Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Tulis!!!
2
Suka
514
Dibaca

Elias selalu membenci debu, tapi takdir sepertinya punya selera humor yang buruk dengan menempatkannya di tengah tumpukan buku usang di loteng rumah barunya. Rumah itu adalah peninggalan bibinya, sebuah bangunan kolonial di pinggiran kota yang berbau kayu basah dan kenangan yang memudar.

Di antara tumpukan koran tahun 1990-an dan perangkat minum teh yang retak, Elias menemukan sebuah kotak kayu jati kecil. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku bersampul kulit coklat yang sudah mengelupas di bagian pinggirnya. Tidak ada judul, tidak ada nama pemilik. Hanya ada sebuah tali elastis yang sudah melar, menjaga agar lembaran-lembaran di dalamnya tidak berhamburan.

Elias duduk di atas kursi goyang tua yang berderit, menyeka debu dari sampulnya, dan mulai membuka halaman pertama.

12 Maret

Hari ini hujan lagi. Aku tidak keberatan. Suara rintik di atap seng ini adalah satu-satunya musik yang tidak menuntut balasan. Aku menghabiskan pagi dengan menyeduh kopi yang terlalu pahit, tapi setidaknya itu membuatku tetap terjaga. Hidup terasa seperti berjalan di tempat, tapi mungkin itu memang tujuannya saat ini. Untuk tidak pergi ke mana-mana.

Elias mengerutkan kening. Tulisan tangannya miring ke kanan, rapi, dengan tarikan garis yang tegas namun tipis. Sangat melankolis. Ia membalik halaman berikutnya.

15 Maret

Aku melihat kucing tetangga masuk ke kebun lagi. Ia tampak kurus, jadi aku memberinya sisa roti. Aku tahu itu bukan makanan kucing yang baik, tapi ia memakannya seolah itu adalah jamuan raja. Ada sesuatu yang menenangkan dari melihat makhluk lain merasa puas hanya karena hal-hal kecil. Aku merasa... cukup.

“Cukup,” gumam Elias. Ia merasakan empati yang aneh terhadap penulis ini. Kehidupan yang digambarkan terasa sunyi, terisolasi, namun damai. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang besar dan sedang mencoba membangun kembali dunianya dari puing-puing kecil.

22 Maret

Buku ini menjadi saksi betapa seringnya aku bicara pada diri sendiri. Kadang aku merasa dinding rumah ini mendengarkan. Aku menata ulang rak buku hari ini. Buku-buku lama yang belum sempat kubaca. Ada satu tentang astronomi yang mengingatkanku pada seseorang yang dulu sering berkata bahwa bintang adalah cara semesta menunjukkan bahwa kegelapan tidak pernah benar-benar kosong.

Elias terus membaca hingga masuk ke pertengahan bab. Namun, saat ia membalik ke halaman tanggal 2 April, sesuatu yang halus mulai berubah.

2 April

Aku terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa. Aneh, padahal aku tidur lebih awal semalam. Kopiku habis, jadi aku harus keluar ke pasar. Orang-orang terlalu berisik hari ini. Aku benci bagaimana mereka menatapku, seolah-olah aku adalah noda di pemandangan mereka yang sempurna. Aku pulang dan langsung mengunci pintu. Aku merasa lebih aman di sini.

Elias berhenti sejenak. Gaya bahasanya terasa sedikit lebih... tajam. Kalimatnya lebih pendek. Jika sebelumnya sang penulis terdengar pasrah, kini ada nada defensif yang samar. Namun, ia mengabaikannya. Mungkin sang penulis hanya sedang mengalami hari yang buruk.

10 April

Hujan turun lagi, tapi kali ini baunya tidak enak. Seperti tanah yang membusuk. Aku menghabiskan waktu dengan membersihkan dapur. Aku benci kotoran. Semuanya harus berada di tempatnya. Jika tidak, aku merasa kepalaku akan meledak.

