Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Elias selalu membenci debu, tapi takdir sepertinya punya selera humor yang buruk dengan menempatkannya di tengah tumpukan buku usang di loteng rumah barunya. Rumah itu adalah peninggalan bibinya, sebuah bangunan kolonial di pinggiran kota yang berbau kayu basah dan kenangan yang memudar.
Di antara tumpukan koran tahun 1990-an dan perangkat minum teh yang retak, Elias menemukan sebuah kotak kayu jati kecil. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku bersampul kulit coklat yang sudah mengelupas di bagian pinggirnya. Tidak ada judul, tidak ada nama pemilik. Hanya ada sebuah tali elastis yang sudah melar, menjaga agar lembaran-lembaran di dalamnya tidak berhamburan.
Elias duduk di atas kursi goyang tua yang berderit, menyeka debu dari sampulnya, dan mulai membuka halaman pertama.
12 Maret
Hari ini hujan lagi. Aku tidak keberatan. Suara rintik di atap seng ini adalah satu-satunya musik yang tidak menuntut balasan. Aku menghabiskan pagi dengan menyeduh kopi yang terlalu pahit, tapi setidaknya itu membuatku tetap terjaga. Hidup terasa seperti berjalan di tempat, tapi mungkin itu memang tujuannya saat ini. Untuk tidak pergi ke mana-mana.
Elias mengerutkan kening. Tulisan tangannya miring ke kanan, rapi, dengan tarikan garis yang tegas namun tipis. Sangat melankolis. Ia membalik halaman berikutnya.
15 Maret
Aku melihat kucing tetangga masuk ke kebun lagi. Ia tampak kurus, jadi aku memberinya sisa roti. Aku tah...