Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
That's why I can't love you in the dark
"Boleh di pelanin sedikit radionya?"
Ahmad.
Suara Maria membuyarkan lamunanku. Malam itu mendung, Jakarta macet seperti biasa — khas malam Minggu.
Aku menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
Ia menghela napas pelan. Aku tahu hal ini akan terjadi. Sudah lama aku tahu.
7 tahun, dan kami masih berdiri di titik yang sama. Tidak maju, tidak mundur — hanya bertahan. Hanya karena cinta saja ternyata tidak pernah cukup.
Tetap saja berat.
Meski aku sudah bersiap sejak bulan pertama kami menjalani hubungan ini — sejak aku sadar bahwa mencintai Maria berarti mencintai sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kumiliki.
Aku memutar kenop radio. Suara Adele perlahan hilang, digantikan oleh suara mesin mobil yang mengerang halus dan rintik gerimis yang mulai mengetuk kaca depan. Sekarang, hanya ada kami. Tanpa musik yang menyembunyikan detak jantung, tanpa lirik orang lain yang mewakili perasaan.
"Mad," panggilnya lagi. Kali ini ia menoleh.
Aku tetap menatap lurus ke lampu merah di depan yang seolah enggan berubah warna. Aku takut jika aku menoleh, pertahananku selama tujuh tahun ini runtuh dalam sekali kedip.
Aku sudah menyiapkan skenario ini di kepalaku ribuan kali—di sela-sela doa yang tak terjawab dan di antara obrolan tentang masa depan yang selalu kami gantungkan.
Tapi ternyata, tidak ada latihan yang cukup untuk menghadapi kenyataan.
"Iya, Mar?" jawabku lirih. Aku bisa merasakan jemarinya menyentuh punggung tanganku yang masih memegang tuas persneling. Dingin. Atau mungkin tanganku yang terlalu panas karena menahan segala sesuatu yang ingin meledak.
Maria.
Aku memperhatikan profil samping wajah Ahmad. Garis rahangnya mengeras. Dia sedang mencoba menjadi kuat untuk kami berdua, seperti yang selalu dia lakukan selama tujuh tahun terakhir.
Dulu, aku pikir cinta adalah tentang perjuangan. Tapi malam ini, di tengah kepungan lampu kota yang buram karena air hujan, aku sadar: cinta juga tentang tahu kapan harus berhenti menyakiti satu sama lain.
"Kita sudah sampai di ujung jalan, ya?" tanyaku, hampir seperti bisikan.
Aku melihat jakunnya bergerak naik-turun. Dia tidak membantah. Itu adalah konfirmasi paling jujur yang pernah aku terima. Kami tidak sedang bertengkar. Tidak ada orang ketiga. Tidak ada pengkhianatan. Yang ada hanyalah realita yang selama ini kami abaikan: bahwa kami adalah dua orang yang searah, tapi tidak ditakdirkan untuk sejalan.
Aku melepaskan tanganku dari punggung tangannya. Ruang kosong di antara kursi kami tiba-tiba terasa seperti jurang yang sangat dalam.
"Aku sayang kamu, Mad. Sayang sekali," kataku, dan untuk pertama kalinya malam itu, suaraku pecah. "Justru karena itu, aku nggak mau kita saling benci karena terus memaksa."
Suara wiper yang berdecit di kaca depan perlahan berubah menjadi suara yang lain. Lampu-lampu kota yang merah dan kuning itu mulai memanjang, berputar, dan menarikku kembali ke belakang.
Ahmad.
Ingatanku melompat melewati tahun ketujuh, kelima, kedua… hingga berhenti di satu titik yang paling terang.
Aku ingat mengapa aku jatuh cinta pada Maria.
Bukan karena ia cantik—meski ia memang selalu punya cara untuk membuatku terpana. Tapi karena sebuah sore di perpustakaan kampus yang pengap, sepuluh tahun yang lalu.
Saat itu, aku sedang bergelut dengan tumpukan skripsi yang tak kunjung usai. Maria, yang saat itu hanya teman sekelompok yang jarang bicara, duduk di depanku. Ia tidak menawarkan kata-kata penyemangat yang klise. Ia hanya menggeser sebuah kotak susu cokelat dingin dan selembar sticky note berwarna kuning ke arahku.