Elias menyentuh kertas itu. Tekstur kertasnya terasa sama, namun ia menyadari sesuatu. Di halaman awal, penulis sering menggunakan tinta biru. Di halaman terbaru ini, tintanya berwarna hitam pekat, dan tekanan penanya sangat kuat hingga meninggalkan bekas menonjol di balik kertas.

“Mungkin dia mengganti penanya,” pikir Elias mencoba rasional.

Ia terus membaca hingga mencapai akhir catatan untuk bulan April. Di sana, ia menemukan sebuah keanehan yang membuatnya terdiam cukup lama.

25 April

Aku menemukan syal merah di bawah tempat tidur. Aku tidak ingat pernah membelinya. Mungkin milik tamu yang lupa? Tapi aku tidak ingat pernah menerima tamu selama berbulan-bulan. Aku membuangnya ke tempat sampah. Aku tidak suka warna merah. Terlalu terang. Terlalu berisik.

Elias menutup buku itu dengan suara plak yang pelan. Di luar, matahari mulai tenggelam, melemparkan bayangan panjang di lantai loteng. Ia merasa seolah-olah baru saja mengintip ke dalam jiwa seseorang yang perlahan-lahan mulai retak. Atau mungkin, rumah ini yang mulai memengaruhi persepsinya?

Ia membawa buku itu turun ke ruang tamu, tidak menyadari bahwa di halaman yang baru saja ia baca, ada satu kalimat kecil di pojok bawah yang tertulis dengan gaya bahasa yang sangat berbeda, hampir menyerupai bisikan,

“Terima kasih atas rotinya, tapi aku lebih suka ikan.”

***

Elias tidak bisa tidur. Buku bersampul coklat itu tergeletak di meja samping tempat tidurnya, tampak tidak berbahaya di bawah pendar lampu kuning yang redup. Namun, kalimat-kalimat di dalamnya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Ia meraih buku itu lagi. Kali ini, ia membawa lampu meja lebih dekat, memerhatikan serat kertasnya. Ia membalik halaman ke bulan Mei. Di sinilah segalanya mulai terasa... pecah.

5 Mei (Sisi Kiri Halaman)

Pagi ini sangat sunyi. Begitu sunyi hingga detak jam di ruang tamu terdengar seperti dentuman palu. Aku membuat roti panggang, tapi rasanya hambar. Aku merasa seperti hantu di rumahku sendiri. Jika aku berteriak sekarang, apakah ada yang akan mendengarku? Rumah ini terlalu luas untuk satu orang yang kesepian.

Tulisan itu masih menggunakan tinta biru. Lembut, miring, dan penuh dengan kepasrahan yang menyesakkan. Elias bisa membayangkan seorang wanita atau pria yang duduk sendirian di meja makan, menatap jendela yang berkabut.

Namun, tepat di halaman sebelahnya, halaman kanan yang seharusnya kosong untuk catatan hari berikutnya, terdapat tanggal yang sama. 5 Mei. Tapi tintanya hitam pekat.

5 Mei (Sisi Kanan Halaman)

Dia membuat roti panggang lagi. Baunya memenuhi seluruh koridor. Aku benci bau karbohidrat yang terbakar. Dia pikir dia sendirian? Lucu sekali. Aku duduk tepat di seberang mejanya saat dia melamun menatap hujan. Dia tidak melihatku, tentu saja. Tapi aku melihatnya. Aku selalu melihatnya.

Elias menarik napas tajam. Bulu kuduknya berdiri. “Dia?” gumamnya pelan. Siapa yang dimaksud dengan “dia”? Apakah ini sebuah cerita fiksi yang ditulis oleh seseorang dengan dua karakter? Ataukah ini catatan dari dua orang yang tinggal di rumah yang sama tanpa pernah bertatap muka?

Ia membalik halaman dengan tangan yang sedikit gemetar.

