Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sebagai salah satu personil yang baik. Aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat para personil lainnya, sekedar berbincang atau yang lainnya, dan juga mempererat tali persaudaraan. Oh ya, aku bergabung dalam sebuah band Black Metal yang bernama Aniaya. Hehe, memang terkadang nama band metal itu aneh-aneh, jadi jangan kaget ya.
Band kami sudah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai luar negeri. Negara terakhir yang kami kunjungi adalah China, ya banyak pengalaman di sana, bahkan sampai tersesat di pasar dan kami hanya sedikit menguasai bahasa Inggris. Walhasil, para kru sampai mengerahkan pasukan untuk mencari kami.
Band kami memiliki lima personil. Aku (FUN), sebagai bassis. Dion (Nakula), sebagai lead guitar. Dian (Sadewa), sebagai rythem guitar. Okky (Death), sebagai drummer. Dan Jon (Flash), sebagai vocal. Ah ya, perkenalkan aku adalah Rio.
Ada yang aneh akhir-akhir ini. Beberapa personil kami menghilang dan belum ditemukan. Banyak gosip yang berkembang tentang band kami, antara lain band kami adalah pemuja setan. Pemuja apanya? Aku sendiri pernah bertanya sama Okky, tapi dia bilang itu Cuma eksistensi saja, nggak ada gunanya. Dan Okky sendiri adalah personil yang hilang.
Makin hari, mereka bertiga makin ditelan bumi, tak ada kabarnya. Band kami tinggal dua orang saja, aku dan Jon.
“Belum ada kabar ya?”
Jon, duduk dikursinya, “belum. Gue khawatir kalo mereka gak ketemu juga.”
“Mungkin aja ada yang gak suka sama kita.”
“Banyak!”
Hening.
“Lagian ni tuh jaman modern, kalo gak suka ya ngomong lewat twitter ato apa kek, lah malah diculik segala!” ia meminum kopinya dengan cepat, “uhuk! Uahh panas, panas.”
“Sabar Jon, gue juga kesel nih.”
“Lo tahu gak? Tujuan gue tu bermusik, bikin karya, bukan dicap pemuja setan.”
“Jangan salahin masyarakat Jon.”
“Ya boleh dong gue salahin! Mereka tuh pikirannya nggak berkembang sama sekali!”
Aku memutuskan diam saja. Toh dia nanti tenang sendiri. Aku pun keluar dari dapur dan menuju ruang tamu, biasa, cari udara segar.
Ckrek.
“Mas Rio! Kami minta penjelasannya!”
“Apa personilnya ketemu?”
“Bagaimana perkembangan band kalian?”
“Mas.”
“Mas.”
Blam. Aku menuntup kembali pintu itu dan menguncinya. Jon masuk ke ruang tamu.
“Paan Ri?”
“Wartawan, dah masuk aja.”
Kami berdua menonton televisi yang menyiarkan berita tentang hilangnya personil kami. Sambil menghisap rokok, kami duduk menatap kosong layar televisi itu. Stress? Tentu saja! Mereka bertiga adalah pentolan band kami, tentu saja sudah cari penggantinya.
Pets.
“Kok dimatiin Jon?”
“Bosen. Ngomong-ngomong udah berapa lama kita di sini ya?”
“Tiga hari.”
“Tiga hari di rumah orang.”
“Ini kan rumahnya Okky.”
“Hhhh...”
Dia lalu mencari sesuatu di rak kaset.
“Nggak ada yang bagus ya? Eh.”
“Paan Jon?”
“Nih.”
Ia memberiku sebuah album dari band Mayhem.
“Wuih!” seruku, “editannya kayak nyata ya?”
“Editan pala lo peyang! Itu tuh asli!”
Aku hampir melongo tak percaya. Pasalnya, sampul album itu menampakkan foto sesosok mayat. Ia memegang senapan, mungkin bunuh diri, dan bagian otaknya tercecer.
“Jorok bener ya?” komentarku, “gue gak nyangka gambar beginian bisa jadi cover.”
