Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Tukang Pos Terakhir
0
Suka
5,276
Dibaca

Bab 1: Surat Tanpa Pengirim

Hujan rintik-rintik di sore hari seringkali membawa ketenangan, tapi tidak bagi Rina. Gadis SMA itu baru saja pulang dan menemukan sesuatu yang janggal di kotak surat. Sebuah amplop putih polos tanpa nama pengirim, hanya bertuliskan satu baris singkat: “13 Juni 2025”. Tanggal itu, tepat seminggu dari sekarang. Ia menduga ini hanya iseng, mungkin dari teman-temannya yang suka mengerjai. Tapi saat ia membalik amplop itu, hidungnya menangkap bau aneh, seperti tanah basah sehabis hujan lebat. Dan di sudutnya, samar terlihat bercak kemerahan yang kering, mirip noda darah. Sebuah gurauan yang aneh, pikirnya, tapi tetap saja, ada rasa tak nyaman yang menyusup.

Rina mencoba mengabaikannya, meletakkan surat itu di meja belajarnya. Namun, pandangannya terus-menerus kembali ke amplop itu. Kenapa bau tanah? Dan noda darah itu… itu bukan noda cat atau lumpur. Terlalu gelap, terlalu kental. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya imajinasinya yang berlebihan, dampak dari film horor yang ditontonnya semalam. Tapi bayangan tangan tak terlihat yang meletakkan surat itu di kotak posnya terus menghantuinya.

Malam harinya, Rina tak bisa tidur. Angin berdesir di luar jendela, dan setiap bayangan di kamarnya terasa bergerak. Ia bangkit, melongok keluar. Di ujung jalan, di bawah sorot lampu jalan yang redup, berdiri siluet seseorang. Sosok itu tinggi dan kurus, mengenakan topi bundar, persis seperti tukang pos. Tapi kenapa dia berdiri diam di sana, tak bergerak sedikit pun, padahal hari sudah larut? Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Rina mengamati lebih dekat, jantungnya berdegup kencang. Sosok itu benar-benar tak bergeming, mematung seperti patung, menghadap lurus ke arah rumahnya. Kengerian merayapi Rina. Ia bergidik dan buru-buru menutup gorden, menarik napas dalam-dalam. Perasaannya semakin tidak enak, dan ia mulai menyesal telah mengambil surat itu.

Tanggal 13 Juni tiba dengan mendung tebal dan suasana yang mencekam. Sejak pagi, Rina sudah merasa gelisah. Setiap dering telepon membuatnya terlonjak, setiap bayangan yang melintas di jendela membuat matanya memicing. Sorenya, hujan lebat disertai petir mulai mengguyur Kota Makassar. Rina yang terjebak di luar saat pulang sekolah, memutuskan untuk berteduh di bawah pohon besar di pinggir jalan. Sebuah kesalahan fatal. Petir menyambar pohon itu dengan kekuatan memekakkan telinga. Rina tewas seketika, tubuhnya hangus tak berbentuk, ponsel di genggamannya ikut meleleh.

Kamera CCTV tetangga merekam semuanya. Samar terlihat, setelah petir menyambar dan kepanikan mulai muncul di jalan, sosok tukang pos misterius itu berjalan perlahan menjauh dari lokasi kejadian, seolah tak peduli dengan kekacauan yang baru saja terjadi. Langkahnya pelan, mantap, dan teratur, tidak seperti orang yang terburu-buru atau terkejut. Polisi datang, menganggap kematian Rina sebagai kecelakaan biasa, musibah akibat petir...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Tukang Pos Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Flash
Marry & Tommy
Ika Karisma
Novel
Bronze
Bulan Madu Pengantin
Rosi Ochiemuh
Novel
Gold
Fantasteen Scary Red Eyes
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Dikutuk
Bulan Separuh
Flash
Bronze
A Mysterious Sign on A Red Sofa
Shabrina Farha Nisa
Cerpen
Lorong yang Menganga
Aulia umi halafah
Flash
DUA BERMUKENA
Hary Silvia
Cerpen
Bronze
Kutukan Danau Matano
Risti Windri Pabendan
Flash
Bronze
Jamkos
Herman Sim
Novel
SARI, Arwah Penasaran yang terundang
Efi supiyah
Flash
Aroma Pukul Tiga Pagi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ibu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Keluarga Bagian II: Kembali
Nisa
Novel
Black Diary
Ratih Azhar
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Tukang Pos Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ibu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Dari Frekuensi Mati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Catatan Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Di Kamar Kost
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 000
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ada Apa Dengan Diriku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Gema Yang Membeku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Maut Di Kapal Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Yakin Ini Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Luka Di Kota Tua
Christian Shonda Benyamin