12 Mei

Aku kehilangan kunci gudang lagi. Aku yakin sudah menaruhnya di atas bufet. Ingatanku sepertinya mulai mengkhianatiku. Mungkin karena aku jarang bicara dengan manusia, otakku mulai mengerut. Hari ini aku hanya duduk di sofa, mendengarkan radio tua yang hanya mengeluarkan suara tidak jelas. Rasanya lebih baik daripada keheningan yang menulikan.

Di bawah paragraf itu, tanpa jeda tanggal, ada tulisan dengan tekanan pena yang sangat kuat hingga nyaris merobek kertas:

Kuncinya ada di dalam vas bunga di lorong. Aku bosan melihatmu mencarinya seperti tikus buta. Dan radionya tidak rusak, aku hanya tidak suka lagu-lagu lama yang kau putar. Aku lebih suka kesunyian.

Elias bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju lorong rumah barunya, menuju vas bunga keramik tua yang masih ada di sana sejak ia pindah. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ke dalam vas yang berdebu itu.

Ting.

Sebuah kunci besi tua berdenting saat jarinya menyentuh dasar vas. Elias menariknya keluar. Itu adalah kunci gudang bawah tanah.

“Tidak mungkin,” bisik Elias. Jantungnya berdegup kencang. Buku ini bukan sekadar buku harian tua. Buku ini adalah rekaman kejadian yang terjadi di dalam rumah ini.

Ia kembali ke tempat tidur, seolah-olah lantai kayu di bawah kakinya tiba-tiba berubah menjadi es yang tipis. Ia harus membaca lebih banyak. Ia harus tahu siapa mereka.

20 Mei

Hari ini aku merasa diikuti. Di mana pun aku berada, aku merasa ada sepasang mata yang menempel di punggungku. Aku berbalik, tapi hanya ada bayanganku sendiri. Aku mulai takut pada rumah ini. Ada hawa dingin yang tidak berasal dari jendela yang terbuka. Aku merasa... aku tidak benar-benar sendirian di sini.

Tepat di bawahnya, tulisan hitam itu menjawab dengan nada yang hampir terdengar seperti seringai:

Akhirnya. Kau mulai peka, ya? Aku berdiri di belakang pintu kamar mandi saat kau mencuci muka tadi pagi. Jarak kita hanya seujung jari. Aku bisa mencium bau sabun cendanamu yang membosankan. Kau bilang kau kesepian? Jangan berbohong. Kau hanya takut pada kehadiran yang tidak bisa kau jelaskan.

Elias menutup buku itu dengan keras. Ia merasa seolah-olah ada seseorang yang sedang berdiri di sudut kamarnya yang gelap, memerhatikannya membaca rahasia mereka.

Dua orang. Di satu rumah. Di waktu yang sama? Ataukah mereka berada di dimensi yang berbeda? Penulis pertama merasa kesepian dan mendambakan kehadiran seseorang, sementara penulis kedua merasa terganggu namun terobsesi pada penulis pertama.

Yang paling mengerikan bukanlah fakta bahwa mereka berbagi buku harian itu. Yang paling mengerikan adalah fakta bahwa salah satu dari mereka tahu keberadaan yang lain, sementara yang satunya lagi perlahan-lahan kehilangan kewarasannya karena ketidaktahuan.

Elias melihat ke cermin di kamarnya. Untuk sesaat, ia merasa bayangannya di cermin tidak bergerak selaras dengannya.

Elias menatap pulpen hitam di tangannya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah dia sedang bersiap melakukan penistaan terhadap sejarah. Buku harian itu terbuka di halaman kosong setelah halaman terakhir bulan Mei yang mengerikan.

Dia harus tahu. Apakah ini hanya sekedar buku usang, ataukah buku ini adalah medium yang masih “hidup”?

Dengan tangan sedikit gemetar, Elias menuliskan satu kalimat pendek di baris paling atas:

Siapa kalian? Dan kenapa kalian berbagi buku ini?