“Gue juga nggak nyangka tuh anak ngoleksi beginian.”
“Kok lo bisa tahu ni mayat asli?”
“Duduk bro, gue ceritain kisahnya.”
Seolah-olah mendengar kakekku bercerita, aku pun mengambil cemilan di dapur dan duduk di depannya.
“Gini bro, orang yang difoto ini itu salah satu personil band Mayhem, tahu gak?”
“Gak.”
“Lo main BM kan udah lama, masa ga tahu Mayhem?”
“Kan baru setahun gue pindah ke BM, sebelumnya sih gue personil band pop.”
“Hmm, oke deh, terserah lo. Ceritanya gini, si personil ini namanya Dead, gue gak tahu kenapa dia bunuh diri, dan orang yang pertama kali nemuin mayatnya adalah si Euronymous, salah satu personilnya, nah pas nemuin mayatnya dia foto tuh mayat, terus dijadiin cover album.”
“Gak jijik kali ya? Si Euronymous dah dikeluarin dari band?”
“Dia mati.”
“Mati kenapa?”
“Tau Varg Vikernes?”
“Gak tahu juga.”
“Dia yang ngebunuh si Euronymous. Sambungan ya. Katanya si Euronymous tuh punya hutang sama si Varg Vikernes, dan gak bisa bayar.”
“Terus dibunuh?”
“Nah, nyambung kan.”
“Gue masih penasaran ama si Dead, kayaknya dia menarik gitu.”
“Dia tuh orang gila tahu!”
“Gila kenapa?”
“Dia tuh punya kebiasaan aneh sebelum manggung, baju-bajunya yang buat manggung itu dia kubur selama beberapa minggu sampe busuk, terus dipake manggung, yang gilanya lagi, dia sering masukin burung gagak ke plastik buat dihirup, katanya biar ada bau kematian gitu.”
“Sesuai dong ama namanya.”
“Iya, eh lo tau apa yang dilakuin Euronymous pas habis ngambil foto mayatnya?”
“Diapan?”
“Katanya sih, dia ngambil otaknya buat dimasak sop, terus dimakan, nah potongan tengkoraknya dibikin kalung, katanya lagi, tuh kalung dikasih ke musisi metal lainnya.”
“Katanya kan?”
“Iya, katanya. Tapi kalo soal mereka berdua mati, itu emang nyata.”
Ia lalu berhenti dan berdiri. Kemudian berjalan menuju rak dan menggeledah-geledah lagi.
“Ada apa lagi ya?”
“Oy, gak sopan tahu, lagian ni bukan rumah kita!”
“Biarin! Apaan nih? Lho?”
“Ada apa?”
“Liat nih.”
Aku melihat buku yang dipegangnya. Buku itu bergambar simbol pentagram dan kepala kambing.
“Si Okky pemuja setan?” Jon melongo tak percaya.
“Nggak mungkin! Dia bilang perlengkapan itu Cuma simbol aja, dan gak asli.”
“Coba buka bukunya!”
Kami pun meletakannya di meja dan membuka isinya. Banyak simbol aneh dan mungkin itu tulisan kuno? Aku tak tahu. Sementara kulihat si Jon memucat, mungkin band Aniaya tak seperti yang ia kira sebelumnya. Perlu di ketahui, kami berdua adalah anggota baru, tapi si Jon sudah berpengalaman sebelumnya, dan sering bergonta-ganti band.
“Kertas apaan nih?”
“Apa? Apa?”
Ia mendekat dan ikut membacanya.
“Setan, setan, buatlah bandku ini menjadi terkenal di seluruh dunia.”
Brak. Serentak kami menoleh ke arah suara tersebut. Sebuah buku hijau tebal terjatuh dari rak. Lalu Jon mengambilnya.
“Apaan Jon?”
“Diarynya si Okky nih.”
Kami lalu membaca buku itu.
