalah hati kami bersamamu, selamanya. Jangan pernah kau tinggalkan cinta yang telah kau dapatkan.”
“Kau pandai merangkai kata-kata sekarang. Kau juga belajar bersajak dariku kah?”
“Aku berharap Kau akan tetap menjadi Moza yang menawarkan tempat duduk untuk orang yang lebih lemah saat di dalam bus. Membagi makanan meski kau sangat menyukai makanan itu. Membuat lelucon agar orang tertawa. Seandainya kau pernah menyadari, kau adalah warna hidup untukku dan untuk orang lain. Kau adalah cahaya saat kami dalam kegelapan. Jadi, tetaplah seperti itu agar hidupmu terus dilimpahkan kasih sayang dan keberkatan.”
“Kenapa tiba-tiba memberi nasihat? Apakah kau demam? Mendekatlah padaku?” Aku berusaha keluar dari kesedihan yang sejak awal menjadi pokok pembahasan kami.
“Sungguh… Berjanjilah padaku, kau tidak akan pernah menyakiti orang lain.” Nara sungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan seperti ibuku saat bicara di meja makan.
“Baiklah, aku berjanji demi persahabatan kita yang menyedihkan ini, aku berjanji akan menuruti kata-kata Nara. Lihatlah, dia terbenam meninggalkan kita di sini.” Langit menjadi gelap hanya dalam hitungan menit. Senja terbenam dalam samudera yang penuh misteri. Kami berdua sedang disembuhkan oleh rona jingga yang mendekap, kemudian lenyap menjadi hitam dan kelam.
“Apa kita akan tetap duduk di sini sampai pagi? Sekarang sudah gelap. Ayo kuantarkan pulang, di mana kau menginap?” Aku sudah berubah menjadi laki-laki dewasa yang bertanggung jawab. Aku beranjak dari tempat duduk kami.
“Itu sama sekali bukan dirimu. Kalian pernah meninggalkanku bersama penjaga pantai di sini.” Nara segera berdiri menolak uluran tanganku dan berlari dalam duka kehilangan senja hari ini.
“Apakah kau bahagia aku kembali?” Aku mengejarnya. Berusaha keras menciptakan senyuman baru.
“Tentu saja. Aku punya keluarga, tapi perasaanku selalu tertekan dan kesepian. Dulu saat-saat bersama kalian aku selalu merasa bahagia meski tugas-tugas kuliah sangat banyak.” Senyumannya kembali meski aku merasa wajahnya telah berubah. Bibirnya pucat pasi, matanya terbenam.
“Tentu saja bahagia, semua tugas-tugasmu kami yang mengerjakan.” Kami telah melupakan senja yang indah. Senyuman tumbuh dari patahan-patahan yang hampir membunuh jiwa kami.
“Lalu, kenapa kau mencariku? Teman-temanmu banyak. Kenapa kau tak mencari mereka?” tanya Nara. Tangannya terus menyekat rambutnya yang berkibar. Deburan ombak masih menjadi musik pengiring malam ini. Angin malam menari membawa rasa sakit yang kami derita selama ini.
“Kakakku hancur, bapakku hancur. Kami sedang tidak bisa menolong satu sama lain. Di rumah, kami saling menatap, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar kecuali air mata. Aku mencarimu karena hanya dirimu yang tersisa dari masa lalu yang indah. Orang-orang terlihat peduli, namun mereka hanya memastikan aku telah hancur. Tak ada yang benar-benar ingin menolongku.” Aku menghentikan langkahku, mengambil batu dan melemparnya ke laut.
“Aaaaaaaaaaaa…. Aaaaaaaaaa….” Aku berteriak berkali-kali, mengeluarkan segala beban hidup ini.
“Hei… Orang-orang melihatmu.” Nara menghentikanku. Menarik tanganku dan mengajak berlari.
“Jadi, kau harus bangkit, berjuang lagi dari awal. Jika di masa depan kau patah lagi, maka tumbuhlah lagi. Dahan yang tumbuh dari tangkai pohon yang patah biasanya akan lebih kokoh dan memiliki daun yang lebat.” Nara terus-menerus menghujaniku dengan nasihat-nasihat bijak yang entah dia dapatkan dari mana.
“Jangan menasihatiku terus-menerus. Bagaimana dengan dirimu?” Sepertinya masih ada sesuatu yang dia rahasiakan dariku. Tiba-tiba dia terdiam menatap samudera yang gelap. Menyembunyikan sesuatu dariku.