Dia menutup buku itu, meletakkannya kembali ke dalam kotak jati di atas meja, lalu mematikan lampu. Malam itu, setiap derit lantai kayu di rumah tua itu terdengar seperti langkah kaki yang ragu-ragu. Elias tidak benar-benar tidur, dia hanya memejamkan mata dalam kegelapan yang penuh kecurigaan.

26 Mei (Pagi Hari)

Sinar matahari yang pucat menyusup melalui celah gorden. Elias segera menyambar buku itu. Dia membukanya dengan napas tertahan. Di bawah pertanyaannya, ada dua jawaban yang ditulis dengan tinta yang berbeda, seolah-olah mereka baru saja ditulis beberapa menit yang lalu.

Tinta Biru (Lembut & Ragu):

Siapa itu? Aku merasa ada suara lain di ruangan ini. Aku tidak berbagi buku ini dengan siapa pun. Aku membelinya di toko alat tulis di sudut jalan untuk mencatat hari-hariku yang sepi. Apakah kau... malaikat pelindungku?

Tinta Hitam (Tajam & Menghina):

Jangan ikut campur, orang asing. Ini adalah urusan kami. Dia milikku untuk diawasi, dan aku adalah satu-satunya kenyataan yang dia miliki, meski dia terlalu buta untuk melihatku. Pergilah sebelum kau merusak segalanya.

Elias melepaskan buku itu hingga jatuh ke lantai. Tulisan itu... masih basah. Sedikit noda tinta hitam menempel di jempolnya.

“Mereka ada di sini,” bisik Elias. “Mereka tidak sedang menulis dari masa lalu. Mereka menulis sekarang.”

Dia mulai berlari mengitari rumah. Dia memeriksa lemari, kolong tempat tidur, dan ruang bawah tanah yang gelap menggunakan kunci yang dia temukan kemarin. Kosong. Hanya ada debu dan aroma apak. Tidak ada orang lain di rumah ini selain dirinya.

Dia kembali ke buku itu, rasa penasarannya kini bercampur dengan obsesi yang berbahaya. Dia membaca halaman-halaman selanjutnya di bulan Juni, di mana keanehan itu mencapai puncaknya.

10 Juni

Aku memasak sup tomat malam ini. Tapi saat aku kembali dari mengambil sendok di dapur, mangkuknya sudah kosong. Padahal aku baru saja menuangnya. Aku mulai merasa gila. Apakah aku memakannya tanpa sadar? Ataukah ada lubang di ingatanku yang semakin membesar?

Tepat di bawahnya, tulisan hitam menyambar:

Supnya terlalu banyak garam. Aku membuangnya ke tempat cuci piring saat kau berbalik. Kau harus belajar memasak dengan benar jika ingin aku tetap tinggal. Kau tidak gila. Kau hanya tidak sendirian. Sadarlah.

Elias menyadari pola yang mengerikan. Penulis A (Tinta Biru) benar-benar yakin dia sendirian dan mulai meragukan kewarasannya sendiri karena “gangguan-gangguan” kecil yang terjadi. Sementara Penulis B (Tinta Hitam) seolah-olah hidup di celah-celah waktu Penulis A, mencuri makanannya, mengubah letak barang-barangnya, dan merusak realitasnya.

Lalu, Elias menemukan sebuah halaman yang membuatnya membeku. Tanggalnya adalah hari ini.

25 Maret (Hari Ini)

Tinta Biru:

Seseorang pindah ke rumah ini. Namanya Elias. Aku melihatnya duduk di kursi goyangku. Dia membaca buku rahasia kita. Aku ingin menyapanya, tapi aku takut. Aku merasa suaraku sudah hilang bertahun-tahun yang lalu.