“Bernapas, Ahmad. Dunia nggak akan runtuh kalau kamu istirahat sepuluh menit.”
Aku mendongak, dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya. Ia sedang tersenyum tipis sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya—gerakan kecil yang entah bagaimana terasa seperti sebuah janji. Di matanya, aku melihat ketenangan yang selama ini kucari.
Sejak hari itu, duniaku yang tadinya hanya hitam-putih penuh ambisi, tiba-tiba punya warna. Warna Maria.
Aku ingat saat kami pertama kali makan di pinggir jalan dan kehujanan, ia justru tertawa lebar sambil menggunakan tasnya untuk menutupi kepalaku, bukan kepalanya sendiri.
Aku ingat bagaimana ia selalu tahu kapan aku sedang berpura-pura baik-baik saja hanya dari cara aku mengetuk meja.
Dan aku ingat hari di mana aku sadar bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya—hari di mana segala perbedaan di antara kami masih terasa kecil, sekecil debu yang bisa kami tiup kapan saja. Kami begitu naif. Kami pikir, selama ada “kita”, dunia tidak akan punya kuasa untuk memisahkan.
Aku ingat bagaimana Maria selalu menjadi sisi yang paling rapi dalam hidupku yang berantakan. Jika tasku penuh dengan kertas coretan dan remah makanan, tas Maria selalu terorganisir. Ia adalah orang yang akan merapikan kerah kemejaku yang terlipat sebelum kami turun dari mobil, atau yang memastikan aku selalu membawa payung meski langit sedang cerah-cerahnya.
Tapi yang paling membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya adalah bagaimana ia memperlakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia mengerti.
Aku ingat satu sore di tengah kencan kami. Waktu ashar hampir habis, dan Jakarta sedang tidak bersahabat. Aku melirik jam tangan dengan gelisah, bingung antara ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya atau menjalankan kewajibanku.
Tanpa perlu aku ucapkan, Maria yang sedang asyik bercerita tiba-tiba berhenti. Ia menunjuk ke arah menara masjid di ujung jalan.
“Mad, mampir dulu yuk. Aku tunggu di depan, ya? Jangan buru-buru, aku ada buku yang mau dibaca kok.”
Ia mengatakannya dengan begitu tulus, seolah-olah menunggu di pelataran masjid saat aku beribadah adalah bagian dari ritual kencan kami yang paling normal. Ia tidak pernah mengeluh soal sela waktu yang terpotong. Ia justru yang sering mengingatkanku jika aku terlalu asyik mengobrol sampai hampir melewatkan waktu.
Di saat itulah, aku sering merasa sangat kecil. Aku melihatnya dari jauh—duduk di bangku taman atau di teras masjid, rapi dengan dunianya sendiri—dan aku membatin: Tuhan, bagaimana bisa aku melepaskan perempuan yang begitu menghargai-Mu, meski ia tidak berjalan di jalan yang sama?
Maria.
Aku ingat Ahmad.
Aku sudah menyukai laki-laki itu sejak hari pertama orientasi kampus. Dia yang selalu duduk di barisan tengah, yang bicaranya tidak banyak tapi matanya selalu terlihat sedang berpikir keras.
Tahun-tahun awal kuliah bagiku adalah tentang mencuri pandang. Menunggu dia lewat di koridor, atau sengaja memutar jalan hanya agar bisa berpapasan dan mendengar dia bergumam, “Eh, Mar,” sebagai sapaan singkat. Itu sudah cukup untuk membuat hariku lengkap.
Aku tidak pernah berani menunjukkan perasaanku. Tidak pernah.
Bagiku, Ahmad adalah sebuah buku yang ingin kubaca, tapi aku sadar sampulnya ditulis dalam bahasa yang tidak kupahami sepenuhnya. Ada garis yang jelas di antara kami, dan aku cukup tahu diri untuk tidak melangkahinya.
Maka, saat akhirnya semesta memberikan celah—saat kami mulai bicara lebih lama di perpustakaan, saat dia mulai menawarkan tumpangan pulang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk mencoba—aku merasa seperti memenangkan sesuatu yang mustahil. Aku tidak pernah kepikiran kalau akhirnya kami benar-benar bisa bareng-bareng.