12 April, 2007.
Aku mendirikan band ini. Senangnya. Aku bermaksud mengambil cara biasa. Tapi yang instan sepertinya menggoda. Aku menemukan buku ini di rak toko buku, aku mengutil. Untung buku ini kecil dan toko itu begitu tua, untungnya nggak ada cctv. Aku pulang dan melakukan ritual. Berhasil. Hari ini, ada personil baru. Farhan, Hilmi, Richard, Fajar, dan aku.
17 September, 2007.
Personil bandku hilang. Aku tahu, ia meminta tumbal. Sedih rasanya, tapi aku harus berjuang sebelum umur duapuluh delapan. Dan ia merenggut nyawaku.
8 Januari, 2008.
Sampai hari ini, bandku masih vakum. Agar lebih terkenal lagi, aku harus mencari gitaris kembar.
27 September, 2008.
Nakula dan Sadewa adalah nyawaku.
Dan kubaca lagi. beberapa isinya tak begitu penting. Sampai-sampai buku harian itu habis kami baca. Buku itu berbatas sampai Januari 2010. Oke, setelah itu kami mencari sambungannya. Di rak. Lemari.
Bruk. Suara itu dari kamar. Dan kami menemukan buku harian lagi.
10 September 2011.
Aku menemukan vokalis baru, dia jelek seperti kuda. Tapi tak apalah, skillnya benar-benar sempurna. Namanya adalah Jon. Dia memilih nama panggung Flash, norak banget. Tapi aku tunduk dengan skillnya.
“Bhahahaha....”
“Eh bocah jangan ketawa lo!”
“Kayak kuda katanya hahahaha..”
“Diem lo!”
20 Juli, 2015.
Kami manggung di Hammersonic! Gila! Gila!
3 Mei, 2016.
Personil baru. Tapi bukan dari band metal. Tapi soal skill bass, bisa dibilang kayak band metal. Namanya Rio. Gak kalah noraknya sama si Jon, malah lebih norak dia.
“Kampret!” seruku.
“Hahahaha..”
19 Desember, 2016.
Japan I’m coming!
14 Januari, 2017.
Sial, sepuluh hari lagi si kembar umurnya 28.
24 Januari, 2017.
Gawat! Mereka tamat. Duh bulan Juni giliranku!
“Nih maksudnya apaan ya?” tanyaku.
“Jangan-jangan dia beneran lagi.”
30 Juni, 2017.
Tolong aku ya Tuhan. Maafkan aku telah melenceng selama ini. Aku...
Di kalimat terakhir, pulpen yang ia gunakan membentuk garis panjang, seolah ia ditarik oleh sesuatu.
“Ayo keluar Ri.”
Tanpa basa-basi lagi kami keluar dari rumah melalui pintu belakang untuk menghindari wartawan di depan. Kami lari selagi bisa. Dan akhirnya kami berhenti di tanah kosong.
“Jon, jadi selama ini kita ngikat kontrak sama setan gitu.”
“Iya, gue juga gak tahu sebelumnya.”
“Umur gue masih duapuluh tiga, lo?”
“Mungkin, ini waktunya kita pisah bro, dua hari lagi gue umur duapuluh delapan.”
“Jon. Kita harus mutusin kontraknya.”
“Gimana?!” ia membentak, “lo enak masih segitu, masih lima tahun! Lah gue! Gue dua hari!”
“Jon, ayo kita minta ke manajer kita aja. Jon?”
“Gue nggak tahu caranya hidup lagi Ri.”
“Jon!”
Ia berlari.
“Jon!”
Dengan sekuat tenaga, aku mengejarnya. Dia berlari ke jalan dan menabrakkan dirinya ke truk kontainer dan hancur seketika. Tidak! Tidak!
“Aaaaaa....”
Aku membuka mataku dan menemukan diriku di tempat serba putih. Kau tahu, tempat ini lucu. Eh kami ada dipanggung. Penontonnya pada moshing!
“Hahahaha..hahahaha..”
Tamat.
(koleksi 2017-tanpa edit)