Tinta Hitam:

Elias adalah pengganngu. Dia menyentuh kotak jatiku. Dia mengotori halaman ini dengan pertanyaannya yang bodoh. Jangan khawatir, sayangku. Aku akan memastikan dia pergi. Sama seperti aku memastikan orang-orang sebelum dia pergi.

Elias menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Di koridor yang remang-remang, dia melihat sebuah syal merah tergeletak di lantai. Syal yang sama yang pernah ditulis oleh Penulis A sebagai barang yang “dibuang ke tempat sampah”.

Buku itu tidak sedang menceritakan masa lalu. Buku itu sedang menuliskan apa yang terjadi saat ini, dan Elias baru saja menyadari bahwa dia bukan lagi seorang pembaca. Dia adalah target berikutnya.

Elias tidak melarikan diri. Rasa ingin tahunya telah berubah menjadi semacam tanggung jawab moral yang ganjil. Ia duduk di meja makan, menaruh buku itu di tengah, persis seperti seorang mediator dalam sebuah sidang pemanggilan arwah.

“Kalian tidak sadar, kan?” bisik Elias pada ruangan yang kosong. “Kalian berbagi satu kehidupan, tapi saling menyiksa.”

Elias mengambil pena. Ia tidak menulis di halaman baru, melainkan menarik garis panjang yang menghubungkan tulisan biru di sisi kiri dan tulisan hitam di sisi kanan. Di tengah garis itu, ia menulis dengan huruf kapital:

LIHAT KE ARAH YANG SAMA. SEKARANG.

Ia menunggu. Suasana rumah menjadi sangat hening, jenis keheningan yang membuat telinga berdenging. Tiba-tiba, permukaan kertas buku itu berdesir. Tinta mulai muncul seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang menekannya dari dimensi lain.

Tanggapan Langsung

Tinta Biru:

Aku melihat garis itu. Elias, apa maksudmu? Aku sedang menatap cermin di lorong. Aku hanya melihat diriku sendiri... tapi bayanganku tampak sangat pucat. Dan ada noda hitam di sudut mataku yang tidak bisa kuhapus.

Tinta Hitam:

Berani-beraninya kau. Kau mencoba menyatukan minyak dengan air. Dia tidak sanggup melihatku! Jika dia melihatku, dunianya yang rapuh akan hancur. Aku adalah pelindungnya sekaligus penjegarannya. Biarkan kami seperti ini!

Elias tidak menyerah. Ia menulis lagi dengan cepat di bawah kemarahan Tinta Hitam.

Dia tidak butuh pelindung yang membuatnya merasa gila. Dia butuh kebenaran. Tinta Biru, jangan lihat cermin itu. Lihatlah ke arah kursi di depan meja makan. Letakkan tanganmu di atas meja.

Elias meletakkan tangannya sendiri di atas meja kayu yang dingin. Ia merasakan getaran halus. Di halaman buku, Tinta Biru mulai menulis dengan gemetar.

Tinta Biru:

Aku... aku meletakkan tanganku di meja. Terasa sangat dingin. Tapi tunggu... ada sesuatu yang lain. Aku merasa ada kehangatan yang asing di sebelah jemariku. Seperti ada tangan lain yang tak terlihat.

Tinta Hitam:

Lepaskan! Jangan sentuh dia! Kau akan merusak keseimbangan ini!

Tiba-tiba, lampu di ruang makan berkedip hebat. Elias merasakan hembusan angin dingin yang menusuk tulang, namun di saat yang sama, ia melihat sesuatu yang mustahil. Di atas permukaan meja, tepat di sebelah tangannya, muncul bekas tekanan. Seperti ada seseorang yang sedang menekan meja itu dari sisi lain.

Lalu, sebuah fenomena mengerikan terjadi di buku itu. Tinta biru dan tinta hitam mulai bercampur. Warna biru yang tenang dan hitam yang tajam meleleh, menciptakan warna ungu gelap yang pekat dan berantakan.