Aku mencintainya dengan sangat sadar. Sadar akan perbedaannya, sadar akan risikonya. Aku pikir, cintaku yang besar bisa menjadi jembatan. Aku rela menjadi orang yang selalu menunggu, rela menjadi orang yang merapikan kemejanya sebelum ia bertemu dunianya, rela menjadi apa saja asal ada di sampingnya.
Aku ingat minggu-minggu pagi di mana ia rela bangun lebih awal hanya untuk menjemput dan mengantarku. Ia tidak pernah keberatan menembus sisa-sisa embun Jakarta, memastikan aku sampai tepat waktu.
Tapi, tepat di depan gerbang gereja itu, ada garis tak kasatmata yang selalu menghentikan laju mobilnya.
Ahmad tidak segan mengantarku, meski hanya sampai depan gerbang. Ia akan menungguku turun, memastikan alkitabku tidak tertinggal, lalu memberikan senyum kecil yang selalu terasa seperti sebuah permintaan maaf. Aku tahu, ia pun tidak mungkin bisa masuk ke rumahku tanpa merasa asing.
Di depan gerbang itu, ia adalah orang luar. Sama seperti aku yang menjadi orang luar di pelataran masjidnya.
Kami adalah dua orang yang saling menjaga di ambang pintu masing-masing, tapi tidak pernah benar-benar punya kunci untuk masuk dan duduk bersama di dalamnya. Kami saling menghormati ruang sakral itu, namun di saat yang sama, ruang itulah yang perlahan-lahan menciptakan jarak yang paling lebar di antara kami.
Tapi tujuh tahun kemudian, aku sadar bahwa jembatan yang kubangun sendirian tidak akan pernah cukup untuk menyeberangkan kami berdua ke tujuan yang sama.
Lampu merah di depan berubah menjadi hijau. Mobil di belakang mulai membunyikan klakson, memecah gelembung memori yang baru saja kusatukan. Ahmad menginjak pedal gas pelan, tapi gerak mobil ini terasa seperti kami sedang menuju ke tempat eksekusi.
Ternyata, tujuh tahun kemudian, toleransi saja tidak cukup untuk merobohkan tembok yang kita bangun masing-masing.
“Aku selalu suka nungguin kamu di depan masjid,” suara Maria lirih, tapi telak menghantam Ahmad. Maria masih menatap lurus ke depan, ke arah deretan lampu merah yang tak kunjung hijau.
“Tapi aku juga sadar, kalau aku nggak bisa selamanya hanya nunggu di depan pintu, Mad… sedangkan aku juga nggak mungkin bisa masuk.”
Kalimat itu menggantung di udara kabin mobil yang dingin. Ahmad tidak membantah. Ia sadar bahwa ia cukup egois untuk membiarkan Maria merasa asing di rumahnya.
Ahmad yang sedari tadi diam, akhirnya bicara. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya.
“Kamu nggak pernah maksa, Mar.” Suaranya keluar lebih kasar dari yang ia niatkan. “Aku juga mau. Kamu tau sendiri perasaan aku ke kamu gimana.”
Keheningan sedetik terasa seperti satu jam.
“Ahmad.” Maria menyentuh punggung tangannya lagi — pelan, seperti seseorang yang sedang menenangkan anak kecil yang tidak mau menerima kenyataan.
Ia tahu sentuhan itu bukan untuk menghentikan amarah. Tapi untuk mengatakan: aku tahu. Aku tau kamu mau. Tapi mau saja tidak cukup.
“Mar—” Ahmad menggeleng. Satu kali. Pelan.
Ia tidak sanggup melanjutkan. Kata-kata yang selama ini ia susun rapi di kepalanya — ribuan skenario, ribuan kemungkinan — semuanya runtuh hanya dengan satu sentuhan jarinya di punggung tangannya.
Di luar, Jakarta tetap ramai. Tidak peduli.
“Kasih aku waktu, Mar. Ini terlalu mendadak.”
Maria menoleh. Matanya sudah basah.
“Kita udah punya 7 tahun, Ahmad.” Suaranya pecah di tengah kalimat. “7 tahun.”
Bukan tuduhan. Bukan tuntutan. Hanya kenyataan yang selama ini mereka hindari bersama — kini akhirnya diucapkan keras-keras, di dalam mobil, di tengah hujan yang makin deras.
Ahmad tidak menjawab.