“Apa yang sedang mereka lakukan di tengah samudera yang gelap? Lampu redup, angin kencang. Apa mereka tak ada pilihan lain untuk menghidupi keluarga sehingga harus mempertaruhkan nyawa seperti itu?” Tiba-tiba Nara menatap tajam menunjuk sebuah lampu-lampu kapal di kejauhan.
“Semua orang berjuang untuk hidupnya masing-masing. Mereka juga tumbuh dari patahan-patahan takdir seperti kita. Apa yang masih kau rahasiakan dariku?” Aku tak bisa menahannya lagi. Nara belum selesai menceritakan semua rasa sakitnya.
“Tidak ada. Aku tak pernah merahasiakan apa pun darimu.” Kata-kata Nara menutup perbincangan kami bersama senja terbenam dalam samudera yang menelannya.
“Kau tak bisa membohongiku… Naraaa…” Nara pergi meninggalkan tempat pertunjukan senja yang telah tutup. Aku segera mengejarnya.
Pupus daun dari ranting-ranting yang tumbuh di tengah patahan pohon yang menyakitkan mulai terbuka. Bunga-bunga baru merah jambu bertebaran. Waktu untuk menyembuhkan luka-luka lebih cepat. Nara menjadi hujan yang dirindukan musim kemarau. Tapi dia menyerah hingga rasa sakit menguasai tubuhnya. Patahan-patahannya mengering, tak menumbuhkan kehidupan baru.
“Mozaku tersayang. Kau adalah yang terakhir. Maka jadilah yang terbaik dan paling bersinar, berjanjilah padaku kau tak akan menyerah lagi apa pun yang terjadi. Saat berada di atas kelak, bantulah orang-orang yang berada di bawahmu, bantulah orang-orang yang sedang kesulitan. Jika aku bertemu Hyun dan ibumu di sana, akan kusampaikan salam rindu darimu. Kami menunggumu di sana. Tak perlu terburu-buru. Nikmati setiap detik yang kau gunakan untuk bernapas. Nikmati setiap langkah untuk meninggalkan masa lalu. Dunia seisinya mencintaimu. Karena itu kau masih hidup.” Isi tulisan dalam secarik kertas lusuh yang ditulis Nara di rumah sakit.
Aku baru saja tumbuh, namun harus patah lagi. Hari ini enam puluh sembilan hari setelah senja terbenam sore itu. Nara meninggalkanku untuk selamanya, untuk menemui sahabat kami yang lain. Dia tidak pernah menjawab apa yang dia sembunyikan dariku, namun dia tak pernah bisa berbohong. Nara mengidap infeksi paru-paru akut. Dia menyembunyikan diri dari semua orang dan tetap menjalani hari-hari beratnya seorang diri hingga akhir.
Ibunya histeris di atas jasad Nara yang baru saja dikebumikan. Ayah dan adiknya saling berpelukan menguatkan satu sama lain. Aku mematung, dingin menghalau gerimis dengan telapak tanganku. Salah seorang sahabat Nara juga belum meninggalkan pemakaman setelah semua orang berhamburan karena hujan. Seorang perempuan sebaya menutup wajahnya dengan kerudung. Perempuan yang pernah Nara ceritakan padaku. Seorang yang juga tumbuh dari patahan-patahan sedang membutuhkan penawar dari luka-luka masa lalu. “Jadilah teman yang baik untuk temanku. Dia juga kesepian.” Kata Nara di rumah sakit saat aku menjenguknya beberapa hari yang lalu.
Aku memutuskan untuk kembali ke Jepang setelah dua minggu di Nara beristirahat dalam dekapan bumi yang dingin. Menyusuri tempat-tempat yang mengingatkanku pada rasa sakit. Aku ingin menyembuhkannya dengan tanganku sendiri. Aku ingin menjadi musim semi yang memekarkan bunga-bunga yang indah bagi siapa pun yang membeku saat musim dingin. Pada takdir yang memilihkan jalan ini, aku berterima kasih karena telah menempatkanku di sini. Di tempat yang diberkati dengan kasih sayang. Aku berjanji akan berjalan sejauh yang kubisa. Bertahan sejauh aku mampu. Aku menunggu senja membawaku bertemu dengan orang-orang yang meninggalkanku hingga pada akhirnya aku yang harus mengucapkan “Selamat tinggal”.