Tinta yang Bercampur:

Kenapa wajahmu tampak seperti wajahku? Kenapa ingatanmu adalah ingatan yang kubuang? Kau adalah aku yang bersembunyi di kegelapan. Dan aku adalah kau yang takut pada cahaya.

Elias tersentak. Sebuah kesadaran pahit menghantamnya. Ini bukan tentang dua hantu yang berbeda. Ini adalah tentang satu jiwa yang terbelah, yang menulis harian untuk dirinya sendiri tanpa menyadari bahwa ia memiliki kepribadian lain yang mengambil alih saat ia “tertidur".

"Kalian adalah orang yang sama," bisik Elias, suaranya parau.

Namun, jawaban yang muncul di buku itu jauh lebih gelap dari yang ia duga.

Tinta Hitam (Sekarang sangat besar dan mendominasi seluruh halaman):

Kami TAHU itu sekarang, Elias. Dan karena kau sudah membuat kami sadar... kami tidak lagi membutuhkan perantara. Kami tidak butuh buku ini lagi untuk berkomunikasi.

Elias melihat ke arah buku. Tulisan-tulisan itu mulai menghilang dari kertas, terserap masuk ke dalam serat-serat kulit sampulnya, meninggalkan halaman-halaman yang putih bersih seolah-olah belum pernah disentuh.

Pintu depan rumah terkunci dengan sendirinya. Klik.

Elias menyadari kesalahannya. Dengan mencoba mempersatukan mereka, ia telah menciptakan sebuah kesadaran tunggal yang utuh, yang kini menyadari bahwa ada "orang asing" di dalam rumah mereka.

Di cermin lorong, Elias melihat bayangan seorang pria berdiri di belakangnya. Pria itu memegang sebuah syal merah.

Elias mundur hingga punggungnya menabrak rak buku. Sosok di cermin dengan syal merah itu tidak menyerangnya. Sosok itu hanya berdiri diam, wajahnya tertutup bayangan, namun gerakannya... gerakannya terasa sangat familiar.

Elias melihat tangannya sendiri. Ada noda tinta hitam di jempolnya. Ia melihat kembali ke buku harian yang kini halamannya menjadi kosong. Ia membalik halaman demi halaman dengan panik hingga mencapai halaman paling terakhir.

Di sana, tertulis sebuah catatan dengan tanggal: 25 Maret 2046.

Dua puluh tahun dari sekarang.

25 Maret 2046

Aku menemukan buku ini di loteng hari ini. Rasanya aneh, seolah aku sudah pernah memegangnya. Aku mulai menulis untuk mengusir kesunyian. Aku merindukan masa lalu, masa di mana rumah ini masih terasa hangat sebelum “insiden” itu terjadi. Aku akan menulis dengan tinta biru, warna favoritku dulu.

Jantung Elias seakan berhenti. “Tinta Biru... itu aku di masa depan?”

Ia membalik satu halaman ke belakang. 25 Maret 2006. Dua puluh tahun yang lalu.

25 Maret 2006

Rumah ini terlalu bersih. Aku benci kotoran. Seseorang akan datang ke sini suatu hari nanti dan merusak segalanya. Aku harus memperingatkan diriku sendiri. Aku akan meninggalkan petunjuk. Aku akan menggunakan tinta hitam agar terlihat tegas. Jangan biarkan dia tahu siapa aku sebenarnya.

Elias gemetar. Ia menyadari kebenaran yang mengerikan. Tidak ada dua orang yang berbeda. Tidak ada hantu. Yang ada hanyalah Elias yang terjepit di antara dua garis waktu.

Penulis A (Biru) adalah Elias di masa depan yang pikun dan melankolis, mencoba meraih kembali kenangannya. Penulis B (Hitam) adalah Elias di masa lalu yang obsesif dan penuh amarah, mencoba mengontrol masa depannya.

Dan Elias yang sekarang? Ia adalah “titik nol”. Titik di mana kedua garis waktu itu berbenturan.