Maria menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan dirinya yang berserakan.
“Ini juga nggak gampang buat aku, Mad.” Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Berat. Ini berat banget.”
Ia tidak menambahkan apapun setelah itu. Tidak perlu.
Karena berat yang ia maksud bukan hanya malam ini — tapi tujuh tahun dari malam-malam seperti ini. Tujuh tahun memilih diam daripada bertengkar. Tujuh tahun berdiri di ambang pintu satu sama lain, menunggu keajaiban yang tidak pernah datang.
Ahmad menepikan mobilnya.
Pelan, tanpa bilang apa-apa, ia menepi ke pinggir jalan dan mematikan mesin. Hujan semakin deras di luar.
Ia harus melihat wanitanya. Memastikan Maria baik-baik saja.
Mungkin.
Atau mungkin ia hanya belum siap untuk terus berkendara — karena berkendara berarti melaju, dan melaju berarti malam ini benar-benar akan berakhir.
Ia memutar badannya menghadap Maria.
Dan untuk pertama kalinya malam ini, mereka benar-benar saling menatap.
Wajah Maria basah. Matanya sembab, bibirnya ditahan agar tidak gemetar. Tapi ia tidak berpaling. Ia menanggung tatapan Ahmad dengan seluruh dirinya — seperti yang selalu ia lakukan selama tujuh tahun.
Ahmad membuka mulutnya.
Lalu menutupnya lagi.
Tidak ada kata yang cukup. Tidak ada yang bisa ia ucapkan yang tidak akan terdengar seperti pembelaan, atau permohonan, atau keduanya sekaligus.
Jadi ia hanya menatap. Dan Maria hanya menatap balik.
Hanya ada suara hujan yang menghantam atap mobil, seolah-olah langit sedang meneriakkan semua hal yang tidak sanggup mereka ucapkan.
Ahmad menggenggam tangan Maria erat-erat, seolah jika ia melepasnya sekarang, Maria akan benar-benar menguap bersama udara Jakarta.
“Mar, kasih aku kesempatan. Aku tau aku egois untuk minta ini sama kamu. Tapi aku nggak bisa, Mar,” suaranya parau. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Ahmad membiarkan air matanya menetes di depan perempuan itu.
Ia mencari-cari celah di mata Maria, sebuah tanda bahwa ada satu lagi pintu yang belum tertutup. Namun, Maria hanya menggeleng pelan sambil merasakan betapa dinginnya jemari Ahmad.
“Mad, dengar aku,” bisik Maria. Suaranya pecah, tapi ada ketegasan yang menandakan ia sudah selesai dengan batinnya sendiri. “Kita bukan satu-satunya pasangan yang gagal karena hal ini. Dan aku nggak menyesali satu detik pun yang aku habiskan sama kamu.”
Ia menarik napas panjang, menatap rintik hujan yang makin deras, sebelum kembali menatap Ahmad dengan kejujuran yang menyakitkan.
“Setiap kata sayang, setiap janji, kamu tahu aku sungguh-sungguh, Mad. Kamu adalah segalanya buat aku. Tapi tujuh tahun ini kita Cuma bertahan, Mad. Kita Cuma survive di atas luka yang kita tutup-tutupi setiap hari. Aku nggak mau kita Cuma sekadar ‘ada’ tapi pelan-pelan saling menghancurkan karena dipaksa.”
Maria melepaskan genggamannya dari Ahmad, memalingkan matanya ke arah kaca jendela yang dibasahi hujan. Maria tahu semakin lama ia menatap Ahmad, hatinya semakin tak mampu. Ia takut jika ia terus membalas tatapan itu, ia akan kembali menjadi Maria yang naif—yang percaya bahwa cinta mereka saja sudah cukup untuk meruntuhkan tembok di depan sana.
"Aku ingin benar-benar hidup, Mad. Bukan cuma sekadar bertahan dalam ketidakpastian," bisiknya, kali ini tanpa melihat ke arah Ahmad.
Ahmad masih di sana, mematung dengan sisa air mata yang belum kering. Keheningan di dalam mobil itu terasa lebih menyakitkan daripada klakson yang sesekali terdengar dari kejauhan. Mesin yang mati membuat setiap embusan napas mereka yang berat terdengar sangat nyata.
