Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bagian Pertama: Toh, Sama Saja.
Hakim mengetuk palu, ia telah mengeluarkan vonisnya. Keringat dingin dari Neil deras membasahi baju napinya yang membuat ia semakin gerah. Neil telah divonis mati.
Tetapi bukan layaknya wanita yang divonis mati apa adanya, vonis bagi pria adalah penghapusan bakat juga kemampuan. Amat menakutkan, sebab pria tanpa skill itu bagai batu tanpa isi dan beratnya.
Neil tertunduk di selnya. Besok hukuman akan segera dijalani. Bagi dirinya yang bermimpi sebagai musisi terbaik sepanjang masa, juga sangat mencintai bakatnya, ia merasa inilah akhir.
Salah satu yang membuat hukuman Neil tak bisa diampuni ialah, ia dianggap telah merusak properti suci negara. Properti tersebut ialah patung Donald Trump, yang didirikan oleh Robert Trump. Keturunan keempat belas dari presiden yang dahulu kala berkuasa dua kali.
Robert sendiri presiden yang temperamental, tapi berulang kali publik melihat bahwa ia amat menyayangi dan hangat pada keluarganya. Tapi kecintaan yang amat sangat pada keluarganya, membuat presiden yang merubah kebijakan dua kali periode menjadi tidak terbatas itu dikritisi. Ia mau dikritik, tapi jika menyangkut nama keluarganya, dirinya akan tanpa ampun.
Neil juga memiliki watak seperti Robert, tapi ia hanya orang kecil. Jika diberi kekuasaan sama seperti Robert, bukan tidak mungkin ia akan lebih fanatik lagi. Sebagai manusia, dalam hati ia pun terus mengutuk kebijakan Robert. Hal yang juga dikritisi lawan politiknya, dimana Robert menerima. Ya, ia hanya anti keluarga atau moyangnya dikritik.
Bagi Neil, penghilangan bakat juga kemampuan sama halnya dengan potensi pemberangusan negara. Sebab jika terus menerus dilakukan, fondasi negara yang biasanya dibangun atas kemampuan, kecerdasan, dan bakat bisa runtuh. Neil dan semua orang pun bersyukur, karena kecerdasan tidak ikut dihilangkan, dalam hukuman mati metode terbaru.
Neil menangis sesenggukan, bukan hanya karena bakat serta kemampuannya akan dihilangkan. Namun lebih kepada, Neil merasa hanya dua itu yang ia miliki, demi untuk membentengi keluarganya dari jurang kemiskinan yang lebih dalam.
Neil merasa jika dua hal itu dihilangkan, punahlah sudah harapan keluarganya untuk hidup lebih baik. Neil merasa hanya dirinya yang memiliki kemampuan, setelah sang ayah tiada sekitar delapan tahun lalu, dimana sang ayah dianggap sebagai produser musik kesohor.
Neil menghapus air matanya. Ia tahu tangis tidak dapat mengubah vonis yang kekuatan hukumnya sudah tetap. Ia melamun, beberapa detik kemudian memutuskan untuk sejenak terlelap. Saat itu ia merasa mendengar para petugas ribut, tapi Neil tidak peduli. Misal pun ada kerusuhan, ia tahu bakal bisa diredam, karena kekuatan dari Robert dan koleganya. Dan ia tahu jika skenarionya seperti itu, vonis yang telah ditetapkan padanya, tetap harus ia jalani.
Neil pun tertidur di antara kerusuhan yang sedang bergejolak, ia merasakan udara panas. Sepertinya gedung sudah terbakar, tapi ia tak peduli. Toh dihilangkan bakat serta kemampuan atau mati keduanya sama saja.
Di benaknya hanya terbayang sosok sang ibu, keluarganya yang tersisa. Yang akan menjalani sisa hidup dengan melihat putranya yang gagal, jika Neil selamat. Ia pun terlelap dalam hawa udara yang makin menyengat.
***
Bagian Kedua: Lirik Yang Familiar.
Neil merasa tubuhnya digoyang, ia merasa tubuhnya nyaman, layaknya terlelap di hotel mewah. Apakah dirinya sudah di surga? Tapi kenapa ia masih mencium aroma rokok bahkan ganja? Neil membuka mata kemudian bangkit, dan ia mendapati dirinya memang berada di sebuah kamar hotel.
Herannya banyak kertas bertebaran di kasur dan sekitarnya. Ia melihat juga kertas yang diremas dan menumpuk di beberapa tong sampah. Ia agak risih karena itu sedikit jorok.
Tapi bukan itu yang terpenting baginya. Neil bertanya dimana ia sebenarnya berada. Jika dirinya bereinkarnasi, seharusnya mengulang sejak bayi. Lagipula dilahirkan menjadi manusia dalam keyakinan Neil, sudah diajarkan sebagai sesuatu yang langka. Jadi Neil menyimpulkan yang ia alami bukan reinkarnasi.
Pintu diketuk. Muncul pria usia sekitar 20an akhir. Ia menanyai apakah semuanya sudah siap. Neil mengangguk. Rupanya itu tempat sementara sebelum eksekusinya tiba.
Neil bersiap. Lalu pria yang mengaku bernama Egi tersebut menawarkan bourbon. Merasa itu minuman terakhirnya sebelum bakat serta kemampuan hilang, Neil pun mengiyakan. Ia menikmati minuman tersebut.