“Jika aku di masa lalu menulis bahwa dia benci Elias yang sekarang...” Elias bergumam, matanya terbelalak melihat tulisan hitam yang tiba-tiba muncul di halaman kosong di depannya.

Tinta Hitam (2006):

Kau sudah membaca terlalu banyak, Elias. Kau membuatku di masa depan menjadi lemah dan sedih. Aku harus menghapusmu agar aku bisa menjadi ‘dia’ tanpa rasa penyesalan.

Tiba-tiba, tangan Elias mulai terasa kebas. Ia melihat ke bawah dan berteriak. Ujung jari-jarinya perlahan berubah menjadi cair... menjadi tinta hitam.

Buku itu tidak sedang menceritakan hidupnya. Buku itu memakan hidupnya untuk menjadi tinta.

“Tidak! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!” Elias menyambar korek api di atas meja. Ia ingin membakar buku itu. Jika buku itu musnah, lingkaran setan ini akan putus.

Namun, saat api menyentuh ujung sampul kulitnya, sebuah suara bisikan terdengar dari segala penjuru ruangan. Bukan suara hantu, tapi suaranya sendiri, campuran antara suara pemuda yang marah dan pria tua yang lelah.

“Jika kau membakar buku ini, kau tidak akan pernah ada. Kau adalah cerita ini, Elias. Tanpa buku ini, kau tidak akan ada artinya”

Elias tertegun. Api itu membesar, mulai melahap rak buku dan gorden. Namun, anehnya, Elias tidak merasa panas. Ia justru merasa... ringan. Tubuhnya perlahan memudar, menjadi partikel-partikel hitam yang terbang ke udara, masuk ke dalam jilid buku yang terbakar namun tidak hancur.

Epilog

Beberapa bulan kemudian, rumah peninggalan itu kembali sunyi. Seorang agen properti datang membawa calon pembeli baru. Saat mereka memeriksa loteng yang berdebu, sang pembeli melihat sebuah kotak jati kecil yang selamat dari kebakaran hebat secara ajaib.

Di dalamnya, ada sebuah buku harian bersampul kulit cokelat yang tampak baru.

Sang pembeli membukanya. Halaman pertama masih kosong, kecuali satu kalimat di pojok bawah yang ditulis dengan tinta ungu, campuran biru dan hitam yang sempurna:

“Jangan membaca sendirian. Kami sedang menunggumu untuk menulis bab selanjutnya.”

Elias tidak mati. Ia hanya berpindah tempat. Kini, ia adalah bagian dari kertas itu, menunggu tangan baru untuk memegang pena dan melanjutkan siklus tanpa akhir.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Tulis!!!
OvioviO
Cerpen
Menerka Dibalik Kisah Kehidupan
dreaminghand
Novel
Bronze
Tuju
EZAZ QI
Novel
CITA-CITAKU INGIN MENJADI POLISI
Bayu Nata
Flash
Cermin Dua arah
Viona fiantika
Flash
Midnight
Veninda Oktaviana
Flash
Lelaki dengan Sepatu Jebolnya
Sena N. A.
Skrip Film
Tania!
Rakha Adhitya
Flash
Misteri Penerbangan 709
Ika nurpitasari
Flash
Wajah
Noor H. Dee
Skrip Film
Does Netflix party require everyone to have Netflix?
watch party
Cerpen
Bronze
Halo, Selamat Tinggal!
Ilestavan
Flash
Kematian Sebuah Bangsa
Akara Drawya
Flash
Mustika Kebahagiaan
Erlang Kesuma
Novel
Bronze
MYSOPHOBIA
Aldi A.
Rekomendasi
Cerpen
Tulis!!!
OvioviO
Cerpen
Mawar Senja
OvioviO
Novel
Suami
OvioviO
Cerpen
Buah Hatiku
OvioviO
Cerpen
Persami
OvioviO
Novel
Gunung Wingit
OvioviO