“Jangan hancur seperti ini, Mad… aku nggak sanggup lihat kamu begini,” bisik Maria, suaranya kini bergetar hebat.
Ahmad tidak menjawab, hanya isaknya yang sesekali terdengar di tengah deru hujan. Maria memejamkan mata rapat-rapat. Selama tujuh tahun, ia sudah hafal setiap lekuk luka di hati Ahmad. Ia tahu betapa sulitnya Ahmad untuk sampai di titik ini—titik di mana laki-laki itu akhirnya menyerah pada air matanya sendiri.
“Aku juga berusaha, Mad. Tolong, bantu aku, jangan minta aku untuk tinggal lagi,” lanjut Maria dengan napas yang terasa sesak.
Maria tahu, jika Ahmad memintanya sekali lagi, pertahanannya yang ia bangun dengan sisa-sisa tenaga selama tujuh tahun ini akan runtuh dalam sekejap. Ia harus menjadi yang paling kuat malam ini, justru karena ia sangat mencintai Ahmad.
Ahmad menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegaran yang berserakan di kabin mobil yang sempit itu. Ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan kepasrahan.
Tanpa sepatah kata pun, ia kembali menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya perlahan di tengah guyuran hujan Jakarta yang kian menderu. Ia harus memastikan Maria sampai di rumah dengan aman. Hanya itu yang saat ini bisa ia lakukan untuk wanitanya—tugas terakhir sebelum ia benar-benar menjadi orang asing kembali.
Maria tetap memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap lampu-lampu jalan yang membias kabur di atas aspal basah. Di dalam hatinya, ia terus merapalkan doa yang tidak terucap: Be strong, Ahmad. I can’t face your breaking heart. Ia tahu betul betapa hancurnya Ahmad, karena selama tujuh tahun, dialah yang paling mengenal setiap inci perasaan laki-laki itu. Dan melihat Ahmad hancur adalah satu-satunya hal yang sebenarnya tidak sanggup ia hadapi.
Mobil itu melaju membelah kemacetan, namun kali ini geraknya terasa seperti sebuah hitung mundur. Setiap meter yang mereka tempuh adalah satu langkah lebih dekat menuju pintu rumah yang tidak akan pernah bisa Ahmad masuki lagi. Yang tersisa hanyalah dua orang yang searah, namun selamanya tidak akan pernah ditakdirkan untuk sejalan.
Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Maria—pagar yang selama tujuh tahun ini menjadi batas antara dunia mereka. Suara mesin mobil yang mati membuat kesunyian di dalam kabin terasa mencekam, hanya menyisakan suara hujan yang masih memukul-mukul atap.
Maria meraih gagang pintu, suaranya sangat lirih saat mengucapkan terima kasih karena sudah diantar. Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, Ahmad menahan lengannya dengan lembut.
“Mar, sebentar,” ucap Ahmad.
Maria tetap terpaku, matanya lurus menatap pagar rumahnya yang basah. Ia enggan menoleh; ia tidak sanggup melihat wajah Ahmad untuk terakhir kali karena pertahanannya sudah berada di titik nadir.
“Nggak usah nengok. Aku Cuma mau bilang, terima kasih,” Ahmad bicara sambil menatap kemudi, sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak pecah lagi.
“Aku nggak tau harus bersyukur kaya gimana karena pernah dicintai oleh wanita seperti kamu,” lanjutnya, napasnya terasa berat. “Aku benci ini, Mar. Sangat benci. Aku marah dengan keadaan ini, aku marah pada diriku sendiri. Tapi bahkan sampai saat ini, rasa cintaku tetap jauh lebih besar dari semua marahku”.
Maria memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Tidak ada lagi kata-kata, tidak ada lagi doa yang terucap. Hanya ada kenyataan yang harus mereka telan bulat-bulat.
Ahmad melepaskan tangannya dari lengan Maria, membiarkan wanita itu pergi. “Masuklah. Hujannya makin deras.”
Maria keluar dari mobil tanpa kata-kata lagi, berlari kecil menembus hujan menuju rumahnya. Ahmad tidak langsung pergi. Ia tetap di sana, di dalam mobil yang kini terasa sangat luas dan hampa, memperhatikan sampai lampu teras rumah Maria menyala. Memastikan bahwa untuk terakhir kalinya, wanitanya sudah sampai di rumah dengan aman.