Egi bertanya apakah mereka akan ke studio dengan mobilnya atau mobil Neil. Neil bingung, bertanya apa maksudnya studio, Egi menanggapi itu dengan bercanda bahwa Neil telah mabuk.
Neil yang bingung ikut tertawa, meski hatinya berdebar. Lalu diputuskan mereka pakai mobil Egi. Egi menyetir karena merasa Neil terlalu mabuk. Lalu sampailah mereka ke tempat yang dituju. Neil terkejut karena itu adalah studio musik. Itu terlihat dari papan nama yang begitu besar, yang terpampang di atas gedung.
Kemudian mereka masuk ke studio, di atas terpampang nama The Beats. Neil menoleh ke papan nama itu, ia kebingungan. Keringat dinginnya bukan lagi karena bakat serta kemampuan akan dihilangkan, melainkan sebenarnya ia sedang ada di tempat apa.
Di dalam Reva dan Nathan menyambut. Mereka berdua menyapa Neil, seolah mereka sudah kenal begitu lama. Neil kemudian menanyakan tentang eksekusi, dan dijawab bahwa Reva, Nathan, serta Egi sudah menunggu. Mengatakan seharusnya karena kali ini Neil yang menciptakan lagu dan lirik, sepatutnya ialah yang mengeksekusi.
Neil bertanya bingung, bagaimana bisa ia mengeksekusi dirinya sendiri. Awalnya semua bingung, Nathan sebagai leader kemudian berkata, mungkin Neil tidak bisa mengeksekusi sendiri lagunya. Membuat Neil paham, yang mereka maksud eksekusi adalah eksekusi lagu.
Dengan senyum manis khasnya Reva kemudian memberikan dua lembar kertas yang berisi lirik. Egi kemudian melanjutkan bahwa mereka sudah mendiskusikan lirik karya Neil tersebut, dan liriknya mengingatkan akan lirik Iron Man yang dipadukan dengan Ziggy Stardust.
Dengan penuh rasa kebingungan, Neil pun melihat dua lembar lirik tersebut, begitu terkejutnya ia ketika melihat isi liriknya.
Liriknya berisi kehidupannya, terutama saat dirinya ditangkap dan menanti pasrah di sel, meski kerusuhan sedang melanda. Di situ juga disinggung soal Robert, juga patung Trump yang dijadikan lambang suci yang tak boleh dinodai.
Neil sedikit bergetar ketika membaca liriknya. Ia tak menyangka kehidupannya, yang tergambar dalam lirik tersebut amat gelap. Meski ada unsur sarkasme pada lirik yang menurut rekan bandnya ia tulis, ia dapat merasakan kegelapan yang merayap di sekujur tubuhnya.
Neil kemudian bertanya apakah ia pencipta lagu di band tersebut, Nathan lalu menjawab, bahwa mereka semua pencipta lagu, penulis lirik, dan pembuat aransemen lagu. Tetapi yang paling unggul menciptakan melodi adalah Egi, untuk lirik Reva sedikit unggul karena masa lalunya sebagai penulis.
Sedangkan Neil seharusnya yang paling jago mengaransemen. Karena itulah semua bingung, saat Neil menyampaikan sendiri, bahwa drummer tersebut tidak bisa mengaransemen untuk lagu kali ini.
Saat bertanya seperti apa lagunya, Egi melempar Neil dengan kertas yang sudah berbentuk bulat sambil terbahak. Menyampaikan seharusnya untuk lagu yang diberi judul Trump's Era tersebut, semuanya sudah mendengarkan versi mentah akustiknya, yang langsung dimainkan oleh Neil.
Neil penasaran, lalu meminta gitar. Gitar yang ada di pojokan dengan senang hati Reva ambilkan. Neil pun duduk, sedang Nathan, Egi, dan Reva duduk di depan pemuda keturunan China Manado tersebut.
Mata mereka bercahaya layaknya anak kecil. Mulanya Neil kebingungan, tapi tanpa ia duga kepala nya sudah terisi oleh melodi, serta bagaimana lagu tersebut dimainkan juga dinyanyikan.
Setelah lagu versi akustik selesai dibawakan, yang disambut tepuk tangan meriah oleh anggota The Beats lain, Neil pun menyatakan ia memutuskan untuk memulai aransemen dari lagunya tersebut. Suasana yang sudah meriah makin meriah lagi, setelah seisi ruangan, termasuk para teknisi, mendengar keputusan Neil.
Untuk permulaan, Neil meminta agar Nathan memainkan gitar akustik yang dipadukan oleh maracas dirinya serta tamborin dari Reva. Dimana suara bass dari Egi merayap masuk, untuk menjadi kerangka lagu, yang dilanjut gesekan violin dari Reva, dan distorsi gitar mentah Nathan.
Neil yang dasarnya punya bakat bermusik tersebut, yang ia kira akan dimusnahkan, kini mulai memimpin kawan satu grupnya untuk menciptakan sebuah karya. Apalagi entah mengapa teknologi semakin membuat mudah semua, sehingga misal Egi yang bermain bass, bisa dengan mudah kemudian memainkan swarmandal. Neil sadar di dunia asalnya itu bisa terjadi, tapi tidak sepraktis dunianya sekarang.
Entah keberuntungan atau di alam manapun, atau sebenarnya yang terjadi hanya penghiburan di masa akhir sebelum bakatnya dihilangkan, Neil amat menikmati apa yang ia lakukan sekarang. Suatu hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.